Suplemen Cerpen

Mas Parman Mencari Tuhan

muslim_amerika-1.jpg
Mas Parman Mencari Tuhan
* M Dawam Rahardjo

“Ada yang aku lupa laporkan padamu, Yon,” kata Mas Ihsan padaku, “ketika aku bertemu dengan Mas Parman.”

“Wah, apa yang lupa, Mas?” tukasku menanyakan soal yang kelihatannya sangat penting. “Aku sempat bertanya begini,” jelas Mas Ihsan padaku. “Apakah Mas sekarang sudah percaya dengan adanya Tuhan?”

Lalu, Mas Parman menjawab, “Loh, aku selama ini, sejak tidak percaya kepada Tuhan, tidak mencari-cari lagi. Sebab, apa saja yang telah aku temukan sebelumnya, pasti bukan Tuhan. Kalaupun ada, itu pun Tuhan ciptaan manusia. Tapi, mengapa tiba-tiba saja, kau menanyakan hal itu, San?” Mas Parman balik bertanya kepadaku.

“Kita kan sama-sama tahu, jika seseorang ingin bertemu dengan Tuhan, lakukanlah dengan amal saleh. Menurut hematku, sekalipun orang itu sudah atheis sejak awalnya, jika perbuatannya itu baik, ia akan menemukan Tuhan melalui pintu hidayah.”

“Oh, begitu.”

“Saya punya permintaan kepada Mas Parman, sebagai saudara tua yang paling kami cintai dan sayangi.”

“Apa permintaanmu itu?”

“Begini Mas, tetapi jangan tersinggung kalau memang selama ini Mas Parman tidak lagi bermaksud mencari Tuhan, bagaimana jika waktu masuk masa pensiun, Sampeyan sekarang ini terus mempertahankan budi pekerti luhur sebagai jembatan untuk memperoleh penjelasan mengenai Tuhan. Jadi, Mas Parman mencari Tuhan atas permintaan saya dan demi seluruh saudara-saudara kita.”

“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanyaku tak sabar ingin mengetahui reaksi yang ditunjukkan Mas Parman.

“Alhamdulillah, Yon, Mas Parman mau. Tetapi, dia memerlukan bantuanku. Dia ingin mencari dan menemukan Tuhan melalui proses dialog denganku.”

“Memang Sampeyan berdua itu paling akur, akrab, dan cocok pula. Kalau aku tidak sanggup, sebagaimana Sampeyan juga tahu, aku orangnya tidak sabar. Sebaliknya, Sampeyan, Mas Ihsan, memang telaten. Kemudian, apa saja yang sudah Sampeyan berdua lakukan dan bisa diceritakan padaku, Mas?” aku terus mengejar lantaran makin penasaran.

“Ya, pertama-tama aku mengajaknya sowan ke Gus Dur. Sebelum sowan, aku pertemukan Mas Parman dengan KH Agus Miftah, seorang kiai pengembara yang belajar di pelbagai pesantren, persis seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim.”

“Apa yang Sampeyan dan Mas Parman dapatkan dari kiai itu?”

Ia bilang seperti ini:

“Wah, kalau sampeyan-sampeyan tanya tentang eksistensi Tuhan padaku, aku belum tahu jawabannya. Mari kita sowan ke Gus Dur dulu dan menanyakan pertanyaan ini kepadanya.”

Ketika kami bertemu dengan Gus Dur, Kiai Agus bertanya kepada sang kiai yang sering dijuluki sebagai wali itu, “Kami ingin tanya, Gus…”

“Apa pertanyaanmu itu? Pasti aku kesulitan menjawabnya, sebab kamu ini kiai NU yang mbeling.”

“Gus, sebetulnya Tuhan itu ada atau tidak ada, sih?”

“Oh, kalau pertanyaan itu, gampang saja menjawabnya.”

“Apa jawabannya, Gus?”

“Ya, kalau orang percaya pada Tuhan, Tuhan ada. Tetapi kalau orang itu tidak percaya Tuhan, ya Tuhan tidak ada,” jawab Gus Dur tidak mau repot.

Namun, seusai sowan dengan Gus Dur dan berpisah dengan Kiai Agus, Mas Parman berujar, “Saya kira, saya setuju dengan pendapat Gus Dur, kendati pendapat saya tetap berbeda dengan pandangan Gus Dur itu. Menurut saya, Tuhan itu tidak ada, karena itu tidak usah dicari-cari.”

Setelah itulah aku menegaskan kembali maksud utamaku kepada Mas Parman sambil mengungkapkan pikiranku, “Kalau aku sendiri,” demikian aku berkata pada Mas Parman, “sejalan dengan kedua pandangan Kiai Agus Miftah dan Gus Dur, karena itulah, lagi-lagi, kami saudara-saudara Sampeyan, memohon agar Mas Parman memenuhi permintaan kami.”

Selang beberapa hari kemudian, kami menerima undangan untuk menghadiri Majelis Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah. Pengajian itu dilaksanakan di Simprug, rumah Kiai Agus Miftah. Di rumah itu, pengajian dilaksanakan di tepi kolam renang dengan udara terbuka. Kebetulan, waktu itu muncul bulan sabit di sela-sela pohon kelapa. Suasananya memang indah, hanya saja dingin. Yang cukup menarik lagi, ternyata pengajian tersebut dihadiri orang-orang dan tokoh-tokoh lintas agama. Tentu saja, pembicaranya tidak hanya ulama-ulama, tetapi juga pendeta dan romo-romo. Pesertanya bisa beragam dan hampir dari semua kalangan. Karena itu, pengajiannya lebih berbentuk diskusi yang bersifat dialog kritis. Acara presentasi yang biasanya dilakukan paling sedikit oleh dua orang dan didahului dengan uraian dari Kiai Agus Miftah. Tak dapat disangkal, kiai itu luas sekali pengetahuannya, tidak saja mengenai Islam tetapi agama-agama lain juga. Dalam ceramah yang kami hadiri itu, Kiai Agus mencoba menjawab pertanyaan kami, yaitu apakah Tuhan itu ada? Sesuai dengan jawaban Gus Dur, Kiai Agus Miftah juga berpendapat bahwa hal itu sesuai dengan orang yang bertanya. Apabila orang itu percaya, ya Tuhan ada, jika tidak, ya Tuhan tidak ada. Kemudian Kiai Agus menguraikan selintas sejarah Tuhan, seperti halnya dilakukan oleh Karen Amstrong.

