Reformasi: Pahlawan dan Ketidakadilan Sejarah


Demi keadilan dan sejarah yang benar, maka reformasi harus kembali kepada khittahnya. Dalam mengisi reformasi, tidak perlu berjuang memperoleh status pahlawan, tetapi bagaimana merubah keadaan agar korban-korban seperti yang terjadi pada masa Orde baru dan perjuangan Reformasi 1998 tidak hadir kembali dalam memory sejarah bangsa.

Oleh: Muhammad Nasir

George Santayana, filosof Spanyol mengatakan siapapun yang tidak dapat belajar dari sejarah, dengan sangat konyol akan mengulangi. Perkataan Santayana ini tentu mengacu kepada sejarah kelam, bukan sejarah kecemerlangan. Jika yang diulangi itu keberhasilan, tentu tidak masalah dan dalam istilah lain mengulangi praktek terbaik (best practice) adalah halal.

Pertanyaannya, adakah best practice dari reformasi Indonesia yang telah berumur sepuluh tahun? Siapapun tentu tidak bermaksud memutlakkan kegagalan reformasi dan sebaliknya juga tidak harus memuji reformasi setinggi langit. Jawaban yang mungkin diberikan adalah, bahwa reformasi sudah berjalan dan dalam satu dekade perjalanannya, agenda reformasi telah mengalami proses jatuh dan bangun.

Bagaimanapun orang Indonesia harus berterima kasih kepada sejarah. Sejarah reformasi yang dimulai dengan suasana yang pilu; krisis ekonomi moneter, krisis politik (kepemimpinan), kemelaratan, ketertindasan dan sebagainya telah mendorong warga bangsa untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dinamakan reformasi. Awal reformasi itu ditandai dengan mundurnya Soeharto dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998.

Tidak boleh ada pengandaian dalam sejarah. Seandainya Soeharto tidak mundur, reformasi belum tentu terjadi. Kalimat ini sangat haram dan melawan sunnatullah. Soeharto yang lemah dengan beban negara yang berat meniscayakan kejatuhannya. Oleh sebab itu, mesti ditinjau kembali status pahlawan reformasi bagi siapapun yang saat ini mendaku pahlawan reformasi, sekaligus berjuang mempahlawankan seseorang atau institusi tertentu.

Keadilan Sejarah
Peristiwa reformasi yang dihias dengan tumpahnya massa ke jalanan, orasi para tokoh dan kerusuhan di mana-mana seolah-olah berupaya memaksa orang-orang untuk memahlawankan (misalnya) mahasiswa, Amin Rais dan ormas-ormas tertentu. Di satu sisi ini merupakan fakta keras yang seakan tak terbantahkan. Tetapi pada sisi yang lain ternyata ada ruang abu-abu yang belum jelas sosoknya. Bagaimana memahami sisi abu-abu ini?

Yang dimaksud ruang abu-abu abu-abu adalah sebuah tempat di mana mahasiswa, tokoh nasional, ormas berproses mengolah kelahiran reformasi. Dalam ruang itu ada peristiwa-peristiwa yang tidak melulu berisi demonstrasi dan orasi. Dalam ruangan itu ada jeritan ibu-ibu yang berjibaku memenuhi kebutuhan dapur, sopir-sopir angkutan kota yang sibuk mencari bahan bakar, dan tentu saja ada korban-korban penjarahan yang menderita akibat situasi “chaos” yang direkayasa sedemikian rupa, untuk kepentingan percepatan aksi reformasi.

Dalam konteks ini, reformasi memang memunculkan pahlawan, tetapi pada saat yang sama reformasi telah memakan korban. Dalam perjuangan pengorbanan adalah hal yang biasa. Akan tetapi apabila berbicara tentang kepahlwanan, adalah tidak arif bagi bangsa yang konon berbudi luhur. Kepahlawanan itu dibangun di atas puing-puing korban yang ternyata orang-orang lemah.

