Pesan Buat KPU dan Calon Gubernur NTB

alie.jpg
Ali Nurdin

Demokrasi itu mahal bung! Tak hanya harta yang akan terkorbankan, tapi fisik, jiwa, darah dan juga air mata. Jika demikian, sedemokrasi apa Pemilihan Kepala Daerah di NTB sebentar lagi?

Well, pertanyaan diatas patut kita carikan jawaban. Dalam pagelaran pemilihan kepala desa saja kerap berakhir ricuh, rusuh dan kisruh. Kantor desa dan fasilitas umum kadang tak luput dari perusakan. Tidak cukup dengan perusakan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai panitia pelaksana tak urung juga mendapat intimidasi. Tengok saja, tak jarang KPU dituduh menggelembungkan suara, money politik, lalai, tidak cermat dan banyak lagi.

JIKA anda termasuk pemirsa TV yang senang tayangan kartun “Avatar, The Legend Of Aang” mungkin cerita ini ada menariknya. Sabtu (22/07) lalu, saya mengikuti episode ketika Avatar cs, terjebak di belantara yang penuh rawa. Saat Avatar cs terbang bersama Ava (sejenis kucing berukuran raksasa) dan Mo (lemur, sejenis kera, tubuhnya kecil dan lincah), rawa seperti memanggilnya. Awalnya Avatar cs tidak menghiraukannya dan berlalu begitu saja. Tapi beberapa meter kemudian, Avatar cs diserang topan yang kemudian menyeretnya terjun ke rawa. Ava dan Mo adalah binatang yang selalu menemani Avatar pergi kemana saja.

Akhirnya, mereka terpencar. Di dalam rawa sang mereka sekonyong-konyong bertemu dengan orang-orang yang pernah hidup bersama mereka. Katara bertemu arwah ibunya. Saka, dengan almarhum wanita yang pernah dicintainya, Cing Ai. Dan Avatar? Ia bertemu seorang gadis kecil yang mengajaknya bermain. Aksi kejar-mengejarpun berlangsung, Avatar tidak sadar jika ia sedang diarahkan bertemu teman-temannya yang lain. Tak lama, Avatar menabrak Saka dan Katara hingga terjatuh. Sontak, mereka senang bukan main. .

Di tengah asyik menceritakan pengalaman masing-masing, Avatar cs bertemu penjaga rawa. Bertubuh tambun dan penuh dengan baok (jenggot). Penjaga rawa ini sangat ramah dan tidak sungkan mengajaknya Avatar cs berbincang-bincang. Di sela-sela pembicaraan, penjaga rawa itu mengatakan, “Kita berasal dari akar yang sama dan semua saling berhubungan”. Makanya wajar jika Avatar cs bertemu dengan roh orang-orang yang pernah dan akan hidup bersamanya.
Mendengar penggalan kata itu saya jadi teringat film dokumenter pergerakan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di Semanggi yang menewaskan beberapa mahasiswa dan melukai tidak sedikit mahasiswa. Diantaranya Elang yang mati tertembak peluru panas oleh aparat. Sampai hari ini tidak jelas siapa yang pelakunya.

Film berjudul “Ku Tunggu Di Sudut Semanggi” berdurasi satu setengah jam itu mengisahkan gerakan mahasiswa yang aktif melakukan demonstrasi. Baik sebelum maupun sesudah dinasti Soeharto runtuh. Ia dan kawan-kawannya merencanakan demonstrasi di Semanggi. Padahal di saat dan hari yang sama ia sudah berjanji ingin ketemuan dengan kekasihnya, tepat dekat lokasi demonstrasi. Pasalnya, hari itu sang kekasih merayakan ulang tahun. Namun naas, tubuhya tertembus peluru panas yang mengakibatkan ia dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya dia selamat setelah peluru tersebut berhasil diangkat dokter yang menanganinya.

