Solusi Masalah Ahmadiyah Indonesia

johan1.jpg
Mengingat hal-hal di atas, saya kira tak ada alternatif lain kecuali melaksanakan ketentuan yang ditegaskan dalam konstitusi dan karena itu tidaklah selayaknya negara ikut campur dalam fenomena sesat-menyesatkan kemudian mengambil tindakan melanggar konstitusi dengan mengurangi, apalagi menafikan, kebebasan berkeyakinan warga negara. Jaminan konstitusi atas kebebasan berkeyakinan adalah jaminan bagi warga negara untuk menganut keyakinannya, entah agama, entah paham keagamaan atau kepercayaan secara tulus tanpa paksaan dari siapa pun dan golongan apa pun. Apabila negara ikut campur atau memihak suatu kelompok dalam fenomena kontroversi pemahaman agama, rasa aman dan berkeyakinan akan terganggu. Penganutan suatu paham keagamaan atau kepercayaan, betapapun anehnya paham tersebut, tidak boleh dikriminalisasikan selama tidak melanggar ketertiban masyarakat dan kesopanan umum. Berbeda atau menyimpang dari paham anutan mayoritas tidak bisa menjadi alasan pelarangan sebuah paham.

Djohan Effendi


Wakil Presiden Jusuf Kalla pekan lalu diberitakan akan mencoba merumuskan solusi yang tepat atas masalah jemaah Ahmadiyah Indonesia yang difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia. Selain itu, kita membaca berita bahwa pakem Kejaksaan Agung RI akan menyelenggarakan rapat untuk membahas masalah ini. Tulisan ini dimaksudkan memberi masukan kepada pihak berwenang untuk menemukan solusi tersebut.

Pertama-tama perlu kita catat bahwa jemaah Ahmadiyah Indonesia sudah hadir di bumi Nusantara ini sejak 82 tahun yang lalu. Mubalig Ahmadiyah pertama datang ke Indonesia pada 1925. Kedatangan mubalig itu didahului oleh kepergian beberapa pemuda Indonesia ke Qadyan, India, untuk meneruskan studi agama Islam. Merekalah yang mengundang agar dikirim mubalig Ahmadiyah ke Indonesia. Sejak awal kedatangannya telah timbul reaksi dari kalangan ulama Islam. Terjadi perdebatan dan polemik. Hal ini terjadi di Minangkabau dan Jakarta serta dilakukan dengan adu argumentasi. Tidak ada tuntutan pelarangan, tidak ada berita perusakan. Kedua belah pihak saling menghormati pendirian masing-masing.

Persoalan Ahmadiyah kembali menjadi hangat setelah Rabithah Alam Islami memfatwakan bahwa Ahmadiyah nonmuslim dan meminta negeri-negeri Islam melakukan tindakan terhadap Ahmadiyah. Karena itu, pemerintah Arab Saudi, misalnya, tidak memperkenankan penganut Ahmadiyah masuk ke Tanah Haram untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah. Lembaga legislatif Republik Islam Pakistan menerbitkan amendemen konstitusi Pakistan dan menetapkan bahwa penganut paham Ahmadiyah minoritas nonmuslim. Pemerintah Pakistan tidak melarang organisasi Ahmadiyah bahkan, sesuai dengan konstitusi, menyediakan kursi dalam parlemen Pakistan selaku kelompok minoritas.

Masalah yang timbul di Indonesia bukan pada fatwa sesat itu sendiri, karena fatwa semacam itu bukan hal baru, bahkan muncul sejak awal kehadiran jemaah tersebut di negeri kita. Fatwa sesat-menyesatkan adalah masalah yang terjadi di semua agama sejak mula. Semua paham keagamaan mengklaim bahwa paham keagamaannyalah yang benar dan yang lain salah, bahkan sesat. Sebab, kehadiran sebuah paham baru justru karena menganggap paham-paham keagamaan yang lain tidak benar. Tanyalah kepada teman-teman yang sekarang aktif menyebarkan apa yang mereka namakan paham salaf, apakah paham-paham selain mereka itu benar atau sesat? Pasti jawabannya hanya paham salaf yang mereka anutlah yang benar dan yang lain menyimpang dari ajaran yang benar. Muhammadiyah tidak akan muncul sekiranya mereka menganggap paham dan praktek keagamaan yang dianut dan dilakukan oleh kaum nahdliyin itu benar. Justru karena kalangan Muhammadiyah dan organisasi sealiran dengannya menganggap banyak praktek di kalangan nahdliyin yang merupakan bidah–setiap bidah adalah sesat dan setiap kesesatan itu dalam neraka–mereka mengajarkan dan melakukan praktek keagamaan berbeda yang mereka anggap benar.

Menganggap paham keagamaan orang lain sebagai sesat tidaklah menjadi masalah selama tidak memaksakan paham sendiri untuk dianut oleh orang lain dan sekaligus berusaha menafikan hak hidup paham keagamaan orang lain yang berbeda dengan paham keagamaannya sendiri. Problem yang berada di hadapan pemerintah kita sekarang adalah bagaimana menanggapi tuntutan beberapa kalangan agar melarang paham dan organisasi jemaah Ahmadiyah Indonesia karena telah difatwakan sesat oleh MUI. Saya rasa masalah ini harus dipikirkan dan dipertimbangkan semasak-masaknya.

Pertanyaan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana sebenarnya hubungan antara manusia dan institusi, yang dalam hal ini hubungan antara warga negara dan negara? Jelas sekali bahwa yang primer adalah manusia, sedangkan institusi hanya bersifat sekunder. Warga negara sebagai manusia tetap ada walau tanpa negara. Adapun negara tanpa warganya tidak akan ada. Negara dibentuk oleh manusia sebagai warganya untuk kepentingan mereka. Sebab, bagaimana mungkin sebuah negara menafikan hak sipil warganya tanpa alasan konstitusional sebagai kesepakatan bersama semua warga.

Hubungan negara dengan warganya juga harus dilihat dari perspektif hubungan manusia dengan Tuhan Al-Khaliq. Bumi ini dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia sebagai tempat kediaman mereka. Kalau Tuhan Al-Khaliq sendiri memberikan kebebasan kepada manusia untuk hidup di atas bumi-Nya tanpa pembatasan hanya bagi mereka yang beriman kepada-Nya, bagaimana mungkin sebuah negara atau aparat negara membatasi hak sipil warganya? Apalagi antara sesama warga negara.

Menanggapi wacana pelarangan suatu paham keagamaan atau kepercayaan, saya mengajukan beberapa pertanyaan yang perlu direnungkan, terutama oleh aparatur pemerintah. Pertama, kalau tindak pelarangan itu didasarkan atas fatwa sebuah lembaga keagamaan, di manakah tempat lembaga keagamaan itu dalam struktur kenegaraan Republik Indonesia? Apakah ia berada dalam struktur kenegaraan atau bahkan berada di atas struktur kenegaraan, sehingga setiap fatwa lembaga tersebut mengikat dan karena itu harus ditaati dan dilaksanakan oleh negara dalam ini pemerintah RI?

Kedua, kalau sebuah paham keagamaan dilarang, apakah hak sipil para penganutnya sebagai warga negara RI hilang, terutama dalam kaitan kebebasan berkeyakinan? Kalau para penganut paham tersebut berkukuh tetap meyakini paham yang dilarang itu, apakah mereka akan dianggap sebagai pelaku tindak kriminal dan karena itu harus dikenai sanksi hukum pidana?

Ketiga, kebebasan beragama tegas-tegas dijamin oleh konstitusi. Begitu juga Piagam Hak Asasi Manusia dan dokumen-dokumen pelengkapnya telah diratifikasi oleh negara kita. Dengan demikian, bukankah pelarangan dan kriminalisasi penganutan suatu paham keagamaan merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak asasi manusia?

Mengingat hal-hal di atas, saya kira tak ada alternatif lain kecuali melaksanakan ketentuan yang ditegaskan dalam konstitusi dan karena itu tidaklah selayaknya negara ikut campur dalam fenomena sesat-menyesatkan kemudian mengambil tindakan melanggar konstitusi dengan mengurangi, apalagi menafikan, kebebasan berkeyakinan warga negara. Jaminan konstitusi atas kebebasan berkeyakinan adalah jaminan bagi warga negara untuk menganut keyakinannya, entah agama, entah paham keagamaan atau kepercayaan secara tulus tanpa paksaan dari siapa pun dan golongan apa pun. Apabila negara ikut campur atau memihak suatu kelompok dalam fenomena kontroversi pemahaman agama, rasa aman dan berkeyakinan akan terganggu. Penganutan suatu paham keagamaan atau kepercayaan, betapapun anehnya paham tersebut, tidak boleh dikriminalisasikan selama tidak melanggar ketertiban masyarakat dan kesopanan umum. Berbeda atau menyimpang dari paham anutan mayoritas tidak bisa menjadi alasan pelarangan sebuah paham.

