Azab di Arab, Mujur di Singapura

714496838-azab-di-arab-mujur-di-singapuraKOMPAS.com — Saat ditanya, negara tujuan mana yang paling bermasalah buat tenaga kerja wanita Indonesia? Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di Luar Negeri Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo menjawab, ”Pertama, Malaysia, berikutnya, Arab Saudi, Kuwait, dan Jordania.” Lalu, negara tujuan paling menguntungkan? ”Singapura, Hongkong, dan Taiwan,” katanya.
Oleh Windoro Adi

Nasib TKW Indonesia di Singapura selintas memang relatif mujur. Gaji mereka sebulan, seperti pengakuan sejumlah TKW saat ditemui di Singapura, Jumat (17/7), 350-1.200 dollar Singapura atau Rp 2,5 juta-Rp 8,5 juta.

Rata-rata majikan mereka takut menganiaya TKW. Sebab, dalam soal penegakan hukum, otoritas Singapura tidak pandang bulu. Umumnya yang membuat mereka tidak betah karena majikan terlalu cerewet kepada mereka. Hal lainnya, rindu kampung halaman.

Menurut Duta Besar RI untuk Singapura Wardana, dari 1.400 kasus yang terkait dengan TKW, kurang dari 200 kasus tergolong kasus pidana ringan. ”Sampai sekarang, baru ada satu kasus heboh di mana seorang TKW dianiaya sampai giginya tanggal,” tuturnya.

Kasus ini, lanjut Wardana, justru menimbulkan kemarahan rakyat Singapura yang merasa malu. Asosiasi Dokter Gigi Singapura lalu tergerak memberikan pengobatan dan perawatan gratis kepada korban.

Pendidikan

Bukan cuma itu. Kalangan TKW Indonesia di Singapura juga didorong oleh Kedutaan Besar RI, mahasiswa, dan kalangan profesional Indonesia di Singapura untuk mengembangkan keterampilan dan pendidikan mereka.

Gayung pun bersambut. Kini sebagian TKW lebih suka menghabiskan libur akhir pekan di sekolah Indonesia. Padahal, sebelumnya, mereka lebih suka membunuh waktu di mal-mal secara berkelompok. Hasilnya? TKW Sumarni asal Wonogiri yang saat tiba di Singapura cuma lulusan SD kini sedang menempuh program diploma dua.

Belum banyak memang TKW Indonesia di Singapura yang sesukses Sumarni. Maklum, kegiatan program pendidikan dan latihan yang dilakukan KBRI baru seumur jagung. Meski demikian, hasilnya sudah mulai menjanjikan.

KBRI di Singapura mulai mendirikan lembaga pendidikan dan pelatihan bagi TKW Indonesia pada 2 Februari 2009. Kini lembaga ini diikuti 512 TKW.

Ada peserta pendidikan yang masih mengikuti program Kejar Paket B yang setara dengan pendidikan SMP. Ada yang sudah mengikuti program Kejar Paket A yang setara dengan pendidikan SMA, sementara sebagian kecil lainnya mengikuti program universitas terbuka.

Saat mereka melakukan pendaftaran di sekolah Indonesia, beberapa majikan tampak mengantar mereka dengan mobil. ”Meski majikan saya cerewet, kalau soal pendidikan, dia memberikan perhatian istimewa kepada saya. Saya senang,” tuutr TKW, Atun (22).

Selain menyelenggarakan pendidikan, KBRI juga memberikan penbekalan keterampilan memasak, menjahit, komputer, serta bahasa Inggris dan Mandarin. Untuk kursus komputer, KBRI menyediakan 60 unit.

”Kami melakukan dalam satu paket yang berlangsung dua pekan sekali pada pukul 10.00-15.00. Biayanya tak seberapa, hanya 50 dollar Singapura. Biaya ini kami pungut hanya agar membangkitkan rasa tanggung jawab TKW selama mengikuti pendidikan dan pelatihan,” kata Wardana.

Yang mengharukan, lanjutnya, puluhan WNI keturunan China mau terlibat menjadi guru secara cuma-cuma bagi para TKW Indonesia.

Sebagian besar mereka berasal dari kalangan menengah yang sudah lama bekerja di Singapura.

Umumnya, mereka mengajarkan bahasa Inggris dan Mandarin. Jumlah mereka yang terlibat saat ini 61 orang. Saat ditemui di sekolah Indonesia, mereka tidak ingin diwawancarai atau dipotret.

”Jangan berburuk sangka. Mereka memang begitu. Mau bekerja keras dan membantu orang lain, tetapi tak ingin tampil,” kata Wardana.

Ia sering menyemangati para TKW untuk menimba ilmu dengan mengatakan, ”Kalau sertifikat kursus komputernya diterbitkan di Wonogiri, itu biasa. Namun, kalau yang menerbitkan Singapura, kan bisa dipajang bagus di rumah.”

Konsultasi

Wardana menjelaskan, selain melakukan pendidikan dan pelatihan, KBRI Singapura juga membuat lembaga perlindungan dan konsultasi bagi TKW, baik melalui pertemuan maupun lewat telepon. ”Umumnya telepon padat pada pukul 22.00 sampai subuh,” ucap Fahmi, Sekretaris I Konsuler KBRI, yang mengelola lembaga ini.

Bila dirasa perlu ditindaklanjuti, KBRI mempertemukan agen, majikan, dan TKW di ruang konsultasi khusus TKW di KBRI. Saat sedang bermasalah, TKW ditampung menginap di KBRI. ”Jumlah yang ditampung saat ini ada 112 orang,” tutur Fahmi.

Meski relatif nyaman bekerja sebagai TKW di Singapura, sejumlah TKW di tempat penampungan di KBRI mengaku belum bisa bekerja lama di Singapura. Mereka masih sering rindu pada kampung halaman atau orangtua.

Siti (23), TKW asal Kendal, Jawa Tengah, misalnya. Saat ini penghasilan bersihnya setiap bulan 320 dollar Singapura. Menurut dia, majikannya baik kepadanya. ”Yang membuat saya ingin kembali ke kampung halaman karena kangen Emak,” ucapnya.

Menurut Siti dan kawan-kawannya, untuk berangkat ke luar negeri menjadi TKW, mereka harus mau tidak digaji selama delapan bulan demi melunasi utang kepada agen. ”Karena saya pulang sebelum delapan bulan, saya harus membayar sisa utang Rp 24 juta. Sudah saya siapkan,” ujarnya.

Saat ditanya, apakah tidak menyesal memutuskan kembali ke kampung halaman, ia menjawab, ”Rezeki sudah ada yang mengatur.”

2 responses to “Azab di Arab, Mujur di Singapura

  1. Mungkin orang Singapura, Hongkong dan Taiwan lebih ber-perikemanusia-an, bukan karena takut pada hukum.

  2. http://vkatalogah.ru/ – регистрация в каталогах

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s