Mencari Gubernur Pluralis

“Masa depan rakyat dibentuk oleh mimpi dan kepribadian pemimpin yang kita pilih” tutur Gede Prama dalam bukunya ‘Hidup Sejahtera Selamanya’. Ungkapan pria yang dijuluki ‘resi’ manajemen Indonesia itu sangat tepat dijadikan rujukan sebelum memilih pemimpin. Sudah banyak dibuktikan dalam sejarah, wajah masyarakat dan organisasi sangat dominan diwarnai oleh pimpinan puncaknya.

Yusuf Tantowi

Saat ini banyak publik figur yang tergiur menjadi bupati, gubernur bahkan presiden. Bermodal popularitas, dia lalu berambisi menjadi pemimpin puncak. Pada hal kesehariannya sosoknya tidak pernah menunjukkan karakter pemimpin yang baik. Bahkan segala urusan yang menyangkut dirinya dan orang sekitarnya diserahkan kepada pihak kedua.

Konteks NTB, perlu dicermati model kepemimpinan yang tepat untuk memimpin daerah ini. Sebagai daerah yang memiliki tingkat kemajmukan yang tersendiri, baik itu agama, etnis, bahasa dan keyakinan keagamaan. Ini lah keunikan NTB dibanding daerah lain. Maka calon pemimpin NTB kedepan harus peka akan keberagaman rakyatnya.

Tanpa itu kemajmukan yang ada bisa dianggap sebagai ancaman yang perlu disingkirkan.Kesalahan model tafsir ini berpotensi melahirkan politik penyeragaman seperti pada rezim Orde Baru berkuasa. Dan kita masyarakat NTB sepakat meninggalkan warisan yang salah tafsir itu. Akibat politik penyeragamannya yang represif, rakyat dibuatnya menderita selama 32 tahun lebih.

Saya tidak bisa membayangkan wajah NTB kedepan jika gubernur terpilih nanti buta akan keberagaman. Carut marutnya potret keberagaman di daerah ini menjadi bukti bahwa pemerintah yang berkuasa tidak cerdas mengelola keberagamaan. Bahkan tak jarang dalam berbagai kasus begitu gegabah memvonis kelompok lain yang kebetulan minoritas dituduh menyebarkan virus perpecahan.

Visi Pluralisme

Kedepan NTB membutuhkan figur gubernur yang memiliki visi pluralitas. Gubernur yang bisa menjalankan birokrasi berdasarkan prinsip kesetaraan, toleran, terbuka serta egaliter. Semua prinsip itu tentunya harus ditopang oleh spirit profesionalisme dalam mengelola pemerintahan. Melibatkan semua unsur yang ada tanpa diskriminasi berdasrkan etnis, agama atau paham. Pemerintahan yang dikelola secara terbuka akan menciptakan partisipasi aktif dari rakyat.

Sayang sampai hari ini saya belum melihat calon gubernur dan calon wakil gubernur (Cagub-Cawagub) NTB yang muncul memiliki visi membangun keberagaman. Dan belum ada satupun yang memiliki nyali membela atau sekedar menunjukkan solidaritas terhadap kelompok minortitas yang di zalimi oleh mayoritas. Sebaliknya malah ramai-ramai berteriak membela mayoritas, menyesatkan dan mengakfirkan kelompok minoritas.

Coba Anda cermati beberapa fenomena sosial keagamaan kurun Oktober-Nopember ini. Muncul berbagai ketegangan sosial atas nama agama, kafir sesat dan lain-lain. Kasus yang dialami Jamaah Ahmadiyah, Salafi dan pengikut Al-Qiyadah menjadi bukti buramnya potret keberagaman di daerah ini. Disana terlihat begitu gagapnya gagap serta tidak siap menerima perbedaan yang hadir disekitar kita.
Dalam konflik itu tergambar betapa agama ikut menciptakan persoalan kemanusiaan. Saya tidak menyalahkan agama sebagai penyebab utama tapi agama, Tuhan, ekonomi dan keamanan dijadikan sebagai dalil nakli untuk menyingkirkan orang lain. Kalau seperti itu, saya ragu agama bisa membawa keselamatan ?.

