Pilkada dan Netralitas Kaum Muda

709259227m.jpg
Posisi netral buat saya bukan berarti mereka steril dari politik dan tidak boleh melakukan aktivitas politik, yang saya maksud adalah semestinya mereka bisa tidak melakukan politik rendah yang hanya berorientasi kepada kekuasaan dan kepentingan, hanya mengedepankan kekuasaan, jabatan, serta pemenangan pemilu dan pilkada. Sebaliknya diharapkan mereka mengamalkan politik tinggi yaitu politik moral yang mengedepankan idealisme dan etika, mengutamakan kepentingan rakyat dan negara, serta menjunjung tinggi demokrasi, keadilan dan hak azasi manusia

Oleh : Jhellie Maestro*

MALAM rabu lalu Handphone saya tiba-tiba berdering. Sebuah Sort Massage Service (SMS) nampaknya masuk. Saya membukanya, dari teman kampus. Dia mengundang saya kongkow-kongkow di seputaran jalan udayana. Awalnya saya mengira undangan itu acara ngumpul-ngumpul biasa, sekadar minum kopi atau menikmati jagung bakar. Karena malas sendirian, saya ajak seorang teman. “Biasa paling-paling hanya 3-5 orang temen” jawab saya sok tau saat teman itu bertanya, kira-kira berapa orang yang akan kumpul disana?.

Sesampai di tempat itu, saya dan teman saya terkesiap, karena ternyata meleset dari perkiraan. Disitu sudah berkumpul sekitar 20-an aktifis mahasiswa lain yang rata-rata kami kenal karena satu kampus. Disitu juga saya melihat seseorang tokoh yang cukup familiar karena wajahnya kerap muncul di media lokal. Tokoh itu, belakangan, disebut-sebut bakal mencalonkan diri sebagai gubernur pada pemilu NTB 2008. “Wah, ini kongkow-kongkow politik tho” bisik saya pada teman yang mengundang saya itu.

Yang membuat saya curiga adalah omongan pembuka dari moderator pertemuan itu. Moderator mengklaim kami tokoh-tokoh mahasiswa yang cukup berpengaruh di kampus, juga ketika cara dia memperkenalkan saya pada calon itu, sangat politis!. Akhirnya, saya dan teman saya hanya bisa menghela nafas, karena seluruh isi pertemuan murni politis dan saya merasa telah dijual.

****

Beberapa waktu belakangan acara-acara seperti ini memang banyak dilakukan kawan-kawan aktifis mahasiswa di Mataram. Selain kegiatan di luar kampus seperti ini, ada pula kegiatan-kegiatan yang laksanakan di dalam kampus yang dibungkus dengan kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar atau diskusi panel. Terdapat beberapa kegiatan yang terlaksana atas inisiatif kawan-kawan mahasiswa sendiri, tapi tak sedikit pula yang sengaja dipesan oleh sang sohibul hajah, para calon dan tim sukses Pilkada.

Aksi para politisi pilkada memfasilitasi acara-acara seperti itu bukan tanpa tujuan. Minimal diharapkan dengan kegiatan-kegiatan itu, sang calon atau bakal calon (balon) yang diusung, dapat meningkatkan popularitasnya atau dicitrakan sebagai figur yang peduli pendidikan. Demi kepentingan politis seperti itu, sangat beralasan jika para calon atau balon dengan murah hati memfasilitasi kegiatan-kegiatan mahasiswa walau harus menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya.

Sambil mengikuti dinamika pertemuan-pertemuan begituan, saya kok tergelitik untuk mengamatinya secara kritis. Bagaimana idealnya peran yang mesti di ambil para kaum muda ini pada pilkada 2008? Masih perlukah mahasiswa “netral” dengan idealisme yang akrab di benak mereka? Apa yang bisa dimanfaatkan kaum muda dalam Pilkada nanti?

Pertanyaan-pertanyaan itu rasanya penting di jawab, sebab bagaimanapun juga hegemoni mengikuti irama politik mayoritas di NTB dikalangan kaum muda (mahasiswa) rasa-rasanya sudah keterlaluan bahkan melampaui wilayah. Irama politik mayoritas yang saya maksud adalah irama politik yang kurang berpihak pada kepentingan rakyat. Untuk mendefinisikan bagaimana irama politik seperti ini nampaknya agak sulit. Namun intinya saya kira adalah politik yang tidak mengindahkan nurani dan akal sehat. Jika definisi ini belum cukup, maka saya kira kita sama-sama mencarinya nanti atau mungkin hanya saya yang awam definisi ini bahkan awam tentang politik secara keseluruhan. Saya tidak tahu.

