Dilema Ekstensifikasi Pasar dan Pemasaran Pariwisata “By Project”

Bandara Internasional Lombok (BIL)

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata saat ini tengah intensif melakukan pemasaran pariwisata ke luar negeri. Menurut penjelasan Direktur Promosi Luar Negeri Kemenbudpar disebut dalam tiga bulan pertama 2011, diikuti 23 dari 74 event (pameran) internasional di berbagai negara yang diikuti. Sementara Deputi Direktur Wilayah ASEAN Kemenbudpar Chrismiastutie menjelaskan ada 75 kegiatan promosi dilakukan tahun ini; 17 kegiatan di ASEAN (18 di Asia, 15 di Amerika Serikat dan Pasifik, 13 di Eropa, dan 12 di Timur Tengah).

Kita tidak mengetahui lebih rinci apa saja pameran internasional yang diikuti itu. Dari pengamatan di media, ada beberapa saja yang sudah disebut, antara lain: Travel exchange ASEAN Tourism Forum (ATF) (Kamboja), Vakantie Bourse (Belanda), Arab Health (Dubai), SATTE Travel Mart (New Delhi), FITUR International Tourism Trade Fair (Madrid), Outbound Travel Mart (India), sales mission (Oman dan Bahrain), Perth Travel Show (Perth), Borsa Internazionale del Turismo (Milan, Italia).

Kemudian National Association of Travel Agents Singapore (NATAS) Travel Fair (Singapura), Malaysian Association of Tour & Travel Agents (MATTA) Travel Fair (Malaysia), International Tourism Bourse (ITB) (Berlin, Jerman), INTUR International, Moscow International Exhibition Travel & Tourism (MIIT) (Moscow), Sydney Travel Show (Sydnety, Australia), Salon du Mondial (Perancis).

Sementara itu di dalam negeri, kita menyaksikan problematik yang sebenarnya sangat genting dan perlu “penyelesaian” segera mungkin, antara lain terkait penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, khususnya Bali, yaitu yang berasal dari Jepang, China, Korea Selatan dan Perancis. Hal ini perlu disampaikan karena ada kekhawatiran bahwa apa yang dengan giat kita lakukan tahun 2011 dengan mengerahkan anggaran ke 75 kegiatan promosi di berbagai negara itu, justru ”salah obat”, atau seperti pepatah ‘jauh panggang dari api’, atau dengan pepatah lain “burung di udara setengah mati dikejar, burung di tangan dilepas?”. Dengan menghargai apa yang sedang dilakukan Kemenbudpar, ada kesan bahwa kita terlalu gemar mengurusi tetek-bengek yang sudah diketahui tidak terlalu berdampak signifikan. Betulkah? Kita jelas tidak mau mengatakan bahwa apa yang dilakukan itu tidak perlu, sangat perlu bahkan, tapi hanya untuk menegaskan perlunya upaya lain yang harus dilakukan dan jangan hanya bergantung pada kegiatan itu. Apalagi dengan pemberitaan yang cukup gencar masyarakat sepertinya diberi ekspektasi sangat besar akan terjadinya perubahan signifikan dengan proyek-proyek “pemasaran” itu, yang dikhawatirkan pada titik tertentu nanti justru berbuah kekecewaan.

Jepang sendiri merupakan pemasok wisatawan utama ke Indonesia khususnya ke Bali, setelah Australia. Sedangkan China, Korsel dan Perancis merupakan pasar yang sedang berkembang dengan baik tahun-tahun sebelumnya. Pada sisi lain, dalam konteks ASEAN, ada kesan yang muncul kita terlalu puas diri dengan wisatawan asal Singapura dan Malaysia, sementara dari tahun ke tahun keseimbangan neraca perjalanan antara kitra dengan kedua negara itu semakin minus bagi kita. Saat Malaysia dan Singapura jor-joran berpromosi dan menjual ke Indonesia (bahkan hanya untuk acara masak-memasak pun mereka mengundang media dari Indonesia!), kita tak cukup berbuat banyak kecuali menyerahkannya kepada hukum alamiah.

