Tuan Guru Pluralis, Subki As-Sasaki

url.jpg
Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terus terjadi kekerasan atas nama keyakinan agama. Ratusan orang anggota jemaat Ahmadiyah adalah korbannya. Sudah setahun mereka mengungsi, diusir dari rumah mereka lantaran beda keyakinan. Tak banyak yang membela. Di antara sedikit yang membela mereka adalah Tuan Guru Subki Sasaki. Meski bukan penganut Ahmadiyah, pemahaman Islam yang luas dan kemajemukan menjadikan dia tokoh keberagaman yang mesti diperhitungkan.

Tidak boleh tinggal
Suatu malam dua bulan lalu adalah malam tak terlupakan bagi Marufudin, warga Ketapang, Lombok, NTB. Malam itu ia sudah tidur pulas bersama istrinya. Mendadak, beberapa aparat desa datang ke rumahnya. Tanpa banyak cakap, ia dan istri diminta hengkang dari rumah. Alasannya, Marufudin dan istri menganut Ahmadiyah.

Marufudiin: “Dia datang malam-malam, digedor saya kira-kira jam setengah dua belas. Kira-kira orang sebelas, tuh, Pak Kades, Pak Camat, Pak Kapolsek. Masuk malam-malam itu ke sini. “Lho kenapa masuk bapak ke rumah saya, kan saya belum bangun?” Saya gitukan.

Pak Kades bilang saya tidak boleh tinggal di sini. “Kenapa nggak boleh saya tidur di sini, kan ini saya punya rumah?” Dia jawab, “Nggak boleh. Pokoknya orang Ahmadiyah tinggal di sini.” Itu bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya, Marufudin sudah menolak tunduk. Tak sekali ini ia didiskriminasi lantaran menganut Ahmadiyah. Ia mencoba melawan, mempertahankan rumahnya hasil keringat sendiri. Rumah itu kini kosong, tanpa kursi, meja dan televisi. Semua habis dijarah tahun 2005, ketika seribuan orang menyerang kampungnya. Rumah tetangganya juga dijarah. Bahkan ada yang dibakar dan dihancurkan.

Ahmadiyah diluar Islam
Kini para jamaah Ahmadiyah itu menjadi pengungsi di gedung Transito, Mataram, NTB. Sudah setahun lebih mereka hidup serba kekurangan di pengungsian.

Tak banyak yang mau atau berani menolong mereka. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 yang menyebutkan Ahmadiyah ada di luar Islam, seolah jadi pembenar pelbagai aksi kekerasan terhadap mereka. MUI pun mendesak pemerintah setempat untuk melarang Ahmadiyah. Pemerintah daerah tak acuh terhadap mereka. Sudah hampir setahun ini, tak ada bantuan untuk pengungsi Ahmadiyah.

“Udah lama gak ada. Dulu pernah dapat beras, minyak goreng, kecap, mie. Tiap bulan terus dikasih tiga bulan sekali, terus enam bulan sekali, sekarang gak ada lagi. Hampir setengah tahun. Dulu tujuh kilo satu orang perbulan. Cukup? Mana cukup,” jelas Nuarini, salah seorang pengungsi Ahmadiyah.

Tuan Guru Subki Sasaki
Di antara sedikit yang membela, ada nama Tuan Guru Subki Sasaki. Tuan Guru adalah sebutan ulama yang punya pemahaman Islam mendalam. Seperti kyai di Jawa. Umumnya mereka juga disegani masyarakat. Tuan Guru Subki Sasaki bersama-sama LSM pro-demokrasi di Lombok sering membela Ahmadiyah. Ketika jemaah Ahmadiyah diusir dari Ketapang, Lombok, Tuan Guru Subki bersama sejumlah LSM mencoba menghalau massa yang datang menyerbu. Begitu tutur Samsir, salah satu pimpinan Ahmadiyah di Lombok.

Samsir: “Beliau itu punya perasaan humanis. Kemanusiaan. Jadi dia luas pergaulannya. Dia tidak radikal. Dia terangkan ini yang baik, ini nggak. Setelah itu terserah. Dia walaupun muda dan sebagainya tapi punya wawasan yang bagus. Ilmunya juga bagus. Dibandingkan guru lain, ilmunya bagus.”

Wawasan luas
Tak banyak Tuan Guru lain yang bersikap sepertinya. Dosen Filsafat Institut Agama Islam Negeri IAIN Mataram, Fawaizul Umam menilai Tuan Guru Subki Sasaki berpandangan islam yang luas dibanding tuan guru lain di Lombok. Fawaizul Umam: “Saya rasa, mengapa TGH Subki diserang meskipun oleh tuan guru lain -tapi tidak secara langsung, dalam kasak-kusuklah- karena TGH Subki otoritatif di bidangnya, yaitu keagamaan. Saya mengikuti satu dua kali perdebatan dia dengan beberapa TGH lain, dan menurut saya dia sangat otoritatif untuk bicara di wilayah ilmu keagamaan. Itu yang membuatnya tak terbantahkan otoritasnya di wilayah, keagamaan. Itu yang membuat TGH lain, atau kelompok yang tidak senang kepadanya, tidak bisa membantah atau melakukan bandingan pemikiran. Yang mereka lakukan hanya mengelus dada, mungkin.”