Kalau Tuhan Al-Khaliq sendiri memberikan kebebasan kepada manusia ciptaan-Nya untuk beriman atau tidak kepada-Nya, bagaimana mungkin sebuah negara bertindak melebihi Tuhan sendiri?

RESOURCE : KORAN TEMPO Sabtu, 12 Januari 2008

23 responses to “Solusi Masalah Ahmadiyah Indonesia

  1. saya sangat setuju dengan pak djohan efendi.

  2. Ping-balik: Debat Ahmadiyah di tvone « Which, then, of the favours of your Lord will ye twain, deny?

  3. Surga itu teramat luas dihuni oleh segelintir kelompok saja. Apapun dan siapapun Ahmadiyah itu, saya tidak akan menghabiskan energi untuk membahasnya. Yang terpenting dan terbaik adalah setiap yang dapat memberikan pengorbanan bagi kemanusiaan.

    • Saya tahu surga itu luas,tetapi masa kita masih diam agama kita di ejek-ejek.biarkan ALLAH maha tahu sesuatu.

    • Saya tahu surga itu luas,tetapi masa kita masih diam agama kita di ejek-ejek.biarkan ALLAH maha tahu sesuatu.

      • Ouldamry Oulmahfuld

        Askum. Wr. Wb.
        Agama adalah milik Tuhan, kita hanya pengikut para Utusan Tuhan (Nabi dan Rasul). Risalah Tuhan hanya bisa ditunjukkan bagi orang-orang suci (Tohir).
        Kita tidak bisa menjamah kesucian atau kebenaran suatu agama, manakalah kita tidak mendapat hidayah dari pemilik Agama yakni Tuhan.
        Tidak ada agama kita yang diejek-ejek, kecuali kita mengejek orang-orang yang sedang beragama (mencari Tuhan) dengan caranya masing-masing.
        Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan hanya mengaku-ngaku agama kita, tapi dalam amalnya kita benar-benar beragama. Kedamaian itulah beragama, cinta kasih, toleransi dan solidaritas terhadap mereka yang sedang beragama – apapun agamanya. Memang Tuhan Maha Mengetahui, juga jangan lupa bahwa Tuhan Maha Rahman dan Rahiim. Cintailah seluruh makhluk termasuk mencintai diri sendiri. Jangan cari permusuhan. Wassalam.

  4. pesan saya kafir muhamadiyah harus di bubarkan,karena merusak nama baik islam,ALLAH HUAKBAR…

  5. Ouldamry Oulmahfuld

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Sebagai manusia kita patut bersyukur kepada Sang Khaliq (Sang Pencipta), Dia (Allah) Yang Maha Suci atau Maha Tinggi telah menyiapkan langit dan bumi untuk kita, dan seyogianya kita sebagai manusia bisa menggali kedalaman bumi dan menggapai arrasy (singgasana Tuhan), seperti dicontohkan oleh Nabi Mulia Hazrat Muhammad Mustafa saw. adalah seorang Nabi yang kesuciannya telah mencapai arrasy-Nya – Beliau saw. secara akal sehat tidak perlu menaiki Buraq – Ini karena kesucian Beliau saw., dan karena Beliau saw adalah Khootaman Nabiyyin (Penghuu Nabi). Beliau saw. sebagai cikal bakal diturunkannya para Nabi, sedangkan para Nabi sebagai cikal bakal terciptanya manusia di bumi. Dan pada akhirnya manusia sebagai cikal bakal diciptakannya langit dan bumi untuk manusia. Manusia lebih dahulu ada disisi Allah SWT, kemudian bumi dan langit diciptakan untuk manusia.
    Oleh karenanya Nabi Mulia Muhammad Mustafa saw. bukanlah nabi terakhir, melainkan nabi pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Sedangkan nabi lain yang datang setelah Nabi Muhammas saw, hanyalah Nabi Pengikut dari Nabi Muhammad saw.
    Nikmat kenabian sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an untuk segenap manusia tidaklah dapat ditolak, karena ini merupakan karunia Tuhan Yang Maha Pemurah. Mana mungkin nikmat kenabian, nikmat siddiqien, nikmat syuhada’ dan nikmat solihin yang telah ditunjukkan oleh Alqur’an Kariim sebagai nikmat rohani dipandang hanya sebelah mata saja. Sedangkan nikmatnya jadi presiden, nikmatnya jadi menteri, nikmatnya jadi ketua umum partai, dan nikmatnya jadi direktur, kita bisa memahami dan bisa dicapai oleh orang-orang yang berusaha untuk mencapai kenikmatan dunia itu. Kenapa kita tidak berlomba-lomba atau berusaha untuk mencapai nikmat rohani yang justru lebih nikmat dibandingkan nikmat dunia yang fana ini.
    Mari kita berlomba-lomba untuk mencari keridhoan-Nya, bukan sebaliknya menjauhi dari kasih sayang-Nya. Seraplah sifar Rahman dan Rahim-Nya. Agar kita berada dalam kasih sayang-Nya.
    Wassalam.

  6. REKONSILIASI ANTARA JEMAAT AHMADIYAH DAN UMAT ISLAM DI INDONESIA

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Disaat umat Islam Indonesia yang mayoritas ini terkoyak-koyak oleh fitnah dajjal dan saling hujat serta sesat menyesatkan sesama muslim, pada saat bersamaan pembangungan material seperti apartemen, Mall-mall, ruko-ruko, perumahan mewah, dan pabrik-pabrik industri skala raksasa bertumbuhan sangat pesat tanpa ada kendala yang berarti.

    Untuk mengimbangi antara kehidupan duniawi dan ukhrawi diperlukan kesadaran bahwa selama kita hidup dialam syariat (dunia) bukan alam hakikat (nanti), perlu ada rekonsiliasi bukan hanya rekonsiliasi dalam hubungannya dengan keyakinan beragama, hendaknya didahului dengan upaya tolong menolong dalam usaha yang bersifat duniawi.

    Jemaat Ahmadiyah memiliki dana cukup besar dari “Wasiat yang telah mendunia” dan Pengurus Besar Ahmadiyah Indonesia bisa memulai dengan usaha berbasis ekonomi. Bila diperlukan dapat dimohonkan kepada Khalifah Ahmadiyah.

    Bersambung…..

  7. ahmadiayah jelas2 keluar dari aqidah islam.
    asyhaduallaailaha illallaah,wa asyhadu annamuhammadarrosuulullah.
    semoga allah memberi hidayah kepada saudara kita ini.aamiin

  8. agama bagi seorang yang menganut pluralisme,mereka menganggap sama..apakah budha,hindu,nashrani trinitas,yahudi,kngkhucu dll adalah sama.apakah manusia melebihi allah?menyamakan islam dngn agama berhala..a’udzubillah..
    allah meridhoi islam.selain itu kafir

  9. dalam Al-Quran Allah berfirman : “yang berhak menentukan suatu kaum itu kafir atau bukan hanya Allah semata”..
    jadi manusia tidak berhak mengecap suatu kaum kafir atau tudak.
    belum tentu yang mengecap lebih baik dari yang dicap..

