Orang Lombok Menjadi “Maling”, Kenapa ?

pic_0141.jpg
Tulisan itu menyisakan beberapa pertanyaan mendasar dan penting, benarkah prilaku “maling” merupakan budaya bagi sebagian masyarakat desa di Lombok ataukah hanya merupakan ujung dan akibat dari banyaknya pengangguran dan kemiskinan di Lombok?, kalau perilaku “maling” memang budaya bagi orang Lombok, lantas dimanakah peran agama di Lombok dalam membentuk nilai moral pemeluknya?, yang mana telah diketahui bersama bahwasanya Lombok terkenal dengan nuansa religiusnya, yang konon bahkan mendapat sebutan pulau seribu masjid, atau jangan-jangan selama ini orientasi keberagamaan kita sebagai orang Lombok yang “salah” dan perlu diubah?

Oleh : Ahmad Sugeng*

JANUARI lalu, Harian Denpost memuat tulisan berseri mengenai sepak terjang penjahat asal Lombok. Tulisan itu ada empat seri yang dimuat sejak tanggal 10/1/07 s/d 14/1/07. Tulisan itu antara lain berisi, informasi sepak terjang penjahat asal Lombok, baik dari sisi kehidupan pribadi sehari-hari, latar belakang keluarga, modus operasi, jaringan komplotan serta pandangan orang Lombok itu sendiri terhadap prilaku “maling”. Pemuatan tulisan itu didasari dari makin maraknya tindakan kriminalitas di pulau Bali yang dilakukan oleh orang Lombok, mulai dari kasus pencurian, perampokan, pembobolan rumah dan villa kosong, sampai aksi penjambretan terhadap wisatawan asing. Hampir tiap minggu dapat dipastikan ada saja foto penjahat asal Lombok yang terpampang di halaman depan harian Denpost, Denpost sendiri lebih dikenal sebagai koran yang banyak memuat tindakan-tindakan kriminalitas yang terjadi di pulau Bali.

Keberadaan pulau Bali sebagai daerah tujuan wisata yang masih banyak menyediakan lapangan kerja telah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk datang dan mengadu nasip di pulau Bali, khusunya daerah-daerah yang relatif tidak terlalu jauh dengan pulau Bali, seperti Jawa, Madura dan tidak terkecuali Lombok.

Populasi orang Lombok di Bali memang tergolong banyak, walaupun tidak ada angka pasti yang menyebutkan berapa banyak orang Lombok yang tinggal dan bekerja di Bali, namun dapat disaksikan keberadaan orang Lombok di Bali memang tidak sedikit. Mereka tersebar di beberapa daerah yang merupakan kantong ekonomi di Bali, mulai dari Gianyar, Denpasar dan Badung, kebanyakan dari mereka bekerja di sector informal, seperti pedagang kaki lima, penjual makanan dan minuman, dan juga buruh proyek, yang disebut terakhir merupakan bidang pekerjaan yang paling banyak dilakoni oleh orang Lombok.

Di samping jenis pekerjaan yang telah disebut tadi, tidak sedikit dari orang Lombok di Bali yang memilih jenis pekerjaan “beda”, mereka banyak terlibat dalam underground economy (kriminalitas, pelacuran, narkoba, perjudian), hal ini dapat dilihat dari maraknya tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh orang Lombok, yang mana hal itu selalu mendapat liputan khusus dari media local di Bali baik elektronik maupun cetak, dan khusunya harian Denpost, atas dasar itulah harian Denpost merasa perlu untuk melakukan investigasi terhadap perilaku dan budaya orang Lombok, khususnya yang terlibat tindak kriminalitas.

Tulisan itu menyisakan beberapa pertanyaan mendasar dan penting, benarkah prilaku “maling” merupakan budaya bagi sebagian masyarakat desa di Lombok ataukah hanya merupakan ujung dan akibat dari banyaknya pengangguran dan kemiskinan di Lombok?, kalau perilaku “maling” memang budaya bagi orang Lombok, lantas dimanakah peran agama di Lombok dalam membentuk nilai moral pemeluknya?, yang mana telah diketahui bersama bahwasanya Lombok terkenal dengan nuansa religiusnya, yang konon bahkan mendapat sebutan pulau seribu masjid, atau jangan-jangan selama ini orientasi keberagamaan kita sebagai orang Lombok yang “salah” dan perlu diubah?