Di tempat lain, para pegiat politik malah terjebak pada permainan partai untuk memonopoli kriteria calon gubernur. Mereka tidak memberikan ruang sedikitpun kepada rakyat untuk menentukan kriteria pemimpinnya. Dengan demikian saya melihat para pegiat politik di daerah ini telah gagal melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Kita khawatir jangan-jangan daerah ini kembali menjadi daerah salah urus.

Salah Tafsir

Meski kita telah memasuki zaman keterbukaan, namun masih banyak orang yang alergi dengan kata-kata pluralisme. Mereka tatap beranggapan bahwa pluralisme adalah produk demokrasi barat yang harus ditolak. Pada hal agenda pluralisme untuk mengajak hidup toleran, egaliter dan arif dalam menyikapi perbedaan merupakan roh yang ingin disemai oleh Islam. Dalam Al-Qur’an juga banyak sekali ayat yang mengajak kita untuk bijak terhadap perbedaan.

Contoh mudahnya, pluralisme itu kita ibaratkan dengan minuman Sprite. Merek Sprite itu memang berasal dari Barat. Setelah dipasarkan di Indonesia, ternyata banyak yang suka bahkan dianggap cocok dengan lidah orang Indonesia. Meski demikian ada juga sebagian kelompok yang cocok minuman bersoda itu. Yang ekstrim bahkan menolaknya karena dianggap produk Barat.

Saya ingin mengatakan bahwa, memang benar Sprite berasal dari Barat. Tapi setalah dipasarkan di Indonesia, maka bahan bakunya berasal dari Indonesia. Dengan demikian rasa lalu disesuaikan dengan selera orang Indonesia. Nah pluralisme pun demikian, ia memang dipopulerkan dan disebarkan oleh komunitas Barat. Tapi nilai dan prinsipnya sejalan dengan isi Al-Qur’an.

Di daerah ini banyak orang salah tafsir tentang pluralisme. Pada hal pluralisme mengajak untuk menghormati perbedaan, toleran dengan perbedaan serta kasih sayang dengan sesama. Pluralisme mengajak untuk memaknai perbedaan sabagai rahmat bukan bukan bencana. Pluralisme bukanlah sebentuk tauhid yang meyakini semua agama benar.

Dia tidak lebih sebagai alat untuk mencoba mengerti dan memahami orang lain. Saling memahami disini bukan berarti mengajak orang lain mengikuti keyakinan yang diyakini. Tapi menghormati kebenaran orang lain yang diyakini benar, begitu sebaliknya. Jadi pluralisme sebagai alat penyatu yang merekatkan bukan menyenggol.

Yang jelas pluralisme bukan agama. Dan untuk bisa menjalankan prinisp-prinsip pluralis tidak perlu meninggalkan agama yang diyakini selama ini. Jika agama tidak efektif sebagai alat perekat dan solidaritas maka pluralisme adalah solusinya. Maka untuk memimpin NTB kita butuh Cagub dan Cawagub yang tidak keliru menafsirkan keberagaman. Di pundak pemimpin yang memiliki visi pluralislah masa depan keberagaman NTB kita titip.

Berhubung tulisan ini dimulai dengan ungkapan Gede Prama, maka tidak ada salahnya pesan bijaknya saya kutip kembali untuk mengakhiri tulisan ini.“Seorang pemimpin memiliki semacam sense of creation, yaitu naluri untuk senantiasa mencipta, mencipta dan mencipta. Melalui tangan-tangan pemimpin yang senantiasa mencipta inilah bergantung masa depan peradaban” katanya. Maka hati-hatilah memilih calon gubernur. Bukankah demikian ?.[]

* Lensa Mataram

One response to “Mencari Gubernur Pluralis

  1. Pluralisme dan jangan disamakan dengan Toleransi

    Pluralisme adalah ide kaum kafir untuk membasmi Islam, termasuk aqidah, dll

    Toleransi adalah sikap Islam terhadap agama lain (selain aqidah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s