  10. ouldamry oulmahfuld

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Para Pembaca Yang Budiman!
    Kita sebagai species manusia adalah bersaudara ketika usia balita, namun pada usia remaja mulai ada tanda-tanda permusuhan, dan ketika usia dewasa mulai memperebutkan berdasarkan qadar nafsu yang telah ada pada sifat manusiawi karena perbedaan asupan dari saripati tanah yang didominasi oleh ketamakan dan ke qonaahan (kepuasan), secara fitrati manusia adalah ketaqwaan (takut akan azab/musibah) baik secara harfiah datang dari dunia maupun hakikatnya datang dari Allah Ta’ala, kemudian taqwa itu sendiri berevolusi sesuai dengan asupan kemudian, ketamakan menimbulkan masalah sosial yang datang dari lingkungan akibat ketamakannya, sedangkan sifat qonaah dapat berdampak kepada rahmatan lil ‘alamin, orang yang puas dengan apa yang dimilikinya pada hakekatnya memiliki kemampuan mengeksploitasi lingkungan, dan pada akhirnya orang qonaah ini akan terpanggil untuk menghasilkan demi lingkungannya. Inilah namanya rahmatan lil’alamiin. Hanya ada dua klasifikasi manusia dalam hal kapasitas, sebagian manusia dapat hidup karena menggali potensi spiritual/rohani, dan sebagian lagi dapat hidup karena menggali potensi material/fisik. Dua potensi ini harus dipersatukan bukan diperebutkan, dengan kata lain bahwa mereka yang rohaniawan hendaknya berada pada posisinya, sedangkan saintis berjuanglan sesuai dengan profesinya. Pada akhirnya pembangunan moral dapat ditopang oleh materi. Begitu juga sebaliknya pembangunan fisik/material di negara tercinta Indonesia ini dapat dituntun oleh moralism. Seyogiyanya Ulama’ tidak akan jadi politikus atau penguasa, dan sebaliknya, kalau politikus atau penguasa jadi rohaniawan mana mungkin?. Da’wah di negeri ini bukanlah politik jangka pendek untuk polularitas diri atau kelompok, begitupula pembangunan fisik bukan hanya diperuntukkan satu generasi di rumah kita saja. “Tanamlah pohon berbuah lebat untuk 15 tahun kedepan dan arahkan kebaikan untuk bangsa ini demi 150 tahun kedepan”, sehingga kita diingat dan dido’akan oleh anak bangsa setiap generasi, bukan dikutuk karena habisnya sumber daya alam di negeri ini, karena ketamakan kita. Keonaran adalah salah satu manifestasi dari sifat ketamakan, sedangkan kedamaian hasil dari sifat qonaah.
    Keonaran yang datang mengatasnamakan rohaniawan adalah dusta belaka, sedangkan kedamaian demi pembangunan dan kelangsungan negeri ini adalah wacana yang harus diperjuangkan. BENARKAH DAMAI ITU INDAH…… ? Jawabannya BENAR.
    Provokator hanya boleh menyeru kepada jalan Tuhan…..
    bukan untuk memimpin tawuran! Do’a Tuan-tuan (Ulama’) adalah keselamatan.
    Pemerintah hanya boleh menangkap cendikiawan untuk diberdayakan bukan dikurung dalam sangkar emas!. Tindakan Tuah-tuan (Pejabat Negara) adalah rahmat.
    Kita akan menjadi Presiden (Amir) dan Ulama’ terhadap diri kita sendiri……. boleh-boleh saja. Ya kan. Wassalam yang lemah.

  11. Islam dan Muslim sudah menunjukkan toleransinya kepada kefahaman/agama yang berbeda misalnya kepada Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Tetapi Islam dan Muslim tidak bisa menerima agamanya ditafsirkan atau disimpangkan dengan semena-mena dan penyimpangan ini didakwahkan atau disebarkan kepada ummat Islam yang awam. Penyimpangan2 yang dilakukan Ahmadiyah sama halnya seperti memfatwakan bahwa “sholat 5 waktu cukup dikerjakan 1 waktu “, bahwa “puasa romadhon tidak wajib “, bahwa “ada nabi baru setelah Muhammad saw.” dll. Kebebasan beragama tidak berarti boleh/bebas mengaduk-aduk, merusak sendi-sendi pokok agama tertentu……. Mungkin ummat Katolik pun akan marah kalau ada aliran baru dalam Katolik yang mempunyai keyakinan dan menyebarkannya bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan……. Islam dan Muslim tidak akan mengganggu kalau aliran Ahmadiyah menamakan dirinya Agama Ahmadiyah dan bukan Islam, dengan catatan tidak menggunakan symbol2 Islam seperti Al Quraan , Masjid, Sholat 5 waktu, Puasa Romadhon dll…….. Yang menyatakan bahwa Ahmadiyah itu sesat dan menyesatkan bukan hanya MUI dan Departemen Agama RI, tapi juga federasi Islam sedunia “ Rabithah Alam Islami…”

  12. Masalah Ahmadiayah tidak akan pernah selesai jika Kaum Ahmadiyah masih mengaku sebagai ummat islam, karena akar permasalahannya adalah pada penodaan (mengubah) apa yang ada pada ajaran islam yang sebenarnya.
    Sehingga ummat islam sudah pasti akan marah.
    Akan tetapi jika Ahmadiyah menyatakan diri bukan dari Umat islam maka selesailah masalahnya.
    Umat Islam tidak pernah akan melakukan kekerasan kepada umat selain islam selama ummat tersebut tidak memusuhi islam (Lakum dinukum aliaddin = untukmu agamamu dan untukku agamaku).

  13. Maaf ada kesalahan tulis “(Lakum Dinukum Waliaddin)

  14. Sebaiknya kita tahu juga.
    Numpang lewat. Ini pengetahuan yang benar, jangan dihapus. Sebaiknya di-share bersama, untuk pencerahan.

    Tiga nyawa anak muda lugu tak berdosa, melayang. Pembunuhan sadis tak berperikemanusiaan. Membunuh adalah kejahatan berat. Pelakunya nyata kelihatan di kamera TV. Mereka harus diadili, divonis hukuman berat. Mungkin kalau perlu hutang nyawa bayar nyawa. Ahmadiyah adalah sebuah organisasi aliran agama besar dan perlu kita tahu bahwa Nabi Muhammad pun nabi mereka. Ghulam Ahmad hanya guru atau ulama mereka. Ahmadiah yang murni pusatnya di Lahore. Mereka menyiarkan alirannya seperti agama-agama lain yang juga punya liran. Mereka punya TV sendiri yang bisa diakses melalui satelit. Mereka besar. Hanya saja di Indonesia, dimunculkan dan dibenturkan dengan aliran lain, yang dibentuk oleh kelompok tertentu bahkan konon melibatkan orang-orang MUI, dengan nama Ahmadiyah juga, dan dimanfaatkan untuk menzalimi Ahmadiyah cabang Lahore. Itu juga sering kali dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu. Mengenai SKB jelas bertentangan dengan UUD 1945 dan harus dibuang ke sampah. Sayang sekali, presiden itu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu masalah ini. Lihat, pernyataannya hari ini seperti pernyataan orang awam dan bukan seperti pernyataan presiden di Komaps dll.

  15. Sebaiknya kita tahu juga.
    Numpang lewat. Ini pengetahuan yang benar, jangan dihapus. Sebaiknya di-share bersama, untuk pencerahan.

    Tiga nyawa anak muda lugu tak berdosa, melayang. Pembunuhan sadis tak berperikemanusiaan. Membunuh adalah kejahatan berat. Pelakunya nyata kelihatan di kamera TV. Mereka harus diadili, divonis hukuman berat. Mungkin kalau perlu hutang nyawa bayar nyawa. Ahmadiyah adalah sebuah organisasi aliran agama besar dan perlu kita tahu bahwa Nabi Muhammad pun nabi mereka. Ghulam Ahmad hanya guru atau ulama mereka. Ahmadiah yang murni pusatnya di Lahore. Mereka menyiarkan alirannya seperti agama-agama lain yang juga punya liran. Mereka punya TV sendiri yang bisa diakses melalui satelit. Mereka besar. Hanya saja di Indonesia, dimunculkan dan dibenturkan dengan aliran lain, yang dibentuk oleh kelompok tertentu bahkan konon melibatkan orang-orang MUI, dengan nama Ahmadiyah juga, dan dimanfaatkan untuk menzalimi Ahmadiyah cabang Lahore. Itu juga sering kali dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu. Mengenai SKB jelas bertentangan dengan UUD 1945 dan harus dibuang ke sampah. Sayang sekali, presiden itu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu masalah ini. Lihat, pernyataannya hari ini seperti pernyataan orang awam dan bukan seperti pernyataan presiden di Kompas dll.

  16. Ahmadiyah = Non Muslim,..bagi pengikut Ahmadiyah saya minta deklarasikan ini,..Al-Qur’an adalah kebenaran,..Sudah jelas Rasulullah Muhammad SAW adalah yang terakhir…Jangan beragumen dengan alasan yang tak masuk akal mengaggungkan filosofi Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam,..Coba baca lagi Al-Qur’an pahami dan resapi dengan teliti,..kembalilah pada Islam yang benar,..InsyaAlloh.

  17. Numpang lewat, jangan dihapus, Mas/Mbak, biarlah kawan-kawan kita membaca dan paham. Sebaiknya di-share lewat email boeh juga.

    Susno Duadji setelah sidang kesal dan bilang: “Anda lihat sendiri inilah pengadilan Republik Indonesia”. Ia sesungguhnya kesal, bagi Susno, semua itu rekayasa dan tidak benar.

    Sebetulnya tidak hanya sistem peradilan. Semua tergantung pemimpin pemerintahan atau presiden, sebab kapolri, kejagung juga diangkat/diberhentikan presiden. Semua di tangan Presiden sesungguhnya.

    Alasan tidak mau ikut campur urusan peradilan, ah masa’ bohong. Hakim-hakim pada sidang penting dan menentukan pasti dikomando presiden.

    Maka sesungguhnya pemimpin Rezim ini yang suka berpura-pura, licik, dan suka mengalihkan isu atau menyempitkan isu (melokalisir isu). Lihat, senyumnya itu yang seolah baik dan jujur kepada rakyat.

