Catatan Lelah

aku temukan engkau
di sudut kebisingan yang sunyi
saat senja menutup hari
menunggu malam sempurna memberi arti
aku jumpai kamu
mematung beku
seperti buku tak tersentuh
berdebu
di perpustakaan
yang sering tutup sebelum waktu
maka aku baca dikau
dengan seluruh nafas sisa-sisa
dari perasaan yang entah kenapa terluka
di saat sejarah tak menyisakan lembar terakhirnya
dan aku mengeja
satu demi satu
pada setiap detail dirimu
karena ini atas nama cinta semata
tak seperti kampusmu
yang meringkas mahasiswa sekedar deretan angka

Fawaizul Umam

seperti air,
sorot matamu menembus batu
memaknai alur sungai berliku
tapi apa guna
bila tak kunjung menyapa muara
laksana demo mahasiswa
yang terlanjur garang terluap amarah
sampai bakar kursi, merusak segala
eh ujungnya cuma mengganti kajur tarbiyah saja,
alangkah sederhana
maka jangan tanya dimana cinta
seperti udara,
senyummu menelusup kemana saja
mengusap lembut hari-hari yang beringsut lelah
tapi untuk apa
bila tak alirkan nafas bagi jiwa
percuma, tak ubahnya jurusan dakwah
yang tiap tahun selalu kekurangan mahasiswa
mengapa tak bubarkan saja
engkau boleh marah atau menyumpah
tapi ini soal cinta
dan cintaku merengkuh semua
tak kenal batas pandangan mata
laksana air laut yang membagi adil asinnya
atau matahari yang membagi rata sinarnya
ini soal cinta, percayalah
dan cintaku menyimpan bunga
sebab tak ikut latah
belum-belum sudah mikir 2005
engkau boleh sedih atau memaki
tapi ini soal hati
mungkin bisa memilih tapi mustahil terbagi
maka tak peduli taufik, warni, atau asnawi yang jadi
yang penting stain kian maju tersegani
dan gajiku menaik lagi
sudahlah, mas, sudah
ujar isteriku yang jarang ke dharma wanita
karena isinya arisan saja
tapi, aduh
kau biarkan rambut tergerai
di keningmu jatuh terjuntai
kau kerjapkan mata
berbinar pantulkan cahaya
dan di sini
jauh di sini
ada degup bertalu kencang
diam-diam
your game is over, daddy
kata anak pertamaku
menahan langkahku di persimpangan ketujuh
tapi, oh
kau ketukkan jari sempurna
hentakkan kaki rancak berirama
dan kau tahu
jejakmu di tanah membuatku jengah
tapakmu mencipta lentera
menuntunku menuju surga
jangan beri aku airmata, ayah
aku cukup banyak memilikinya
jerit anakku kedua dari balik punggung ibunya
tapi, hmm
kau malah ajak aku bernyanyi
di ruang-ruang kuliah yang lusuh tak bersih
gemerincing di lingkar kakimu
memanggil-manggilku menari
di sepanjang koridor kampus yang lengang kehilangan nurani
tanpa musik mengalun riang
atau dentam bebunyian gamelan
karena dosen yang dihapal hanya jalan pulang
sebelum siang menjelang
wajar, terkait kesejahteraan
begitu dibilang
padahal itu cuma alasan
itulah mengapa hari-hariku bergambar kamu
tergurat di dinding, tertatah di ranting-ranting
tersemat di dedaunan, terlentang di panas jalanan
mengarus di air, mengapung di udara, terpahat di batu-batu
dan tuhan pun cemburu
karena sujudku bercampur kamu
selalu begitu
setiap saat, setiap waktu
____________
catatan lelah dari perjalanan yang memelintir perasaan
Mataram – Bima
3-8 Mei 2004

*Pernah dibacakan dalam Malam Apresiasi Seni BKSM-Saksi IAIN Mataram, Penghujung Juni 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s