Berdebat Seputar Kelamin

back.jpg

Meratanya persoalan ketidakadilan gender inilah yang menjadi pokok soal wacana gender niscaya terus diwacanakan dan diperjuangkan. Namun, tentu saja banyak hambatan yang harus dilalui seperti kuatnya peran ideologis kultural masyarakat yang sudah merasa mapan dengan subordinasi. Serta juga kuatnya tafsir keagamaan yang selama ini dirasakan kurang bersahabat pada isu ini. Saya kira ini bukan agenda parsial yang bisa sekali jadi. Ini butuh perjuangan dengan setidaknya memerlukan pemotongan generasi (cut generation) mulai dari kita yang muda-muda hari ini.

Jhellie Maestro*

MALAM itu, sebuah pertanyaan penting -yang juga pernah diajukan Masdar Farid Mas’udi- secara tidak sengaja terlempar dari mulut saya, mengapa ulama dan ahli fiqh berjenis kelamin perempuan jarang sekali dibincang dalam sejarah pemikiran islam? Mengapa tak kita temukan buku-buku yang dikarang kaum hawa ini, padahal fiqh misalnya, terdapat justru yang secara spesial berbicara soal keperempuanan atau tenar dikalangan santri dengan fiqh An-Nisa?

Pertanyaan itu, berhasil memprovokasi dua kawan saya Muhammad Saleh dan Amir Mahmud. Dua kawan saya ini sejak seminggu yang lalu bersepakat dengan saya untuk membentuk sebuah forum belajar (taddarrus) terbatas yang beranggotakan kami bertiga.

Aleh yang mendapat giliran pertama berkomentar, karena memang kemampuan berfikir perempuan jauh di bawah laki-laki. Perempuan lebih emosional daripada laki-laki. Perempuan juga lemah baik fisik maupun mental. Perempuan sudah dikodratkan tuhan menjadi manusia kelas dua dari laki-laki, sebagai manusia yang melayani suami dan yang juga ditegaskan agama terbikin dari tulang rusuk laki-laki.

Wah, mendengar komentar itu, saya langsung berfikir, teman saya ini tampaknya masih berspektif tradisional dalam persoalan relasi perempuan-laki-laki. Ia nyaris menyamakan antara kodrat dan konstruksi sosial. Padahal setahu saya, pembedaan ini amat krusial, sama krusialnya dengan pembedaan gender dan jenis kelamin dalam diskursus yang sama.

Tapi begitulah, malam itu Aleh berhasil menjebak kami membicang gender, sebuah tema yang sesungguhnya jarang kami diskusikan. Walau akhirnya, diskusi berjalan kayak ‘debat kernet angkot’ yang tak satupun mau mengalah. Sialnya lagi, tetangga akhirnya marah-marah karena keributan yang kami bikin.

Ingin meneruskan debat malam itu, saya serasa terprovokasi untuk membuat tulisan yang menjelaskan persoalan gender dengan lebih terarah dan mendasar. Minimal dalam tulisan ini saya akan merangkai gagasan-gagasan tercecer yang pernah saya dapatkan dari berbagai forum diskusi dan beberapa buku yang pernah saya kunyah. Dan, harapan saya, dengan tulisan ini diskusi kita akan lebih terarah dan berprespektif, punya daya analisis serta lebih intelektual lah!.

Gender dan Jenis Kelamin apa beda?

Saya ingin memulainya dengan klasifikasi dua kata kunci dalam diskursus ini, gender dan jenis kelamin (sex). Kata kunci ini penting karena jika dua hal ini tidak di fahami secara proporsional, bisa dipastikan seseorang akan tersesat dalam tafsir kodrati dan non kodrat yang ada dalam diri perempuan dan laki-laki.

Mansour Faqih dalam Analisis Gender dan Transformasi Sosial mendefinisikan jenis kelamin (sex) sebagai pensifatan manusia yang di dasari atas perbedaan biologis. Manusia laki-laki memiliki penis dan pabrik sperma sementara perempuan memiliki vagina, alat produksi telur serta alat menyusui. Alat-alat itu sebut Faqih melekat pada manusia perempuan dan laki-laki secara bersamaan dan permanen. Alat-alat itu tidak bisa di kurangi dan di lebihi serta tak mungkin dipertukarkan selamanya. Inilah ketentuan Tuhan yang bersifat kodrati.

Sementara Gender, Faqih mendefinisikannya sebagai sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari konstruksi sosial (Social Contruction) dan kultural (cultural Contuction). Misal bahwa perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan dan laki-laki dianggap rasional, kuat, jantan, dan perkasa adalah ciri atau sifat yang tidak permanen dan bisa dipertukarkan. Sifat-sifat itu bisa jadi ada dalam diri laki-laki juga perempuan.