    Harusnya ada yang bisa dipelajari dari gerakan demo masif dan efektif di Mesir, mereka hebat….

    Kau perlu tahu kalau ciri-ciri gerakan efektif lebih ke aksi-aksi dan agenda-agenda nyata. Mereka melibatkan aktif tokoh-tokoh oposan tidak peduli siapa. Kalau perlu melibatkan tokoh-tokoh oposan musuh bebuyutan mereka.

    Kedua, harus masif, didukung dana masif dan foskus pada isu-isu sentral: harga-harga yang terus naik dan pembiaran korupsi yang menyedot dana besar negara, berbagai mafia itu.

    Mesir dan Indonesia sama. Bedanya di Mesir, barusaja terjadi. Indonesia, lebih dahulu, tahun 1998, tapi tidak menghasilkan apa-apa untuk rakyat banyak.

    Apakah perubahan di Mesir saat ini akan menguntungkan rakyat atau hanya berganti tangan, masih perlu dilihat. Mungkin rakyat Mesir lebih pandai untuk mengarahkan kemana dan bagaimana reformasi yang lurus dan tidak kembali terbajak.

    Indonesia praktis belum ada reformasi yang berarti.

    Rakyat dan anak-anak rakyat itu tidak memperoleh hak-hak dasar mereka: hak kesejahteraan, hak jaminan kesehatan dan pendidikan yang benar-benar gratis, kecuali gratis hanya wacana. Padahal itu semua merupakan hal-hal paling mendasar, yang harus dimiliki oleh rakyat, seperti yang dimiliki rakyat dari negara-negara baik di dunia. Semua itu sudah lama dilaksanakan oleh bahkan negara-negara tetangga negara itu sendiri seperti Malaysia dan Singapura, yang merdeka belakangan, dan bahkan negara relatif baru seperti Vietnam. Kemana pemikrian kepemimpinan nasional di Indonesia?

    TKi-TKI itu, juga, apakah mereka semua TKI? Bukan. Mereka kebanyakan para korban dari mefia perdagangan manusia oleh orang-orang WNI yang ber-KKN dengan oknum pejabat di Kementerian Tenaga Kerja. Presiden tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dan membiarkan atau hanya perintah menteri dan lainnya tanpa mengawasi pelaksanaannya. Semua itu menjadikan rakyat Indonesia semakin sengsara.

    Mungkin Indonesia perlu gerakan reformasi jidil dua untuk mendapatkan sebuah pemerintahan yang benar-benar baru dan steril dari mentalitas lama, seperti yang akan terjadi di Mesir.

    Reformasi jidil dua yang dikehendaki oleh para mahasiswa dan kaum intelektual pada tahu 1998 itu nyata terjadi dan tidak dibajak seperti sekarang.

    Reformasi yang bukan hanya sekedar kulit luar, hanya bebas menyataka pendapat, tetapi perekonomian tidak dibangun untuk kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

    Negara ini tidak mungkin bertahan karena tidak memiliki industri dari repelita-repelita. RRC mampu karena mengamalkan tahapan-tahapan rencana-rencana itu secara benar. Kini, RRC menjadi ekonomi terbesar di Asia dengan repelita-repelita yang konsisten.

    Kepemimpinan nasional sangat menentukan. Parlemen pembuat UU sangat menentukan. Kedua-duanya harus memiliki pemikiran untuk negara ke depan. Indoneia pernah memiliki di zaman Suharto, tetapi karena kebencian terhadap Suharto, UUD diubah, GBHN dihapus, itu blunder raksasa. Sebuah bangsa menuju kehancuran sendiri.

    Pembangunan menuju pertanian, kenelayanan dan apalagi industri rendah, menengah dan maju, tidak mungkin terlewati tanpa tahapan-tahapan seperti itu. Jika kepemimpinan nasional dan pemerintahan tidak memiliki dan tidak membuat atau memulai hal-hal sepertu itu, kemana negara dibawa? Mimpi kali ye.

    Seorang peimpin nasional harus tahu sadar dan memulai konkrit repelita-repelita seperti yang sudah lama ditempuh RRC itu, yang telah dihapus di Indonesia, negara tolol. Pemimpin harus benar-benar mengerti, tidak hanya berwacana, tidak zamannya lagi, itu blunder. Adalah dengan repeiita-repelita, sebuah negara akan selamat dan bisa mencapai kesejahteraan untuk seluruh rakyatnya. RRC dan bangsa-bangsa lain telah membuktikan itu semua. Semuanya harus jelas di atas kertas, GBHN, bukan wacaan dan sekedar usul atau pidato. RRC punya sistem sistem apapun dan sudah lama dan kini membuktikan mensejahterakan rakyatnya. RRC bukan Cina/Tionghoa, Cina/Tionghoa bukan RRC. Bahwa RRC didominasi etnis Cina/Tionghoa benar.

    Kau perlu tahu pula kalau reformasi yang benar dan tidak terbajak itu bisa terjadi jika kita memulai itu semua. Perlu ada pihak-pihak yang peduli, yang mau meluruskan jalannya reforamsi di Indonesia, yaitu semua perlu menggalang kekuatan, bersatu-padu, menggerakkan, membuat dan memiliki pendukung, seperti gerakan demonstran Mesir dan Tunia. Bisa?

    Dan harus pintar mengidentifikasi setiap pengalihan dan tetap fokus melihat penyebab pokoknya siapa.

    Rezim ini dikenal pandai mengalihkan atau menyempitkan isu. Taktik lama dan tetap dipakai. Kebanyakan kita tidak mengerti. Sebuah isu yang digulirkan TLA (tokoh lintas agama), misalnya, dialihkan.

    Isu yang sulit dialihkan adalah kenyataan harga-harga yang naik terus. Isu ini bisa mudah menggalang dan memicu gerakan demo masif, sebab menyangkut perut orang banyak.

    Jika sudah muncul isu penentu ini, maka akan dicoba dialihkan atau disempitkan ke isu yang jauh lebih sempit yaitu misalnya isu seputar Ahmadiyah. Ini taktik pengalihan/penyempitan isu, agar isu sentral dan berbahaya yaitu kelaparan, busung lapar, naiknya harga-harga, tuntutan penurunan harga-harga (semacam tritura zaman dulu) yang bisa mengudnang gerakan demo masif dimana-mana, bisa teralihkan.

    Sebuah rezim berbulu domba manapun akan jatuh kalau isu yang diangkat menyangkut perut. Jutaan pendemo bisa digalang untuk turun ke jalan kalau pengambilan isu tepat seperti tuntutan penurunan harga-harga. Jika isu ini masih juga ditolak tidak dilaksanakan sebuah rezim, gabungan kelompok-kelompok pendemo tetap cerdas, dengan beking tokoh-tokoh oposan yang kuat, isu bahkan dibawa untuk memaksa mundur penguasa. Rakyat Mesir berhasil menjatuhkan Mubarak, karena pengangkatan isu tepat dan berpengaruh luas: tidak adanya
    daay-beli rakyat akibat harga-harga yang selama ini terus dinaikkan, dengan membandingkan ke harga-harga rezim itu mulai berkuasa, plus isu korupsi.

    Di Indonesia, isu SARA dll merupakan taktik penyempitan/pengalihan isu. Hanya orang-orang Ahmadiyah yang terkena imbasnya, tidak seluruh rakyat. Rakyat tidak mungkin mengamuk semua. Tidak akan menimbulkan geraka demo masif, yang bisa membahayakan keberlangsungan suatu rezim.

    Siapa perduli dengan Ahamdiyah? Hanya orang-orang dan simpatisan Ahmadiyah. Kau perlu tahu tapi kalau soal harga-harga, itu soal perut, semua lapisan masyarakat akan semuanya turun ke jalan berdemo.

