Harry Potter dan Revolusi Bacaan

mailgooglecom.jpg
Taufikurrahman, S.Pd.I

Jika anda termasuk pembaca novel atau penonton setia film Harry Potter, anda dipastikan tidak akan alpa pada kilatan cahaya yang tercipta dari tongkat Harry, Voldemort yang seram nyaris tak berbentuk, atau si Harry sendiri yang tak pernah lupa kacamata. Banyak peristiwa menakjubkan yang diciptakan secara luarbiasa oleh seorang JK. Rolling sang pengarang novel itu. Tak heran, HP telah menjadi mantra yang berhasil menyihir jutaan manusia lintas usia zaman ini. Sebuah majalah dunia Book bahkan menyebut, HP adalah cerita dengan karakter terbaik di dunia (edisi “100 Best Fictional Characters”). Ramalan tentang akan segera berakhirnya peminat HP di tepis jauh-jauh oleh HP-7 edisi terbaru yang terbit tahun ini. HP masih menyimpan sihir, masih terlalu kuat membius, HP masih menjadi fenomena. Lalu apa hikmah yang dapat kita petik?


Harry Potter memang sebuah fenomena. Satu dasawarsa sudah terbentang, dan sang pengarang, Joanne Kathleen Rowling, berhasil menyihir dunia dengan kisah petualangan Harry Potter. Peluncuran buku Harry Potter ketujuh Harry Potter and The Deathly Hallow, merupakan tahun kesepuluh sejak seri pertama Harry Potter dan Batu Bertuah (judul asli Harry Potter and The Sorcerer’s Stone) diterbitkan di Inggris tahun 1997. Hingga saat ini konon oplah penjualan buku seri Harry Potter di seluruh dunia telah mendekati angka 400 juta eksemplar dan sudah diterjemahkan ke dalam 64 bahasa.

Di Indonesia, ketujuh buku Harry Potter telah diterjemahkan dan sebagiannya telah mengalami beberapa kali cetakan. Yang menjadi hak tunggal penerbitan edisi Indonesia adalah Penerbit Gramedia. Ternyata Harry Potter tidak saja sukses dalam bentuk buku, sebelumnya, film Harry Potter juga banyak ditonton oleh anak-anak hingga orang dewasa di seluruh dunia. Kesuksesan Harry Potter kemungkinan besar disebabkan oleh suguhannya yang cocok “dikonsumsi” oleh semua golongan usia. Dan, kesuksesan Harry Potter bagi penulisnya, J.K Rowling, adalah perubahan besar dalam kehidupannya. Dari kehidupan yang mulanya miskin, kini J.K Rowling menjadi orang terkaya di Inggris, melebihi kekayaan ratu Elizabet II.

Adakah hikmah atau pelajaran yang dapat kita petik ketika mengikuti berita “heboh” peluncuran buku-buku Harry Potter? Bagi saya, ada satu hal yang membuat saya berpikir, kagum, dan cemburu. Berpikir bukan karena saya ingin mendalami dunia sihir. Kagum bukan karena saya membaca semua buku Harry Potter itu. Lalu, mengapa saya harus cemburu? Saya harus cemburu karena tingkat bacaan yang tinggi dari anak-anak Inggris dan Amerika.

Bayangkan, buku kelima Harry Potter yang menurut informasi detik.com memiliki tebal 896 halaman, dan dijual dengan harga Rp. 225.000, saat ini menjadi bahan bacaan berjuta anak-anak di Inggris dan Amerika. Fenomena ini telah membongkar tesis tentang buku anak-anak selama ini, yaitu harus tipis dan cerah atau banyak gambar. Buku Harry Potter tidak saja tebal, tapi juga mengenai cerita kegelapan dunia sihir.

Namun demikian, ia mampu mengantarkan kepada dunia “pencerahan” dan “revolusi bacaan” di zaman ini, dan mengembalikan anak-anak dari layar televisi kepada buku. Pantaslah anak-anak di negara maju pendidikannya tinggi dan cerdas-cerdas, karena tingkat bacaan dan rasa ingin tahu mereka cukup tinggi. Budaya membaca inilah yang belum ada pada diri anak-anak Indonesia. Inilah salah satu penyebab mengapa negara kita masih terbelakang dari beberapa aspek. Bagaimanapun, membaca adalah gerbang pengetahuan dan kearifan.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bank Dunia dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievermen) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga menyebutkan, seperti yang ditulis dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya sudah mencapai 99,0 persen..