Maka tak heran kadang kita menemukkan seorang laki-laki yang lebih emosional, lebih lemah dan lebih keibuan daripada perempuan sebaliknya juga kadang kita mendapati sebagian perempuan justru kuat, rasional dan perkasa. Karena ciri atau sifat ini dapat dipertukarkan dan dapat berubah mengikuti waktu dan kondisi, maka ini dikatakan bukan kodrati.

Sesat tafsir antara yang kodrati dan yang bukan kodrati ini pada masyarakat patriarkhi menimbulkan anggapan bahwa laki-laki lebih superior dari perempuan. Laki-laki kerap diidentikkan dengan penguasa dan pengambil kebijakan sementara perempuan hanyalah objek. Potret masyarakat patriarkhi seperti ini banyak kita temukan di Jawa, Makasar, Bali dan juga Sasak.

Karena bias patriarkhi ini, lalu perempuan kerap dilemahkan dan diposisikan sebagai subordinasi bagi kaum laki-laki. Anggapan bahwa perempuan sebagai the seccond sex pada akhirnya menempatkan perempuan juga sebagai The second class (masyarakat kelas dua) yang harus terus di pihak yang kalah dan di cederai hak-haknya. Kondisi seperti ini hampir rata di semua kebudayaan di dunia. Hanya beberapa saja yang saya tahu tidak terkonstruksi seperti ini semisal Minangkabau yang justru berkebalikan.

Tercederainya rasa keadilan

‘Sesat tafsir’ atas Gender dan sex serta kodrati dan yang bukan kodrati ini selanjutnya mau tidak mau menciptakan ketidakadilan gender. Ketidakadilan bisa berupa diskriminasi sosial, politik ekonomi dan budaya, diskriminasi dalam partisipasi dan hak menikmati sesuatu baik bagi laki-laki dan terutama bagi perempuan. Dalam keluarga sangat nyata misalnya terlihat dalam pembagian peran, tanggungjawab, hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga. Namun perlu dicatat bahwa ketidakadilan seperti ini, bisa terjadi dua arah atau dialami oleh salah satu diantara laki-laki dan perempuan.

Sialnya, karena selama ini kita hidup dalam budaya patriakhi yang menjadikan perempuan subordinat, maka perempuan lebih kerap menjadi korban daripada laki-laki. Maka, sebetulnya yang menjadi illat persoalan dari Gender adalah ketidakadilan itu, dimana salah satu pihak menjadi korban.

Jika ditelisik, ada beberapa tipe ketidakadilan yang dialami perempuan selama ini. Ada subordinasi yang menganggap perempuan tidak penting dan hanya menjadi pelengkap dari laki-laki. Dirumah misalnya, perempuan gadis dituntut patuh pada ayahnya, setelah menikah perempuan juga dituntut patuh kepada suaminya. Perempuan dipekerjaan hanya di wilayah private sperti masak, mencuci dan melayani suami di kasur semetara suami sebagai pencari nafkah. Subordinasi seperti ini nyaris terjadi di semua level sosial.

Ketidakadilan yang lain, perempuan dianggap tidak rasional dalam mengambil keputusan. Karena anggapan ini, masyarakat lalu meragukan seorang perempuan bisa menjadi pemimpin. Perempuan juga dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi karena pada akhirnya akan kembali ke dapur, sumur, kasur. Anggapan yang nir logika!

Stretype atau pelabelan negatif juga salah satu bentuk ketidakadilan ini. Perempuan kerap dianggap makhluk penggoda. “Hati-hati pada perempuan karena godaannya lebih dahsyat dari iblis” sebuah ungkapan yang sungguh sesat. Sehingga ketika misalnya terjadi pemerkosaan cenderung yang di salahkan adalah pihak perempuan. “Tak mungkin diperkosa jika tidak berpakaian menor dan seronok”. Padahal ini tak berdasar dan mengakibatkan perempuan selalu menjadi pihak yang teraniaya.

Dalam persoalan pemberian beban kerja, perempuan juga mengalami ketidakadilan karena waktu kerja mereka lebih panjang dari laki-laki. Ini biasanya dialami oleh perempuan-perempuan yang kerja di wilayah publik. Masyarakat menganggap, kerja utama perempuan hanyalah mengurus suami dan kerja publik semisal di kantor atau sawah sekadar kerja membantu suami. Padahal lihat saja, setelah mereka kerja di kantor atau sawah, ketika pulang mereka masih akan bekerja di dapur, memasak, mencuci dan lain sebagainya. Boleh dikata jam kerja seorang perempuan dalam masyarakat patriarkhi adalah dari bangun pagi satu suami memejamkan mata, karena lagi-lagi yang harus mereka pikul adalah melayani suami.

