Semoga Bukan Politik Tebar Pesona!

Sebuah Refleksi Atas Opini “Jika Tuan Guru Jadi Gubernur”



Jurus-jurus populisme, seperti berpenampilan elegan, cool, saleh dan berkomunikasi santun ternyata jitu menghantarkan bajang menjadi orang nomor satu di daerah ini. Realitas ini mengingatkan kita pada populisme yang sama ketika berhasil menghantarkan SBY menjadi presiden pada pemilu 2004.


Oleh : Achmad Jumaely*

Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majedi selanjutnya saya sebut Gubernur Bajang, telah dipilih rakyat NTB sebagai pemimpinnya pada periode 2008-2014. Ini berarti, pro-kontra tentang harapan dan kekahawatiran yang sempat mencuat ketika awal-awal pencalonannya pupus sudah. Sekarang, tinggal melihat mana yang lebih teruji keabsahannya, akan terbuktikah kekhawatiran-kekhawatiran itu atau sebaliknya, akan berhasil terpenuhikah harapan-harapan itu?.

Kekhawatiran sedikit tercermin dalam opini saya berjudul “Jika Tuan Guru Jadi Gubernur”. Di opini yang saya posting di blog http://www.opinikampus.wordpress.com itu saya menulis, Gubernur Bajang nantinya akan cukup berat menghadapi lawan-lawan politiknya baik di legislatif maupun di internal pemprov sendiri. Beliau yang notabene selama karirnya akrab dengan tradisi “cium tangan” dan seruan moral akan berhadapan dengan realitas politik yang serba culas dan kepentingan berubah menjadi tuhan.

Sedikit berat, manakala misalnya, negosiasi dengan rival-rival politik yang berstandar materialis gagal dilakukan. Disitu adalah niscaya, seruan moral tak ada gunanya, yang berguna justru kemampuan manajerial, berpolitik dengan aman agar kursi sang Gubernur Bajang kita yang masih belia itu tidak terancam.

Kekhawatiran lain, sosok seorang tuan guru atau kiai (jawa) yang masuk politik lazimnya akan kaku berhadapan dengan struktur kekuasaan baru yang ia pimpin. Walau Gubernur Bajang pernah menjadi pejabat di legislatif pusat, jabatan Gubernur yang beliau sandang hari ini tidaklah sama. Menjadi anggota DPR RI kata orang, anak Sekolah Dasar-pun bisa! karena kerjanya simple saja “Duduk, Diam dan Duit”. Begitu juga tak bisa menjadi jaminan, kesuksesan beliau memimpin pondok pesantren NW di Lombok Timur bukan menjadi ukuran bakal suksesnya beliau memimpin NTB yang tentu saja memiliki tantangan berbeda..

Diluar itu, beberapa harapanpun masih diserukan. Dengan terpilihannya Gubernur Bajang, moralitas utamanya kejujuran yang dimiliki para politikus di NTB sedikit bisa terdongkrak naik dengan kapasitas keagamaan yang beliau punya. Korupsi diharapkan sesegera mungkin bisa diberantas tentunya dengan semangat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Kualitas kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan yang rendah juga sesegera mingkin bisa diatasi dengan merealisasikan APBD yang transparan, jujur, efisien dan tepat sasaran.

Harapan juga, dengan modal kearifan, beliau bisa mengatasi persoalan keummatan, khususnya terkait suramnya masa depan keberagaman kita di NTB. Sentimen keberagaman yang kian mengeras beberapa tahun terakhir seperti kekerasan terhadap penganut Salafi, Ahmadiyah, penganut Syi’ah serta menegangnya hubungan Hindu-Islam akibat perusakan dua pure di Senaru dan Narmada beberapa waktu lalu dapat sesegera mungkin diakhiri dengan damai.

Terangnya, Gubernur Bajang diminta untuk memperlakukan rakyat tanpa melihat latarbelakang etnis, golongan, agama atau keyakinannya. Di hadapannya, hendaknya tak ada pilah-pilih, apakah rakyat ini warga NW, NU, Muhammadiyah ataukah Ahmadiyah. Apakah warga itu, Kristen, Hindu, Budha, islam atau bahkan penganut keyakinan diluar keyakianan mainstream. Tak istilah santri, biarawan, pedanda atau apalah. Yang ada hanya rakyat, rakyat yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, yang kebetulan saja dipimpin seorang Gubernur yang berlatar belakang Tuan Guru, beragama Islam dan berafiliasi ideologis dengan NW. Selebihnya tak ada lain. Maka Gubernur Bajang harus berseru dan bertindak “keadilan untuk semua!”.

Hindari “Tebar Pesona” Gaya SBY

Terpilihnya presiden SBY pada pemilu 2004 silam disinyalir banyak pengamat sebagai kemenangan politik pencitraan bukan kemenangan yang didasarkan pada bagus dan canggihnya visi-misi politik. Kelihaian SBY “menebar pesona” saat kampanye seperti penampilan yang selalu rapi dan elegan, tata cara komunikasi yang cool, santun dan bersahaja ditambah face dan body-nya yang gagah ternyata berhasil merebut hati rakyat untuk memilihnya.

Faktanya, setelah dua tahun, kritik terhadap model kepemimpinannya membludak bak air bah. Megawati misalnya pernah mengatakan SBY berpolitik seperti tarian poco-poco, maju mundur dan tak bisa mengambil sikap. Beberapa kasus yang dicontohkan mega, antara lain tak terselesainya kasus mantan presiden Suharto, korupsi BLBI, terbunuhnya aktifis HAM Munir, Kasus Lapindo serta terakhir kasus Ahmadiyah.

