Memainkan Politik Pesantren

cakepkan.jpg
Memainkan politik pesantren bisa dimulai dengan ikut mengintervensi APBD supaya berkeadilan. Anggaran berkeadilan jika terbuka akses informasi bagi publik (transparans). Pengalokasian anggaran dibuat efektif dan efisien. Memiliki nilai tambah secara ekonomi, berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor). Menjamin keterlibatan rakyat dalam seluruh prosesnya (partisipatif). Dan yang lebih penting lagi, proses pengelolaan anggaran bisa dipertanggungjawabkan. Adanya sistem pengawasan yang kuat. Selanjutnya mampu menjawab permasalahan serta kebutuhan rakyat.

Yusuf Tantowi*

Walau bukan institusi politik, setiap ada momentum politik pesantren masih berperan sebagai lumbung suara. Tuan guru sebagai pemegang saham mayoritas masih dominan menentukan kemana suara akan ‘dihibahkan’. Atas keberpihakannya kepada calon tertentu, tuan guru dan elit pesantren tentu mendapat kompensasi politik yang tidak kecil. Masalah, apakah konpensasi yang di dapat langsung dirasakan oleh jamaah selaku pemberi suara ?.

Pertanyaan itu perlu diajukan secara kritis mengingat kuatlitas jamaah dibawah berbanding terbalik dengan gaya hidup elit pesantren yang serba kecukupan. Belum prevelese sosial yang di dapat dari pemerintah yang berkuasa dan dari jamaahnya sendiri. Walau jamaah rajin menyerahkan suaranya kepada calon pilihan tuan guru dan elit pesantren, ternyata nasibnya tidak beranjak dari keadaan semula.

Ada tiga ukuran, apakah konpensasi politik betul-betul dirasakan oleh jamaah yang berapiliasi kepesantren. Pertama, meliputi bidang ekonomi. Apakah secara ekonomi masyarakat mengalami perbaikan sebagaimana dijanjikan dalam kampanye ?. Bidang ini mestinya menjadi urutan utama untuk digarap. Keberhasilan dan kegagalan pengolaan bidang ini akan berimbas kepada kualitas pendidikan dan kesehatan jamaah. Mogoknya menggerakkan sektor ini terlihat dari masih tingginya minat masyarakat menjadi TKI ke luar negeri.

Kedua, bidang Pedidikan. Jumlah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren memang tumbuh pesat di daerah ini. Mestinya ini dapat mengikis angka putus sekolah dan buta hurup. Kondisi ini tidak wajar, pada hal usia pesantren sudah puluhan tahun tapi indek prestasi manusia NTB masih belum beranjak dari urutan paling buncit. Kepala daerah yang dipilih oleh sebagian besar jamaah pesantren hanya melirik pesantren menjelang momentum politik.

Ketiga, bidang Kesehatan. Beberapa waktu lalu, bencana kemanusiaan ini bahkah sempat melambungkan nama NTB. Semua tahu, korban terbesar dari wabah gizi buruk itu di derita oleh sebagian besar jamaah pesantren yang bermukim didesa-desa. Jadi, selain dikenal sebagai daerah rawan konflik NTB juga tergolong daerah endemik gizi buruk.
Tiga bidang diatas mestinya menjadi keprihatinan dan perhatian elit pesantren untuk bangkit bergerak memperbaiki kualitas jamaahnya dibawah. Bukan melulu mendulang suara sebagai buah fanatisme umat kepada elit pesantren. Padahal bila umat bisa diberdayakan, dengan sendirinya akan menguntungkan pesantren juga.

Visi Politik
Untuk keluar dari suasana yang menyesakkan dada itu, elit pesantren perlu memiliki visi sosial baru dalam melakukan pemberdayaan jamaah. Pemberdayaan jamaah harus menjadi prioritas utama dakwah. Maka pola dakwah billisan sudah saatnya dikurangi untuk diperkuat dengan dakwah bilhal. Dakwah billhal beroreintasi pada pemberdayaan ekonomi guna mengikis akar-akar kemiskinan.

Penyakit kronis yang dialami oleh sebagian besar jamaah pesantren adalah kemiskinan. Kemiskinan ini ibarat kangker ganas yang terus menggerogoti ketahanan fisik dan psikis umat. Kuatnya kangker kemiskinan ini mengakibatkan daya saing, termasuk daya beli umat menjadi lemah. Bila umat lemah, sudah tentu bangsa ini akan kehilangan harga diri dan daya saing dengan bangsa-bangsa yang telah maju.