Betulkah kita sama sekali tidak punya sense krisis? Dari penjelasan pejabat Kemenbudpar di atas terang-terang menyebut cakupan negara yang menjadi sasaran pameran tadi hampir terbagi rata ke semua kawasan: 17 kegiatan di ASEAN, 15 di Amerika Serikat dan Pasifik, 13 di Eropa, dan 12 di Timur Tengah. Mungkin diantara negara pasar utama ada juga di dalamnya, tapi apa yang bisa diharapkan dari sebuah pameran yang jelas sangat terbatas hitungan hari saja? (kita meminta agar Kemenbudpar terus melakukan evaluasi pelaksanaan setiap event ini: berapa pesertanya, berapa pengunjungnya, berapa anggarannya, berapa banyak benefit yang diperoleh dan lainnya) Atau jangan-jangan Kemenbudpar tidak menganggap hal itu sebagai problem serius? Mungkin berpikir Eropa atau Amerika bisa mengambil-alih posisi Jepang, China, Korsel dan Perancis itu dalam waktu singkat ini? Atau persoalan ini adalah persoalannya pemda bersangkutan? Ya kalau itu pemikirannya tentu kita tidak perlu diskusi lagi.

Sebagai perbandingan baik juga kita belajar dari pengalaman Hawaii yang pada tahun 2006 lalu mengalami penurunan wisatawan asal Jepang “hanya” 9,4 persen dari tahun sebelumnya atau menjadi 1,37 juta. Angka itu bukan angka kecil bagi otoritas pariwisata Hawaii, dan lihatlah bagaimana perhatian sangat serius yang mereka tunjukkan dengan menganggapnya sebagai sebuah krisis. Ada apa yang sedang terjadi di pasar? Jika terjadi penurunan seat penerbangan yang tersedia per tahunnya, apa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Apakah ada pengalihan ke destinasi lain? Apa penyebabnya? Mereka kemudian melakukan penyelidikan. Tim diturunkan ke Jepang, mendekati para operator, dan melakukan berbagai tindakan recovery dengan cepat. Pasar utama wisatawan ke Hawaii sejauh ini adalah dari daratan AS, Kanada dan Jepang. Respon yang tidak ditemukan di Indonesia ketika menghadapi penurunan wisatawan.

Tahun 2010 lalu, menurut data BPS, wisatawan asal Jepang ke Bali mengalami penurunan sebesar 26.61 persen dari 333.905 orang pada tahun 2009 menjadi 245.040 orang pada tahun 2010.Wisatawan China berkurang 4,48 persen dari 206.151 orang menjadi 196.925 orang. Wisatawan Korea Selatan berkurang 0,13 persen dari 124.889 orang menjadi 124.729 orang dan wisatawan Perancis 8,31 persen dari 113.453 orang menjadi 104.029 orang. Menariknya, (catatan: jika semua angka statistik ini bisa dipercaya) Perancis dan China sejak 2002 lalu, memang ada trend peningkatan kunjungan setiap tahunnya ke Indonesia. Berbeda dengan Jepang yang cenderung menurunan terus dari 620.722 tahun 2002, menjadi hanya 475.766 orang tahun 2009. Atau Korsel yang naik-turun. Bukankah menarik untuk dicari tahu mengapa tiba-tiba menurun? Ada apa yang sedang terjadi di pasar? Upaya apa yang sudah dan akan dilakukan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu belum terdengar hingga saat ini.

Dilematis

Terus terang, ini memang tidak mudah. Kita tidak bisa mempersalahkan Kemenbudpar dengan serangkaian pameran dan sales mission itu. Pertama-tama, karena kegiatan itu sudah dijadwalkan tahun sebelumnya untuk anggaran 2011, dan tentulah harus direalisasikan. Kedua, karena ada kebutuhan untuk semakin banyak memasarkan. Tapi pertanyaannya kemudian adalah sudah tepatkah cara pemasaran seperti itu? Mengapa kita lebih menyukai pendekatan ekstensifikasi pasar daripada intensifikasi pasar yang sudah ada? Betulkah pemasaran by project itu suatu hal yang “sulit diharapkan” bagi kemajuan pariwisata?

Sejak Orde Reformasi ini, kita melihat ada dua dilema terus mengemuka dalam konteks pemasaran pariwisata. Pertama, dilema terkait dua pilihan strategi intensifikasi atau ekstensifikasi pasar. Kedua dilema pemasaran by project, alias pemasaran yang dilakukan hanya untuk memenuhi pengadaan proyek, dengan anggaran yang sudah ditetapkan jangka waktu dan besarannya. []

Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

One response to “Dilema Ekstensifikasi Pasar dan Pemasaran Pariwisata “By Project”

  1. thank u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s