PilGub NTB 2008
Film “Ku Tunggu di Sudut Semanggi” ini di awali pembacaan puisi Sutardji Calzoem Bachri yang dimuat harian Kompas, 13 November 1998. Lebih lengkapnya bunyi puisi tersebut,” Kita dari akar yang sama, dari pohon sejarah yang sama. Kita dari bangsa yang sama, dari kemanusiaan yang sama. Maka jangan berucap dengan peluru, jangan bergumam dentuman. Jangan berkata dengan batu, jangan sampaikan lewat pentungan. Utarakanlah dengan nama dengan bijak, tingkah lembut merdu. Utarakanlah dengan sabar asal dari hati nurani yang satu”

Sejatinya, hari ini kita sedang berhadapan dengan lawan yang tidak lain adalah saudara kita. Lihat Malaysia, meskipun berkali-kali mengklaim kebudayaan kita seperti Reog, Batik, Tempe, lagu Rasa Sayang-syange sebagai kebudayaan miliknya, tetap mengikut sertakan Indonesia dalam promosi kebudayaannya di belahan manca negara. Mereka mengatakan kita berasal dari rumpun yang sama, yaitu Melayu/Malaya. Meski demikian kita perlu mengkritisi, ada apa dibalik promosi tersebut?.

Lebih lanjut, sebenarnya kita patut malu. Kenapa justru negara lain yang mempromosikan kebudyaan kita, bukan kita. Apakah terlalu sibuk mengurusi isi perut dan partai, atau memang malas?. Ini tugasnya departemen Pariwisata, bagaimana caranya kebudayaan kita bisa dikenal manca negara. Caranya? Ya silahkan didiskusikan dengan eleme-elemen terkait.

Maaf saya jadi ngelantur ngomongin soal pariwisata. Terkait dua film di atas, di NTB pun demikian. Saat ini aroma panas tersebar di segala penjuru NTB. Sebabnya, detik-detik pemilihan orang nomor satu NTB (gubernur) semakin dekat. Dengan mengusung bendera masing-masing. Bunyi slogannyapun beraneka ragam. Mungkin demi mensejahterakan dan memajukan rakyat NTB sehingga dapat menjauh dari zona degradasi karena IPMnya berada didasar klasemen bersama Papua yang hanya setingkat di bawahnya. Atau apalah namanya yang penting maju terus pantang mundur walau tanpa slogan apapun.

Pemilihan gubernur dimana dan kapanpun kerap menghadirkan kericuhan. Bahkan sampai jatuh korban. Adu fisik, perang dan membakar kantor desa tak luput dari masa yang kalah dalam pemilihan. Implikasinya, pemerintah daerah mengalami kerugian yang tidak sedikit dan terasa disegala bidang.

Karena itu, dengan latar belakang calon gubernur berbeda, asal, agama, ras, visi misi, dan berapa isi kantong untuk kampanye, masing-masing harus mampu menahan diri jika kelak kalah dalam pemungutan suara. Tidak saling melemparkan argumen yang bisa menyudutkan dan menjatuhkan lawan. Tidak perlu mengumpat dan terimalah kekalahan dengan lapang dada. Jika calon lain curang atau ada indikasi penggelembungan kartu suara di manapun posko-posko pemungutan suara berada, sebaiknya biarlah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mengusut.

Jangan sampai PilGub SulSel dimana Nahkamah Agung (MA) memerintahkan untuk mengadakan pemilihan ulang di Kabupaten Gowa, Bone, Bantaeng, dan Tana Toraja yang mementahkan kemenangan kubu Sayang (Syharul Yasin Limpo-Agus A. Nu’mang yang diusung PDIP, PAN, PDK, dan PDS), terulang di NTB. Ini PR buat KPU.

Kita berasal dari akar yang sama, dari pohon sejarah yang sama. Tidak perlu gontok-gontokkan, jangan sampai darah anak bangsa tumpah di tanah ibu pertiwi hanya karena kalah dalam perebutan kekuasaan.