Penganguran, kemiskinan dan kriminalitas; Sebuah mata rantai

Oscar Lewis, seorang antropolog asal Amerika, memaknai kemiskinan sebagai ketidaksanggupan seseorang atau sekelompok orang untuk dapat memenuhi dan memuaskan keperluan-keperluan dasar materialnya. Pendeknya menurut Lewis, kemiskinan adalah ketidakcukupan seseorang untuk bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya, seperti sandang, pangan, dan papan untuk kelangsungan hidup dan meningkatkan posisi sosial-ekonominya. Sumber-sumber daya material yang dimiliki atau dikuasainya betul-betul sangat terbatas, sekadar mampu digunakan untuk mempertahankan kehidupan fisiknya, sehingga sangat sulit untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Seperti halnya banyak daerah lain di Indonesia, Lombok (NTB) termasuk daerah yang sebagian besar penduduknya masih ber kategori miskin, wajah kemiskinan dapat dilihat dimana-mana, bahkan yang paling heboh adalah ditemukanya kasus busung lapar di Lombok (NTB) pada tahun 2004 lalu. Profesi sebagian besar masyarakatnya adalah petani, dimana dari tahun ke tahun tingkat kesejahteraan petani di Lombok jarang sekali meningkat. Hal ini dapat dimaklumi karena sebagian besar petani di Lombok adalah petani penggarap, kesejahteraan sebagai petani hanya dapat dinikmati oleh pemilik lahan dan tuan tanah.

Tidak memadainya jumlah lapangan kerja dengan jumlah pencari kerja serta diperparah dengan rendahnya pertumbuhan ekonomi di Lombok, telah membuat angka pengangguran dari hari ke hari semakin meningkat baik itu pengangguran terbuka maupun pengangguran terselubung dan hasilnya adalah kemiskinan di Lombok semakin tidak terkendali. Rendahnya kualitas SDM serta sempitnya lapangan kerja telah memaksa orang Lombok untuk tetap survive dengan berbagai cara dan profesi, mulai dari menjadi TKI, buruh kasar, sampai dengan menjadi “maling”. Prilaku “maling” telah menjadi cerita sendiri pada kehidupan sehari-hari orang Lombok, penulis sendiri sewaktu kecil pernah menyaksikan bagaimana seorang maling di hakimi sampai tewas oleh penduduk desa karena kedapatan mencuri hewan ternak.

Prilaku “maling” banyak ditemui di masyarakat Lombok terutama yang mendiami daerah-daerah kering dan kurang produktif. Cerita tentang adanya kampung maling (walaupun tidak semua penduduknya menjadi maling) di Lombok memang bukanlah isapan jempol belaka. Keberadaan pamswakarsa beberapa tahun terakhir ini, cukup efektif untuk mempersempit ruang gerak para maling yang dari hari ke hari aksinya sudah mulai meresahkan, namun hal itu tidaklah membuat serta merta para maling menyerah, tidak bisa beraksi di Lombok, para maling kini mengalihkan daerah operasinya ke pulau Bali, yang secara geografis tidak terlalu jauh dari pulau Lombok.

Pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas merupakan mata rantai lingkaran setan yang sulit untuk diputus. Pengangguran dan kemiskinan merupakan dua sejoli sehidup semati. Kriminalitas adalah anak kandung yang dilahirkannya. Ketimpangan dan kecemburuan sosial adalah dampak yang ditimbulkannya. Jika persentase jumlah angkatan kerja yang menganggur terus membubung tinggi, dapat dipastikan pertumbuhan ekonominya akan berjalan lamban, bahkan dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Akibatnya tindakan kriminalitas sangat mudah terjadi. Kemiskinan itu sendiri kian disadari akibat dampak semakin meningkatnya angka pengangguran. Memang, antara kriminalitas, kemiskinan dan pengangguran sangat terkait erat, tak dapat dipisahkan.

Untuk menekan angka kriminalitas, maka solusi paling ampuh adalah bagaimana mengentaskan rakyat miskin dan menekan angka pengangguran semaksimal mungkin. Selama pengangguran dan kemiskinan tak dapat ditekan, maka kriminalitas akan sulit dapat dihapuskan.

Agama dan Perubahan Sosial

Identitas masyarakat “agamis” yang melekat pada masyarakat Lombok, ternyata tidak selalu mendapatkan pengabsahannya. Ini bisa kita lihat dalam ruang lingkup kehidupan social orang Lombok sendiri. Ada kesenjangan yang menganga antara doktrin keagamaan yang ideal dan fakta empirik yang dapat disaksikan di lapangan. Umumnya, agama, yang hadir di muka bumi selalu hadir dengan mengusung seperangkat ajaran yang selalu berkonotasi pada nilai-nilai kebajikan.

