Pendidik Untuk Pendidikan Kita


Kita berharap langkah tanggap pemerintah sebagai terapi ulang akan kondisi pendidikan bangsa kita dan merupakan batu tapal perubahan. Menuju perubahan yang lebih baik dan maju. Dan mendesain ulang terhadap pola-pola/paradigma pendekatan pendidikan yang membudayakan. Sehingga nilai-nilai bangsa kembali dihargai oleh generasi selanjutnya.

*Julaedi Akbar

Saat ini, dunia pendidikan seakan ketiban durian runtuh. Hati pemerintah mulai tergugah dan seakan tertuju sepenuhnya untuk pendidikan dengan dalih upaya peningkatan mutu Sumbe Daya Manusia (SDM) Indonesia seperti yang diamanatkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Oleh karena itu pidato SBY di depan anggota DPR (15/8/2008), mempertegas dan menetapkan bahwa anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen dari total APBN 2009. Bila di rupiahkan, total anggaran untuk pendidikan pada APBN 2009 sebesar 244,44 triliun bila dibandingkan dengan anggaran 2008 sebesar 154,2 triliun, (Opini ; kompas 3/9/2008). Eksperesi kepedulian pemerintah terlihat jelas dalam bentuk suntikan dana atau bantuan ke sekolah-sekolah berupa, Dana Bantuan Oprasional Sekolah, fungsional guru dan dana renovasi dan dana-dana lainnya.

Upaya pemerintah ini patut kita acungkan jempol. Sebagai wujud memotivasi dan menggairahkan kembali dunia pendidikan kita, yang selama ini terasa seakan ‘hidup tak mau, mati pun tak segan’. Beda mungkin pendidikan kita di Era 30-an atau 60-an, nuansa semangat dan energiknya sangat terasa di tanah air kita. Meskipun alat dan perangkat belajarnya tidak secanggih sekarang. Dan sekolahnya tidak sebanyak sekarang akan tetapi pemaknaan terhadap nilai-nilai budaya kebangsaan amat melekat di hati para generasinya. Terbukti, mampu menjadikan Negara yang mulanya terpecah-pecah menjadi bantaran nusantara di bawah bendera merah putih.

Seiring perjalanan waktu semangat itu terkesan memudar, nilai-nilai budaya bangsa mulai tercoreng. Ada istilah generasi muda pemakai narkoba, suka tauran dan punya geng mafia, semua ini dilimpahkan sebagai kesalahan dan kegagalan dunia pendidikan dalam mendidik generasi bangsa ini.

Kita berharap langkah tanggap pemerintah sebagai terapi ulang akan kondisi pendidikan bangsa kita dan merupakan batu tapal perubahan. Menuju perubahan yang lebih baik dan maju. Dan mendesain ulang terhadap pola-pola/paradigma pendekatan pendidikan yang membudayakan. Sehingga nilai-nilai bangsa kembali dihargai oleh generasi selanjutnya.

Sehingga tindakan wajar jika mulai terlihat banyak sekolah-sekolah yang berusaha sesegera mungkin untuk berbenah diri. Dulu, yang muridnya hanya memakai seragam hitam putih bertambah jadi tiga ‘baju batik’, dan guru yang jarang masuk kini ramai-ramai nawarin diri supaya jam pelajaran ditambah lagi.

Kita berharap dengan anggaran yang sedemikian besar mampu membawa arus perubahan dunia pendidikan kita dan menjadikan guru-guru yang benar-benar mendidik. Yang tidak hanya sekedar mengajar, akan tetapi memberi nilai tambah bagi pencitraan baik terhadap pendidikan yang kita harap sebagai garda peningkatan kesejahteraan dan perbaikan moral bangsa saat ini, serta kedepannya.

Tindakan gesit dari dunia pendidikan kita, paling tidak mampu memaknai ungkapan William Butler Yeats “pendidikan bukanlah ibarat mengisi sebuah ember. Pendidikan adalah menyalakan sekelebat api (hernowo ; menggugah sekolah). Seorang pendidik diharap bukan hanya sekedar guru yang mampu menceramahi, tapi bagaimana seorang pendidik itu mampu menyemangati atau memotivasi supaya anak didik mau belajar dan berkereasi.

Lantas, pendidik yang bagaimana ?, yang ideal bagi pendidikan kita sekarang ini.

Kata Meiyer dalam bukunya Hernowo (menggugah sekolah), menyarankan agar pendidik selalu membuat suasana gembira, bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Kegembiraan disini berarti membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna pembahagian pada diri si pembelajar.

Dan tidak terdengar lagi bahsa sumbang, pendidikan mal peraktik kekerasan terhadap anak, tindakan-tindakan Korupsi dan Kolusi serta Nepotisme (KKN). Pendidikan harus betul-betul menjadi garda perbaikan dibawah lascar-laskar pendidik yang bersih dan berwibawa.

Oleh karena itu, Lozanov menganjurkan agar para guru atau pendidik memahami dari mana siswanya, sehingga para guru mampu mengadakan hubungan yang lebih baik dan masuk kedalam dunianya para siswa. Dan mampu menembus tembok mental dalam belajar yang menurutnya, pertama kritis logis, dua, inovatif-emosional dan kritis-moral.[]

* Mantan PU LPM RO’YUNA IAIN Mataram

4 responses to “Pendidik Untuk Pendidikan Kita

  1. kadang kita ga bisa sepenuhnya menyalahkan para guru karena ga bisa menjadi guru ideal. mereka sendiri punya segudang masalah dan kenyataan bahwa guru juga manusia. lagian, guru kan sebuah profesi, ga beda sama dokter, sekretaris, manager, dsb. bedanya, mereka bertanggung jawab terhadap masa depan suatu bangsa….

    maunya sih, kalau orang bisa bilang guru yang ideal itu gini ini, caranya gini, kerjanya mesti gini, mestinya dia jadi guru dulu deh

  2. mengajar, mendidik dan memotivasi. Kunci sukses guru.

  3. Menyikapi angg pendidikan, nggak usah rame2..lah. Menurut pdpatQ : peningk angg pdik smpx 100% bsa dcpai …..kok, asal da goodwill dr pmrntah tuk seryus brntas korupsi. K_lo corupt bsa dtekan otomatis uang ngra bxk xg terselamtkn n anggr bsa tcukpi. Cz …. Qta ini negra kaya – coba klo g! pcya, carikan gw contoh negra laen d duxa xg px minyak skaligus air,emas,btbara,timah,kayu,ikan,angin,matahari,gas,rempah2 dll, g! ..da kan…? (kecuali surga kali ..y) – tapi melarat. Maka tdklah blebihan jika bxk org bilang : negara qta ni,neg paling salah urus d dunia. Tul…g! Boss.

  4. setidaknya ada dua hal yang harus dimiliki oleh seorang guru yang ideal yang pertama adlaah sorfskill adalah kemampuan guru untuk memotivasi anak didiknya untuk selalu belajar karena ia disenangi oleh murid2nya, yang kedua adalah hardskill adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran inilah guru yang diharapkan bisa membawah pendidikan indonesia kembali bangkitaklau dulu orang lain belajar di negara kita nah… sekarang kita buktikan bahwa mereka harus belajar lagi di negara kita agar merah putih tetap berkibar di jagat raya ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s