Kebebasan Beragama: Kebebasan Yang Teraniaya

Negara seharusnya bertindak netral terhadap semua agama dan aliran kepercayaan dan tidak boleh melarang timbulnya aliran kepercayaan atau agama apapun. Kalau yang menjadi alasan negara dalam menertibkan aliran-aliran kepercayaan dan keagamaan karena menimbulkan keresahan masyarakat dan merangsang pertikain dan konflik serta menggangu stabilitas sosial. Pertenyan yang menyeruak adalah apa yang menjadi ukuran dalam hal ini, apakah setiap gagasan atau keyakinan baru-yang karena itu berbeda dengan gagasan dan keyakinan lama- dapat dikatakan sebagai bentuk pelanggaran karena meresahkan segelintir orang .

Oleh Muhamad Laduny*

Kebebasan beragama merupakan hak asasi tiap warganegara Indonesia yang telah dilindungi konstitusi NKRI. Hak sipil setiap anak bangsa itu harus tetap dilindungi oleh negara yan mengaku demokratis. Kebebasan beragama sejak lama sudah menjadi isu multidimensional karena tak jarang dihubungkan dengan isu politik, budaya, hukum, sosial, keamanan, dan kehidupan beragama umat beragama di tanah air. Kebebasan beragama diartikan sebagai kebebasan untuk memilih agama tertentu yang diakui di tanah air. Dalam arti yang lebih luas dapat dinyatakan bahwa kebebasan beragama mengisyaratkan adanya kebebasan untuk boleh memeluk agama apa saja yang dijadikan pilihan. Namun hak asasi paling mendasar tersebut kini rentan dirampas oleh pihak-pihak tertentu dengan kekuasaan. Maka, negara yang demokratis tidak boleh membiarkan itu terjadi.

Dalam konstitusi kita, jaminan antidiskriminasi atas dasar agama dan kepercayaan sebenarnya cukup kuat. Pasal 28 (e) Ayat 1 dan 2 UUD 1945 menyebutkan: (1) “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali” ; (2) “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”.
Hal itu ditegaskan ulang dalam UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM. Pasal 22 menegaskan, 1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu; 2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Dalam Pasal 8 juga ditegaskan, “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia menjadi tanggung jawab negara, terutama pemerintah”. Dari pasal itu jelas, negara berkewajiban menjamin kebebasan berkeyakinan dan segala sesuatu yang menjadi turunannya, seperti pengakuan hak-hak sipilnya tanpa diskriminasi.
Bagaimanapun, kebebasan beragama adalah salah satu hak paling dasar bagi seseorang. Sebagai demikian, hak itu tidak diberikan oleh siapa pun termasuk negara. Kebebasan beragama itu mencakupi juga keluasan untuk mengungkapkannya di muka umum melalui ibadah, dan perbuatan-perbuatan keagamaan lainnya. Bahkan juga kebebasan menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci, yang pada gilirannya pun bisa menghasilkan persepsi berbeda terhadap yang dipercayai itu. Itu berarti, bahwa suatu tafsiran yang dipunyai oleh satu kelompok tidak bisa didesakkan kepada kelompok lain yang bertolak dari suatu titik-berangkat berbeda. Apalagi kalau tangan negara dipakai untuk itu. Yang lebih mungkin dilakukan adalah membuka pintu percakapan seluas-luasnya sehingga terciptalah iklim yang saling memper- kaya spiritualitas iman.
Rasanya perlu disadari, selama tafsiran itu dibuat oleh manusia, ia tetap penuh dengan kelemahan. Namanya saja tafsiran manusia yang fana. Kalaupun ayat sebuah Kitab Suci dibaca menurut huruf-huruf yang tertulis, persepsi terhadapnya belum tentu sama dari orang yang satu ke orang lainnya. Menyadari kenyataan itu, mestinya ruang diciptakan bagi terjadinya dialog yang berbuah. Dengan demikian, kedewasaan kita di dalam beragama makin lama makin ditingkatkan.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa siapapun tidak mempunyai hak untuk sama sekali untuk mengaku sebagai penjaga dan pemelihara yang menjaga keyakinan dan seseorang
“Dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap meraka…”(QS. al-Qaf: 46)
“…dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka dan kamu sekali-klai bukan pemelihara bagi mereka.” (QS. al-An’am: 108)
“…dan kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.” (QS. al-Isra’ :54)
“kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. al-ghasyiyah : 22)
Ayat-ayat tersebut denga lantang menyatakan bahwa tidak ada perintah untuk memaksa mereka untuk mengikuti suatu jalan tertentu atau memerangi orang-orang yang yang dituduhmenyeleweng dari ajaran yang dianggap benar
Negara seharusnya bertindak netral terhadap semua agama dan aliran kepercayaan dan tidak boleh melarang timbulnya aliran kepercayaan atau agama apapun. Kalau yang menjadi alasan negara dalam menertibkan aliran-aliran kepercayaan dan keagamaan karena menimbulkan keresahan masyarakat dan merangsang pertikain dan konflik serta menggangu stabilitas sosial. Pertenyan yang menyeruak adalah apa yang menjadi ukuran dalam hal ini, apakah setiap gagasan atau keyakinan baru-yang karena itu berbeda dengan gagasan dan keyakinan lama- dapat dikatakan sebagai bentuk pelanggaran karena meresahkan segelintir orang .
Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diamandemen yang menjadi pegangan hidup bersama seluruh warga NKRI, sudah menegaskan jaminan konstitusional tersebut dengan tegas: “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.” (pasal 28I, ayat 1, UUD 1945 Amandemen).
Orang yang menentang kebebasan beragama terkadang mengatakan bahwa mereka menolak karena kebebasan tersebut diartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya. Hal tersebut jelas keliru karena kebebasan selalu disertai dengan tanggung jawab kebebasan selalu di follow up oleh tanggung jawab. Konsep kebebasan yang bertanggung jawab akan lebih jelas dengan pengandaian berikut. Meminum minuman keras adalah hal yang terlarang maka ketika anda melanggar larangan tersebut dengan kesadaran penuh sebagai suatu pilihan maka seketika itu pula anda harus bertanggung jawab terhadap apa yang anda telah kerjakan akan tetapi berbeda halnya ketika anda dipaksa untuk meminumnya maka anda tidak akan bertanggung jawab atas apa yang anda kerjakan karena anda berada dibawah tekanan dan pemaksanaan dan bukan atas kehendak diri anda sendiri artinya anda tidak mempunyai kebebasan untuk memilih itulah makna kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan pada dasarnya selalu disertai dengan tnggung jawab karena kebebasan sesungguhnya adalah tanggung jawab. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa begitu banyak orang benci terhadap kebebasan dikarenakan meraka benci tanggung jawab mereka lari dari tanggung jawab hal ini pula yang memicu bejibunnya aturan-aturan yang sebenarnya memporak-porandakan hak-hak kebebasan karena orang-orang tersebut ingin mempersempit runag tanggung jawab mereka. Begitupula dalam konteks keberagamaan berjuta alasan ditelurkan untuk mengekana kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan serta kebebasan dalam mengekspresikan rasa keberagamaan padahal al-Qur’an menegaskan:
“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) sesungguhnya telah jelas jalan kebenaran dari pada jalan kesesatan” ( QS. al-Baqarah:256).
Tetapi tidak hanya sampai disana ternyata al-Qur’an melangkah lebih jauh bukan hanya kebebasan beragama yang diakomodir bahkan kebebasan untuk tidak beragama-pun diamini oleh al-Qur’an ternyata al-Qur’an mendahului langkah-langkah orang yang mengimaninya. Al-Qur’an menegaskan
“Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah beriman dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir” (QS.al-Kahfi: 30).
Sederhananya al-Qur’an ingin mengatakan bersikap ateis boleh-boleh saja dan secara konstitusi orang atheis-pun mempunyai hak hidup dalam bingkai NKRI. tetapi disini ada perbedaan antara atheis dan atheisme. Atheisme adalah paham yang dipropagandakan dan disiarkan ke khlayak untuk bersikap anti agama dan memusihinya konsekwensinya adalah sikap konfrontasi terhadap agama maka konteksnya telah berubah dari kebebasan ke tindakan kriminal.
Sebagai penutup saya kutipkan perkataan Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam kitab tafsir “Jalalain”nya ketika beliau mengomentari ayat “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu.” Beliau menafsirkan kata Ummatan Waahida (umat yang satu) sebagai Ahlu Diinin Waahidin (penganut agama yang satu) dan hal tersebut senada dengan apa yang ditegaskan dalam al-Qur’an
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman orang yang dimuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya meraka menjadi orang-orang yang beriman seluruhnya?”(QS. Yunus : 99)
Semoga Tuhan selalui menyertai kita.