Ia mengawali keterangannya seperti ini: “Sebagian manusia memang percaya dengan adanya Tuhan. Masalahnya, mereka tidak mampu memberikan argumen yang memadai tentang adanya Tuhan. Ilmu pengetahuan yang ilmiah telah gagal. Dengan kata lain, Tuhan memang tidak dapat dicari dengan ilmu pengetahuan, tetapi dengan pengalaman kebatinan. Menyelami pengalaman mencari Tuhan merupakan laku seorang sufi. Sebagian dari mereka merasa telah menemukan Tuhan. Misalnya, Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn ‘Arabi, dan sebagainya. Namun, permasalahan asal dari semua itu akan selalu berbenturan dengan adagium dasar. Yakni, Tuhan yang ditemukan oleh siapa pun adalah bukan Tuhan. Tuhan hanya bisa ditemukan di akhirat kelak. Itu pun kita tidak bisa tahu dan memastikannya. Dari pengalaman mencari Tuhan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan yang kita percaya selama ini adalah Tuhan buatan manusia.”

Di tengah-tengah paparan Kiai Agus, Mas Parman berbisik kepadaku, “Makanya aku tidak memercayai Tuhan yang digambarkan oleh manusia, kalaupun harus percaya, aku hanya percaya kepada Tuhan yang diinformasikan oleh Tuhan sendiri. Tetapi, kalau boleh tanya, dari mana informasi ihwal Tuhan dapat diperoleh, apakah dari Alquran?”

“Ya memang tidak,” jawabku. Aku pun lantas menambahkan, “Kita bisa mendapatkan informasi tentang Tuhan dari semua Kitab Suci, bahkan juga penjelasan dari para filsuf dan sufi. Akan tetapi, informasi yang tetap autentik pasti dari Kitab Suci, bukan filsafat. Karena, lagi-lagi semua yang dideskripsikan oleh filsuf atau seorang sufi sekalipun, itu adalah Tuhan ciptaan manusia atau yang dipersepsikan oleh manusia. Akibatnya, deskripsi tentang Tuhan berbeda-beda. Antara lain, Tuhan menurut orang Islam: Allah, orang Kristen: Tri-Tunggal, Sang Bapak, Sang Anak, dan Roh Kudus, yang merupakan three in one. Di sisi lain, Tuhan menurut orang Yahudi sering disebut Yahweh. Jadi, Mas Parman, masalahnya tetap soal kepercayaan.”

“Demikianlah diskusi antara aku dan Mas Parman di sela-sela pengajian Kiai Agus Miftah. Kemudian kami terus mendengarkan dengan khidmat ceramahnya,” ungkap Mas Ihsan.

“Yon,” Mas Ihsan mencoba memberikan pengertian padaku, “Itulah sebabnya kita mesti dapat memahami sikap Mas Parman yang selama ini menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada, namun akhir-akhir ini dia mulai berusaha mencari-Nya. Tak pelak, yang dilakukan Mas Parman itu tidak berbeda sama sekali dengan laku para sufi, yaitu mencari Tuhan dengan pengalaman batin. Pada prinsipnya, Tuhan memang bisa dicari dengan pelbagai cara. Kita sendiri meyakini seseorang yang mampu menemukan Tuhan, semata-mata berkat hidayah-Nya. Untuk bisa memperoleh hidayah, kita harus beribadah. Menurut Kiai Agus konsep ketuhanan Islam itu berasal dari konsep Yahweh. Keduanya, Islam dan Yahudi, menyebut Tuhan itu sebagai Baal. Sedangkan simbol ketuhanan dalam Islam sendiri adalah Kakbah, yang di dalamnya terdapat Hajar Aswad. Konsep itu sejatinya mengikuti simbol ketuhanan Yahudi, yang disebut rock of the doom. Bagi kami, orang Islam, Tuhan Yahudi, dan Tuhan orang Islam pada hakikatnya sama. Tetapi, sebagian ulama memberikan tafsiran bahwa Tuhan Yahudi itu merupakan Tuhan yang keras, sedangkan Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang Pengasih, dan Islam sendiri menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena itu, Tuhan dalam Islam menyempurnakan konsep-konsep Tuhan sebelumnya, terutama Tuhan orang Kristen dan Yahudi.”

Kemudian, aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut pada Mas Ihsan, yang setelah lulus dari Pabelan memang berhasil menjadi seorang teolog Muslim. Aku sendiri malah menjadi seorang petani-pengusaha, karena aku memasuki Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, setelah lulus dari Pesantren Al-Islam, “Bagaimana hasil yang dicapai para sufi itu?” Mas Ihsan menjawab, “Beberapa orang sufi merasa telah menemukan Tuhan. Al-Hallaj merasa menemukan Tuhan setelah mengalami hulul, atau persatuan dengan Tuhan, sehingga dia mengeluarkan pernyataan ana al-haq (aku adalah Tuhan). Banyak kesalahpahaman terhadap perkataan Al-Hallaj itu, yang menyebabkan Al-Hallaj akhirnya dihukum mati. Padahal, yang dimaksud oleh Al-Hallaj sebenarnya menurut pendapatku, ia telah menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri, yang selama ini memang sangat dekat, karena teramat rajin dan khusyuknya Al-Hallaj dalam beribadah. Tuhan sedekat urat lehernya. Hemat saya, pada waktu itu Al-Hallaj memperoleh hidayah dan diberikan pengertian yang terang tentang Tuhan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. Ia akhirnya mampu bercerita bahwa selama ini ia merasa berada di kamar gelap. Lalu ia dengan sekuat tenaga mencari tahu. Namun, ternyata hampa dan tidak menemukan apa-apa dalam kamar gelap itu. Artinya, usaha mencari Tuhan itu tidak perlu. Karena Ia sudah ada dalam diri seseorang yang dapat dirasakan lewat pengalaman batin, melalui kesadaran

rohani.”(…pengalaman sufistik Ibn Arabi mencari Tuhan…)

“Oh, begitu,” gumamku.

