Mengarifi Batas Aurat Perempuan

s5001441.jpg
Satu kebenaran tertentu soal batasan aurat sebaiknya tak dipaksakan
karena sejatinya cuma Allah yang tahu kebenaran mana yang paling Ia
ridai. Pemaksaan hanya akan mendorong umat saling membenci—sesuatu yang
berpunggungan dengan cita Islam sendiri, rahmatan lil ’alamin.
Sebaliknya, tanpa itu, umat akan terbiasa menghormati pilihan orang.

Oleh : Drs. FAWAIZUL UMAM,M.Ag


Setelah sempat ”mereda”, pro-kontra pornografi dan pornoaksi (mungkin
nanti pornowicara) meruap lagi. Tristanti Mitayani, anggota Komisi I
DPR, pun mengakui betapa hingga kini tak jua ada kesepakatan di Dewan
soal definisi pornografi dan pornoaksi (Kompas, 23/1/2006). ”Apalagi
tiap daerah berbeda-beda pengertiannya,” katanya.

Bagaimana pandangan Islam tentang aurat perempuan karena (umat)
Islam-lah yang paling riuh menyoalnya? Tulisan ini hendak menyisirnya
dari ranah fikih, domain keilmuan Islam (klasik) yang uniknya acap
dianggap sebagai syariat Islam itu sendiri.

Secara etimologis, ”aurat” adalah kata Arab yang berarti celah,
kekurangan, anggota tubuh yang dipandang buruk sehingga memalukan bila
terlihat. Alquran menyebutnya empat kali, dua berbentuk tunggal (QS 33:
13) dan sisanya plural (QS 24: 31, 58). Ulama ahli fikih umumnya mengacu
Surat An-Nur Ayat 31 saat memaknai aurat sebagai bagian tubuh manusia
yang memalukan bila terlihat dan mungkin bisa menimbulkan fitnah (baca:
menggugah libido) jika dibiarkan terbuka. Namun, penyandaran sama tidak
membuat mereka bersatu pendapat.

Hal itu tampak pada perbedaan tafsir atas frase illa ma zhahara minha
(kecuali yang biasa tampak terbuka) di ayat tersebut yang menganjurkan
perempuan menutup aurat, kecuali yang memang biasa terbuka. Sebagian
ulama mengategorikan muka dan telapak tangan perempuan sebagai yang
biasa terbuka sehingga tak wajib ditutup. Sementara sebagian lain
menambahkan telapak kaki, bahkan hingga separuh betis di atas tumit
boleh terbuka, termasuk juga setengah lengan. Sebagian lagi memaknai apa
yang terbuka tak sengaja dari tubuh perempuan, seperti tersingkap angin.
Bagi mereka yang berpandangan terakhir ini, seluruh tubuh perempuan
aurat yang wajib ditutup (Asy-Syaukani, Naylul Awthar, Juz II: 55).

Mereka juga memilah aurat perempuan berdasar status sosial: perempuan
merdeka dan budak. Mayoritas ahli fikih memandang aurat budak lebih
terbuka dari aurat perempuan merdeka. Sebagian mereka bahkan cenderung
menyamakan aurat perempuan budak dengan lelaki, antara lain diyakini
sebagian besar murid Imam Asy-Syafi’i (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhil
Muhadzab, Juz III: 171), yakni hanya bagian tubuh antara pusar dan lutut.

Dengan begitu, tidak ada batasan aurat yang sama untuk perempuan. Itu
membuktikan betapa teks terkait tidak secara jelas membatasi aurat. Para
ulama menafsir dengan rangka paradigmatik masing-masing yang berkait
erat dengan situasi ruang dan waktu mereka. Lalu, manakah ”yang benar”,
dalam arti ”yang semau” dengan Allah? Wallahualam.

Para faqih, semisal Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Malik meyakini
kebenaran hanya ada satu di antara berbagai pendapat, tetapi tidak bisa
dipastikan manakah yang benar, kecuali Allah yang tahu (al-Syaukani,
Irsyadul Fuhul, t.th.: 261). Sebagai hasil ijtihad, tiap pendapat punya
ruangnya sendiri. Status kebenarannya tak bisa gugur oleh kebenaran
pendapat lain (al-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazhair, t.th.: 71).

Secara substantif Islam satu dalam prinsip, tetapi dimungkinkan berbeda
dalam rincian, hasil tafsir. Refleksi para ahli fikih, misalnya, hanya
menegaskan kewajiban menutup aurat; tidak merinci bagian tubuh mana yang
mesti ditutup dan tak mengatur model pakaian.

Kewajiban itu bersifat universal dan karenanya pasti, mutlak, tetapi
batasan aurat yang perlu ditutup termasuk bentuk penutupnya bersifat
partikular dan karenanya terduga, relatif. Relatif, karena yang terakhir
ini terikat dimensi situasi, ruang, dan waktu. Dalam hal itu,
nilai-nilai sosial budaya berperan amat nyata.

