Menanti Revolusi Tuan Guru

scholars.jpg
Namun belakangan keberadaanya kembali dipertanyakan, ketika tuan guru memasuki ranah politik dan berkecimpung didalamnya. Masyarakat meragukan apakah kehadirannya di ranah tersebut akan membawa angin segar, memberikan perubahan yang signifikan. Atau hanya menjadi kepanjangan tangan para politikus yang sudah mapan. Yang haus akan kekuasaan.

Oleh : Ali Nurdin*

Sangat menarik membaca buku “David di Tengah Angkara Goliath Dunia” karya Muhsin Labib, Ibrahim Muharam, Musa Kazhim dan Alfian Hamzah. Buku itu tidak sekadar mengulas profil sosok Ahmadinejad yang fenomenal perlawanan gigihnya pada Amerika, tapi juga merekam tuntas sejarah revolusi Iran di tahun 1979 yang dipimpin ulama kharismatik Syi’ah Ruhullah Khomaeni.
Tulisan ini hendak mengulas revolusi itu, terutama peran Mullah (ulama) dalam memimpin revolusi di Iran serta ingin mengetengahkan relevansinya di tengah politik negeri kita yang banyak melibatkan ulama.

Revolusi Iran diawali Khomeini dengan memberdayakan empat murid kesayangannya yakni Murtadha Mutahhari, Ali Khameni, Mohammad Bahesti dan Hasyim Rafsanjani. Melalui empat muridnya ini, Imam Khomeini pertama-tama melakukan diskusi-diskusi tersembunyi diberbagai tempat secara intensif dengan agenda tunggal memberikan penyadaran kepada rakyat Iran bahwa mereka perlu melakukan revolusi atas kepemimpinan Syah Iran yang ditunggangi Amerika. Dibawah bayang-bayang ancaman represifisme Syah Iran, Khomeini murid beserta pengikutnya melakukannya dengan bergerilya.

Hingga pada saatnya, melalui aksi penyadaran rakyat, komeini berhasil demonstrasi besar-besaran pria dan wanita, orang tua, pemuda dan anak-anak, turun kejalan-jalan sambil membentang poster besar-besar dengan meneriaki nama Khomeini. Meraka rindu kehadiran Khomeini yang diasingkan dalam penjara Paris, Perancis oleh diktaktor sekaligus sekutu Amerika Serikat, Shah Mohammad Reza Pahlevi.

Puncaknya terjadi pada Desember, ketika demonstrasi dengan dua juta lebih rakyat Iran bentrokan dengan militer terkuat dan terbesar kelima di Dunia. Namun setiap butir peluru yang ditembakkan dibalas dengan sekuntum bunga Mawar. Selain itu rakyat Iran tidak henti-hentinya mengucapkan “Allahu Akbar” dan mengutuk Shah Pahlevi agar segera mundur dari tampuk kekuasaannya.

Akhirnya monarki Shah Pahlevi tumbang, setelah disersi tarjadi dimana-mana, Shah dan permaisurinya, putri Farah kabur ke Mesir pada 16 Januari. Dua pekan kemudian monarki Shah berakhir. Setelah pesawat maskapai Air France dari perancis mengantar Khomeini kembali ke Teheran.

Sejak mengambil alih kekuasaan, imam khomeini memainkan peran besar dalam mengubah kebijakan negara. Para politikus dimarginalkan. Mereka yang mempunyai kepentingan untuk diri sendiri disingkirkan. Sebagai penggantinya Khomeini menyiapkan para Mullah untuk mengisi kekosongan. Maka jadilah Iran sebagai negara para Mullah. Negeri para ulama.

Segala kebijakan dan pengambil keputusan, mullahlah yang menentukan. Meskipun demikian Khomeini tidak langsung memimpin. Beliau lebih memilih duduk dibelakang layar. Memberikan kepercayaan kepada Ali Khameni dan Bahesti untuk menjalankan roda pemerintahan. Memantau setiap kebijakan yang diputuskan parlemen.

Memihak pada rakyat atau tidak. Jika tidak, beliau berhak menginterupsi. Atas tindakannya itu, banyak pihak yang tidak menyukainya tentu saja tidak lepas lawan-lawan politiknya. Bahkan sebelum tumbangnya monarki Shah, banyak pihak yang meragukan Khomeini. Termasuk para ulama. Dengan hanya pendidikan di Madrasah dan pesantren, untuk menaklukan Shah Pahlevi tidak cukup. Namun Khomeini justru berpendapat sebaliknya. Shah Pahlevi hanyalah sebuah bayangan yang tidak dapat berperang.