“Pengalaman rohani yang dilalui Mas Parman,” begitulah Mas Ihsan mencoba mengaitkan pencarian Tuhan Mas Parman dengan laku para sufi, mulai tumbuh persis seusai mengikuti ceramah dan diskusi bersama majelis pengajian Kiai Agus Miftah. Mas Parman langsung berkomentar di dalam mobil:

“Wah, ini memang pengajian yang hebat. Selama ini saya tidak pernah mengalami pengajian yang menarik seperti ini. Saya kagum dengan Kiai Agus Miftah yang menyampaikan pandangannya melalui proses diskusi dengan pendengar yang kritis dan beranekaragam pendapatnya. Dengan begitu, respons dari para peserta pengajian sangat penting artinya. Maka itu, kalau saya, lain kali diundang lagi, saya mau menghadirinya.”

Alhamdulillah dengan respons Mas Parman itu, aku pun jadi turut belajar banyak.

“Dik,” sahut Mas Parman lagi, “terus terang saya bangga karena memiliki adik seperti kamu. Tanpa kamu saya tidak akan pernah bisa belajar seperti ini.”

“Kalau begitu, berilah aku kesempatan untuk terus mendampingi Sampeyan, Mas. Aku juga masih perlu banyak belajar dari Mas Parman yang bijaksana ini.”

Catatan Kematian

14.jpg

Tergesa ia membukanya, sebuah buku berukuran kecil tapi tebal sudah tergenggam ditangannya. Ia tampak bingung, ia berusaha bangkit dengan susah payah. Ingin sekali aku membantunya, “Apa yang kau cari Saleh? Mari kubantu!” tapi itu hanya suara hati, hatiku ciut, takut dan hanya memperhatikannya dari jauh. Posisi tubuh yang tadinya telungkup kini sudah berbalik dan menjenggang dari tikar pandan. Ia singkap tikar lusuh itu dan mengambil sesuatu, sepotong pensil tua.

Oleh: JHELLIE MAESTRO*

TUBUHNYA tipis, sangat pipih. Kulitnya keriput mirip adonan yang membalut sepotong pisang siap goreng. Kuperhatikan pundak dan tengkuk belakangnya, sudah tak terlihat nyata apa bedanya, sama-sama hitam dan tak sedikitpun menunjukkan itu tubuh manusia. Bahkan sepintas, tubuh itu lebih mirip sebongkah dahan kering yang kulihat tergeletak dipinggir pematang sawah ayah sore kemarin. Diranjang bambu tua dialas tikar pandan yang sudah menghitam itu ia tergeletak tak berdaya. Hanya bagian atas yang mirip kalapa kering ditumbuhi rambut yang masih menandakan benda itu sebongkah kepala manusia.

Kemaren pagi, ketika aku memutuskan hati untuk mengunjunginya, aku sudah membayangkan kondisi tubuh ini, tapi sungguh aku tak menyangka sedemikian jauh bayangan itu dengan apa yang terpampang dimataku saat ini.

Namanya Saleh, pertama kali kudengar nama itu disebut ketika aku masih kelas dua sekolah dasar. Orang-orang berhamburan keluar rumah karena mendapat kabar Saleh terseret mobil. Kejadian itu, bagi orang dewasa adalah peristiwa luar biasa, tapi aku dengan masih fikiran kanak-kanak tetap saja bermain kelereng dihalaman sekolah, aku tidak peduli dengan peristiwa itu.

Tiga tahun kemudian aku baru mengerti, Saleh terseret mobil angkutan desa saat pulang sekolah di SMP Bina Bangsa. Kecelakaan itu membuat kaki dan tulang belakangnya patah, dokter memvonisnya mati setengah. Kata dokter nyawa saleh terancam jika tidak segera diobati. Tulang-tulangnya yang patah harus direkatkan dengan platina. Namun orang tua Saleh tak mampu menanggung biaya pengobatan dan operasi berat itu.

Sebelum kecelakaan itu merenggut kebahagiaannya, saleh adalah anak yang pintar. Ia selalu juara satu setiap semester, ia juga sering menyabet piala lomba-lomba tingkat kecamatan dan kabupaten. Tak heran pihak sekolahnya jauh-jauh hari sudah menjanjikannya beasiswa untuknya jika lulus nanti.

Cita-cita saleh juga terbilang tinggi. Ia berniat menjadi Insinyur Pertanian. Alasannya sederhana, Cuma ingin melihat kehidupan petani didesa kami sejahtera dan tak lagi menjadi sapi perah seperti beras dan palawija lain selalu dihargakan murah. Tak sebanding dengan biaya operasioonal pertanian yang dikeluarkan.

Sudah lima belas menit aku berdiri di pintu, tapi aku tak melihat ada gerakan yang menandakan Saleh terjaga. “Dia tidur pulas” fikirku. Aku tak ingin mengganggunya. Saat ibunya tadi mencoba membangunkannya, aku melarang “Biarkan saja bu kasian”.

Dibangku panjang dekat pintu aku mendaratkan pantatku, ibunya yang sudah tua dan dilanda penyakit amnesia menemaniku sembari bercerita tentang kondisi Saleh yang samasekali tak ada harapan untuk sembuh. Uang pengganti pengobatan yang dulu pernah diberikan sopir carry penabrak Saleh katanya tak mampu memperbaiki kondisi tubuhnya. Saleh kini hanya menanti kematian diranjang itu, mati setengah, sudah tujuh belas tahun lima bulan 20 hari.