Soal etika

Untuk itu, setiap upaya formulasi hukum mau tak mau harus
mempertimbangkan tradisi. Aneka pertimbangan ahli fikih dalam penentuan
aurat, seperti ungkapan ”menghindari kesulitan” atau ”demi kebutuhan”,
atau ”khawatir akan fitnah”, tidak terlepas dari situasi keseharian dan
karena itu sangat relatif, berbeda antartempat dan waktu. Mengingat
determinasinya dalam setiap penafsiran teks menyangkut aurat, maka aurat
sejatinya tak termasuk dalam nomenklatur agama, tetapi sosial- budaya.

Berlangsungnya pro-kontra soal mana yang termasuk aurat harus dilihat
sebagai refleksi keterikatan umat dengan lokalitas sosial-budaya. Dalam
konteks itulah mengatur perilaku porno hanya mungkin jika terlebih dulu
ditetapkan kategori ’urf-nya. Setiap daerah berbeda, maka pengaturannya
pun mesti berbeda.

Susahnya, demi ”kepastian hukum”, setiap pengaturan justru mengandaikan
penyeragaman; suatu hal mustahil, terlebih mengingat wacana aurat
nyatanya tak hanya soal budaya, tetapi juga pemahaman keagamaan.

Menyoal aurat perempuan sebatas masalah halal-haram akan terjebak
perbedaan cara pandang dan model penghayatan keagamaan. Melihat
pornografi/aksi sebatas itu tidak hanya menyederhanakan masalah, tetapi
juga akan gagal mencari penyebab fundamentalnya karena pornografi/aksi
pada akhirnya lebih soal etika atau bahkan estetika. Etika di sini tentu
tidak sebatas tata krama, tetapi secara filosofis nilai baik-buruk.
Alhasil, ini lebih soal kepantasan (sosial)! Maka, sejauh menyangkut
kepantasan batasnya sungguh relatif, bila bukan justru tak berbatas
karena begitu relatifnya.

Karena menyangkut etik atau moralitas, hendaknya tidak dinegarakan.
Sekali itu diserahkan kepada negara yang berdaya paksa, maka sangat
mungkin yang akan muncul kesewenangan atas nama keyakinan tertentu. Bila
dipaksakan, akan menjadi awal diskriminasi keagamaan. Dan itu jelas
bakal mencederai semangat dasar ajaran Islam, seperti al-hurriyah
(kebebasan, termasuk dalam berekspresi), al-musawah (egalitarianisme),
dan al-’adalah (keadilan).

Satu kebenaran tertentu soal batasan aurat sebaiknya tak dipaksakan
karena sejatinya cuma Allah yang tahu kebenaran mana yang paling Ia
ridai. Pemaksaan hanya akan mendorong umat saling membenci—sesuatu yang
berpunggungan dengan cita Islam sendiri, rahmatan lil ’alamin.
Sebaliknya, tanpa itu, umat akan terbiasa menghormati pilihan orang.

*Fawaizul Umam
Dosen Filsafat Islam IAIN Mataram

RESOURCE : http://www.kompas.com

4 responses to “Mengarifi Batas Aurat Perempuan

  1. TGH.Nizar AL-Kadiri

    oke dah pak, memang masih kontrfersi batasannya. tapi itukan bukan halangan buat kita untuk mematoknya. kalau anda saja sudah yakin pasti ada satu yang benar dalam kontroversi tersebut, kenapa tidak coba ditunjukkan. jangan justru menjadi tukang cet abu-abu seperti ini.
    satu hal lagi, aurat itu berbeda menurut siapa di otu (budak atau orang merdeka), tapi sekarang masih adakah perbudakan? masihkah ada seorang bugak dalam dunia ini? kalu ada, maka telah gagal MUHAMMAD menyampaikan risalah islam ini.
    kalau kemudian ada yamh berbicara aurat denagn batasan ruang dan budaya, maka saya akan balik bertanya, apakah bagian tubuh yang disebut aurat untuk orang disana tidak dimiliki oleh mereka yang sekarang disisni? sangant ironis.

  2. Ha ha ha, iya juga sih kang Fawaiz, kalu kita lihat asbabun nuzul ayat dan konteks sosial fiqh itu dibuat. Iya itu PR bersama agar prnografi pornoaksi dan yang satunya pornowicara bisa diminimalisir tanpa harus melanggar ruh tasyri.

  3. Maaf pak,,,,,,,,,,,
    seandainya ini di zaman Rasulullah…..
    Darah bapak itu dihalalkan…..
    Karena bapak trmasuk orng yg sesat dan jg menyesatkn orang lain…..

  4. Sungguh saya menggelengkan kepala saat membaca artikel ini, sungguh saya tak habis pikir. Anda berbicara begitu enteng menyesatkan…
    Lihatlah mereka yang tak menjaga aurat-nya… Mereka Sombong dengan apa yang mereka miliki. bukankah itu perbuatan yang tak disenangi oleh Allah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s