Hade dan Hajatan Demokrasi Jabar

Pilkada Jabar kembali membuka mata kita, betapa taring partai-partai besar seperti Partai Gologan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) tak lagi menjadi penentu kemenangan. Pasangan Hade buktinya, berhasil membuat “mukjizat politik” (the miracle of politics) dengan mendulang suara karena mesin partai yang solid, isu kepemimpinan muda serta advertising politicsyang “canggih”.

Oleh: Mujaddid Muhas*

Munculnya kejutan ditengah-tengah hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui lansiran quick count dari berbagai lembaga survei bahwa pasangan calon pemimpin Jawa Barat hampir pasti dimenangkan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade). Jika sampai pada penghitungan resmi atau real count dari Komisi Pemilihan Umum Daerah hasil finalnya tidak terpaut jauh, secara otomatis Dede Yusuf mengulang gemilang sesama artis. Rano Karno yang telah lebih dahulu menuju tampuk kepemimpinan Kabupaten Tangerang. Hade yang memanajemeni kampanyenya dengan jargon utama kepemimpinan muda unggul atas calon incumbent dan tokoh kaliber lainnya.

Mengapa Pilkada Jawa Barat begitu penting dirasakan hingga dapat memberikan referensi bagi agenda politik berikutnya seperti pemilihan umum 2009? Selain jumlah pemilih 27 juta lebih di 63 ribuan tempat pemungutan suara adalah angka yang terbesar selama pilkada berlangsung di Indonesia, Pilkada Jawa Barat dapat dikatakan sebagai “pintu masuk” kemenangan pada Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagaimana diketahui bahwa Jawa merupakan barometer penting asupan suara disetiap momentum politik tingkat nasional.

Pilkada Jawa Barat memberikan kejutan sekaligus edukasi. Kemenangan Hade sebagai kejutan yang semula tak diduga-duga, kemudian menjadi nyata adanya. Dari sisi identifikasi kepartaian merupakan “pukulan” cukup telak bagi partai-partai besar sekaliber Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk berbenah.

Estimasi yang menjadi pendulang keunggulan Hade setidaknya difaktori pertama, proporsi partisipasi politik yang lemah di Jawa Barat. Angka tidak memilih dari Lingkaran Survei Indonesia diperkirakan hingga 35,08 persen menyebabkan partai dengan karakter yang tidak terlalu kuat korelasinya dengan konstituen tidak dapat berbuat banyak dalam mendukung pasangannya.

Jaringan kerja Partai Keadilan Sejahtera relatif solid dengan tingkat “sendiko dawuh” pemilihnya yang tinggi dalam berpartisipasi. Sementara basis dukungan Partai Amanat Nasional yang rasional cenderung dapat dikelompokkan pada pemilih aktif. Kedua, kapasitas personal dari Dede Yusuf sebagai pesohor di dunia keartisan memberikan sokongan besar dari pemilih. Dengan memori kolektif masyarakat yang barangkali mengingat Dede Yusuf sebagai idola. Pada saat pilkada, masyarakat kemudian terpreferensi dalam bentuk memilihnya di bilik suara.

Ketiga, usungan isu dengan kepemimpinan muda serta advertising politics yang ditampilkan melalui media memberi inovasi strategi dan penguatan keyakinan pemilih. Kepemimpinan muda dan cara-cara populis ditunjukkan dari iklan-iklan yang tampil di televisi dan tempat umum. Terlihat pula pada kegiatan debat di sebuah televisi swasta, tampil lebih memikat: pertanyaan bernada memojokkan direspons dengan kualitas diatas standar.

Inilah pilkada terbesar selama yang pernah ada di Indonesia. Pasangan Hade yang secara tak terduga unggul dari pasangan incumbent serta pasangan calon yang diestimasi sebelum-sebelumnya merupakan pertanda bahwa hajatan demokrasi di Indonesia terkadang tak semudah yang dibayangkan. Ada bagian-bagian tertentu yang mengejutkan sebagai “the miracle of pilkada”. Masyarakat telah semakin rasional sehingga mampu menentukan kedaulatan pilihan sepenuhnya. Sebagai hajatan demokrasi, edukasi politik mesti tetap berjalan, dikurangi anarki ditambah jiwa-jiwa besar kekalahan yang berarti pula sama dengan kemenangan. Hajatan demokrasi untuk semua.

*Penulis adalah Putera NTB, Pelajar Pascasarjana Ilmu Politik, Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Email: dedymm1524@gmail.com

4 responses to “Hade dan Hajatan Demokrasi Jabar

  1. Tulisan ini semakin membuat takut partai-partai lain terhadap PKS, dan menambah panjang pertanyaan seragam tentang prospek PKS di pemilu 2009. Hanya saja, bagi saya pribadi kemenangan Hade bukan an sich karena PKS-nya, atau mesin PKS jalan, Tapi lebih karena sosok dedi yusuf yang populer berkah dukungan sutrisno bachir baik dari cost politik maupun dari partainya PAN. Prospek PKS tahun 2009 prediksi saya sangat suram, apalagi saat ini sudah memunculkan gejala perpecahan di tubuh PKS sendiri. Ada kelompok militan dan ada kelompok yang non militan. Saya kira benar, semakin besar sebuah partai, maka akan semakin sulit mengontrol kader-kadernya. PKS tergerogoti dari dalam.

  2. Banyak varian yang menggiring kemenangan Hade di jawa barat atau kemenangan PKS di beberapa daerah. Bahkan ketika pilkada DKI, PKS sebenarnya “menang”, karena dikeroyok semua partai besar.
    Kemenangan Hade karena sosok juga tidak determinan, karena mesin PKS juga demikian. Artinya harus dilihat secara menyeluruh yang itu saling katrol.

    Bagian varian yang lain, kemenangan PKS mampu “menjawa/merespons” pergeseran orientasi masyarakat yang semakin menguat sentimen keislaman sebagai antitesa atau kejenuhan masyarakat terhadap sistem yang ada. Nah, kecenderungan ini yang tidak dilihat oleh partai politik yang lain, Hade dan PKS mampu mencitrakan untuk menjawab “kehampaan” masyarakat.

    lagi-lagi ini tidak determinan, karena ini arena politik bung, zig-zag, poly-trick, dan tidak dapat diprediksi dalam logika matematis.

  3. Tulisan Mujaddid Abbas sepenuhnya saya setujui. Pertanyaannya, sebagai sesama putera Lombok yang ada di perantauan, bisakah pikiran-pikiran semacam itu disuntikkan ke masyarakat? Dengan kata lain, kita memerlukan juga tokoh muda yang cerdas, pintar dan tidak memiliki “masalah” dengan masa lalu. Sebab, dengan cara itulah daerah kita akan maju. Tapi siapa ya?

  4. Kemenangan Hade karena sebuah popularitas Dede Yusuf saja, tapi bukan karena persoalan partai penggusung. Pasangan Hade tidak menjamin akan terpilih untuk yang kedua kalinya jika ” gagal ” dalam memimpin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s