Diluar rumah awan mengulung-gulung pertanda hujan bakal turun mengguyur. Tapi saleh semakin lelap saja. Harapanku untuk dapat bercengrama dengannya tampak perlu waktu untuk.

“Innalillahi wainna ilaihi rajium..inna lillahiwainnailaihi raji’un” Sayup-sayup suara itu membuyarkan suasana hening antara aku dan ibunya. Itu suara pak Khairi, marbot masjid yang bertugas mengumumkan setiap agenda kampung. Kali ini seperti biasa, jika dimulai dengan salah satu ayat alqur’an itu, sudah bisa dipastikan ada seorang warga lagi meninggal siang ini.

“Ibu, siapa yang meninggal?” tiba-tiba suara dari dalam rumah terdengar keras membuatku tersentak. Saleh terjaga. Segera aku meluncur ke pintu. Ibunya juga serentak menghampirinya. Kulihat tubuh mirip bongkahan dahan itu bergerak-gerak, tangannya yang kecil melambai kearah rak dinding yang tertempel tepat diatas kepalanya. Ia mengambil sesuatu mirip kotak yang terbungkus rapi dengan koran bekas.

Tergesa ia membukanya, sebuah buku berukuran kecil tapi tebal sudah tergenggam ditangannya. Ia tampak bingung, ia berusaha bangkit dengan susah payah. Ingin sekali aku membantunya, “Apa yang kau cari Saleh? Mari kubantu!” tapi itu hanya suara hati, hatiku ciut, takut dan hanya memperhatikannya dari jauh. Posisi tubuh yang tadinya telungkup kini sudah berbalik dan menjenggang dari tikar pandan. Ia singkap tikar lusuh itu dan mengambil sesuatu, sepotong pensil tua.

“Siapa bu?” Ia mengulang pertanyaan itu pada ibunya. Ibunya yang sedari juga memperhatikan mengalihkan pandangannya kearahku. Aku kaget, dari sorot mata perempuan tua itu aku melihat ada selaksa kesedihan tergambar “Beginilah anakku satu-satunya dik” seakan itu yang dikatakan tatapan mata perempuan itu. Tapi aku tak mendengar dan aku membalasnya dengan diam. Saleh masih telungkup, diantara bantal kulihat jelas wajah pucat berkeriput menampakkan kepedihan.

“Bu Sima dari desa Teniga, umurnya 56 tahun, meninggal karena diare” kata perempuan tua itu memberitahu Saleh. Kejadian seperti itu nampaknya sudah sering terjadi sehingga perempuan itu hafal betul redaksi yang harus diucapkannya.

Sementara, tubuh Saleh kulihat bergetar hebat, buku catatan yang digenggamnya juga bergetar. Sementara tangan kanannya yang menggengam pensil mengeras seperti hendak memukul. Sedikit demi sedikit tangan itu mendekati buku catatan. Tubuh yang sedari tadi kulihat tak berdaya kini seperti mendapatkan energi luarbiasa. Tangan kurus itu mampu menulis dengan cepat. Dan dibalik wajahnya suara isak terdengar lirih. Isak tangis yang tanpa air mata.

—o0o—

Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat kerumah Saleh. Sekantong kue tar dan bolu susu kiriman nenek kemaren sore kubawa serta. Aku berdo’a semoga hari ini aku bisa bercakap dengannya. Sepanjang gang menuju rumahnya fikiranku terus melanglang. Hatiku berbisik, betapa malang nasibmu Saleh, ketika remaja-remaja seusiamu dapat hidup dengan keceriaan justru kau hanya bisa menghabiskan waktumu diranjang bambu tua beralas tikar pandan. Kasihan kamu, padahal kata orang-orang kamu orangnya pintar, rajin dan selalu juara disekolah, cita-citamu juga sungguh agung, menjadi insinyur pertanian dan ingin mengangkat kesejahteraan petani-petani kita..

Melihat kondisi Saleh kemaren sore, hatiku ingin berteriak dan menggugat Tuhan. Kenapa tidak orang-orang bodoh, penipu, pencopet, pembohong, koruptor dan semua orang yang suka berbuat jahat yang bernasib sepertimu? Kenapa justru Saleh yang pintar, baik, dan tulus yang kehidupannya seperti ini? Fikiranku terus melayang, hingga kakiku tak terasa menginjak tanah yang tinggal beberapa jengkal lagi dari rumahnya.

“Kenapa kamu ingin menemuiku?” Pertanyaan Saleh tiba-tiba mengagetkanku. Pertanyaan itu meluncur dengan sinis dan menampakkan raut wajah yang sangat tidak suka. Itu yang membuatku ciut. Tatapan matanya begitu menusuk, dalam!.

Dan aku, iya aku baru menyadari pertanyaan itu ternyata begitu sulit kujawab. Kenapa aku ingin menemuinya? Kenapa? Atau Minimal kenapa aku baru mau menemuinya sekarang? Kenapa tidak kemaren-kemaren? Kenapa tidak bulan lalu, tahun lalu, tiga tahun lalu, atau tujuh belas tahun lalu ketika aku masih bisa bersimpati dan memberinya semangat hidup? Kenapa?

Aku terasa bodoh dan tolol sekali. Aku justru tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kenapa aku menemuinya?
“Kamu ingin menghinaku ya?
“Tidak saleh” bantahku.
“Kamu ingin seperti orang-orang itu, menaruh kasian sama aku lalu bilang kasian saleh, begitu?
“Tidak saleh” bantahku lagi.
“Lalu”
“…….”

Aku hanya diam, sementara itu sorot kemarahan dan putus asa terpancar deras dari cekungan matanya yang dalam. Aku tak percaya tubuh selemah ini mampu memancarkan kekuatan yang membuat aku seperti mati. Aku merasakan panas disekujur tubuhku, aku tereksekusi, tereksekusi pertanyaan-pertanyaan Saleh.