Dominasi Tuan Guru

Kehadiran tuan guru di pulau seribu masjid memberikan nuansa berbeda. Bahkan menjadi ciri khas tersendiri buat masyarakatnya. Pengaruhnya dapat terasa diberbagai bidang. Dari kalangan bawah sampai atas. Baik di desa maupun di kota. Hal ini bisa kita lihat ketika menghadiri sebuah acara diskusi diberbagai tempat. Entah di lingkungan akademisi semisal kampus maupun di ruang publik seperti ranah politik. Pun demikian ketika menghadiri acara maulidan di masjid-masjid bersama masyarakat biasa. Jama’ah selalu membludak untuk mendengarkan tausiahnya.

Tuan guru layaknya mullah di Iran. Atau kiai kondang seperti Zainuddin MZ pada masanya. Tenar dan sangat berpengaruh. Dengan memiliki santri lebih dari ribuan, tentu menjadi sasaran empuk elit politikus dalam setiap kali pemilihan umum. Ditambah masyarakat yang setia menjadi pengikutnya.

Namun belakangan keberadaanya kembali dipertanyakan, ketika tuan guru memasuki ranah politik dan berkecimpung didalamnya. Masyarakat meragukan apakah kehadirannya di ranah tersebut akan membawa angin segar, memberikan perubahan yang signifikan. Atau hanya menjadi kepanjangan tangan para politikus yang sudah mapan. Yang haus akan kekuasaan.

Kita mengetahui, politik merupakan sebuah ranah yang didalamnya terdiri dari berbagai unsur masyarakat. Siapapun boleh mengisinya. Tidak terkecuali tuan guru. Karena banyak yang mengisi, maka wajar jika masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Karena kita dianugerahi oleh Tuhan dengan watak berbeda pula. Hingga muncullah istilah “tidak ada teman sejati, yang ada hanya kepentingan sejati.”

Obral janjipun ditebar dimana-mana. Mengurangi kemiskinan, mengatasi busung lapar, mengurangi pengangguran, meningkatkan UMR guru dan buruh, membantu petani karena hasil panennya dihargai murah, dan janji-janji lainnya. Katanya dari rakyat, demi rakyat, dan untuk rakyat. Tapi rakyat yang mana? Memperjuangkan rakyat. Rakyat mana yang diperjuangkan? Menjadi pejuang rakyat atau memperjuangkan diri sendiri karena dana kampanye untuk dirinya belum kembali?

Menjelang pilkada atau pilgub, meskipun genderangnya belum ditabuh, menarik sekali untuk diperbincangkan. Bahkan hal ini menjadi sebuah refleksi tuan guru dalam menjawab keraguan dan tantangan yang disebutkan diatas. Dengan dominasi tuan guru, sudah saatnya tuan guru mengambil alih tampuk kekuasaan. Mengembalikan hak-hak rakyat yang terampas.

Tentu bukan dengan cara demontrasi besar-besaran seperti yang dilakoni Khomeini beserta murid-muridnya. Turun ke jalan-jalan menggulingkan kekuasaan yang sah. Tapi dengan cara yang arif dan bijaksana. Menggalang dan membangun visi misi yang sama antar pesantren. Bahkan lintas agama jika dianggap perlu. Memberikan pemahaman kepada masyarakat serta kesadaran untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme.

Tentu bukan hal yang mudah menjawab tantangan tersebut. Namun jika dilakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas untuk kepentingan rakyat, tidak mustahil tuan guru dapat mengambil alih pimpinan. Seperti halnya Khomeini, banyak yang meragukan kapabilitasnya. Namun jika kita mengambil slogan revolusi Ahmadinejad, “Itu mungkin dan bisa kita lakukan!” Tidak mustahil impian tersebut dapat tercapai. Semoga.

9 responses to “Menanti Revolusi Tuan Guru

  1. saya sangat setuju dengan pendapat saudara bahwa sudah saatnya Tuan Guru mengambil tampuk kepemimpinan untuk masa depan, namun ada pertanyaan mendasar yang mengganjal dibenak saya, mampukan seorang “Tuan Guru” mengambil tampuk kepemimpinan tersebut? saya amat sangat pesimis. kenapa? secara historis nama-nama yang anda sebutkan tadi mempunyai background intelektual yang bagus, pengalaman organisasi tingkat internasional, bergaul dengan orang-orang luar sedangkan tuan guru-tuan guru kita? hanya berkutat dengan kitab kuning tanpa pernah melihat dunia kontemporer. mungkin hal yang perlu dilakukan adalah reformasi tuan guru. artinya bahwa orang yang dikatakan tuan guru adalah orang yang tidak hanya bergaul dengan kitab kuning klasik akan tetapi juga ilmu-ilmu sosial yang berkembang saat ini. kalau yang akan memimpin NTB pada masa depan adalah tuan guru yang tidak konserfatif, ekslusif, dll mungkin bisamembawa perubahan kearah kebaikan bukan sebaliknya. terima kasih.