*Penulis adalah mahasiswa Jur. Bhs. Inggris IKIP Mataram dan Jur. Ahwal Syakhsiah IAIN Mataram

4 responses to “Kebebasan Beragama: Kebebasan Yang Teraniaya

  1. TGH.Nizar AL-Kadiri

    Pemerintah sudan tepat meiliki corong agama yang namanya MUI (untuk agama islam) mengingat tugas pemerintah juga harus memperhatikan itu katrna ada undang-undangnya.
    kalau krmudian dibilang pemerintah dan masyarakat seringkali tidak bisa menerima ajaran baru yang muncul selain yang sudah lama di akui, maka itu agak sedikit salah, karena menurut saya mereka yang mengaku sebagai nabi seperti al-Qiyadah al-islamiah ini bukan justru mengaku sebagai agama baru, atau liat yang lebih parah lagi sekelas LIA Eden (Tepatnya EDAN) yang mengaku sudah mengaku menerima wahyu, mereka justru dalam pernyataannya sebagai naci dan atau orang yang pernah menerima wahyu, justru kenapa tidak melepas label islamnya. itulah mungkin yang menjadi awal ketidak senangan orang terhadap mereka ini. singkatnya, kalau mau kadi nabi, silahkan dan bikin agama baru, jangan dompleng sama islam dong.

  2. Pertanyaan saya buat komen di atas saya:

    Siapakah yang sebenarnya memiliki Islam itu?

    Sebab yang anda bilang aliran sesat itu, sepenuh hati menganggap mereka adalah Islam, dan mungkin anda yang bukan Islam. Mosok harus dipaksa keyakinannya untuk di rubah karena ketidak nyamanan anda?

  3. Terima kasih buat Laduni dan terima kasih atas tanggapan teman2 semu atas tulisan yang sangat segar itu!
    Saya tergelitik menanganggapi pertanyaan Siapakah yang sebenarnya memiliki Islam itu?
    Buat saya, Islam itu milik semua ummat bukan hanya ummat muhammad saja. Dalam alqur’an disebut “

  4. tema yang menarik. Sayang, pembahasan berhenti pada frasa ‘agama’ yang kurang menyeluruh. Seolah agama hanyalah aspek ritual. Kita tentu ingat bahwa Khalifah Abubakar memerangi semua “aliran sesat” yang meuncul di jaman kekhalifahan beliau Radhiallahu-Anh.
    Tetapi ini bukan berarti saya setuju “aliran sesat” semacam Al Qiyadah itu diperangi. Karena di Indonesia gak jelas mana yang sesat – mana yang lurus. Jangan-jangan justru yang mayoritas yang sesat, seperti tersirat dalam sejumlah hadis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s