10 KRITERIA ORANG DILARANG JADI PENULIS

gggHati-hati dengan euphoria berprofesi menjadi penulis akan cepat kaya yang mudah sekali digembor-gemborkan dipelatihan menulis! Pilihlah pilihan yang paling tepat untuk anda dalam berprofesi. Apakah benar berani menanggung semua resiko untuk menjadi seorang penulis, seperti para penulis sukses? Atau anda justru lebih cocok berprofesi lain dan menulis dijadikan sampingan saja? Atau sekedar hobi?

Oleh R.W. Dodo***

SEBELUMNYA maaf, mungkin judulnya cukup ekstrim. Tapi, mungkin penjelasannya teman-teman bisa menganalisa sendiri. Apakah judul tersebut patut untuk disandangkan pada topik ini atau tidak. Dan tentunya, yang lebih penting adalah apakah benar refleksi ini akan bermanfaat untuk semua yang ingin berprofesi menjadi seorang penulis atau tidak.
Sekarang ini di Indonesia terjadi kenaikan sangat pesat euforia orang untuk berprofesi menjadi seorang penulis. Realita ini terpacu karena ada beberapa gelintir orang yang telah sukses meraup keuntungan besar secara financial dari menerbitkan buku. Tentunya nama-nama seperti Andrea Hirata dan Habiburrahman El Sirazy di sini yang tercatat sebagai pionir.
So, fenomena seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang mutlak negative. Tetapi, tidak pula mutlak kepositifan yang harus dipupuk lepas dari analisa untuk kemajuan. Ya, karena fenomena seperti ini terdapat dua sisi positif dan negative, yang tolok ukur presentasi kedua sisinya sangat relative sekali. Antara individu satu dengan yang lainnya.
Untuk itulah, disini penulis mengajak kepada siapa saja yang sedang merancang untuk berprofesi sebagai penulis agar mau merefleksi dirinya. Apakah benar, profesi menulis adalah pilihan cocok yang akan membuatnya menjadi sukses? Sukses dalam arti luas, baik secara materiil maupun non materiil. Atau, justru ternyata pilihan menulis akan sangat salah jika dipilih, karena sebenarnya ternyata ia mempunyai kelebihan lain yang memungkinkan bisa direalisasikan kesuksesannya dengan maksimal dalam jangka waktu yang cepat dan tidak seberat merealisasikan menjadi penulis usaha yang harus dilakukan?
Setidaknya ada 10 alat indicator dari penulis, yang disebut dengan nada agak sedikit keras sebagai “10 Kriteria Orang Dilarang Jadi Penulis” (penulis disini yang dimaksud adalah yang ‘dijadikan sebagai profesi’), yang mungkin bisa anda gunakan untuk mereflaksikan diri.
Adapun kriteria itu meliputi:

1. Tidak bisa menulis (buta huruf)

Bagi anda yang tidak bisa menulis dalam artian memang buta huruf. Anda adalah termasuk dari orang yang dilarang untuk berprofesi sebagai penulis. Ya, karena tentunya anda akan mengalami proses yang sangat panjang sekali selama hidup untuk merealisasikan keinginan itu. Dan alangkah baiknya jika anda mencari kelebihan lain yang sudah anda miliki untuk dikembangkan secara maksimal. Dari pada anda memulai dari nol, bahkan minus, dalam mengejar profesi untuk menjadi seorang penulis.

Ini bukan berarti melarang anda untuk belajar menulis. Dan bukan menentang program pemerintah untuk memberantas buta huruf. Tidak dilarang anda untuk menulis, atau belajar menulis. Yang dilarang adalah jika anda masih nekad tetap mengejar untuk jadi penulis.

Hargailah kelebihan lain anda yang diberikan oleh Tuhan. Jangan sia-siakan itu! Pertimbangkan umur, waktu, orang-orang yang menunggu kesuksesan anda! Sebelum anda memilih sebuah profesi yang cocok!

2. Tidak bisa membaca (buta huruf)
Membaca adalah senjata penting dalam berkarier untuk menjadi seorang penulis. Sama halnya menulis. Jika anda buta huruf tidak bisa membaca. Berarti anda termasuk juga dari bagain orang yang berkriteria dilarang untuk menjadi seorang penulis.

Tetap belajarlah membaca, dan lihat potensi lain yang telah anda miliki. Lalu kembangkan potensi lain itu secara maksimal. Itu lebih realistis untuk mewujudkan kesuksesan anda dibidang itu ketimbang keras kepala untuk mengejar berprofesi menjadi seorang penulis.