Kemiskinan yang dialami oleh umat saat ini memiliki tantangan yang berbeda dengan kemiskinan masa lampau. Kemiskinan biasa telah berubah wujud menjadi kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan oleh pengelolaan negara yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Sekarang orang miskin bukan karena sudah ditakdirkan miskin oleh Tuhan. Bukan semata karena ia bodoh atau malas. Rakyat miskin juga disebabkan oleh kebijakan negara yang mengabaikan hak-hak masyarakat kecil. Untuk itu paradigma dalam memandang kemiskinan sudah saatnya dirubah.

Dalam Islam kita memiliki konsep zakat, infaq dan sadaqah untuk mengikis kemiskinan. Tapi konsep itu baru dipahami sebatas bantuan sosial, bukan menjadi sistem kesejahteraan sosial. Akibatnya, zakat, infaq dan sadaqah yang terkumpul tiap tahun habis sekali pakai. Tidak membekas. Maka kedepan, zakat, infaq dan sadaqah dikelola dengan manajemen fundraising oleh pasantren. Untuk yang satu ini kita perlu meniru kesuksesan peraih hadiah nobel perdamain M.Yunus dari Banglades.

Coba anda perhatikan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) propinsi atau kabupaten. Dimana-mana, pasti anggaran aparat lebih besar dari anggaran belanja publik. Anggaran yang mestinya dilokasikan untuk pemberdayaan masyarakat sebagian besar tersedot untuk biaya rapat, sosialisasi, seminar, workshop, study banding dan lain-lain. Maka wajar, rakyat hanya mendapatkan rembesan dari anggaran pembangunan yang jumlahnya triliunan.

Nah, pada kondisi seperti ini lah sebenarnya tuan guru dan elit pesantren bisa memainkan peran politiknya. Tapi sebelum terlibat secara langsung, elit pesantren hendaknya punya visi politik jangka panjang dalam rangka pemberdayaan umat. Melalui visi politik yang jelas, elit pesantren tidak akan mudah ditipu oleh janji-janji kosong dari elit politik. Bila tidak berangkat dengan visi politik, elit pesantren dengan sendirinya akan larut dengan manuver-manuver politik yang hanya berorientasi memperkaya diri dan keluarga.

Selama ini mucul kesan, pesantren telah berubah peran menjadi broker politik. Penilaian ini muncul karena mereka melihat beberapa tuan guru dan elit pesantren terlibat aktif memobilisir jamaahnya untuk mendukung calon tertentu. Entah itu berasal dari dalam komunitas pesantren atau karena kedekatan secara personal. Citra negatif ini akan terus berkembang selama elit pesantren tidak mampu mengubah orientasi politiknya.

Orientasi politik dagang sapi harus ditinggalkan. Elit pesantren harus mampu memainkan politik yang mengedapankan kepentingan publik ketimbang aparat. Elit pesantren bersama oramas Islam lainnya bisa menjadi agen penekan bila kebijakan yang dikeluarkan penguasa mengabaikan kepentingan rakyat. Supaya gerakannya lebih sistimatis dan fokus, tidak ada salahnya elit pesantren merumuskan kembali visi politiknya agar perjuangannya benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Sebelum memutuskan mendukung calon tertentu, elit pesantren mesti kritis melihat rekam jejak sang calon. Termasuk juga membaca visi misi serta programnya untuk meningkatkan kualitas hidup jamaah pesantren. Pengalaman selama ini pesantren di dekati hanya ketika datang moment politik. Bila sudah berkuasa, pesantren ditinggal begitu saja. Politisi model seperti ini harus diwaspadai. Karena itu elit pesantren jangan larut oleh janji-janji politik yang hanya mengumbar ayat dan hadist tapi miskin visi.

Memainkan politik pesantren bisa dimulai dengan ikut mengintervensi APBD supaya berkeadilan. Anggaran berkeadilan jika terbuka akses informasi bagi publik (transparans). Pengalokasian anggaran dibuat efektif dan efisien. Memiliki nilai tambah secara ekonomi, berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor). Menjamin keterlibatan rakyat dalam seluruh prosesnya (partisipatif). Dan yang lebih penting lagi, proses pengelolaan anggaran bisa dipertanggungjawabkan. Adanya sistem pengawasan yang kuat. Selanjutnya mampu menjawab permasalahan serta kebutuhan rakyat.

Jadi politik anggaran, sebuah strategi untuk mencapai kepentingan tertentu dengan menggunakan anggaran. Misalnya, bila pemerintah berkepentingan terhadap pemberantasn korupsi, maka pemerintah harus memperbesar alokasi aggaran bagi aparat penegak hukum. Demikian sebaliknya. Bila pemerintah berkepentingan mematikan daya kritis masyarakat secara langsung maupun melalui DPRD, maka cukup degan memperkecil anggaran bagi mereka.

*Koord.Kajian dan Penerbitan LeNSA-NTB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s