Category Archives: Korupsi

Pilkada Membuat Rakyat Mata Duitan?

Kampanye tentang Kesejahteraan

Kira-kira, apa arti pemilihan kepala daerah langsung itu bagi masyarakat biasa? Kampanye yang meriah yang tak jarang dibungkus dalam bentuk tontonan, rezeki (baca: duit) yang digelontorkan oleh pasangan calon dengan harapan dipilih rakyat, atau keuntungan-keuntungan kecil lainnya?

Fakta terjadinya praktik politik uang sangat sering terungkap dalam sidang sengketa pemilihan kepala daerah (pilkada) di Mahkamah Konstitusi (MK). Jumat (6/8) siang, misalnya, lima saksi duduk berderet di ruang sidang utama MK. Satu per satu menjelaskan besaran uang yang mereka diterima, yaitu antara Rp 20.000 dan Rp 250.000.

Oleh Susana Rita
Baca lebih lanjut

Iklan

“People’s Power” Sekali Lagi

Budiarto Shambazy

Alhamdulillah, semua orang lega unjuk rasa di sejumlah kota memperingati Hari Antikorupsi Internasional, 9 Desember, berlangsung damai. Pihak-pihak tertentu yang mengembuskan rumor massa akan ditunggangi penumpang gelap untuk mendongkel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang terbukti isapan jempol belaka, mestinya minta maaf.

Rakyat, yang sering dianggap remeh oleh the ruling elite, terbukti makin matang berdemokrasi. Tujuan unjuk rasa memfokuskan perhatian rakyat kepada kegagalan pemberantasan korupsi sejak kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sampai pembentukan Pansus Century di DPR, telah mencapai sasaran. Baca lebih lanjut

Pilkada dan Netralitas Kaum Muda

709259227m.jpg
Posisi netral buat saya bukan berarti mereka steril dari politik dan tidak boleh melakukan aktivitas politik, yang saya maksud adalah semestinya mereka bisa tidak melakukan politik rendah yang hanya berorientasi kepada kekuasaan dan kepentingan, hanya mengedepankan kekuasaan, jabatan, serta pemenangan pemilu dan pilkada. Sebaliknya diharapkan mereka mengamalkan politik tinggi yaitu politik moral yang mengedepankan idealisme dan etika, mengutamakan kepentingan rakyat dan negara, serta menjunjung tinggi demokrasi, keadilan dan hak azasi manusia

Oleh : Jhellie Maestro*
Baca lebih lanjut

Dicari! Gubernur Anti Korupsi

ntb2.jpg
Ada titik lentera di ujung gelap dengan hadirnya moment Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2008 sebentar lagi. Titik itu memunculkan harapan baru bagi kita, bahwa ada peluang, pemberantasan korupsi diseriusi oleh Gubernur yang akan terpilih nanti. Bagi kita, Pilkada 2008 ini sungguh kesempatan emas untuk memilih orang-orang terbaik di daerah. Memilih Gubernur yang betul-betul anti korupsi. Gubernur yang tidak hanya bisa ngomong tapi juga bertindak.

Oleh: Achmad Jumaely*
Baca lebih lanjut

Jika Tuan Guru Jadi Gubernur

Add to Technorati Favorites
sholat_wirid.jpg
Tuan Guru mirip-mirip seperti itu (maaf!), saya tidak mengatakan Tuan Guru seperti gajah secara fisik, samasekali tidak. Tapi kehidupan Gajah yang jauh dari insting kuasa dapat menjadi ibroh Hasanah (pelajaran terbaik) bagaimana seorang ulama atau Tuan Guru sejatinya memerankan diri. Sebagai pewaris para nabi, tugas Tuan Guru adalah menyeru moral, memberi teladan dan menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada ummat. Karena tugasnya yang sangat mulia itu, maka tak pantaslah kiranya Tuan Guru melacurkan diri di jalur politik yang serba lacur.

Oleh : ACHMAD JUMAELY*
Baca lebih lanjut

Mengislamkan IAIN !

leak-1.jpg
Dan yang paling parah, fikiran-fikiran mereka harus dibersihkan melalui penertiban buku-buku perpustakaan yang beraliran ‘sesat’ semacam Marx, Lenin, Poulo Preire, Saltre, Sahrur, Abed Aljabiri dan lain-lainnya. Untuk masa tidak ditentukan, buku-buku itu harus gudangkan dulu atau jika perlu dimusnahkan saja lalu diganti dengan buku-buku Islam kanan macam Hasan Albana, Faudzil Adhim atau bahkan Hartono Ahmad Jaiz. Mengapa ini dilakukan?, orang-orang itu akan menjawab, demi menghindari “Su’udzon” Tuan Guru yang katanya IAIN telah jadi ajang pemurtadan.

Oleh: ACHMAD JUMAELY*
Baca lebih lanjut

Semangatnya Justru Dari Desa; Sebuah Tanggapan Untuk Achmad Jumaely

profil1.jpg
Bukan berarti pilihan rakyat merupakan pilihan terbaik. Tetap saja terbuka terjadinya ‘manipulasi’ melalui politik pencitraan untuk memenangkan salah satu calon. Misalnya saja dengan penggambaran salah satu calon merupakan ‘korban penganiayaan’ rezim berkuasa untuk mengundang simpati pemilih. Memanfaatkan sifat rakyat Indonesia yang gampang trenyuh berbondong-bondonglah memilih pemimpin itu. Padahal kualitas calon tersebut jauh dari memuaskan, dan beberapa saat kemudian menghadirkan kekecewaan bagi pendukungnya. Tetapi yang pasti, pemimpin yang dipilih secara langsung merupakan perwujudan keinginan mayoritas pemilih.

Oleh : ROBYAN ENDREW BAFADHAL*
Baca lebih lanjut