Nah, ketika Pilkada menjadi wacana yang deras masuk ke ruang-ruang kampus, kaum muda ternyata kurang kreatif dan arif menyikapi lalu terjebak pada orientasi materialis dan pragmatis ala politisi. Intelektualisme yang bercirikan akal sehat dan nurani di tinggalkan jauh-jauh. Politik yang dilakukan terjebak seperti Machiavelli. Politik serba culas, yang ada hanya kepentingan.

Ada sebagian dosen bilang, wajar mahasiswa ikut andil dalam agenda-agenda politis, karena mahasiswa juga perlu belajar berpolitik sejak masih berdiam di kampus. Komentar ini saya komentari lagi, memang pembelajaran politik perlu dan bahkan harus bagi mahasiswa, tapi harus lebih akademis dan netral.

Posisi netral buat saya bukan berarti mereka steril dari politik dan tidak boleh melakukan aktivitas politik, yang saya maksud adalah semestinya mereka bisa tidak melakukan politik rendah yang hanya berorientasi kepada kekuasaan dan kepentingan, hanya mengedepankan kekuasaan, jabatan, serta pemenangan pemilu dan pilkada. Sebaliknya diharapkan mereka mengamalkan politik tinggi yaitu politik moral yang mengedepankan idealisme dan etika, mengutamakan kepentingan rakyat dan negara, serta menjunjung tinggi demokrasi, keadilan dan hak azasi manusia.

Peran lainnya yang mungkin dimainkan kaum muda dalam pilkada adalah mendidik masyarakat pemilih, agar nantinya, mereka menjatuhkan pilihannya berdasarkan pertimbangan objektif rasional bukan berdasarkan pertimbangan pragmatis, kultural, bahkan pertimbangan emosional belaka, apalagi hanya sekadar balas jasa karena telah menerima “sogokan” dari salah satu calon atau balon.

Selanjutnya kaum muda ini bisa menjadi “wasit” atau “juri”-lah. Melakukan pemantauan secara objektif terhadap seluruh proses pelaksanaan pilkada nanti, sehingga pilkada terselenggara dengan baik dan benar dan menghasilkan pimpinan yang sesuai keinginan masyarakat banyak.

Tentunya kaum muda (mahasiswa) akan sulit memainkan perannya dalam melakukan pendidikan politik, melakukan pemantauan, dan menegakkan demokrasi jika tidak didukung semua pihak. Karenanya kita mesti s aling menyadarkan. Bahwa dalam pilkada ini, mahasiswa jangan tergoda rayuan calon dan balon apalagi sampai rela “menjual” harga diri kampus dan organisasinya. Idealisme yang kaum muda punya, saya kira bisa diarahkan secara sederhana yakni limaslahatil ummah, untuk kepentingan orang banyak. Namun, jika kaum muda ini mudah saja mencemari intelektualisme hanya karena kepentingan sesaat, maka sungguh kaum muda kita dalam krisis karena telah kehilangan nurani dan harga diri.[]

*Koord. Tadarrus Jaringan Islam Kampus (JARIK) Mataram
Blog : http://jhelliesite.blogspot.com/

2 responses to “Pilkada dan Netralitas Kaum Muda

  1. wacana yang di bangun tentang netralis kaum muda dalam pilkada merupakan hal yang sangat mustahil karena yang terlibat langsung adalah aktivis – aktivis kepemudaan yang secara otomatis tidak terlepas politik pragmatis.pemuda indonesia secara umum memang memiliki kesamaan tetapi berbeda dalam mengejewantahkan entitas kulturalnya,khususnya antara suku-suku baik sasak, bima, maupun sumbawa khususnya dalam pilgub yang memiliki ego untuk menguasai dan mendominasi sebagai manifestasi dari feodalisme. sebagai reaksi pemuda dalam pesta demokrasi yang menghantui dan menakuti setiap entitas budaya dan daerahnya yang mengharuskan mereka terlibat langsung dalam politik pragmatis.****

  2. tempat ku kg pahi, k krai kelantan malaysia ramai sekali orang lombok bekerja di ladang sawit. sorang yang ku kenali namanya mustiayudin hj salahuddin…..dia pandai urut badan… orgnya hitam manis dan senyum selalu. kalau orang lombok maling….aku takut nak kawan sama dia lagi

    http://aberamly.wordpress.com

    http://ramlyotai.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s