3. Tidak mau menulis
Jangan berharap akan menjadi seorang penulis jika anda tidak mau menulis. Anda sedang bermimpi. Bangunlah dari mimpi itu. Lihat kenyataan, dan sadarlah. Bahwa selama ini anda tertipu dengan keinginan yang tidak realistis memenuhi benak anda.

Kejarlah mimpi yang realistis yang akan membuat anda sukses. Gali potensi yang ada di bidang lain yang telah anda miliki. Itu lebih realis. Dan tidak akan membuat anda semakin strees menunggu untuk menjadi seorang penulis tanpa menulis! Sudah cukup banyak caleg gagal yang strees, jadi jangan ikut memenuhi RSJ gara-gara anda juga strees!

4. Tidak mau membaca
Tidak mungkin orang tanpa membaca akan jadi seorang penulis! Ya, untuk itu, jangan buang waktu anda untuk bermimpi jadi penulis kalau tidak mau membaca. Atau lagi-lagi anda akan menyia-nyiakan waktu untuk menunggu buah durian tidak akan berduri lagi.

5. Egois (keras kepala)
Kebiasaan orang cenderung menganggap karyanya sudah bagus. Dan tidak mau menerima masukan dari orang lain. Sok pinter. Ini banyak terjadi pada orang yang bermimpi untuk berprofesi menjadi seorang penulis. Ya, biasanya mereka karena terprofokasi oleh pelatihan-pelatihan menulis yang menumbuhkan semangat gila. Muluk-muluk tentang bahwa menulis bisa kaya. Kaya hati, kaya ilmu, kaya uang kalau diterima masyarakat karyanya. Dan catatan buruknya, dalam pelatihan itu untuk menjadi seorang penulis yang perjuangannya sangat berat tidak diberikan.

Karena pikiran mereka yang sudah mengawang akan manjadi sukses sebentar lagi, jadi buta melihat karya yang dihasilkannya. Seolah tidak ada cacat. Makanya kalau dikirim ke media, trus media meminta untuk direvisi kalau mau diterbitkan. Mereka tidak mau. Karena keegoisannya terhadap karya. Karena keras kepala seolah dia yang lebih tahu segalanya tentang karya.

Dan jika tetap bermimpi untuk berprofesi sebagai penulis dengan keras kepalanya! Tunggulah mereka, pasti akan menyesal telah menyia-nyiakan waktu banyak sampai ia sadar pada akhirnya. Teman-temannya sudah menjadi orang sukses. Tapi dia masih pengangguran sukses!

Butuh kerendahan hati untuk berprofesi menjadi seorang penulis! Mau menerima saran. Dan mau memperbaiki diri. Bukan membenci yang mengkritik karyanya!

6. Tidak mau belajar
Sudah egois! Tidak mau belajar lagi dalam berkarya. Ikut pelatihan menulis ogah! Baca buku cara menulis, ogah! Maunya hanya mengajari orang menulis! Sok tau!

Mungkin anda bisa mempertimbangkan sendiri, apakah orang macam ini akan bisa menjadi penulis? Berprofesi menjadi penulis dan bisa makan tiap harinya dari menulis?!

Ya, Tuhan Maha Adil. Kalau ada yang lebih patut untuk ditolong, ngapain nolong orang macam ginian bukan?

7. Tidak mau mengirimkan naskahnya ke media
Yang lucu, ingin berprofesi menjadi seorang penulis. Tapi tidak mau mengirimkan karyanya untuk diterbitkan di media. Ada juga orang macam ginian. Ya, apakah ini bukan mimpi? Ini bukan sekedar mimpi. Tapi, ia telah terlelap dan mengigau!

So, semoga Tuhan meluruskan niatnya! Sehingga ia ditolong dari kesengsaraan untuk tetap ingin jadi penulis!

8. Tidak mau bekerjasama dengan penerbit (media)
Penulis eksis harus bersandingan dengan penerbit. Bekerjasama baik. Penerbit membutuhkan naskah untuk diterbitkan. Atau sebuah PH membutuhkan naskah scenario untuk ditayangkan. Sedangkan penulis membuat naskah untuk diterbitkan dan ditayangkan.

Keduanya saling membutuhkan. Untuk itu, harus terjalin kerjasama yang baik. Jika, tidak ada kerjasama… ya, jangankan menjadikan menulis sebagai profesi, yang hasilnya akan digunakan untuk tumpuan hidupnya. Untuk yang menulis sebagai iseng-iseng cari uang tambahan aja… tentunya akan sangat sulit.

