Mengeja Redupnya Gerakan Mahasiswa

demo-bbm.jpg
Ironis memang. Gerakan mahasiswa yang lingkupnya merosot hanya pada tataran kampus saja, masih diperparah dengan kecil presentase mereka yang aktif dan serta rendahnya tingkat kepedulian mereka. Jangankan untuk peduli pada negara, kebijakan pada tingkat kampus (rektorat) pun jarang direspon atau dihiraukan. Apatis, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sikap para mahasiswa masa kini beserta gerakan-gerakannya.

Oleh Iyya Maliya*


ARTIKEL M. Fauzi tentang Gerakan Kaum Muda yang ditulis di Pikiran Rakyat pada 2/11/07 menarik untuk dikomentari. Dalam tulisannya tersebut, Saudara Fauzi mengetengahkan uraian serta analisanya seputar mandegnya gerakan kaum muda. Baik itu kaum pemuda biasa maupun mahasiswa. Tulisan ini mencoba untuk mengetengahkan sudut pandang yang lain dalam melihat persoalan tersebut.

Harus diakui bahwa pemimpin negeri ini gagal dalam mengelola para pemuda untuk menjadi generasi bangsa yang utuh dan memiliki kepastian orientasi, baik di masa kini maupun masa depan. Sebuah generasi yang dapat mewarisi kebesaran yang dimiliki bangsa dan negara ini. Para pemimpin kita menurut penulis, gagal melakukan itu Sebaliknya, yang tercipta justru sederet generasi bangsa dengan tingkat moralitas dan etos kerja yang rendah yaitu generasi yang larut dalam praktek korupsi tergerus dalam gelapnya dunia narkoba, larut dalam hidup gaya borjuisasi, hingga generasi bangsa yang pola hidupnya amat santai tanpa ada motivasi untuk maju. Inilah wajah generasi muda bangsa ini. Terbelah dalam beragam pola dan gaya yang negatif.

Dilihat dari satu perspektif, apa yang diungkap Saudara Fauzi dalam tulisannya bahwa, generasi muda masa kini cenderung mati gaya dan merasa eksis atau puas hanya sebagai konsumen, ketimbang sebagai pembaharu, benar adanya. Namun demikian, menurut saya, kita harus juga melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lain. Harus diakui bahwa generasi muda di negeri ini tidak memiliki ruang yang cukup untuk berpartisipasi aktif dan berperan. Terutama dalam lingkup kenegaraan. Peran generasi muda cenderung dibatasi. Bahkan kesempatan untuk mengungkapkan pandangan serta ide-ide mereka jarang didengar. Mengutip slogan iklan rokok, “yang muda, belum boleh bicara”. Itulah penilaian saya mengenai salah satu kondisi gerakan kaum muda Indonesia masa kini.

Gerakan Mahasiswa

Sementara mengenai peran pemuda dalam bentuk gerakan, satu hal yang ingin saya tegaskan bahwa, pada era kini gerakan mahasiswa semestinya di tafsirkan ulang secara lebih aktual dan kontekstual sesuai perkembangan sosio-kultural kehidupan bermasayrakat, berbangsa dan bernegara dewasa ini. Gerakan mahasiswa tidak bisa tampil dengan wajah dan visi lamanya. Harus diperbaharui dan ditafsir ulang. Bahkan, perlu dikaji ulang lebih dalam lagi perihal eksistensinya. Sebab gerakan mahasiswa kini telah mati suri dan gerakannya pun sudah tak progresif lagi. Ini pertanda, bahwa ada yang salah atau telah usang dalam visi dan konsepnya.

Seusai reformasi, gerakan mahasiswa meredup dan seperti di “rumahkan” oleh waktu. Statis dan pasif. Padahal, dulu gerakan mahasiswa mampu mengubah arah sejarah negeri ini dengan ketika perjuangannya melawan rezim Soeharto hingga orang nomor satu tersebut lengser keprabon. Salah satu sebab kemandekan gerakan mahasiswa ini adalah karena gerakan mahasiswa yang dulu lebih mengedepankan kepentingan rakyat kecil. Sedangkan kini, gerakan mahasiswa menyempitkan peranannya hanya terbatas pada lingkup kampus saja. Semacam kembali pada sempitnya “negeri kecilnya”.

Yang lebih parah lagi, budaya hedonis berkembang di kampus, menyebar begitu cepat bak jamur di musim hujan. Rasanya jarang sekali terdengar percakapan yang akademis di lingkungan mahasiswa. Sedangkan percakapan-percakapan mengenai fashion, mode baru, sinetron baru, film baru, dan aneka bentuk hedonisme yang lain, kerap kali terdengar. Ini ironis, mengingat mahasiswa adalah corak intelektualitas dan akademis. Sepertinya, perbincangan seputar intelektualits adalah produk serta fakta yang langka ditemukan dalam kehidupan mahasiswa masa kini. Ibarat “mencari jarum dalam tumpukan jerami”. Inilah gambaran kondisi mahasiswa saat ini beserta gerakannya.

Ironis memang. Gerakan mahasiswa yang lingkupnya merosot hanya pada tataran kampus saja, masih diperparah dengan kecil presentase mereka yang aktif dan serta rendahnya tingkat kepedulian mereka. Jangankan untuk peduli pada negara, kebijakan pada tingkat kampus (rektorat) pun jarang direspon atau dihiraukan. Apatis, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sikap para mahasiswa masa kini beserta gerakan-gerakannya.