  18. Biarkan saja ahmadiyah berkembang,,
    Mereka jg sedang mencari2 tuhan sama seperti kita,,,
    Yg perlu anda ingat Islam , kristiani,Hindu Budha dan agama2 yg lain bukan buatan tuhan,, Semua agama ciptaan manusia,, tuhan tak perlu sm agama

  19. ouldamry oulmahfuld

    PERBEDAAN AKIDAH DAN KEPERCAYAAN

    Perbedaan akidah dan kepercayaan agama di dunia ini memang selalu mewarnai keadaan sepanjang masa. Dan dalam hal itu manusia bebas serta berhak penuh memilih akidah dan kepercayaan yang sesuai dengan keyakinannya, dan dapat mendasarkan keselamatannya pada pandangan-pandangan yang disukainya.
    Akan tetapi kepada siapapun tidak dapat diberi hak untuk berusaha memaksa orang lain mengakui akidahnya atau mengatur amal perbuatannya berdasarkan kepercayaan-kepercayaan yang mengajarkan kezaliman. Sebab manakala cara itu ditempuh, pasti akan lambat laun menimbulkan rangkaian kerusuhan-kerusuhan yang tiada berakhir.
    Satu-satunya jalan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan sampai batas kemungkinan atau untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran ialah bahwa pandangan-pandangan masing-masing disampai-kan kepada satu sama lain dalam suasana aman dan damai dengan membersihkan diri dari segala macam kefanatikan dan harus ada usaha untuk memahami pandangan orang-orang lain dengan sejujur-jujurnya dan dengan sikap yang tidak berat sebelah.
    Semakin dalam perbedaan pendapat semakin dalam pula diperlukan tenggang rasa, pengendalian diri, dan ketabahan dalam mencapai saling pengertian. Dan dalam pertentangan yang bagaimana pun memuncaknya, senantiasa harus sadar akan kejujuran dan tidak melepaskan hubungan kesetiakawanan, toleransi dan rasa persaudaraan yang mendalam lalu berusaha mengendalikan diri dari gejolak emosi serta dari slogan-slogan antipati dan permusuhan.
    Akan tetapi dengan menyesal sekali terpaksa harus dikatakan bahwa seperti banyak negara di kawasan Timur termasuk di negara Republik Indonesia suasana jernih dan keamanan negeri kita kurang memadai. Bagaikan kuda yang kurang terlatih tersentak oleh sedikit isyarat pacuan lalu segera melompat jauh meninggalkan semua garis ketentuan yang telah diatur (melanggar hukum), hal ini dapat dilihat pada peristiwa berdarah di Cikeusik-Pandegelang, baru-baru ini, yang menewaskan beberapa orang dan puluhan luka-luka dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
    Kita pun demikian dalam percakapan yang kontroversial tidak dapat mengendalikan diri lantas melonjak keluar dari batas-batas etika/moral dan rambu-rambu hukum yang semestinya.
    Sejarah kehidupan manusia memang diseret-seret melalui debu dan darah. Sejak hari dan saat bila Qabil membunuh saudaranya Habil, sampai hari ini demikian banyak darah telah mengalir tanpa hak sehingga jika darah itu dikumpulkan maka hari ini darah itu cukup untuk mewarnai pakaian seluruh manusia penduduk persada bumi ini. Bahkan mungkin sisa darah itu akan cukup memerahi pula pakaian hingga keturunan kita yang akan datang. Tetapi disesalkan bahwa hingga hari ini manusia tidak pernah merasa puas minum darah.
    Terbunuhnya Habil di tangan Qabil merupakan darah pertama yang tidak berdasar hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi kita umat pengikut setia Nabi Muhammad saw. untuk selama-lamanya, dan peringatan ini akan terpelihara seterusnya hingga berakhirlah lembaran sejarah hidup manusia dan bila bumi ini akan tergulung habis. Akan tetapi bila manusia memperhatikan kembali latar belakang sejarah hidupnya lalu sejenak meninjau keadaan sekelilingnya dalam dunia hari ini maka timbul pencelaan menusuk-nusuk dalam hatinya seperti pecahan-pecahan kaca. Sebagaimana dahulu manusia zalim hari ini juga manusia tetap zalim. Sebagaimana dahulu ia kejam, sekarang pun kejam. Kisah kezaliman amat panjang dan bab-bab kisah itu tak kunjung berakhir. Dan haus darah yang bergolak di hati Qabil dahulu, sekarang pun bisa bergolak dalam berbilang dada manusia merupakan bara api yang walaupun beribu tahun lamanya disirami tetap tidak pernah mendingin.
    Contoh pembunuhan secara perseorangan pun tiada terhitung banyaknya. Contoh-contoh peristiwa berdarah secara kelompok dan kaum pun tak terhingga banyaknya dan adalah bagaikan gelombang lautan yang tiada hentinya bergerak dari suatu sudut bumi ke sudut bumi yang lain menyerbu penghuninya. Gerombol demi gerombol dan pasukan demi pasukan lasykar keluar dari kubu-kubu menyerbu kelompok yang dianggapnya berbahaya. Kaisar pun telah menumpahkan darah seprti juga Kisra. Tangan Iskandar Agung dan Nero juga berlumuran darah. Tangan Hulaku dan Jengis Khan pun ketika menghancurkan Baghdad telah memerahi lembaran sejarah sampai hari ini.
    Darah terkadang ditumpahkan demi kehormatan dan kemuliaan nama dan terkadang dialirkan berdasar pada rasa dengki dan balas dendam. Terkadang pula dialirkan, karena memperebutkan rezki, dilakukan oleh kaum-kaum yang lapar maupun semata-mata karena ketamakan. Dan sering raja-raja atau pemerintah yang lalim terdorong oleh nafsu menguasai dunia dan pemerintahannya. Dan sering juga pertumpahan darah terjadi dilakukan atas nama Tuhan, dan agama dipakai topeng untuk menumpahkan darah manusia dengan amat kejam. Semuanya itu telah terjadi dan sekarang pun sedang terjadi. Dan apabila manusia merenungkan kembali perilakunya maka sering hatinya merasa putus asa lalu bertanya kepada dirinya, untuk itukah manusia diciptakan di dunia ini ? Ada satu agama yang padanya bertumpu harapan akan mengajarkan manusia menjadi manusia beradab, namun jubah agama itu pun nampak berlumuran darah.
    Persoalan demikian timbul dalam hati secara wajar dan tiba-tiba pikiran manusia melayang ke peristiwa Adam yang tersebut dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan peristiwa itu dengan firman-Nya:
    ät~Y gR.% ã ãqeä] Ú ÖZ~f5L<vã ð gQä- 3 ã Öbzfjfe cæ< dä] :ã p
    Úce @9^m p !9j2æ 3çBm o@pÙ xäi9eã cZB} p ät~Y 9BZ} oi
    ê AlqjfR% v äi kfQã 3ã dä]
    “Dan ingatlah saat itu ketika Tuhan engkau berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’, berkata mereka, ‘Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan membuat kerusuhan didalamnya dan akan menumpahkan darah? Padahal kamilah orang-orang yang bertasbih sambil memuji Engkau dan kamilah orang-orang yang menguduskan Engkau.’ Berkata Dia (Allah), Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 31)