Persoalan Membaca

Persoalan yang selalu mengemuka, terutama di kalangan pelajar kita, adalah bagaimana cara menimbulkan minat baca dan cara membaca yang baik.. Belajar dari fenomena Harry Potter, jawaban untuk menimbulkan minat baca dan bagaimana cara membaca yang baik terletak pada tingkat ingin tahu yang tinggi. Untuk meningkatkan ingin tahu, maka harus dihadapkan kepada persoalan yang membuat penasaran dan segera ingin mengetahuinya.

Buku Harry Potter dibaca berjuta anak-anak diseluruh dunia saat ini, bukan karena buku itu bagus dan menarik. Karena penilaian bagus atau menarik akan diketahui setelah membacanya. Saya yakin, buku itu dibaca karena tingkat penasaran dan keingintahuan anak-anak tentang cerita selanjutnya.

Rasa ingin tahu kelanjutan kisah Harry Potter, akan “memaksa” untuk membaca buku selanjutnya. Dari sikap ingin tahu itu timbullah sikap konsentrasi membaca dan tingkat fokus bacaan yang baik. Dengan demikian, terjawablah persoalan bagaimana menimbulkan minat baca dan bagaimana cara membaca yang baik itu.

Mengapa ketika membaca buku-buku ilmiah rasa bosan cepat datang dan tidak demikian halnya ketika kita membaca buku cerita? Karena membaca buku cerita tingkat ingin tahu dan rasa penasaran akan semua isi cerita buku itu lebih tinggi ketimbang membaca buku ilmiah. Inilah yang membuat kita mampu bertahan menahan kantuk ketimbang membaca buku pelajaran. Namun, minat dan objek bacaan tentu saja akan selalu berubah dengan perkembangan usia. Pada orang dewasa tingkat ingin tahu yang timbul juga semakin tinggi, maka bahan bacaannya juga akan tinggi sesuai dengan minatnya. Namun persoalan yang urgensi di sini adalah, bagaimana tingkat ingin tahu melalui bahan bacaan pada diri anak-anak bisa dan tetap terpupuk. Sehingga ketika dewasa ia terbiasa dengan membaca.

Perubahan Mental

Menurut pandangan saya, buku-buku petualangan, cerita dongeng, atau buku semacam kisah nyata para Nabi dan Rasul, bisa membangkitkan imajinasi dan keingintahuan pada diri anak-anak. Di sinilah, bimbingan dan cara penyajian kisah yang baik sekaligus cerdik dari orang tua dan para penulis sangat menentukan. Tugas orang tua adalah bagaimana membuat lingkungan rumah penuh dengan bahan bacaan. Di samping itu, pemerintah bertugas bagaimana bisa menyediakan buku bacaan yang murah. Dengan timbulnya minat baca yang tinggi dan di dorong dengan tersedianya bahan bacaan yang bagus dan murah, adalah gerbang pengetahuan yang dapat mengantarkan kepada kehidupan masyarakat yang mencerahkan.

Individu masyarakat yang mencerahkan adalah individu pembelajar, atau meminjam istilah Andrias Harefa, inilah yang dikatakannya sebagai “manusia pembelajar”. Manusia pembelajar dalam mencari pengetahuan dan makna hidup, bukan lagi menggantungkan diri kepada lembaga atau institusi pendidikan. Tetapi lebih dari itu, kehidupan yang dilalui dan realitas kehidupan yang dihadapinya merupakan pengalaman yang mengajarkan serta mampu mendewasakannya. Inilah yang dikatakan oleh para ahli pendidikan sekarang dengan belajar di “sekolah kehidupan”.

Jadi, membaca merupakan suatu hal yang sangat urgensi dalam memajukan setiap pribadi manusia. Karena hakikat membaca adalah perubahan mental. Jika tidak ada perubahan, baik cara pandang, sikap, atau perilaku, maka seseorang belumlah dapat dikatakan membaca. Dan, “dengan membaca kita mengetahui dunia dan dengan menulis kita mempengaruhinya”. Saat ini, ujung pena J.K Rowling dengan karya Harry Potter-nya, telah membuktikan bahwa menulis dapat mempengaruhi dunia.

Penulis: Staf pengajar pada MAN 2 Model Banjarmasin
Email : taufik_2f@yahoo.com
Http ://taufik79.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s