“Apa sih sulitnya menjawab pertanyaan itu? Kenapa? Kenapa kamu tidak menjawabku” Kejar Saleh terdengar semakin berat.
“Aku hanya ingin melihatmu, itu saja?” bilangku asal
“Bohong kamu, saya tahu kamu dan keluargamu sudah tahu aku seperti ini sejak puluhan tahun lalu, kenapa tiba-tiba sekarang kamu ingin menemuiku?”
Mulutku serasa kian tertutup rapat dengan todongan itu. Aku akui, aku dan semua keluargaku selama ini tak pernah mengunjungi Saleh, walau rumah kami berdekatan bahkan hanya berjarak gang sepanjang lima ratus meter saja. Tapi kami tak pernah peduli, kami justru mendengar dari cerita orang-orang bahwa Saleh begini, Saleh begitu.
“Ingin menemuimu” kataku menegaskan keinginanku satu-satunya itu.
“Iya kenapa kamu ingin hah” bentaknya. Aku tergagap, keperkasaanya terasa luar biasa jauh melebihi orang-orang normal. Dia betul-betul jengkel dengan jawabanku. Tapi apa yang harus aku jawab, aku hanya punya satu jawaban “Aku ingin menemuimu, itu saja” berontak hatiku hatiku.
“Banyak sepertimu, datang kesini mengaku ingin menemuiku? Tapi setelah kutanya kenapa ingin menemuiku, mereka tidak bisa menjawab? Kalian ingin menontonku? Ingat ya, Aku bukan tontonan? Apakah karena aku seharusnya mati tujuh belas tahun tapi masih diberi nyawa oleh Tuhan hingga hari ini?”

Ocehan Saleh terus menluncur deras dari mulutnya yang kecil, percikan api kemarahan terlihat jelas dari raut mukanya. Ocehan yang membuat jiwaku rasanya lumpuh dan terbunuh. Ada rasa sesal aku menemuinya. Lebih menyesal lagi aku tidak bisa memberi jawab untuk semua pertanyaan-pertanyaan itu.

—o0o—

Minggu pagi ini, aku mengendap-endap melalui pintu belakang. Kutemui ibunya yang sedang menyapu diteras rumah “Aku ingin menemuinya, tapi kumohon ibu tidak memberi tahu dia” bisikku pelan. Kali ini aku datang seperti maling. Sangat tidak sopan memang dan itu bertentangan dengan nuraniku. Tapi ini kulakukan demi menghindar dari pertanyaan pertanyaan yang menyudutkanku seperti kemarin. Pertanyaan-pertanyaan yang membunuh.

Dibalik rak piring tepat di sebelah sisi daun pintu yang terbuka lebar, mataku sangat terang melihat sosok tubuh itu. Tubuh yang lemah tapi memiliki mata yang dapat memancarkan api kemarahan begitu dahsyat hingga aku serasa mati..Mati!.

Sementara, dari halaman depan lamat-lamat kudengar suara dua anak laki-laki menuju kemari. Mereka mengucap salam dan langsung meluncurkan pantat mereka di ranjang pembaringan Saleh. Tangan Saleh diciumnya hormat. Satu diantaranya aku kenal namanya Arif, tetanggaku juga. Tapi yang satunya, aku tak ingat anak siapa itu. Sejak aku masuk SMA hingga kuliah semester tujuh di kota. aku jarang pulang kampung, sehingga wajawar saja generasi seumuran arif banyak yang tidak aku kenal dikampungku.

“Apa kabar kak? Udah dikerjain yang kemaren” kata seorang diantara anak itu. Saleh terlihat mengangguk, sementara Arif mengambil tasnya dan mengambil sesuatu. “Kak, aku yang ini yah” kata anak itu menyerahkan setumpuk kertas kepada Saleh.

Aku bengong sendiri mendengar kata kakan yang terucap dari mulut anak-anak itu. “Kakak! Mereka memanggil kakak” fikirku. Padahal jika tidak salah dengar, ibu Saleh pernah cerita jika Saleh anak satu-satunya. Anak yang dihasilkannya dari perkawinannya dengan pak Khairi yang kini jadi Marbot dimasjid. Mereka bercerai ketika Saleh berumur sepuluh tahun. Karena ketidakcocokan mereka sering cekcok dan pak Khairi yang berwatak keras dengan mudah saja bilang “Saya ceraikan kamu”. Kata itu diucapkannya tiga kali dalam rentang waktu yang sangat singkat. Tujuh bulan mereka langsung talak tiga. Dengan demikian, Ibu saleh dengan Pak Khairi harus berakad nikah lagi jika mereka ingin berkumpul kembali. Tapi pak Khairi kelihatannya enggan mengajak ibu Saleh kembali, ia lebih memilih mengawini janda Malaysia didesa sebelah dan kini pernikahannya itu membuahkan dua anak.

Malam tadi, pak Khairi datang kerumah dan memberitahu ayah bahwa anaknya Fauzi umur 14 tahun meninggal tanpa sebab. Fauzi tidak pernah sakit, kemaren saja Fauzi sempat main-main kerumah ibu tirinya, Ibunya Saleh. Ia bahkan sempat meminta tolong saudara tirinya yang lumpuh itu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) Matematikanya.

“Yap …nampaknya kedatangan, dua anak itu juga dengan tujuan yang sama” fikirku. Ibu saleh pernah cerita sama ibuku, Saleh sering didatangi anak-anak. Ada yang minta dibimbing mengerjakan PR, minta diajari sejarah bahkan ada juga yang minta tolong ditulisin surat cinta buat pacarnya. Dan dimata anak-anak itu, Saleh adalah pahlawan. Gara-gara Saleh mereka bisa tertolong dari amukan gurunya disekolah karena kebanyakan mereka malas mengerjakan PR. Selain itu, mereka memandang Saleh orang tercerdas sedunia, lebih cerdas dari Albert Einstein yang mereka kenal. Itu tak lain karena sesulit apapun soal yang mereka ajukan, ditangan Saleh selesai dengan mudah. Dan mereka sangat mengagumi itu. Wajar jika mereka mereka datang hari ini dengan mencium tangan Saleh hormat!.