Menghadapi kasus-kasus itu, SBY bahkan kerap tak tegas dan bersikap komparador dalam bersikap. Ini jelas sangat kontras dengan penampilannya yang gagah perkasa, lebih lagi berpendidikan militer. SBY bahkan divonis penakut dalam mengambil resiko. Tangkah polah politiknya yang kerap menjadi olok-olok tercermin dari sikapnya yang ternyata lebih mencintai terjaganya tingkat popularitasnya daripada kerja riil. Bahasa rakyatnya, SBY lebih memilih program BLT dan kenaikan BBM daripada berusaha menangkap koruptor BLBI atau menyelesaikan penderitaan masyarakat Sidoarjo akibat lumpur Lapindo.

Gubernur Bajang nampaknya juga demikian. Harus diakui, kemenangannya baru lalu, salah satunya, besar di-berkah-i oleh popularitasnya sebagai tokoh agama dan penceramah ulung di NTB. Ditopang dengan penampilannya yang super elegan, saleh serta cara komunikasi yang santun bersahaja akhirnya bajang berhasil menarik simpati rakyat. Proses kemenangan Gubernur Bajang ini mirip sekali dengan kemenangan SBY pada pemilu 2004. Namun, akankah, setelah jadi sekarang, Gubernur kita ini juga akan meniru model kepemimpinan SBY yang banyak mengecewakan itu? Mempertahankan popularitas dan menisbikan kerja-kerja kongkrit memperbaiki daerah jelas adalah pilihan konyol. Semoga ini tak terjadi.

Yang jelas, dalam suasana politik NTB sekarang ini (menurut para pengamat selalu labil), kepemimpinan Bajang bakal mendapat tantangan-tantangan serius. Selain banyaknya Pekerjaan Rumah (PR) Mantan Gubernur Serinate yang menuntut segera diselesaikan juga ada soal korupsi, kemiskinan dan pendidikan. Dan tentu saja yang paling urgen adalah, Bajang harus segera merealisasikan janji-janji saat kampanyenya seperti reformasi birokrasi, pengentasan kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan dan seterusnya. Semua ini jika tak segera dilakukan, maka luberan tuntutan dari rakyat yang menggema dan meledak. Bahkan beberapa media menulis, Janji Bajang terhadap pendidikan gratis bahkan sudah diam-diam ditagih rakyat. Maka, bajang perlu hati-hati dalam 100 hari kepemimpinannya, rakyat akan terus mengawasi terobosan-terobosan penting apa yang dilakukan.

Tantangan bajang pula, bakal datang dari partai-partai politik khususnya partai-partai pendukung. Sudah pasti, bagi-bagi kekuasaan jika tak di akomodir dengan bijak akan berakibat pada bertambahnya barisan oposan. Sementara di parlemen, sistem multipartai yang masih berlaku hingga hari ini, meniscayakan tak adanya satu parpol mayorias disana. Ini artinya, bajang harus mampu melakukan negosiasi politik dari semua penjuru kepentingan yang tarik menarik. Untuk yang satu ini, Gubernur bajang nampaknya butuh kerja keras dan belajar yang rajin bagaimana menjadi politikus yang andal.

Gelar politisi yang disandang Beliau saat ini jelas diharapkan, agar sang Gubernur Bajang kita ini tak hanya tangkas membaca kitab kuning tapi juga tangkas mengakomodir kepentingan-kepentingan politik berbagai kelompok. Kemampuan yang dituntut dari Gubernur Bajang saat ini sesungguhnya tak sesederhana memimpin sebuah pondok pesantren, tapi ia seaat ini tengah mengepalai jajaran kabinet yang berasal dari beragam latarbelakang. Memimpin kepala dinas, para bupati yang semakin otonom dan tentu saja tekanan politik-partai politik. Intinya, sebagai orang nomor satu di NTB, kita menunggu kinerja-kinerja bajang dan kemampuanya memimpin dan menggerakkan jajarannya demi tercapainya tujuan-tujuan daerah yang lebih baik. Wallahu A’lam Bissowab.[]

*Koordinator Jaringan Islam Kampus (Jarik) Mataram

2 responses to “Semoga Bukan Politik Tebar Pesona!

  1. TGB itulah nama populernya tuan guru majdi sang gubernur NTB terpilih. melihat realitas NTB saat ini sangat terbelakang jika dibandngkan dengan daerah lain di indonesia, tentunya ini adalah PR besar bagi TGB. TGB harus membersihkan birokrasi yang ada di NTB, masyarakat mengenal bahwa birokrasi di NTB sangat kotor. memajukan pependidikan yang mendidik, sehingga pendidikan mampu membaw masyarakat ke hidup yang lebih baik, yakni mempunyai semangat juang yang tinggi, daya saing, masyarakat yang melek terhadap realitas kehidupan ,sehingga masyarakat tidak hanya menunggu dan menunggu meliankan masyarakat yang pastisipatif, seperti ajakan Obama, presiden USA terpilih yang jelas “yes We Can”, memajukan pariwisata yang sesuai dengan budaya lokal, tidak merusak tatanan yang ada. dan seterusnya-dan seterusnya. semoga TGB ampu menjalankan tugasnya dengan baik.

  2. lihatsaja…teman-teman di yang tinggal di ntb yang dapat merasakannya langsung…meski aku juga putra daerah, tapi tidak bisa merasakan secara langsung perubahan apa yang akan dibawa TGB.

    > Btw, untuk pengelola forum ini…kok belum ada postingan baru lagi..ini media yang cukup bagus dan apik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s