  2. Bljr ilmu Agama memang lebih utama daripada ilmu yg lainnya karena ilmu agama yg diterapkanlah yg akan mwujudkan cita – cita utama qt. yaitu meraih kesuksesan yg hakiki. yaitu masuk surga dan terhindar dari siksa Neraka. Tapi siapa bilang Tuan Guru2 qt hanya berkutat pada kitab kuning saja ? ada beberapa Tuan Guru di NTB yg selain ilmu agamanya luas, Ilmu dunia dan intelektualitasnya sangat baik. Contoh TUAN GURU BAJANG KH. MUHAMMAD ZAINUL MAJDI, MA. Beliau sudah mengunjungi lebih dari 20 Negara di dunia termasuk Amerika dan Inggris. Bukan Untuk foya2 atau gaya2an. Tpi untuk memperkaya khasanah Intelektual dan wawasan beliau. Seandainya saudara – saudara pernah menyaksikan ketika TGB Berdialog / diskusi. maka tidak akan pernah ada pertanyaan saudara yg tidak dijawab dengan sangat memuaskan.Kekaguman, ketakjupan, keterpesonaan akan mengisi relung hati stiap orang yang mendengar beliau. INTINYA SAYA SANGAT MENDUKUNG TGBKH. MUHAMMAD ZAINUL MAJDI, MA. Menjadi Gubernur. jngn pernah mengira kalau saya orang NW. Sy sama sekali tdk pernah sekolah atau menjadi kader NW. Saya hanya masyarakat NTB biasa yg sangat menyayangi Beliau karena kharismanya yang sangat bercahaya.

  3. kok sayang sekali komentar saudara anonymous yang menganggap para tuan guru kita hanya berkutat dg kitab kuning,dia gak tau atau pura2 gak tau karena rasa sentimennya terhadap TGB. Halo saudara,jangan karena ketidak sukaan kt trhadap seseorang membuat penilaian kita menjadi ngawur,menyamaratakan kapasitas tuan guru hanya bisa kitab kuning saja,padahal berpuluh-puluh tuan guru memiliki kemampuan yang mumpuni dibidang-bidang yang lain.apa mau dikasi contoh saudara anonymous

  4. aduh orang yang udah berkecimpung dengan TI masih memiliki keterbelakangan pemikiran,bagaikan katak dalam tempurung.makanya jangan hanya buka situs porno aja biar punya wawasan luas

  5. betul apa yang ditulis sdr andi dan indah,rupanya sdr kita anonymous orang katrok yg hanya bisa berkomentar asal2lan,hanya krn ketidak sukaan terhadap seseorang lantas berkomentar pakai dengkul gak pakai otak.otaknya pada penuh dengan bayangan azhari bersaudara

  6. sangat disayangkan komentar anonymous yang menampakkan kepicikan dan kesombongannya..siapakah anda wahai anonymous , apakah anda baru belajar TI,ataukah orang tolol yang paura-pura jadi intlek ,silahkan baca diri anda dan sadar.

  7. tgb bagus tapi pasangannya gak cocok palagi ada pks dibelakangnya, ati-ati warga nw selapuq pks nike ndeqne pade maraq side pade, pks beda ideologi ma kita warga nw, nininda pasti menolak kalau beliau tahu cucunya bergandengan tangan dengan orang orang yang tidak sepaham dengan nw….
    tgb menang artinya petaka buat nw entah nw anjani atau pancor pade doang….kehancuran nw sudah diambang pintu semeton…
    pks sedang bertepuk tangan melihat konspirasi yang dia bangun dengan pancor, sungguh memalukan dan saya lihat tgb kurang cerdas atau terlalu cerdas membaca situasi…tapi dalam suuzhon saya mengatakan,,,kalau alasan koalisi tgb dengan pks adalah untuk jabatan atau untuk menzalimi anjani dengan mencari kekuatan lebih besar meski ideologi taruhannya, maka siap-siap saja azab akan datang….tobat tgb tobat tgb….laguq gendang wah tetabuh endeq naraq tadah te endeq pade ngibing….wasssalam salam sejahtera bagi kita semua..

  8. saya harap bpk tgb tidak memihak pada satu sisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s