Tragedi Trisakti, yang merenggut nyawa beberapa mahasiswa misalnya, memang patut disesali. Para mahasiswa itu mati untuk perjuangan reformasi. Tetapi akan sangat berbahaya jika ada upaya tuntutan yang berlebihan terhadap penyelesaian kasus itu. Bahayanya terletak pada upaya mendominasi ingatan bangsa terutama bila itu menjadi sejarah tunggal reformasi dengan aktor utamanya mahasiswa. Dengan demikian, korban lainnya seperti Tragedi Mei Berdarah di Makasar, kelaparan akibat kesulitan pangan, marasmus, korban penjarahan, perkosaan dan sebagainya tidak mendapat tempat dalam sejarah reformasi. Mereka-mereka ini tidak mendapatkan keadilan sejarah.

Ada baiknya Tragedi Trisakti diposisikan sebagai puncak otoritarianisme dan kekerasan negara terhadap warga, sebab menjelang puncak itu, selama kurang lebih 32 tahun Orde Baru telah melakukan kekerasan yang tak kalah dahsyat, dengan korban yang lebih besar.

Reformasi Tanpa Pahlawan
Reformasi adalah konstruksi baru di atas kegagalan Orde Baru yang akut. Reformasi tidak lahir dari ruang hampa. Reformasi lahir dari kegagalan piranti negara sebagai pelindung dan penjamin kesejahteraan warga negara. Karena itu reformasi adalah sebuah keharusan sejarah.

Reformasi adalah sebuah kondisi yang menginginkan perubahan. Dalam perspektif Ibnu Khaldun (Rosenthal, 1967) perubahan di mana rakyat Indonesia menginginkannya, rakyat membutuhkan kekuasaan (pemerintahan) yang kuat. Pada tahun 1998 itu, pemerintahan Indonesia tidak lagi kuat.

Hantaman dari dalam (perangkat tata negara) dan badai krisis ekonomi dunia telah memperlemahan pemerintahan Soeharto. Maka, peran mahasiswa dan tokoh nasional pada waktu itu tidak lebih sebagai agent of change. Lebih dari itu yang dibutuhah reformasi dan bangsa ini adalah kehadiran reformis. Dan jika terpaksa mencari pahlawan, reformis itulah yang layak dipahlawankan.

Lebi jauh lagi, reformasi ternyata tidak semata-mata perjuangan tokoh. Tetapi reformasi merupakan sejarah yang deterministis. Faktor penentu reformasi itu ternyata pada situasi yang mendorong ide reformasi itu sendiri. Dengan logika inilah, pahlawan reformasi tidak perlu diagungkan, mengingat begitu banyaknya korban yang jatuh dalam situasi bangsa pra- dan pada gerakan reformasi.

Lalu, bagaimana agar seluruh elemen yang terlibat dalam gerakan reformasi mendapat tempat yang sama dalam memory sejarah bangsa Indonesia? Untuk hal ini, mau tidak mau, harus ada keluasan pandangan bawa sejarah itu merupakan mekanisme interaksional antar aktor, baik individu maupun institusi, bukan semata-mata konflik antar tokoh dan semata perjuangan mempertahankan hidup sekelompok atau individu tertentu. Sejarah reformasi adalah sejarah bangsa.

Jika reformasi dimaknai sebagai sebuah fenomena konflik, wajar saja bila reformasi sampai satu dekade ini menjadi suatu ajang yang dalam analisa Dahrendorf (1959) tentang konflik sebagai konflik yang bersumber struktural, yakni hubungan kekuasaan yang berlaku dalam struktur sosial. Jika ini benar, tidak heran, reformasi Indonesia bergerak ke arah politik perebutan kekuasaan, tidak berupaya membalikkan keadaan ke arah yang lebih baik dari Orde Baru.

Demi keadilan dan sejarah yang benar, maka reformasi harus kembali kepada khittahnya. Dalam mengisi reformasi, tidak perlu berjuang memperoleh status pahlawan, tetapi bagaimana merubah keadaan agar korban-korban seperti yang terjadi pada masa Orde baru dan perjuangan Reformasi 1998 tidak hadir kembali dalam memory sejarah bangsa.