Tuan Guru Subki Sasaki tergolong cendekiawan muda di Lombok. Lahir di Pelulan, Lombok, tanggal 16 Juni, 32 tahun lampau. Dia kini memimpin Pondok Pesantren Al Madani. Ada 500 santri di pesantren itu, dari TK sampai SMA.

Hobi pakai sarung
Sehari-hari Tuan Guru Subki Sasaki berpakaian seperti kyai lain. Baju koko sepanjang lutut, bersarung, serta berkopiah lancip pada bagian atasnya. Achmad Jumaely, aktivis Jaringan Islam Kampus, pernah bertanya soal pilihan busana Tuan Guru yang terlihat seperti kaum fundamentalis. Achmad Jumaely: “Bapak ini kok penampilanya fundamentalis sekali. “Begitulah, nak!” dia bilang. Kita kan mau bicara ke masyarakat, bagaimana agar ide kita bisa diterima. Itu alasan pertama. Kedua, alasan saya hobi. Hobi saya pakai pakaian sarung ini karena nanti kalau saya pulang sampai ke rumah, tidak susah-susah saya sama istri saya, hahaha.”

Lombok, Nusa Tenggara Barat, kini memang tengah menghadapi kepungan kelompok yang ingin supaya syariat Islam diterapkan. Menurut Achmad Jumaely, aktivis Jaringan Islam Kampus (JARIK), itu telihat dari makin maraknya berbagai diskusi, seminar dan workshop yang membicarakan prospek penerapan syariat Islam.

Akhir Mei lalu, misalnya, Hizbut Tahrir Indonesia HTI menggelar diskusi bertemakan “Prospek Penerapan Syari’at Islam di NTB.” Selain itu pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba’ayir juga pernah ke sejumlah daerah di NTB, seperti Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Di sana, Ba’asyir mengungkapkan harapannya agar NTB dapat segera menerapkan syariat Islam.

Membendung fundamentalisme
Tak banyak Tuan Guru yang berupaya membendung arus fundamentalisme itu di Lombok, selain kelompok LSM dan Tuan Guru Subki Sasaki. “Hanya dia satu-satunya. Dia ikon. Tuan guru yang berani melawan pemikiran tuan Guru yang lain di NTB. Pemikiran dia kalau di masyarakat bawah ditolak betul. Tapi lebihnya dia bisa diterima karena da punya basic kitab kuning yang kuat. Di sni yang dihargai kan kualitas keilmuan kitab kuningnya. TGH Subki Sasaki punya itu dan itu dterima masyaralat. Cuma kadang bahasanya berbeda dengan masyarakat,” kata Achmad Jumaely, aktivis Jaringan Islam Kampus, Lombok.

Tuan Guru Subki Sasaki dikenal umum karena berpihak pada demokrasi dan pluralisme di Lombok. Ia bahkan diberi predikat ‘pengusung liberalisme’ di Lombok, meski untuk itu ia kerap diangap kafir.

Bukan semata ideologis
Menurut Dosen IAIN Mataram, Fawaizul Umam, konflik berlatar belakang agama di Lombok, seperti yang menimpa Ahmadiyah, tidak semata-mata persoalan ideologis. Fawaiz Umam: “Data-data yang saya himpun, dari teman-teman lokal, kasus Ahmadyah itu tidak berdiri sendiri sebagai suatu problem teologis semata. Ada problem ekonomi, ada sosial. Artinya penyerbuan terhadap komunitas Ahmadiyah tidak semata problem teologis. Jadi berawal dari persoalan sosial ketika itu terpantik, maka seringkali disparitas teologi sering dimainkan.”

Sementara menurut Tuan Guru Subki Sasaki, hal itu disebabkan sedikitnya bacaan keagamaan di masyarakat. Tuan Guru Subki Sasaki: “Terjadinya clash conflict kan juga berawal dari minimnya literatur keagamaan. Siapa yang pernah membaca literatur pluralisme di pondok pesantren dulu? Tahun 40-an ponpes di sini hampir punya sejarah dari tahun 1800an, kita sudah mulai. begitu sudah pulangnya beberapa santri dari Mekah dengan membawa literatur Arab yang bahasa kita fundamentalis.”

Tidak cocok untuk Lombok
Ketua Majelis Ulama NTB, Syaiful Muslim menilai pemikiran Tuan Guru Subki Sasaki tidak cocok bagi Lombok. Ia juga menilai di Lombok apa yang disebutnya liberalisme itu berbahaya. Syaiful Muslim: “Saya tetap mengatakan itu berbahaya. Artinya mungkin pada saatnya sekarang belum saatnya memasuki ide liberal kepada ulam-ulama disni. Mungkin akan menjadi hambatan dia melaksanakan dakwahnya, gak tahu kalau 10, 20 tahun yang akan datang. Tapi yang pasti untuk saat ini akan jadi bumerang kalau dia berhadapan dengan kelompok al Sunah wal jamaah, khususnya para tuan guru di sini.” Subki sendiri kini tengah merintis organisasi lintas agama di Lombok, bersama sejumlah tokoh muda lain.