Mantan Pimpinan Umum LPM RO’YUNA IAIN Mataram,
Remaja Masjid Baiturrahman BTN Pengsong-Perampuan-LOBAR
& Anggota Diskusi Nusa Tenggara Center (NC)

8 responses to “Pesan Buat KPU dan Calon Gubernur NTB

  1. TGH.Nizar AL-kadiri

    kita mau berkomentar apa saja, tetap saja akan begitu. RIBUT!!! soalnya, PILKADA itukan satu paket dengan Keributan. ngakunya selama inikita telah menyelenggarakan Pesta Demokrasi, tapi nyatanya yang ada adalah Pesta DEMO KREASI. mungkin tugas KPU untuk memeriksa para bacagub ini kepada tim dokter untuk memeastikan para bacagub ini sehat jasmani dan rohani. seperti katanya abu macel dan guru bahar,jadi kita harapkan para balon ini tidak gila, dan indikator gila itu bukan saja rumah sakit jiwa, tapi menurut guru bahar, bacagub juga bisa dikatakan gila jika sebelum pilkada iya derrmawan (sasak:Loyar) namun setelah jadi, kemudian malah jadi pelit. inikan nperlu dipertanyakan tentang kesehatannya.

  2. tulisan bagus ali, teruslah menulis..kalo perlu nanti saya buatin blog khusus buat kamu li..

  3. Bukan cagub dan cawagubnya aja yg perlu diperiksa “kewarasannya”. KPU juga perlu, masyarakatnya juga, dan kita – kita, banyak – banyak ngaca kali yah, sapa tau kita termasuk kategori “gila” sehingga “enjoy” aja dengan keadaan seperti ini. Kalo pun ngerasa terganggu cuma bisa bilang “EGP, itu kan urusannya KPU” hehehe

  4. tulisanmu kren li,tetap suarakan apa yang perlu disurakan termasuk buat cagub dan wagub.

  5. NAMAKU SUPAENI,AKU MAHASISWA AMIK IBNU KHALDUN PALOPO,ASALKU DARI LOMBOK TULEN, DESA MAMBEN DAYA. TAPI AKU HIJRAH UNTUK BELAJAR KESULAWESI,ALI TERUS KAMU SUARAKAN KEBENARAN DEMI TERCAPAINYA KEDAMAIAN DI BUMI GORA SASAK,LOMBOK YANG SAMA-SAMA KITA CINTAI.

  6. aku mahasiswa dari salah satu universitas swasta ternama di jakarta, adalah warga bima asli walaupun besar dan tinggal di jakarta….tapi aku sangat mencintai tanahku, dana mbojo. komentarku tentang artikel ini, terus suarakan kebenaran demi kemajuan masyarakat NTB. hendaknya juga masyarakat pintar memilih cagub dan cawagub yang sejati, yang mampu dipercaya untuk mengemban tugas sebagai pemimpin NTB dan selalu mengatasnamakan tugas dan hatinya untuk mengabdi bagi tanahnya,bukan merusak kepercayaan masyarakat dan mengambil keuntungan dari kekayaan daerahnya. untuk itu pilihlah pemimpin yang bijak, modernisasi,agamais, pintar dan mengutamakan rakyatnya.

  7. Bagus sobat ada anak muda yang memperhatikan NTBsaya yamg berada di pulau sumatra mendoakan kesuksesan bagi pilkada ntb,tapi sayang sekarang di ntb ada calon gubernur yang berasal dari Kalangan “prampok”kalangan “Penipu” kalangan “penjilat”kalangan yang awam dengan dunia politik Awas masyarakat Ntb jangan salah pilih… Ooya saya juga titp pesan buat balonGub Kalo jadi anjing menggonggong lah kalo jadi kambing ngembek dan kalo jadi macan mengaumlah,artinya yang tuan guru jaga ajari masyarakat ntb ahlak keagamaan,yang pengusaha jaga perekonomian ntb,yang jadi guru perbaiki pendidikan ntb,jangan semua pengen korsi yang penuh dosa itu,biarkan ahli politik yag berpolitik

  8. jangan cuma mengatas namakan rakyat khususnya rakyat NTB, setalah menang dalam pemilihan cagub mereka gak akan membahas gi mana nasib masyarakat NTB, tapi mereka sibuk menghitung berapa duit yang telah mereka keluarkan buat mencalonkan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s