Jam tanganku menunjukkan angka 09.00, hatiku berdebar kencang menunggu sesuatu luar biasa bakal kusaksikan dari orang lumpuh bernama Saleh itu.
“Ada apa dengan Pak Khairi? Pasti sebentar lagi” fikirku gelisah.
Kulihat anak-anak itu masih bercengkrama riang dengan Saleh, mereka saling tukar cerita yang lucu-lucu, dan merekapun melepas tawa dengan riangnya. Bahkan kulihat satu diantara dua anak itu tak sanggup menahan tawanya, dia memegang perutnya. “Ha…ha…aduh perutku sakit sudah-sudah ceritanya kak” kata anak itu puas.

Tapi Saleh nampaknya belum puas mengocok perut mereka, ia bercerita lagi tentang Abu Nawas negentutin raja dan kisah Cupak-Grantang yang kuat makan sampai perutnya meledak.

Saleh terlihat puas dan menemukan kebahagian yang tak terhingga dari anak-anak itu. Kebahagiaan yang tak mungkin ia temukan dihari dan ditempat yang lain.
Tak seberapa lama, gemerenyah tawa mereka itu berubah menjadi kesunyian, Saleh dan kedua anak kecil itu terdiam. Mereka memperhatikan sesuatu, “Inilah saat-saat yang kutunggu-tungu” fikirku.

Kusisipkan pandanganku ke halaman belakang, kulihat ibu Saleh juga ikut bengong. Sapu lidi ditangannya terlihat menggelepar ditanah. Ia melepaskannya dengan tidak sengaja. Ia juga terkejut. Heran! “Kok bisa, padahal kemarin dia kemari” kurang lebih itu yang bisa kubaca dari komat-kamit kalimat yang perempuan tua itu ucapkan.

Kualihkan pandanganku ke arah Saleh lagi, seperti hari pertama, kusaksikan tubuh Saleh bergetar hebat, buku catatan yang digenggamnya ikut bergetar. Sementara tangan kanannya yang menggengam pensil tua mengeras mendekati buku catatan itu sedikit demi sedikit. Tubuh yang sedari kemaren kulihat tak berdaya kini sekali lagi mendapatkan energi luarbiasa. Tangan kurus itu seperti berubah mejadi kekar berotot. Ia berkeringat dingin

“Fauzi….” kata singkat itu keluar dari mulutnya lirih. Dua anak itu memperhatikan dengan raut wajah ikut sedih, rona kebahagiaan yang baru saja terpancar dari wajah mereka seketika hilang. Wajah itu telah berganti kesedihan, kesedihan yang sangat.

Sementara itu, tubuh Saleh kulihat berkeringat dingin. Buku catatanya diremas-remas, dipilin, lalu jatuh kelantai. Anak itu memungut buku catatan itu pelan, dibukanya lembar terakhir yang baru saja ditulis Saleh.

No : 161
Nama : M. Fauzi,
Umur : 14 Tahun
Sebab meninggal belum diketahui.

Dan Saleh meraung-meraung, menjerit dan meronta. Ia menagis tanpa air mata yang kesekian kalinya. Ia bosan dengan hari-harinya sebagai pencatat kematian. Ia sungguh tak sabar menunggu. Kapan giliran namanya tercatat di buku kematian itu.

Mataram, 31 Desember 2006

Dedicated :To Saleh (Kudoakan semoga kau berbahagia di sisi-Nya, Amin!)

Jam Karet

14.jpg

Rino emang cowok ganteng, kaya dan keren banget. Bapaknya Diplomat dan sekarang di tempatkan sebagai Dubes di Iran. Ibunya pengrajin Batik sukses keturunan Jerman. Dengan ekonomi semakmur ini, cewek mana yang gak klepek-klepek. Apalagi dia anak semata wayang. udah pasti harta kekayaan bokap nyokapnya bakal ngegelontor padanya. Makanya sudah berapa cewek yang sudah jadi korban ketidak setiaannya.

Oleh : Ali ND

“Setan!!!” ungkap Rino kesal.
“Kemana sich tuh anak, sampe jam segini kaga nongol juga. gimana sich janjinya. dasar kecoa,” ungkapnya sambil memaki gak karuan.
“Udah gue bela-belain gak ikut acara keluarga, sampe gue dimarahin keluarga, kaga muncul sedikitpun batang hidungnya. Gila…gila…!!” sungut Rino semakin menjadi-jadi.
“Yanuar…yanuar…., ayo dong datang. jangan bikin gue kecewa sama lo? ingat dong tentang janji yang sempat kita rencanakan kemarin,” tanyanya pada dirinya sambil berjalan bolak balik. sementara tangan kirinya diangkat untuk melihat jam.

Yanuar memang sempat menjanjikan akan akan mengenalkan Roni cewek. “Eh Brow, Mau gak lo gue kenalin sama cewek paling yahud. Nyang ini lo gak bakal nyesel seumur hidup, paling lo Cuma bisa kedap kedip doang,” tutur yan, panggilan akrab yanuar. “Ah yang bener ne?” sahut rino meragukan. “Oke deh, begini aja, dari pada lo banyak tanya mendingan besok minggu lo gue ajak ke rumahnya tapi ingat jangan macem-macem,” ajak yan sambil mengeingatkan agar jangan macem-macem.

Rino memang play boy tapi sudah berapa Bulan ini dia ngejomblo. Entah kenapa baru kali itu dia mengalami paceklik cewek. Tumben-tubenan cewek gak jatuh hati padanya. Pernah suatu ketika dia bergumam, “Mungkin gue kena batunya sekarang, tapi kan gue dalam mencari yang terbaik? apa gue salah? kan gak. Lagian juga emang pernah gue apain tuh cewek? kayanya gak githo-githo amat, biasa aja,”

Rino emang cowok ganteng, kaya dan keren banget. Bapaknya Diplomat dan sekarang di tempatkan sebagai Dubes di Iran. Ibunya pengrajin Batik sukses keturunan Jerman. Dengan ekonomi semakmur ini, cewek mana yang gak klepek-klepek. Apalagi dia anak semata wayang. udah pasti harta kekayaan bokap nyokapnya bakal ngegelontor padanya. Makanya sudah berapa cewek yang sudah jadi korban ketidak setiaannya.