Menurut Pendeta Soni, yang ikut terlibat, organisasi ini dibuat untuk membangun kesadaran persaudaraan antar umat beragama di Lombok.

Pendeta Soni: “Kami berharap dengan ini ada komunikasi yang baik antara tokoh agama di NTB. Jadi sifatnya ke dalam dulu. Antara tokoh-tokohnya dulu. Dari sana nanti kami saling memberikan informasi tentang keprihatinan bersama yang ada di NTB. Hasil yang kami disikusikan di dalam forum ini akan kami sampaikan kepada umat.”

Lintas agama
Indonesia butuh lebih banyak lagi orang semacam Tuan Guru Subki Sasaki. Juga di NTB, tempat banyak Jemaah Ahmadiyah dianiaya. Direktur Lembaga Aksi Reformasi dan Demokrasi LARD Nusa Tenggara Barat, Taufiq, mengatakan, Subki bisa membantu memperkenalkan pemikiran Islam yang terkait dengan demokrasi dan hak-hak azasi manusia.

Taufiq: “Kehadiran dia ini sangat penting sekali. Sementara karena figur Tuan Guru selalu reaksioner terhadap perbedaan yang ada di masyarakat. Sehingga munculnya Tuan Guru Subki dengan pemikirannya yang berpihak tentang isu demokrasi HAM adalah angin segar bagi kita semua di Lombok. Kami dari kelompok demokrasi sangat antusias.”

Sumber: Radio Nederland Wereldomroep (RNW)
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/subki_ahmadiyah070920

7 responses to “Tuan Guru Pluralis, Subki As-Sasaki

  1. TGH.Nizar AL-Kadiri

    Kenapa anda tidak ceritakan posisinya akan sama dengan tuan guru bajang yang sulit dalam mementukan pilihan.
    doalnya saya liat, kalau tuan guru bajang sekarang sedang bingung karena pilihannya Rakyat atau umat? begitu juga tuan guru subki. beliau menurut keseharian saya bahwa beliau juga dalam silalakama ini.
    polihannya umat atau…
    dalam lingkungan beliau sendiri tidak sedikit menuai keritik dengan sikapnya yang demikian.

  2. TGH Subki As Sasaki bukan Tuan guru Asli
    karena dia sudah terkontaminasi oleh ide dan pemikiran liberal, demokratis, humanis, pluralis. yang semua ini SANGAT bertentangan dengan ide dan konsep nya dalam Islam.

    ide gender, pluralis, demokratis, humanis, kebebasan beragama, anti dundamentalis adalah ide-ide kaum kafir. secara halus sudah menusuk jantung Islam.

    Apakah TGH Subki ini sudah berguru kepada para ulama Islam di Mekah, Mesir ? atau hanya dapat ilmu mondok di Mataram saja ? Masih diragukan.

    Ahmadiyah itu jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

  3. jernihkan hati tenangkan pikiran ,ambil hikmah, yang paling bermampaat dari kita adalah yang paling besar kontribusinya bagi umat,mudahan-mudahan semua yang kenal nama akan menjalin Ukhuwah menjadi kenal dan syar info dan pengetahuan apa yang menjadi kajian dan telaah ,interepretasi dan pemahaman memilki relatifitas kebenaran atau salah, tidak ada yang mutlak benar kecuali AL qur’an dan Sunnah,tolong jangan saling menjelekkan. yang diharapkan adalah tanggapan ilmiah, bukan subjektifitas yang bersumber dari emosi Maapkan TGH Subki kalau banyak hal menyebabkan belum bisa diterima wacana dan pemikirannya,maapkan aku dan terimakasih

  4. Predikat tuan gurunya perlu dipertanyakan. Tapi g masalah buat saya soalnya masih banyak tuan guru di lombok yg istiqomah memperjuangkan nilai islam. Makanya jangan cuma mengandalkan otak yg terbatas untuk menafsirkan Al-Qur’an dan Hadis seenaknya aja. Saran sy g usah pake gelar tuan guru kalo mau menyesatkan masyarakat. Gelar itu g cocok bgt buat antek sekuler

  5. Kalau anda bisa menyadarkan jemaat Ahamadiyah dari kesesatannya dg toleransi yg anda tunjukkan kepada mereka, saya acungi 2 jempol untuk anda karena itu adalah hal yg paling diharapkan tetapi kalo anda yg ikut tersesat dan terbawa arus pemikiran mereka sebaiknya anda sesat sendiri ga usah ngajak2 orang lain. Gelar Tuan Guru itu bukan gelar yg bisa dipermainkan. Jauh panggang dari api

  6. assalamualaikom tuan guru, nikitiang kanak lendang sembe. anak tuak acen, terus pulungguh de bejuan menurt ide-ide pelenggeh, Insaallah, Allah akan berkati. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s