Neoliberalisme: sebuah kebingungan kolektif

Dengan penggambaran seperti ini, jelas neolib adalah sebuah paham yang sangat buruk, bahkan berbahaya. Problemnya, ketika sesuatu digambarkan secara ekstrem dans superlatif, yang memenuhi definisi itu menjadi makin sedikit. Bahkan tidak ada, karena makin banyak kriteria yang tidak dipenuhi. Akibatnya, sekarang ini jadi rancu apa dan siapa yang sebenarnya disebut neolib. Istilah neoliberalisme sudah menjadi seperti hantu – semua membicarakan dan ketakutan, tapi belum ada yang benar-benar pernah berjumpa.

Ari A. Perdana

Catatan: beberapa argumen dan pengembangan saya tambahkan dalam versi bahasa Indonesia dari artikel sebelum ini.

Perdebatan tentang neoliberalisme di Indonesia sudah berlangsung cukup lama, setidaknya sepuluh tahun terakhir. Sayangnya, belakangan ini istilah neoliberalisme digunakan secara serampangan. Kepadanya bisa disematkan berbagai definisi, betapapun ekstrem dan tidak sahihnya definisi itu, untuk kemudian dikritik. Istilah neoliberalisme dan ‘kaum neoliberal’ (disingkat neolib) menjadi semacam boneka jerami yang menjadi sasaran tembak tanpa bisa membela diri.

Istilah neoliberalisme memang dibentuk dan didefinisikan oleh para
pengritiknya. Ada sejumlah variasi atas definisi baku neoliberalisme.
Tapi umumnya menerjemahkannya sebagai kelanjutan dari tradisi
liberalisme ekonomi klasik. Artinya, paham yang percaya pada kebebasan individu untuk bertransaksi, ekonomi pasar sebagai mekanisme alokasi sumber daya, dan campur tangan pemerintah serta hambatan atas transaksi yang minimal.

Lalu, apa yang jadi masalah dengan pemikiran yang sudah berusia dua
abad lebih itu? Ada beberapa kritik umum yang sering disampaikan.
Sebenarnya masih banyak lagi, tapi saya akan fokus pada empat yang
cukup sering terlontar.

Pertama, kaum neolib secara ekstrem memandang pasar adalah
segalanya (‘menghamba’ pada pasar). Keberadaan negara dianggap
kontradiktif terhadap keberadaan dan perluasan pasar. Maka, kaum neolib menginginkan peran negara yang makin kecil, sementara pasar harus diperluas. Perluasan pasar ini tentu berkaitan dengan keuntungan yang lebih banyak bagi pemilik modal.

Kedua, selain lewat cara konvensional, ekspansi pasar dilakukan
dengan dua hal lain: mengubah barang publik menjadi barang privat serta instrumen artifisial seperti transaksi derivatif.

Ketiga, untuk mencapai dua tujuan di atas, secara kontradiktif
kaum neolib justru menggunakan negara sebagai instrumen untuk mencapai tujuannya. Mereka menyerukan pemerintah, terutama di negara-negara berkembang, untuk menjalankan ‘resep neolib’: disiplin fiskal, perdagangan bebas, kebijakan uang ketat, anggaran subsidi yang
terbatas, privatisasi dan hak kepemilikan invididual. Ini adalah
kebijakan yang dikenal sebagai ‘Konsensus Washington.’ Ini dilakukan
antara lain lewat kekuatan modal global dan lembaga donor.

Keempat, sebagai akibat, neoliberalisme bertanggung jawab menyebabkan kemiskinan, ketimpangan global, eksploitasi serta marjinalisasi.

Kelima, karena semangat neoliberalisme adalah kompetisi, manusia
dipandang tak lebih dari sekedar pelaku pasar. Relasi antarmanusia
tereduksi menjadi sekedar transaksi ekonomi yang tidak personal.
Sementara itu, solidaritas serta kerjasama adalah hal yang inferior.

Dengan penggambaran seperti ini, jelas neolib adalah sebuah paham yang sangat buruk, bahkan berbahaya. Problemnya, ketika sesuatu digambarkan secara ekstrem dans superlatif, yang memenuhi definisi itu menjadi makin sedikit. Bahkan tidak ada, karena makin banyak kriteria yang tidak dipenuhi. Akibatnya, sekarang ini jadi rancu apa dan siapa yang sebenarnya disebut neolib. Istilah neoliberalisme sudah menjadi seperti hantu – semua membicarakan dan ketakutan, tapi belum ada yang benar-benar pernah berjumpa.

Bukan hanya rancu. Istilah neolib jadi mengalami inflasi makna dan
kehilangan kredibilitas. Orang bisa dengan mudah menyalahkan segala
sesuatu pada neolib. Dari pemanasan global, bencana alam, hingga
mutilasi.

* * *

Lima kritik yang saya sebut di atas juga sesungguhnya sangat bisa diperdebatkan.