-*-*-

Sejak jam enam pagi Yan ditunggu-tunggu sama Rino, tapi belum kelihatan juga. padahal Rino udah ketar ketir, pusing gak karuan. Segala hal yang ada dihadapan rino, ditendangnya jauh-jauh. Untung aja, HP kesayangannya gak sampe dibanting. Tahu sendirikan, kalo orang lagi emosi apapun bisa dikerjakan. Untung aja rino masih mikir panjang kedepan, bisa berabe kalo Hpnya di banting. Menurutnya Hp tersebut bernilai sejarah dan gak bakal diapa-apain.

Di ujung barat nun jauh di pantai Sekotong Indah, sudah menunggu seorang gadis berparas cantik. Kulitnya kuning langsat, bermata dan berwajah bulat. Tingginya sekitar 150 cm dan berbody aduhai bak gitar spanyol. Dan… satu lagi kelebihannya, selain smart juga memakai Jilbab. Namanya Yunita. Biasa disapa Yuni. Kembang desa incaran bajang-bajang desa sekitarnya. Acapkali berjalan digang-gang kecil, suara sumbang dengan koor “Suit-suiiiiiiiit…” mengiringinya.

Bukan hanya kembang desa, bapaknya meskipun sudah menginjak lima puluhan wajahnya masih tampak segar. Adalah seorang juragan tembakau tersukses. Bukan hanya dari dalam negeri pemasoknya tapi sudah mengimpor ke negara-negara tetangga.

“Uuuh…kemana sich yanuar? katanya mau kenalin aku sama temannya. Tapi sampai jam segini, belum juga datang. Mana aku sudah rapi banget lagi, aku jadi malu sama keluargaku. Apalagi adik-adikku selalu meledekku,” umpatnya kesal.

Berita akan kedatangan Rino dan Yanuar sudah terdengar jauh-jauh hari. So pasti, ibu dan adik-adiknya mengejek. “Ciaelah…” ledek Wawan adik bungsunya. “Hus…wawan, jangan ganggu kakakmu,” sergah ibunya. “Sayang…, mana pemuda yang mau kamu kenalin, kok belum datang juga?,” sapa ibunya dengan manja. “Gak tahu nich Bu!” jawabnya cemberut. “Ya sudah, kalau memang gak datang jangan lama-lama bersedih.” Hiburnya ibunya. “Mungkin saja mereka ada urusan yang sangat penting atau bisa saja sedang dalam perjalanan atau…,” “Atau apa Bu?” tanya Yuni menginkan jawaban lanjutan ibunya yang berhenti dijalan. “Atau ban sepeda motornya kempes bisa juga bannya bocor,” lanjut ibunya.

“Aku sebenarnya tidak semarah ini jika mereka memberitahu kalau terlambat. Tapi inikan gak?! Udah lama, gak ada kabar lagi. Sms ke, telpon kek atau apa kek. Atau mereka memang sengaja mau ngerjain aku…,!” “Eit..jangan cepat berburuk sangka, sabar saja, nanti mereka juga datang kalau mereka memang punya niat yang tulus dan kuat. Kakau gak, ya sabar saja. Mungkin belum waktunya,” Cegah ibunya dengan nasehat. “Huuuu…” Yuni Cuma cemberut. Wajahnya yang ceria berubah seperti benang kusut.

-*-*-

Di tengah lamunan kosong dan kesal, tiba-tiba saja terdengar bunyi klakson motor dari belakang rino. sontak rino kaget bukan kepalang dan jadi salting (salah tingkah githo).
“Tin…tin…tin…, bruuum…bruuum..bruum!!” sebuah sepeda motor merek ninja berwarna hijau muda keluaran terbaru melaju cepat mengarahnya. belum sempat rino bicara, yanuar sudah tertawa ngakak. “Hahahaha…!” “Lama ya nunggu, sorry brow gue telat. Soalnya tadi bokap nyokap nyuruh nyuci mobil dulu. jadi telat dech gue.” jelas yanuar sambil tersenyum meledek. “Rese lo, kalo ada halangan jangan begini dong caranya. sms kek, telpon kek, bikin gue khawatir aja. jangan-jangan lo mau ingkar janji ya. kaya sebelum-sebelumnya yang dengan gampang ngebatalin acara tiba-tiba,” ujarnya kesal. “Tenang aja brow, kali ini gue gak bakalan ingkar janji. buktinya gue dateng kan,” sanggah Yan meyakinkan kalau dia gak bakal ingkar janji.

Yan memang dikenal sering ingkar janji. Banyak yang gak betah berteman sama dia. Kecuali rino sendiri yang betah banget berteman sama yan. Maklum rino sudah tahu betul watak yan. Karena mereka berteman sejak duduk di bangku SMP. Dan tahu bagaimana cara mengakali rino agar gak ingkar jani. “Gimana ne? Pakai motor atau pake mobil gue?” tanya rino pada yan kendaraan apa yang mau di gunakan. “Ya pake mobillah, masa pake motor yang bener aja.” Jawab yan ceplas ceplos. “ya udah cepetan kita jalan ntar Yuni keburu pergi lagi,” ajak Rino setelah mengeluarkan mobil kesayangannya. “Ya ilah ngebet banget kaya mau ngambil gaji aja, santai aja brow!” ledek yan. “Ah elo bisa aja, cepetan naek?” paksa rino. “Oke…oke..!” yan ngeloyor naek mobil.

Sejurus kemudian lagu slow berbau romantis pun diputar. Yan dan rino asyik masyuk dalam lantunan nada-nada cinta. Semakin berkembanglah hati rino. Maklum, baru pertama kali ini dia ngebet banget ketemu yuni. “Emang seberapa cantik dan apa sich kelebihannya hingga yan begitu berani ngenalin gue,” pikirnya dalam hati.