Meratanya persoalan ketidakadilan gender inilah yang menjadi pokok soal wacana gender niscaya terus diwacanakan dan diperjuangkan. Namun, tentu saja banyak hambatan yang harus dilalui seperti kuatnya peran ideologis kultural masyarakat yang sudah merasa mapan dengan subordinasi. Serta juga kuatnya tafsir keagamaan yang selama ini dirasakan kurang bersahabat pada isu ini. Saya kira ini bukan agenda parsial yang bisa sekali jadi. Ini butuh perjuangan dengan setidaknya memerlukan pemotongan generasi (cut generation) mulai dari kita yang muda-muda hari ini.

Apa yang di perdebatkan teman saya Aleh dan Amir malam itu, saya kira menjadi gambaran bahwa sebetulnya banyak diantara kita yang enggan memahami persoalan secara lebih bertanggungjawab. Karena bagi saya pribadi, ungkapan-ungkapan seperti yang keluar dari Aleh sungguh telah menghina dan merendahkan kaum perempuan? Kaum ibu saya, kaum ibunya sendiri dan kaum ibu kita semua? Kalimat-kalimatnya sungguh melukai ‘serius’ perasaan kita. Dan tentu saja harapan saya, suasana diskusi yang lebih kondusif- diskursif dan filosofis dapat membuat kita lebih cerdas di kemudian hari. Yang tak terlupakan tentu saja berharapo ada sebungkus rokok dan segelas kopi menemani, saya kira diskusi dalam susana begini akan memancing nalar kita untuk terus mengalir dan mencerahkan. Semoga bisa jadi provokasi awal!.

Sekretariat Lensa-NTB, Pejarakan, 6 Desember 2007

2 responses to “Berdebat Seputar Kelamin

  1. Hue he he he, hari gini masih ngomongin soal gender? kemana aja yach mereka-mereka yang sampai hari gini masih ngomongin soal gender. Hm… Kalo dibilang perempuan itu di bawah laki-laki, ya memang. Tapi untuk beberapa hal saja, misal:

    Seorang istri harus patuh kepada suami, selama suami nya itu menuntun dia kepada jalan yang benar.

    Tapi, di hal-hal yang lain perempuan itu ada diatas laki-laki, kenapa begitu? Inget ga soal ini “Surga dibawah telapak kaki ibu”…? Bagaimana mulia nya seorang perempuan dimata Allah, bahkan Nabi Muhammad SAW pun bilang “Umi, umi, umi”.

    Yang seharus nya jadi acuan itu bukan gender, tapi kita hidup sebagai manusia. Jangan selalu mempermasalahkan gender. Sekarang begini, waktu Megawati terpilih menjadi Presiden banyak yang kontra kalo presiden ga sepatut nya perempuan. Karena imam itu haruslah laki-laki. Lalu yang jadi pertanyaan, emang ga boleh? Waktu Megawati (entah dicalonkan atau mencalonkan) maju jadi calon Presiden kenapa yang Laki-laki ga berbondong-bondong ikutan jadi calon Presiden? Biar presiden nya tetep Laki-laki.

    Soal masalah wanita yang “bisa merusak dunia”, itu tergantung laki-laki nya juga. Jaga iman, iman kalo ga jadi nafsuan… jadi nya gini nih, imanimanimanimani mani mani mani mani…

    Kalo laki-laki bisa jaga iman, walau tinggal ditempat pelacuran sekalipun, perempuan ga bakal bisa jadi perusak. ( Maaf ya buat perempuan…^_^, cuma mo kasih wejangan buat para laki-laki, kiki juga laki-laki ).

    Kiki sebagai anak dari seorang perempuan ga terima kalo ada orang ngomong yang seperti itu, Toh ibu dan bapak kadang bertukar pekerjaan. Ibu yang bekerja dan bapak yang mengurus rumah, tapi ga pernah ada masalah dirumah. Ga pernah masalahin gender, coba saling mengerti karena kita hidup sebagai manusia. Jangan mandang hidup sebagai laki-laki atau perempuan. Dan kalau melihat hidup sebagai laki-laki dan perempuan, seharus nya wanitalah yang patut di mulia kan setelah Allah dan Rasul.

    Cemen kalo ada laki-laki yang masih punya pikiran kolot alot meletot kayak gitu.

    Thanks yach, lega kiki… ^_^

  2. yang nulis kaya baru belajar masalah gender.. ulasannya lugu banget..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s