Jadi, jangan berpikir untuk berprofesi menjadi seorang penulis. Atau justru menyia-nyiakan usia anda!

Atau anda akan ngotot untuk menerbitkan karya anda sendiri? Ya, memang ide seperti ini sekarang sering digembor-gemborkan dalam pelatihan. Berpikirlah realis. Untuk melakukan itu, butuh keahlian lain yang harus dimiliki. Dalam proses pencetakan naskah, marketing, distributor, dsb. Jika, nulis aja anda sudah tidak bisa kompromi dengan penerbit. Apakah anda masih yakin naskah anda bisa berkompromi dengan pasar?

9. Tidak mau berproses
Karena melihat Andrea Hirata yang sukses besar dengan Laskar Pelangi-nya. Membuat mimpi anda semakin melambung. Wah, anda akan menjadi orang seperti Andrea. Karena anda terlelap dengan mimpi. Anda jadi lupa diri.

Karena naskahnya merasa keren. Dijuallah mahal kepada media. Ditolak deh. Atau kalau udah ditolak, males deh nulis! Atau diterima, dengan harga standart. Trus, diminta revisi naskah. Anda nggak mau!

Jika macam seperti ini tipikal anda! Lebih baik, niat untuk berprofesi menjadi penulis. Buru-burulah digugurkan. Atau akan lebih menderita lagi dengan kasus-kasus tidak mengenakkan diri anda!

Menulis butuh proses panjang. Seorang penulis sukses, telah melewati getir pahitnya menjadi seorang penulis. Dan anda pun jika ingin menjadi penulis. Juga harus melewati getir pahitnya prose situ juga. Kalau tidak mau, lebih baik urungkan niat anda! Anda tidak cocok untuk jadi penulis!

10. Tidak mau menganalisa
Kekuatan untuk tetap eksis dalam dunia kepenulisan adalah inovasi dan kreatifitas. Dan untuk itu, kita butuh analisa. So, kita harus menyesuaikan kira-kira pasar akan bisa menerima naskah kita atau tidak? Apa yang dibutuhkan masyarakat kita saat ini?

Pisau analisa yang akan menjamin anda apakah gulung tikar atau tidak! Oke, mungkin anda jadi juara dalam lomba. Dan bisa hidup dengan hadiahnya dalam beberapa bulan. Tapi, apakah anda akan bisa makan setelah itu?

Atau oke, dengan satu buku anda berhasil terjual best seller dan anda bisa beli sesuatu. Tapi, setelah buku itu masanya habis, apakah anda bisa menjamin ekonomi akan bersahabat dengan anda?

Jadi, inti dari semua ini bukan berarti melarang anda untuk pesimis berprofesi menjadi seorang penulis. Tapi, mengingatkan kembali kepada anda semua. Sebelum menetapkan diri untuk memilih berprofesi sebagai penulis. Cobalah dipertimbangkan secara matang. Agar nanti anda tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan anda untuk lebih bisa cepat sukses di bidang lain!
Hati-hati dengan euphoria berprofesi menjadi penulis akan cepat kaya yang mudah sekali digembor-gemborkan dipelatihan menulis! Pilihlah pilihan yang paling tepat untuk anda dalam berprofesi. Apakah benar berani menanggung semua resiko untuk menjadi seorang penulis, seperti para penulis sukses? Atau anda justru lebih cocok berprofesi lain dan menulis dijadikan sampingan saja? Atau sekedar hobi?
Temukan jawabannya pada diri anda sendiri!
Semoga bermanfaat!
Salam sukses!
***
R.W. Dodo, (track record: Diretor Anakata Script Writer, Manager Literary Agency Mata Pena Writer, Leader FLP Cabang Ciputat, Direktori penulis Menulisyuk.com, Mantan Staf Ahli Tim Kreatif BACA, Mantan Editor @Media, Pendiri Lingkar Sastra Tarbiyah (LST) UIN Jakarta) dan Redaktur Buletin SMART.
Blog: – Multiply : anakkata.multiply. com
Blogspot : rwdodo.blogspot. com

RESOURCE : Millis FLP

4 responses to “10 KRITERIA ORANG DILARANG JADI PENULIS

  1. Alhamdulillah… bisa nemu tulisan yang lumayan menyentak ini!
    hehehe

  2. trims atas advicenya, sangat berguna bagi saya. semoga waktu yang saya lalui untuk menulis tidaklah sia2

  3. terima kasih sudah memberi teguran pada saya.🙂
    artikel yang bagus.

  4. Ribuan Terima Kasih
    Artikel yang sangat baik dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s