Pertama, soal pasar adalah segalanya. Faktanya, sampai sekarang
institusi negara tetap eksis. Milton Friedman, yang sering dirujuk
sebagai ‘bapak’ neolib, memang menegaskan perlunya peran negara
dibatasi. Tapi di saat yang sama, ia juga mengatakan negara yang kuat
diperlukan untuk menjamin hak individu. Meski ia tetap mengingatkan
bahwa negara yang cukup kuat untuk menjamin hak individu akan cukup
kuat untuk merenggutnya.

Yang jelas, perdebatan soal negara dan pasar, bahkan di kalangan ekonom aliran mainstream, adalah sesuatu yang dinamis dan terus berlangsung. Betul bahwa kebanyakan ekonom percaya pada mekanisme pasar dan campur tangan pemerintah yang minimal. Tapi tidak pernah ada kesimpulan final dan generik. Diskusi kontemporer dalam disiplin ilmu ekonomi sudah meninggalkan debat soal pasar versus pemerintah, tapi intervensi apa yang paling tepat untuk masalah spesifik.

Dalam tataran kebijakan, lagi-lagi faktanya kebijakan sosial dan
redistribusi tidak ditinggalkan seperti dikatakan para pengritik
neoliberalisme. Ekonom dari aliran mainstream tetap berpendapat bahwa
kebijakan proteksi sosial terhadap kelompok miskin tetap diperlukan
dalam ekonomi pasar. Perdebatannya memang ada pada tataran ‘kebijakan apa’ dan ‘bagaimana.’

Kedua, soal penciptaan instrumen-instrumen pasar yang artifisial.
Kritik ini punya poin kebenaran. Adanya ‘inovasi’ seperti transaksi
derivatif dan lainnya yang belakangan ini ada di balik krisis keuangan
global adalah sebuah ekses negatif dari kompetisi dan pengejaran
profit. Saya setuju, ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar an sich berpotensi melahirkan hal-hal yang destruktif. Dan ini yang menciptakan kebutuhan akan regulasi hingga tingkat tertentu.

Tapi kompetisi dan pengejaran profit juga menghasilkan berbagai inovasi
lain yang konstruktif. Menolak kompetisi dan pengejaran profit atas
dasar ekses negatif tanpa mempertimbangkan yang postif adalah kesalahan logika. Pertanyaan besarnya adalah, tanpa adanya semangat kompetisi dan pengejaran profit, apakah peradaban manusia akan lebih baik dari sekarang ini?

Ketiga, soal kritik pada liberalisme yang dipaksakan lewat kebijakan standar neolib. Argumen ini didasarkan pada sebuah asumsi implisit: basis ‘ide’ yang ada di belakang kebijakan ‘standar’ itu tidak bisa tersebar dan diadopsi tanpa adanya desain besar untuk membuatnya tersebar lewat kekuatan modal global dan lembaga internasional. Taruhlah asumsi itu benar. Yang jelas, sebuah ide itu tentu memerlukan ‘kaki’ untuk bisa bertahan. Kaki itu adalah relevansi dengan realitas dan problem yang dihadapi. Artinya, ide seputar mekanisme pasar tidak akan menjadi dominan kalau memang ia bukanlah sebuah sistem yang menawarkan solusi untuk problem alokasi sumber daya yang terbatas.

Saya ambil satu contoh, soal kebijakan displin fiskal. Perlu diingat,
sebelum dekade ‘80an disiplin fiskal bukanlah sesuatu hal yang dianggap
penting oleh pemerintah banyak negara di dunia. Mereka menutupi defisit dengan mencetak uang, menyebabkan inflasi bahkan hiperinflasi. Jika inflasi tinggi, mustahil bagi pemerintah untuk bisa menjalankan
fungsinya secara efektif, termasuk fungsi perlindungan sosial. Lihat
apa yang terjadi sekarang di Zimbabwe, atau sejumlah negara Amerika
Latin di awal ‘80an.

Itulah mengapa orientasi kebijakan ekonomi sepanjang dekade ’70-80an
adalah meredam inflasi. Kalau saat ini hiperinflasi bukan lagi jadi isu
besar, itu adalah salah satu keberhasilan pemikiran monetaris di awal
‘70an.

Keempat, soal kemiskinan dan ketimpangan. Terlepas dari apa yang
dikatakan para pengritik ekonomi pasar, faktanya adalah tingkat
kesejahteraan manusia meningkat. Generasi sekarang memiliki tingkat
kualitas hidup yang lebih baik dari generasi lalu, apalagi dua generasi
sebelumnya. Tingkat harapan hidup, pendidikan, pilihan-pilihan yang
tersedia, semua lebih baik.

Ini tidak menafikan bahwa kemiskinan dan ketimpangan tetap menjadi
problem. Dan betul, dalam sebagian kasus kebijakan berorientasi pasar
menyebabkan, setidaknya mempertahankan, kemiskinan dan ketimpangan.
Tapi di banyak kasus lain, kemiskinan dan ketimpangan disebabkan oleh
intervensi pemerintah, atau hal-hal lain yang sifatnya struktural.
Misalnya iklim dan penyakit, perang saudara dan negara yang gagal,
sistem kasta dan isolasi geografis. Artinya, persoalan kemiskinan dan
ketimpangan punya akar yang beragam. Menuding sebuah ‘paham’ sebagai
penyebab tunggal adalah penyederhanaan masalah yang terlalu ekstrem,
bahkan cenderung menjadi ketidakjujuran intelektual.