    Setelah sepintas lalu membaca percakapan antara Allah dengan malaikat itu manusia menjadi terjerumus kedalam kebingungan karena apabila ia memperhatikan sekelumit sejarah perkembangan agama, nampaknya malaikatlah yang benar dalam pertanyaannya. Dan manusia mulai berpikir bahwa seandainya malaikatlah yang benar, mengapa Allah menolak musyawarah mereka? Dan mengapa menolak pula keberatan atas pengangkatan khalifah paling muliaNya, ialah Nabi Mulia Muhammad Mustafa saw. Di satu pihak apabila kita mempelajari sejarah perkembangan agama di bagian dunia mana pun, apakah di bagian utara atau di bagian selatan, apakah di bagian timur atau bagian barat, maka kita dapat mengetahui tidak sedikit manusia secara perorangan atau golongan yang mengatasnamakan agama melancarkan perbuatan-perbuatan demikian terkutuk dan tercelanya sehingga setiap orang yang membacanya pasti gemetar dan berdiri bulu-bulu romanya. Dan saat itu dengan perasaan hampa kecewa dalam hati terbayang berbagai pikiran ungkapan sebuah sya’ir :
    “Mereka yang tadinya diharapkan akan mengobati penderitaan kita, mereka itu terbukti lebih menderita dari pada kita.”
    Agama yang dapat diharapkan akan menyelamatkan manusia dari kerusuhan serta penumpahan darah di bumi, justru agama itu sendiri dinodai dengan lumuran darah manusia.
    Di lain pihak apabila manusia memperhatikan keputusan mutlak Allah swt., bahwa agama didirikan bukan sekali-kali bermaksud menciptakan kerusuhan dan penumpahan darah di dunia, dan bahwa timbulnya pikiran ini akibat kurangnya ilmu serta pandangan yang tidak beralasan sama sekali, maka meskipun keheranan itu tidak berkurang namun dalam kegelapan itu timbul satu sinar harapan. Lalu manusia melihat keputusan Allah Ta’ala ini dengan takjub bercampur gembira bahwa khalifah sejati yang diragukan malaikat akan mengadakan kerusuhan di atas bumi itu justru dialah yang mendapat kedudukan yang tertinggi sebagai Muslih Agung di sisi Allah dan nama agamanya ialah “Islam” artinya, “Agama keselamatan, keamanan, dan perdamaian.”
    Akan tetapi pertanyaan masih tetap timbul bahwa meskipun jelas telah diakui keputusan dari Zat Yang Mahagaib itu benar adanya dan semua dugaan yang lain salah, namun di mana letaknya tempat itu bila pandangan yang menyelidiki sejarah agama terantuk pada kenyataan yang bertentangan, dan di mana letaknya kesalah fahaman yang karenanya golongan anti agama selalu mencela bahwa agama itu mengatasnamakan keamanan mengajarkan kerusuhan dan mengatas-namakan keselamatan mengajarkan penumpahan darah yang tak beralasan.
    Al-Qur’an secara halus menyoroti kesalahfahaman ini dan menjelaskan berulang kali dengan menyebutkan fakta-fakta sejarah agama-agama bahwa semua perbuatan aniaya yang dilakukan atas nama agama-agama pada umumnya adalah selalu timbul dari orang-orang yang sebenarnya tidak beragama atau menjadikan agama hanya sebagai topeng, serta agama-agama yang dianutnya mengalami erosi (kerusakan) karena tidak bertanggung jawab atas ajaran agama yang dianutnya serta hatinya sendiri telah kosong dari kesucian rohani, kering dari rasa sayang dan kecintaan kepada semua makhluk dan kosong dari gaya dan selera hidup hakiki. Maka yang nampak hanyalah takabur, congkak, ria dan kezaliman. Menisbahkan perbuatan-perbuatan buruk pemimpin-pemimpin agama semacam itu kepada agama sendiri merupakan kezaliman besar kepada agama. Yang sebenarnya ialah bahwa Tuhan sebagai sumber Rahmat tidak pernah mengajarkan kepada pengikut agama mana pun untuk menganiaya hamba-hamba-Nya yang lain.
    Al-Qur’an telah mengemukakan beberapa contoh sejarah dunia dan dengan demikian merobah pola gambar yang sebenarnya sehingga yang menuduh itu sendiri menjadi tertuduh. Sebagai tolok ukur, Al-Qur’an mengemukakan sejarah permulaan para Nabi, kemudian kerap kali mengemukakan sejarah hidup serta perkembangan para pengikut (Jemaah/Jemaat) Nabi-Nabi sebagai dalil bahwa jika seandainya agama itu menjadi sumber kezaliman, maka seharusnya pemimpin atau pembina agama itu sendirilah yang paling penganiaya atau para pengikut agama yang telah menganut ajaran pemimpin agama itu sendirilah terbukti sebagai zalim. Sebab, dari para pemimpin itulah mereka mengambil contoh dan pelajaran untuk membina akhlak dan perbuatan mereka. Yang menjadi tolok ukur bukanlah orang-orang yang lahir jauh kemudian, atau mereka yang sudah memang mewarisi agama di masa ketika agama itu sendiri rusak karena kemerosotan akhlak manusia sendiri lalu menuruti kemauan sendiri dan mengancurluluhkan agama.
    Sejarah agama yang dikemukakan oleh Al-Qur’an selalu memperlihatkan gambaran kepada kita bahwa selalu ada saja kezaliman atas nama agama tetapi kezaliman itu selalu dilakukan oleh pihak yang tidak beragama atau yang tidak menyukai orang yang beragama. Tindak kekerasan selalu ada saja atas nama Tuhan tetapi kekerasan itu dilakukan oleh orang-orang yang tuna dari konsep wujud Tuhan yang hakiki. Al-Qur’an menuturkan kejadian Nabi Nuh a.s. bahwa ketika Nabi Nuh diperintahkan menyeru dunia datang kepada petunjuk dan untuk berbuat baik, bukanlah Nabi Nuh yang berbuat aniaya tetapi yang berbuat aniaya adalah mereka yang buta agama. Di dalam Al-Qur’an Allah swt., menjelaskan bahwa orang-orang setelah mendengar seruan Nabi Nuh a.s berkata :

    “Sekiranya engkau tidak berhenti, ya Nuh niscayalah engkau ekan termasuk orang-orang yang dirajam.” (As-Syu’ara : 117)

    Di sini Al-Qur’an bermaksud mengemukakan kenyataan bahwa teror yang dilancarkan dengan dalih agama sebenarnya selalu ditujukan kepada para penganut agama yang benar dan bukanlah para penganut agama yang benar berbuat aniaya. Kemudian sesudah Nabi Nuh a.s. bangkit pula Nabi Ibrahim a.s. mengimbau dunia menuju jalan kebenaran dengan damai, cinta kasih, simpati dan budi luhur beliau. Tangan Nabi Ibrahim tidak menggenggam pedang, tidak ada senjata kekerasan apa pun, tidak ada sarana kekerasan apa pun. Tetapi apa sesat, pelecehan, itulah tuduhan yang dilemparkan pemimpin-pemimpin golongan yang tidak beragama kepada Nabi Nuh seperti kepada Nabi Ibrahim juga, dikatakan mereka :
    cnj-< v u&n% ke oze
    “Jika engkau tidak melepaskan kepercayaan agamamu dan tablighmu maka kami akan melemparimu dengan batu sampai kamu binasa.” (Maryam : 47)

    Ancaman ini telah diberikan oleh Azar terhadap Nabi Ibrahim as. Sekarang lihatlah, kata-kata yang dipergunakan orang-orang yang tidak beragama di zaman Nabi Nuh a.s. kata-kata itu pulalah yang dipergunakan orang-orang yang tuna agama kepada Nabi Ibrahim pada zamannya. Mereka dihina, diolok-olok pula dan dianiaya seperti orang-orang sebelum mereka. Namun Nabi Nuh serta pengikutnya tetap bersabar mempertahankan pendirian mereka. Hal yang sama juga dilancarkan kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya. Untuk Nabi Ibrahim bukan saja api fitnah dinyalakan bahkan betul-betul beliau dilemparkan hidup-hidup ke dalam kobaran api.
    Para penentang Nabi Luth yang buta hakikat agama pun memakai nama agama untuk melancarkan penganiayaan terhadap Nabi Luth dan para pengikutnya lalu memberikan juga ancaman-ancaman serupa. Para penentang nabi Luth mengancam akan mengusir beliau dari negerinya kemudian berulang kali menyerang, mengancam, dan menakut-nakuti agar beliau berhenti dari kegiatan tabligh agamanya. Para penentang Nabi Syu’aib pun melakukan tindakan serupa itu dan mereka berkata:

    “Wahai Syu’aib! Pilihlah antara dua hal, kamu bersama pengikutmu akan diusir dari negeri ini atau kembalilah ke dalam agama kami. Jika tidak, kami akan melancarkan serangan lalu menyiksa kamu serta pengikutmu. Kamu harus mengubah perilakumu. Oleh sebab itu kami berikan kesempatan untuk meninggalkannya. “A walau kunna kaarihiin?” Nabi Syu’aib berkata, “Sekali pun hati kami tidak membenarkan agama kamu?” (Al-A’raf : 88)

    Apakah dengan cara macam ini dapat dibuat seseorang beriman dan mengikuti sesuatu agama padahal hatinya meyakini bahwa agama itu palsu? Dan jika hati ingin lari dan mencari agama yang damai dan mengajarkan kebenaran, apakah dapat dia dipaksakan supaya melawan kata hatinya dan fitratnya ia memeluk agama yang tidak dapat memberikan kepada hatinya ketentraman?
    Jawaban Nabi Syu’aib yang menolak faham “qatli murtad” (menghalalkan pembunuhan bagi orang yang dituduh murtad) berisikan satu dalil yang begitu kokoh-kuat laksana karang sehingga tidak dapat dibantah oleh siapa pun hingga saat ini sebab hati dan akal tiap manusia selalu menjadi saksi, bahwa belum pernah dan tidak akan pernah kebenaran hati nurani dapat ditaklukkan dengan kekuatan pedang apa pun. Kendatipun pedang itu dapat menguasai daging dan tulang tetapi akal, perasaan, dan akidah tidak dapat digoyahkan atau dipaksa. Karena, ini adalah suara kata hati nurani manusia yang tidak dapat dirobah dan dasar fitrat yang telah dianugerahkan kepada Adam. Manusia yang terakhir di dunia ini pun akan mati atas dasar fitrat itu. Suara fitrat insani itu tidak dapat dituduh murtad dan wajib dibunuh oleh pemimpin-pemimpin yang buta agama, suara hati nurani mereka akan tetap mengumandangkan kebenaran, “Apakah kamu memaksakan kami beriman kepada i’tikad-i’tikadmu yang rusak sedang hati kami sedikit pun tidak tertarik kepadanya?” Tetapi sangat disesalkan bahwa dari dahulu orang-orang yang buta agama selalu memusuhi nabi-nabi beserta pengikut mereka lalu memberi fatwa murtad serta wajib dihukum mati dan menciptakan cara kezaliman yang mencemari citra kemanusiaan.
    Kemudian camkanlah bahwa sejarah Nabu Musa a.s., dan para pengikutnya pun mengalami perlakuan demikian dan Fir’aun pun mengatakan apa yang telah dikatakan pemimpin-pemimpin gadungan kaum-kaum sebelumnya. Dan seperti cara penganiayaan dari para kaum terdahulu terhadap nabi-nabi mereka, demikian juga Fir’aun memerintahkan kepada kaumnya:

    “Hai para pengikutku! Hancurkanlah kaum dan para pengikut Musa dengan cara kekerasan dan bunuhlah anak-anak lelaki mereka, lalu biarkanlah hidup anak-anak perempuan mereka!” (Al-Mu’min:25)
    Alhasil, lihatlah bahwa atas nama agama tindakan kekerasan serta pembunuhan seperti itu tidak pernah dilakukan oleh para jemaah/ jemaat pengikut Nabi tetapi selalu oleh penentangnya, sedangkan nabi serta pengikutnya menjadi sasaran penganiayaan. Kemudian sesudah Nabi Musa a.s. begitu juga dialami oleh Nabi Isa a.s., sehingga musuh-musuh menangkap beliau lalu berusaha membunuh beliau di atas tiang salib dan para pengikut-setia beliau pun ditimpa berbagai penganiayaan kejam. Jadi rangkaian penganiayaan serta perkosaan hak yang berjalan sejak dahulu hingga sekarang atas nama agama dan dikenal sebagai hukuman bagi orang yang dianggap murtad, sama sekali tidak tercantum dalam kitab-kitab samawi. Maksudnya adalah bahwa ajaran semacam itu tidak mendapat dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah swt., kepada nabi-nabi. Jika sesudah wafatnya para Nabi, di masa ratusan tahun kemudian orang-orang khianat mengadakan perubahan dalam teks kitab itu atau menambah ajaran yang membolehkan kezaliman, karena dorongan nafsu mereka, maka kitab-kitab samawi tidak dapat disalahkan.
    Al-Qur’an telah mengemukakan bukti yang nyata berdasarkan fakta-fakta sejarah agama yang tak dapat dipungkiri bahwa para nabi; serta jemaah/jemaat pengikut mereka yang mukhlis adalah golongan manusia yang paling banyak menjadi sasaran penganiayaan. Tetapi mereka menerima segala kezaliman itu dengan sabar dan istiqomah, semata-mata karena Allah. Sesudah membaca sejarah ini, siapa pun, biar bagaimana pun kurang akalnya, tidak dapat mengatakan bahwa kezaliman tetap diizinkan oleh agama terhadap mereka yang meninggalkan suatu agama secara menarik masuk ke dalam agama lain. Jika mereka sendiri yang mengajarkan demikian, maka bagaimana boleh jadi bahwa hanya semata-mata karena seseorang meninggalkan sesuatu agama memasuki agama lain lantas terhadap dia dibenarkan melakukan suatu bentuk kekerasan dan penganiayaan? Dari Al-Qur’an juga dapat kita ketahui bahwa bukan haknya terhadap jemaah/jemaat nabi-nabi bahkan sesudah mereka juga para pengikut mereka yang sesudah ratusan tahun berlalu pun dianiaya oleh orang-orang zalim pada zamannya dengan mengatasnamakan agama. Tetapi perbuatan mereka itu tidak mendapat ridha dan restu Ilahi dan kezaliman semacam itu terlalu asing dan jauh dari agama. Sehubungan dengan itu Al-Qur’an mengemukakan “Ashhabul Kahfi” sebagai misal. Mereka itu adalah orang-orang Kristen yang selama tiga abad menjadi sasaran penganiayaan musuh-musuh Kristen. Mereka begitu dianiaya dan disiksa sehingga bila teringat akan peristiwa sadis itu siapa yang tidak dapat menahan cucuran air mata. Kita sebagai Muslim tentunya diantara kita telah menyaksikan bangunan-bangunan tempat orang-orang Kristen pernah dipenjara dan disiksa. Bangunan-bangunan itu disebut “Collisium.” Di zaman Romania purbakala, tempat-tempat itu merupakan teater-teater yakni tempat- tempat tontonan. Di tempat-tempat itu diadakan adu kekuatan antar gladiator-gladiator atau singa-singa dan banteng-banteng.
    Tempat-tempat tontonan itu dijadikan sarana untuk menyiksa orang-orang Kristen. Di satu pihak di dalam kandang-kandang itu ditempatkan singa-singa dan binatang-binatang buas yang sengaja dibiarkan lapar tanpa diberi makan berhari-hari, sedang di lain pihak mereka menempatkan orang-orang Kristen yang dituduh murtad atas fatwa ulama-ulama mereka karena keluar dari agama tradisi mereka dan masuk agama baru.
    Jadi dalam penjara itulah “orang-orang murtad” disekap dan dibiarkan lapar dalam keadaan telanjang dan berhari-hari tidak diberi makan dan minum sehingga berdiri pun mereka tidak sanggup lagi karena lemahnya. Kebalikannya, binatang-binatang buas yang lapar dan haus menjadi tambah buas lalu dilepas masuk penjara dengan amat mengerikan dan menerkam mangsanya. Tentu saja binatang-binatang buas itu melahap mereka sampai tulang-tulangnya pun habis dikunyahnya. Itulah tontonan yang mereka saksikan dengan sorak-sorai karena gembiranya bahwa itulah hukuman bagi orang-orang yang murtad. Setelah itu mereka kembali ke rumah dengan berseri-seri meneriakkan slogan-slogan kemenangan karena telah menumpas fitnah dengan cara mengenaskan, yaitu, menganiaya orang-orang yang dituduh murtad dan sesat.
    Kadang-kadang mereka melepaskan kawanan banteng liar yang sudah sangat menderita karena kelaparan. Lalu binatang itu seolah-olah menjadi gila menyaksikan lingkungan yang asing bagi mereka serta menyaksikan pemandangan yang aneh adanya manusia yang begitu banyak itu. Dan bila orang Kristen yang sedang dianiaya itu maju ke arah banteng-banteng itu maka dengan mata merah berlumur darah dan suara nafas mendengus, hewan-hewan itu menerkam, menanduk, dan menginjak-injak mangsa mereka di bawah kaki mereka. Bersama suara dan nafas mendengus itu kedengaran juga jeritan tangis manusia yang mengerikan di tengah gemuruh sorak-sorai penonton.
    Tetapi di tengah amukan binatang dan hewan buas itu orang-orang mukmin itu tetap memperlihatkan keteguhan pendirian mereka. Mereka pantang mundur, menyerahkan jiwa dimakan singa dan binasa ditanduk banteng-banteng.
    Penganiayaan ini terus-menerus berlangsung dari masa ke masa selama tiga abad sampai pada akhirnya ketika para pengikut Kristen merasa tidak ada lagi bagi mereka tempat berpijak di atas bumi ini, saat itulah mereka melarikan diri dari kota, mencari perlindungan di gua-gua di bawah tanah. Dalam gua-gua itu mereka merasa lebih aman tinggal di tengah-tengah cacing-cacing, ulat-ulat, dan ular; namun di atas permukaan bumi tidak ada lagi tempat bagi mereka hidup di tengah-tengah manusia, sebab bahaya binatang-binatang kejam yang berjubah adalah jauh lebih besar daripada bahaya binatang-binatang melata dalam tanah (gua).
    Selain dari “Ashhabul Kahfi” yang bermukim di bawah tanah, Al-Qur’an juga menyinggung kaum Muwahid Kristen di zaman permulaan yang hidup di bawah tindasan pemerintahan orang-orang yang tidak beragama, tetapi dengan dalih agama, menyiksa serta menganiaya dengan melemparkan kaum Muwahid itu hidup-hidup ke dalam api yang sedang menyala-nyala hanya oleh sebab mereka beriman kepada Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha terpuji. Al-Qur’an menjelaskan hal itu sebagai berikut dalam surat Al-Buruj:

    “Demi langit yang mempunyai gugusan binatang-binatang dan demi hari yang dijanjikan, dan sang saksi dan ia yang diberi kesaksian. Terkutuklah pembuat parit api yang dinyalakan dengan bahan bakar ketika mereka duduk di dekat api itu. Dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Dzat Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.” (Al-Buruj: 1-9)
    Sebagai dalil bahwa mereka yang senantiasa menganiaya dengan bertopeng agama, sebenarnya mereka sendiri tidak beragama, Al-Qur’an mengemukakan satu bukti yang tidak dapat ditolak, ialah, bahwa orang-orang zalim itu menghalangi manusia untuk beribadah kepada Tuhan dengan memakai nama Tuhan pula. Sedang kezaliman semacam ini lebih menyakiti orang-orang mukmin daripada segala penderitaan jasmani. Allah swt, berfirman dalam Al-Qur’an:
    ujAã ät~Y =a ;} lã êã 9.Bi Sni oji kfÎã oip
    Úätæã=5 ò ûRAp
    “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi nama Allah disebut di mesjid-mesjid-Nya dan berusaha merusaknya?” (Al-Baqarah:114).
    Ringkasnya Al-Qur’an secara halus membantah tuduhan terhadap agama sebagai pelaku kezaliman. Kendatipun membenarkan bahwa di dunia ini telah terjadi kezaliman-kezaliman amat keji atas nama agama, namun Dia sama sekali membersihkan pengikut-pengikut sejati dari tindak-tindak keaniayaan.
    Semua gambaran tersebut ini adalah kisah perilaku orang atau golongan manusia terhadap nabi-nabi masa lampau ketika manusia masih diliputi alam kegelapan dan cahaya Ilahi pun belum menampak sepenuhnya. Tetapi pada waktu cahaya kebenaran itu telah lahir dengan sempurna ketika matahari-kebenaran muncul dari ufuk jazirah Arab, juga orang-orang zalim yang buta agama pun ternyata masih tidak mengubah haluan perilaku mereka.
    Tatkala penghulu agung dunia yang didambakan seluruh anak-cucu Adam sejak beribu-ribu tahun dan nabi-nabi yang berjumlah banyak sekali (bahkan satu riwayat jumlah nabi-nabi yang tidak diketahui mencapai 124.000 orang). Nabi-nabi itu telah merintis jalan bagi kehadiran Beliau saw, serta demi Beliaulah dunia dan alam raya ini diciptakan Tuhan, pembawa syari’at yang lebih marak dari semua syari’at lainnya. Ia adalah mahkota manusia dan segala makhluk ciptaan Allah, pengejawantah (manifestasi) jalal dan jamal Ilahi, yang paling maksum (bersih dari segala noda) dari antara semua nabi. Tetapi ketika Beliau saw lahir ke dunia maka beliau dijadikan sasaran fitnah dan penganiayaan. Bahkan kezaliman dan keaniayaan yang ditimpakan kepada beliau tidak ada taranya dalam sejarah dunia.
    Semua derita yang telah dialami para nabi dan pengikutnya dahulu dalam situasi dan zaman yang berbeda, keseluruhannya telah tertimpa pada dan dialami oleh seorang nabi (Nabi Muhammad saw) dan umat serta para pengikutnya. Mereka diikat, dalam keadaan tak berbusana, lalu ditarik di atas pasir yang panas membara di bawah sinar matahari terik. Ada pula yang dipinggangnya diikatkan batu. Mereka diseret-serat, dalam keadaan diikat tali, keliling lorong-lorong kota Mekkah seperti hewan-hewan yang tak bernyawa. Bertahun-tahun mereka di boikot serta diputuskan hubungan mereka dengan keluarga dan masyarakat lainnya. Mereka dibiarkan lapar dan haus berhari-hari dalam penderitaan lahir dan batin. Kadang-kadang mereka disekap di dalam kamar gelap seperti tahanan dalam penjara. Ada yang dirampas hak dan semua hartanya. Ada yang diusir lalu dipisahkan dari istri atau suaminya. Wanita-wanita hamil dinaikkan di atas punggung unta, lalu unta dibuat berlari sehingga wanita itu jatuh lalu ditertawakan oleh mereka. Dengan cedera itu ia meninggal dunia. Ketika dalam keadaan sujud tengah sembahyang dilempari isi-perut unta. Mereka diarak dengan suara gemuruh caci-maki di pasar dan di lorong-lorong. Dipandang hina dan rendah lalu dilempari batu di mana saja mereka lewat hingga darah suci mengalir di lorong-lorong kita Thaif. Ada yang diberi makan racun. Dikobarkan api peperangan lalu bagaikan hewan-korban leher mereka dipancung dengan ayunan pedang. Mereka dihujani dengan batu dan anak panah. Tanah gunung Uhud menjadi saksi mengenai penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang kejam dan bengis sehingga gigi wujud yang paling suci di alam raya ini copot.
    Sesungguhnya, penumpahan darah yang tak ada taranya itu tidak lain, dilakukan dengan dalih agama, hanya karena mereka berkata, “Rabbunallahu” bahwa “Tuhan kami tiada lain selain Allah.” Dan dengan dalih agama ini penumpahan darah dilakukan oleh musyrikin Mekkah tiada lain hanya karena orang-orang mukmin itu dianggap mereka murtad.
    Dalam sejarah dapat kita ketahui bahwa kaum musyrik Mekkah menamakan Nabi Muhammad saw, serta para pengikut beliau “Sabi”. Sabi dikatakan kepada orang-orang yang meninggalkan agama kebiasaan nenek-moyang lalu memeluk agama baru. Oleh karenanya untuk menumpas fitnah murtad (naudzu billah min zalik) itu mereka menempuh segala usaha yang telah dipergunakan oleh penentang-penentang agama nabi-nabi terdahulu. Suatu masa yang panjang penderitaan ini berjalan terus dilakukan oleh orang-orang yang menentang agama terhadap para pemikul panji agama bahkan terhadap kaum yang telah menjadi bulan dan matahari di langit agamawi dan telah mencapai puncak evolusi semua agama, sehingga meraih martabat-martabat setinggi-tingginya dan lebih dari itu tidak ada lagi martabat lain. Agama itu telah melahirkan satu kaum yang serupa itu belum pernah diciptakan oleh agama sebelumnya dan tidak mungkin ada kaum yang melebihi mereka sesudahnya di dunia ini. Tetapi suatu keistimewaan yang maha tinggi ialah akhlak serta kesabaran yang dianugerahkan oleh Allah swt. Kepada nabi itu. Oleh karena dalam menghadapi taufan tantangan yang begitu gencar beliau telah membuktikan daya tahan luarbiasa serta kesabaran dan keluwewan yang mengagumkan. Dengan ketahanan derita dan pengorbanan dan kucuran darah beliau membuktikan bahwa setiap penganiayaan serta kerusuhan itu timbul bukan dari pihak orang dan golongan yang beriman melainkan dari pihak yang menentang.
    Tidak hanya sampai di situ bahkan sesudah memperagakan sifat sabar yang tiada tara bandingnya dinampakkannya pula kecintaan dan sifat kasih-sayang, kemurahan hati dan pemberian maaf demikian sempurnanya sehingga akan manusia kagum menyaksikannya dan bertanya-tanya kepada dirinya siapa orangnya dan bagaimana mencapai kedudukan-kedudukan begitu tinggi itu. Hal ini terbukti ketika pertolongan Allah yang dijanjikan telah tiba dan kaum kafir Mekkah telah bertekuk-lutut kepada Beliau saw, ketika di bawah kemilau pedang-pedang terhunus sepuluh ribu wujud suci badan orang-orang Arab yang haus darah itu bergemeteran oleh karena takut atas kemungkinan tindakan balas dendam, maka tiap-tiap batu ubin tanah Mekkah menjadi saksi atas kejadian ajaib bahwa ketika terjadi hari kemenangan yang dikenal dengan “Fatah Mekkah” (kemenangan Mekkah), Rasulullah saw. mengumandangkan “amnesti” besar dengan perkataan, “Bahwa pada hari ini segala kesalahanmu dan segala dosamu telah dimaafkan sama sekali.” Segala dosa orang yang paling banyak berbuat kesalahan pun telah dimaafkan. Mereka yang telah menganiaya dengan menyeret-nyeret orang yang tidak berdaya di atas pasir di bawah terik matahari pun dimaafkan. Mereka yang telah menghujani batu kepada wujud suci dan para pengikutnya pun diberi ampun. Pembunuh, pembuat onar, pengkhianat, adn penyamun pun dimaafkan. Orang berdarah dingin yang telah mengoyak dada dan mengeluarkan jantung orang yang tidak berdosa pun telah dimaafkan.
    Sebenarnyalah sekiranya segala peristiwa dalam sejarah seluruh agama mulai dari Adam a.s. sampai kepada masa kebangkitan Rasulullah saw. dihapuskan, kemudian dari wafat Beliau saw. hingga hari ini pun ditiadakan, maka sejarah kehidupan Junjungan kita Muhammad saw, selama 23 tahun yang relatif singkat itu cukup membuktikan hakikat yang sebenarnya, bahwa agama sama sekali tidak mengajarkan penganiayaan, penindasan, kekerasan hati, dan kebencian. Bahkan sebaliknya, agama mengajarkan kasih-sayang, kesabaran, dan kemurahan hati.

    Istirahat dulu ah…. Insya Allah dilanjutkan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s