Tidak lama kemudian tibalah mereka dipelataran rumah yuni yang luas. Tapi kenapa suasananya sepi sekali. Seperti tidak berpenghuni padahal rumahnya besar. Setelah itu turunlah mereka dari dalam mobil. “Kok sepi banget yan?” tanya rino. “Gak tahu ne tumben-tumbenan ne rumah sepi,” jawab yan. “Jangan- jangan…” sangsi rino. “Ya udah tenang aja. Yuk kita masuk. Mungkin orangnya di belakang rumah lagi pada santai brow,” ajak yan sambil menarik tangan rino.

Dan bener saja perasaan ragu rino. Setelah bel rumah yuni di pencet berkali-kali. Wajah Rino nampak gelisah sedang yan tenang-tenang saja. Rino sudah kepalang kecewa dan segera menarik tangan yan untuk meninggalkan rumah yuni. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, terdengar suara pintu dibuka. Dan bener saja seorang ibu keluar dan memanggil yan dan rino. “Maaf kalian mencari siapa?” tanya ibu itu. Dengan terbata-bata yan pun menjawab “Aanu Bu, kami mencari yuni. Apakah yuninya ada?” “Tapi sbeleumnya kami ingin memperkenalkan diri. Saya yan teman yuni waktu duduk SMA dan ini rino kawan saya,“ pede yan memperkenalkan diri. Padahal belum ditanya, eh udah ngungkapin identitas duluan.

“Oh kalian yang sudah buat janji sama yuni ya?,” tanya ibunya meyakinkan. Karena sebelumnya yuni sudah bercerita akan datang tamu special untuknya. “Baiklah sebelum ibu menjelaskan, sebaiknya kalian duduk dulu,” “Tapi bu yuninya adakan?” potong yan gak sopan. “Hei sopan sedikit dong sama orang tua,!” tutur rino sambil melayangkan tangan ke pundak yan “Plak..” “Sory, maaf bu atas sikapnya” ujar rino mohon maaf pada ibunya yuni. “Ini bu, kami datang jauh-jauh mau ketemu yuni. Kebetulan tadi pagi ada kegiatan yang tidak bisa kmi tinggalkan, jadinya kami telat datang. Tidak ada maksud apapun dengan kedatangan kami. Kami hanya mau berkenalan dengan yuni dan mudah-mudahan bisa bersahabat dengannya,” jelas rino. Sementara ibunya yuni hanya mengangguk-ngangguk saja, “Oh begitu?” “Ya begitulah,“lanjut rino.

“Sebenarnya begini, sudah sejak tadi yuni menunggu kalian. Tapi karena kalian terlalu lama datang, akhirnya dia memutuskan pergi dengan bapaknya ke Narmada. Karena ada acara teman sejawat bapaknya. Sekaligus untuk menghibur diri dan menghapus kekecewaan karena kalian terlambat datang,” jelas ibu itu dengan detail dan panjang lebar. “Oh jadi begitu ya bu ceritanya,“ tanya yan melongo. “Ya benar, begitulah ceritanya. “Jadi saya sebagai ibunya mohon maaf kalau kalian merasa kecewa,” sambungnya.

Rino hanya bengong bercampur kecewa. Sedang yan jadi serba salah dan malu sama rino karena gagal ketemu dengan yuni. “Baiklah bu, kalau begitu kami segera pamit pulang. Mungkin lain kali saja kami kembali. Itupun jika yuni bersedia mau bertemu, jika tidak ya tidak apa-apa,” pamit rino legowo. Setelah berpamitan, yan dan rinopun melangkah menuju mobil.

Setelah agak jauh, dari dalam kamar ruangan paling atas, ada percakapan kecil. “Puas kamu membohongi mereka? Sudah jauh-jauh mereka datang tapi enggan sekali kamu menemui mereka,” ketus ibunya sama yuni. Sedang yuni hanya berkata lirih, “Maafin aku, aku tidak mau ketemu dengan laki-laki yang suka datang seenak perutnya. Meskipun jujur ku akui, ingin sekali aku menemui kalian. Maaf…aku gak bisa.”

Rino dan yan pun berlalu. Musik romantis yang tadi dibunyikan berubah jadi lagu keras rock n roll. “Ini semua gara-gara elo yan karena telat gue gak jadi ketemu sama yuni. Kalau begini terus, semakin lama gue Jomblo…dasar lo!!” maki rino karena rasa kesalnya sudah memuncak. Yan hanya maggut-manggut saja. “Sory brow, gue akui gue salah tapi lo maukan maafin gue,” pinta yan memelas. “Aaaah…brengsek lo. Awas kalau sekali lagi lo kaya begini, gue pikir kita evaluasi persahabatan kita, “ ancam rino. “Tapi brow…” rinopun terdiam seribu bahasa pandangannya pun kosong. Sabar rino, mungkin sudah waktunya lo jomblo lebih lama.

* ALI NURDIN, Pemimpin Umum LPM RO’YUNA IAIN Mataram

3 responses to “Suplemen Cerpen

  1. Assalam wr,, temen2 ro’yuna teruslah kepakkan sayapmu dan berjayalah selalu dengan tulisan2mu tentanglah mereka dengan berani. haiii, jelly, gmana kabar? kapan wisuda? ini gua temen lama munawar sekarang gua sufervaisor di mcdonal arabia teman,, gua juga lagi kerjakan skripsi gua di arab lewat internet dengan dosen2 di kampus IAIN mataram fakultas dakwah,,Alhamdulillah sekarang sudah jadi dan insya Alloh tahun depan balik untuk wisuda aja temen, salam juga ma ka maya,, yang selalu memberiku motifasi untuk masa depan, siapapun yang baca email ini mohon kabarkan ma temen gua jelly maistro,, yang dulu dia juga ketua ro’yuna seangkatan dengan ku. wassalam

  2. halo mba, aku bela umur ku 9 tahun, aku juga suka nulis cerpen, liat cerpen ku dong ^_^, inibella.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s