Di sisi lain, kebijakan yang meletakkan sejumlah elemen mekansime pasar
bisa berdampak positif pada kemiskinan. Contoh nyatanya adalah apa yang
terjadi di Cina dan India. Dua negara ini bisa tumbuh dengan cepat
setelah sejumlah reformasi pasar dilakukan. Hasilnya, terjadi penurunan
tingkat kemiskinan sebanyak satu milyar penduduk sepanjang dekade
80-90an.

Berbagai inovasi yang didorong oleh mekanisme pasar juga bisa menjadi
solusi bagi penduduk miskin. Di India dan Afrika, telepon seluler telah
membuat hidup menjadi lebih mudah bagi petani, pedagang kecil, nelayan
dan pekerja migran. Mereka bisa melakukan transaksi dengan lebih cepat,
memonitor perkembangan harga, hingga mengirim uang pada keluarga di
kampung halaman lewat layanan SMS.

Di sisi lain, kebijakan yang ‘tidak neolib’ belum tentu berpihak pada
kelompok miskin. Contohnya, proteksi atas sektor pertanian (beras) akan
membuat harga beras domestik naik. Ini tentu menguntungkan petani
pemilik lahan. Tapi akan memukul buruh tani, pengusaha kecil, pedagang
asongan dan kelompok miskin kota. Atau. kenaikan UMR dan kebijakan
pasar kerja yang tidak fleksibel tentu menguntungkan pekerja sektor
formal, tapi makin menutup akses bagi pekerja sektor informal.
Jangan-jangan kebijakan yang berbau neoliberal seperti penurunan tarif
impor beras dan pasar kerja yang fleksibel justru lebih berpihak pada
kelompok miskin.

Kelima, soal hilangnya solidaritas dan reduksi hubungan antarmanusia.
Harus saya akui, saya tidak terlalu fasih menanggapi soal ini karena 1)
saya tidak sepenuhnya paham atas isu ini, 2) keterbatasan pisau
analisis yang saya punya. Tapi, kembali pertanyaan besarnya adalah:
benarkah umat manusia mengalami perubahan menuju kondisi sesuram yang
digambarkan – bahwa hubungan antarpersonal tereduksi menjadi hanya
sebatas transaksi komersial dan di bawah ekonomi pasar solidaritas
menjadi lenyap?

Di tataran empiris, saya kira kenyataan jauh lebih kompleks dan tidak
sesuram itu. Ada banyak paradoks yang akan kita temukan. Di Amerika
Serikat, misalnya, tingkat voluntarisme, partisipasi dalam komunitas
dan filantropisme tetap tinggi. Tingkat filantropisme terhadap PDB di
Eropa lebih rendah dibandingkan di AS, karena secara historis peran
negara di Eropa lebih besar dan tingkat pajak lebih tinggi. Artinya,
dalam kasus filantropisme, sebenarnya yang terjadi adalah menggeser
inisiatif yang dilakukan oleh swasta atau individu ke tangan negara.

Kalau isunya adalah mekanisme pasar memarjinalkan peran modal sosial
dan institusi formal, saya kira persoalannya jauh lebih rumit. Modal
sosial dan institusi informal memang bisa, dan masih, optimal dalam
konteks yang terbatas. Tapi tentu ia memiliki banyak keterbatasan
ketika aktifitas manusia menjadi makin kompleks, sebagai konsekuensi
dari meningkatnya kesejahteraan.

Sementara itu, baik negara maupun pasar sama-sama berpotensi menggeser
peran insitutusi informal. Di Indonesia selama era Orde Baru, tekanan
bagi pranata-pranata sosial justru bukan datang dari mekanisme pasar
melainkan intervensi (dan kooptasi) negara. Sebaliknya, dibandingkan
dengan negara-negara yang menyediakan sistem perlindungan sosial
seperti tunjangan pengangguran atau pensiun, penduduk negara berkembang
seperti Indonesia justru lebih bergantung pada institusi informal
seperti hubungan kekerabatan.

Artinya, saya tidak melihat sebuah pola yang sistematis dan umum dalam
hubungan kausalitas antara paradigma ekonomi pasar dan hubungan
interpersonal.

* * *

Dari beberapa argumen dan kontra-argumen di atas, terlihat bahwa sulit
bagi kita akhirnya untuk menyimpulkan kondisi seperti apa yang memenuhi
definisi (atau persepsi) tentang neoliberalisme. Tidak jelas juga apa
atau siapa yang sebenarnya sedang jadi sasaran kritik.

Hal lain, reduksi istilah neoliberalisme sebagai boneka jerami (straw man)
membuat banyak orang semakin kurang apresiatif pada perdebatan akademis
seputar peran negara dan pasar yang sebenarnya terus terjadi. Bagi
saya, ini adalah kecenderungan yang sangat disayangkan. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s