Reformasi harus mempertimbangkan faktor penentu (determinant) gerakan reformasi itu sendiri, yaitu rakyat. Jika tidak, maka ketidak adilan akan senantiasa hadir dalam sejarah, dan ketidakadilan sejarah juga otomatis muncul bila orang-orang tertindan senantiasa terlupakan. Akhirnya sejarah hanya dipenuhi cerita-cerita tentang pahlawan (mungkin juga pahlawan reformasi). [Padang, 14/5/2008]
————————————————-
Penulis adalah Ketua Divisi Organisasi
Majelis Sinergi Islam dan Tradisi Indonesia (Magistra Indonesia)- Padang
Tulisan lainnya lihat di nasirsalo.blogspot.com

3 responses to “Reformasi: Pahlawan dan Ketidakadilan Sejarah

  1. sia anjink goblog bengeut tah sakuan!!!!!!!!!

  2. Assalam wr. Saat ini saya sedang berada di Arabia timur tengan, sebelumnya saya betul-betul tak terpikir olehku tentang kondisi di sini yang begitu jauh dari dugaan tentang ke biadapa,kejahatan, kan ketidak adilanya orang-orang disini saya harus akui dengan nyata bahwa pemerintah Saudi Arabia tidak propesional dalam hokum kepada orang luar negerinya, *Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, hampir selalu dibangun dengan kekerasan,
    tidak terkecuali oleh mereka yang memakai jubah agama yang mengatasnamakan
    Tuhan. Tidak ada satu agama pun yang bisa melepaskan diri dari kelakuan
    penguasa yang amoral, tetapi sering didukung oleh fatwa ulama yang
    membenarkan sang penguasa untuk bertindak kejam.
    Adapun era Nabi Muhammad SAW tampaknya sebuah perkecualian. Perang memang
    terjadi, tetapi semata-mata untuk mempertahankan diri, demi tegaknya
    keadilan, keamanan, kebenaran, dan persamaan. Kebijakan Nabi selalu
    diarahkan untuk terwujudnya nilai-nilai mulia sebagai cerminan rahmat
    Allah
    untuk seluruh manusia, termasuk mereka yang tidak beriman.
    Di era Al-khulafaa’ al-raasyiduun (632-661), pilar-pilar moral itu sampai
    batas-batas tertentu masih bertahan, khususnya sampai masa ‘Umar ibn
    Khattab
    (634-644). Era berikutnya, keadaan sudah mulai kacau, tetapi belum seburuk
    era sesudah itu, era Umayyah (661-750) dan era ‘Abbasiyah (750-1258).
    Khalifah ‘Usman bin ‘Affan dan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib sama-sama
    berkuah darah di tangan umat kaum muslimin sendiri yang tidak puas dengan
    kebijakan yang ditempuh.
    Oleh sebab itu, saya sudah lama berpendapat agar umat Islam jangan
    “memberhalakan” masa silam, seakan-akan semuanya itu bebas dari cacat.
    Tampaknya sudah menjadi aksioma bahwa setiap kekuasaan sering benar
    bersahabat dengan kekerasan. Agama dalam banyak kasus hanya dipakai untuk
    menopang sistem kekuasaan yang korup sekalipun.
    Dalam buku-buku sejarah muslim, kejahatan yang ditonjolkan adalah yang
    sudah
    sangat keterlaluan. Misalnya, kepala Hussein dipersembahkan kepada Yazid
    bin
    Mu’awiyah di Damaskus, dan Yazid bukan main senangnya karena saingannya
    dari
    Bani Hasyim, musuh bebuyutan Bani Umayyah, telah dapat dilumpuhkan.
    Sedangkan Hassan, abang Hussein, sebelumnya malah berdamai dengan
    Mu’awiyah
    bin Abi Sufyan, pendiri dinasti, saingan ayahnya, ‘Ali bin Abi Thalib,
    dengan imbalan tertentu, mungkin demi menjaga keutuhan umat yang sudah
    sangat sulit dipertautkan gara-gara kekuasaan.
    Yazid yang juga dipanggil oleh pendukungnya sebagai *amir
    al-mu’miniin* (pemimpin kaum beriman) dikenal sebagai pemabuk ulung
    dalam pesta-pora, main
    perempuan, dan sangat kejam. Tidak saja Hussein yang dibinasakan, siapa
    saja
    yang tidak patuh kepadanya harus dipancung dengan pedang. Adalah penulis