Faktor penghambat dan pendukung gerakan mahasiswa

Selain disebabkan faktor mahasiwa yang cenderung apatis dan tidak mempunyai keinginan untuk turut serta aktif, redupnya gerakan mahasiswa juga dilatarbelakangi oleh faktor kebijakan kampus/rekorat yang menunjukkan gejala tidak mendukung sepenuhnya gerakan mahasiwa. Mungkin pertimbangannya adalah stabilitas kampus itu sendiri jika mahasiswanya kritis, kampus/rektorat khawatir kritisisme mahasiwa berdampak pada stabilitas kampus. Jadi, kampus/rektorat berkepentingan untuk menjaga stablitas kampus dengan segala kepentingan dan praktek yang berlaku di dalamnya.

Sungguh miris memang melihat kondisi gerakan mahasiswa sekarang ini. Tapi, bagaimanapun kita harus tetap menjaga motivasi kita untuk menghidupkan kembali gerakan mahasiswa. Dan untuk menghidupkan kembali gerakan mahasiswa, harus ada dukungan dari berbagai pihak. Agar generasi muda mampu berkembang dan menunjukan eksistensi-nya.

Baik itu dukungan dari internal kampus, maupun pihak eksternal. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pihak rektorat, haruslah dalam rangka mendukung serta mempermudah tubuhnya gerakan mahasiswa serta peran aktifnya. Bukan justru sebaliknya, kebijakan tersebut diciptakan untuk menghambat atau mematikan mahasiswa dan gerakan-gerakannya.

Selain dari itu, peran serta dukungan masyarakat juga amat diperlukan dalam rangka menyemai kembali tumbuhnya gerakan mahasiswa. Tanpa ada dukungan dari masyarakat hampir tidak mungkin bagi mahasiswa dan gerakan-gerakan yang dibangunnya untuk eksis dan aktif. Sebab gerakan mahasiswa pada dasarnya tak lain adalah gerakan untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Penulis Iyya Maliya Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD Bandung, Angkatan 2005

5 responses to “Mengeja Redupnya Gerakan Mahasiswa

  1. sebuah artikel menarik, meskipun buat saya terlalu menjastifikasi kawan-kawan mahasiswa itu sendiri. bicara gerakan mahasiswa sama saja berbicara mengenai hal yg komplek.

    talah menjadi ihwal yang umum,- mungkin kalau kata Dewa 19 itu “bukan rahasia”, kalau gerakan mahasiswa telah di-underestimate-kan oleh rakyat itu sendiri. sebuah golongan yang katanya diperjuangkan oleh mahasiswa. ya, mungkin tak semua rakyat berpendapat demikian. tapi realita semacam itu (walaupun itu sekecil apapun) pantaslah untuk dicermati. masa pejuang di “tusuk” dari belakang oleh yang diperjuangkan si. ironis!

    kini mahasiswa hanya dilihat sebagai gerombolan tukang demo yang nggak kongkter. bagaimana tidak. bila mahasiswa bergerak, seakan kita sedang melihat gerombolan yang reaksioner terhadap sesuatu. kenapa reaksioner? karena mahasiswa sekarang saat bergerak, tidak pernah memiliki tujuan/visi yang jelas. panas di awal saja. anget awalnya, terus menguap entah ke mana.

    mungkin benar, gerakan mahasiswa perlu melakukan inovasi. tentu saja biar semuanya nggak omong doang.

    terakhir, cuma mau mengingatkan. mana ada pihak rektorat/birokrat kampus yang mendukung gerakan mahasiswa? mana ada orang yang suka “kursinya” digoyang-goyang? kalau ada, berarti mereka orang gila!!

    HIDUP MAHASISWA!!
    HIDUP MAHASISWA!!
    HIDUP RAKYAT INDONESIA!!

  2. Pemerintah kayak anak kecil kalo g disuruh g nanggapi sama kayak
    pemerintah kalo g didemo g bertindak semoga BBM turun mjdi
    Rp3000,- terimakasih

  3. pemerintah tolong turunkan harga BBM seperti apa yg sutriyandoko katakan, klau sutriyandoko meminta 3000 saya lebih memilih menjadi Rp 1000,- per liter dan ganti sistem penjualan dengan sewu atok telu dan bonus piring cantik

  4. Ikutan nimbrung…yah.
    Mahasiswa…terus terang gw sesek n’ kesel liat mhs skrg, bisanya cuma demo aja. Ktnya ngebela rakyat taunya tanggungjawab ke diri sendiri aja nol besar, buktinya….yg demo – demo pasti byk para mapala (mahasiswa paling lama), yg make narkoba byk yg mhs, yg sex bebas jg byk yg mhs, & ga menutup kemungkinan mrk jg para aktivis.
    Klo emang mhs mo belain rakyat jgn NATO (No Action Talk Only) donk ! BBM naik ganti tuh spd motor dgn sepeda, mo jaga lingkungan….jgn buang sampah sembarangan ato buat Lubang Resapan Biopori, mo sehat….jangan merokok, mo nyuarain jangan korupsi…jangan akal-akalin ortu krn pengen uang lebih, mo nyuarain disiplin….jangan ngaret pas kuliah. Mo ga terpengaruh bhn pokok mahal ? Rajin aja puasa senen kemis. Dari hal – hal yg kecil kyk gini klo dilakukan oleh byk orang, apalagi diikutin ma byk orang lg, dampaknya akan RRUUUAAAAR BIASAAAAA. Ayo BUNG BANGKIT BUKTIKAN KLO MHS BKN CUMA TUKANG DEMO DAN TUKANG RUSAK SARANA & PRASARANA.

    PEACE !

  5. ini opini kampus mana ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s