    Mesir, Faraj Fouda (dibunuh di kantornya pada 8 Juni 1992 karena dituduh
    murtad), dalam karyanya, *al-Haqiiqa al-Ghaaibah* (*Kebenaran yang
    Hilang*)
    –sebentar lagi penerbit Paramadina akan mengedarkan terjemahannya- – yang
    dengan sangat berani membongkar sisi-sisi gelap sejarah Arab muslim di
    masa
    lampau itu.
    Fouda memusatkan perhatian pada era Al-khulafaa’ al-raasyiduun, Umayyah,
    dan
    ‘Abbasiyah. Tentu sisi positifnya tidak kurang, seperti semakin meluasnya
    radius pengaruh Islam. Di era ‘Abbasiyah, perkembangan ilmu pengetahuan,
    kesenian, filsafat, sufisme, dan teknologi sungguh spektakuler, sehingga
    dalam perspektif ini, dunia Islam adalah dunia yang paling maju ketika
    itu.
    Tentang segi gemerlapan ini telah banyak ditulis orang, dan sebagian umat
    Islam malah mengidolakannya.
    Fouda menengok dari sudut yang buram, berdasarkan sumber-sumber Arab,
    seperti Ibn Atsir, al-Mas’udi, Ibn Katsir, al-Thabari, al-Suyuthi,
    al-Syaristani, al-Dinuri, dan banyak yang lain. Sumber-sumber Barat
    dikesampingkan, sekalipun penulis Barat itu sebenarnya juga mengambil dari
    sumber-sumber Arab, tentu dengan tafsirannya sendiri. Tentang Yazid, di
    sisi
    keganasannya, Ibn Katsir mengungkapkan penyimpangan kelakuannya dengan
    mencium mayat kekasihnya yang meninggal mendadak karena tercekik. Kita
    kutip:
    “Pada suatu hari, Yazid juga pernah mengutarakan hasratnya untuk tinggal
    berdua saja dengan Habbabah di istananya, untuk selamanya, tanpa ada yang
    lain tersisa. Ia pun mewujudkan impiannya itu. Di istananya yang megah,
    didatangkanlah Habbabah seorang diri. Berbagai kasur nan empuk digelar,
    permadani dibentang. Tatkala mereguk nikmat kebersamaannya dengan Habbabah
    dan dalam suasana romansa dan cinta, ia melemparkan anggur ke mulut
    Habbabah
    yang sedang tertawa. Kontan, ia tersedak, lalu mati. Selama berhari-hari,
    Yazid tak putus mencium dan memeluk mayat Habbabah. Ketika mayat itu telah
    membusuk, barulah ia memerintahkan penguburannya. Setelah mayat itu
    dikubur,
    ia pun menginap di sana selama berhari-hari. Sejak itu, ia tidak keluar
    rumah kecuali lembap kelopak matanya” (lihat Fouda, halaman 104-105).
    Kecuali ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, khalifah-khalifah yang lain, baik Umayyah
    maupun ‘Abbasiyah, hampir semua berkubang dalam kemewahan, kekejaman, dan
    pesta-pora. Saya harap, pengusung bendera khilafah juga mau membaca karya
    Fouda ini sebagai cermin untuk berkaca. Di mata Shah Wali-Allah,
    kekhilafahan pasca-Al-khulafaa’ al-raasyiduun hanya berbeda sedikit dari
    kekaisaran Romawi dan kekaisaran Persi kuno.
    By:munawar.
    Kepada yth.bapak guru saya di sekolah dulu ISLAHUDIN.dan temen2 di kampus IAIN Mataram untuk membuka mata melihat tidak hanya dari satu sisi saja dan kepada guru2 di sekolah yang selalu mengajarkan kepada ku tentang sejarah kebudayaan islam SKI pada thn 1997 di sebuah ponok pesantren,, setiap hari selalu di ajarkan konsep2 egoisme yang di terapkan kepada anak2 didik,, yang saat itu mereka hanya bias berkata ya, tak kuat mengatakan tidak karena kekerasan dalam bentuk tak nyata selalu di benarkan oleh 1 pihak yaitu guru,, tetapi sekarang saya akan memperkenalkan kepada guru2 saya di sekolah tentang berfikir yang propesional dalam menyikapi dan melihat perkembangan dunia.

    munawar_kamal23@yahoo.com. arabia mahasiswa iain mataram juga

  3. afgan I LUPH U
    pliz smpein ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s