Karena itu, prilaku yang mengarah kepada tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan akan selalu dianggap hal yang kontradiksi dengan nilai-nilai agama itu sendiri. Dalam hal ini adalah adanya prilaku “maling” yang banyak dilakukan oleh sebagian orang Lombok, yang mana prilaku “maling” itu sendiri sangat bertentangan dengan ajaran agama yang mereka peluk.

Kata kunci kritik para pemikir ateisme seperti Feurbach, Freud dan Nietsche terhadap agama adalah alienasi. Kritik para pemikir tersebut, pada umumnya, menyebutkan bahwa kebertuhanan (baca;agama) telah mengasingkan manusia dari kemanusianya. Lebih jauh dijelaskan bahwa, agama hanya dipandang sebagai sebuah ritual dan simbol belaka, selama ini, elit keagamaan hanya sibuk dengan persolalan ritual-transendental, demi mencapai surganya Tuhan. Sehingga persoalan-persoalan social yang ada di masyarakat seperti penganguran, marginalisasi, dan kemiskinan terkadang luput dari perhatian.

Mestinya, pengangguran, marginalisai dan kemiskinan dijadikan prioritas bagi elit keagamaan untuk melakukan perubahan dengan semangat iman dalam bentuk amal. Hal ini sesuai dengan anjuran Tuhan untuk selalu berlomba-lomba dalam kebajikan. Sejatinya, keshalehan ini diwujudkan dalam interaksi dan sistem sosial dalam kehidupan sehari-hari. Peran elit keagamaan harus mampu membawa semangat agama untuk melakukan perubahan social yang nyata dan berarti. Dan sudah selayaknya peran masjid tidak hanya di maknai sebagai tempat ibadah semata, namun keberadaan masjid haruslah mampu menjadi pusat peradaban dan kesejahteraan masyarakat. Menurut catatan statistik, desa di Indonesia berjumlah 800.000-an, sedangkan jumlah kemiskinan di Indonesia mencapai 80 juta jiwa (Jawa Pos,2/2/07) Kalau masjid mau diberdayakan untuk program pengentasan kemiskinan, setiap masjid akan kebagian seribu orang miskin. Sebuah potensi besar yang jarang terpikirkan, demikian halnya dengan keberadaan masjid di pulau Lombok, yang disetiap desa dapat dipastikan mempunyai satu buah masjid besar, yang bahkan sejak dahulu pulau Lombok telah terkenal dengan sebutan pulau seribu masjid.

Jika agama tidak mampu menjadi sumber perubahan, maka agama hanya menjadi sesuatu yang formal tanpa memiliki makna yang signifikan dalam kehidupan manusia, bahkan lebih tragis, secara lambat laun agama akan ditingalkan oleh penganutnya.

Dan sebagai penutup, tentunya ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi para calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) yang akan bertarung di Pilkada NTB tahun 2008 nanti. Para cagub dan cawagub hendaknya dan harus bisa melihat persoalan kemiskinan yang ada di Lombok (NTB) dengan lebih serius, program pengentasan kemiskinan nantinya tidak sekedar basa-basi, namun lebih kepada tindakan yang nyata dan konkrit. Adanya pemikiran yang progresif dari cagub dan cawagub dalam melihat dan melakukan perubahan orientasi terhadap pemahaman keberagamaan masyarakat Lombok (NTB) yang tidak hanya melulu mementingkan ritual-transedental dengan Tuhan, namun bagaimana melihat agama sebagai sebuah solusi untuk melakukan perubahan social, tentu sangat diharapkan. Sehingga dimasa yang akan datang nanti berita-berita dan foto-foto orang Lombok yang termuat dalam koran kriminal tidak lagi terdengar dan terpampang.
Semoga.

* Kontributor http://www.opinikampus.wordpress.com

48 responses to “Orang Lombok Menjadi “Maling”, Kenapa ?

  1. kebanyakn terjadi kesalahpahaman terhadap apa yang telah ditulis di lembar ini. kalau dilihat bahwa permasalahan yang diangkat ini menjurus terhadap rasisme suku yang berkepentingan utnuk menjelekkan suku lain yang dulu pernah mereka jajah. namun sesungguhnya suku sebaliknyalah yang telah melakukan tindakan yang serupa dengan jalan yang lebih halus. mungkin penulis belum memahami bahwa di lombok pun telah terjadi kejadian serupa persis dengan apa yang telah ditulis. namun orang sasak tidak pernah memuatnya. kalau dilihat dari tujuan pariwisata, lombok justru lebih menanjanjikan daripada bali.

  2. kesalahpahaman mungkin saja terjadi, tetapi saya melihat ini tidak ada sangkut pautnya dengan rasisme, saya hanya realistis, kalau bali industri pariwisatanya lebih maju ketimbang lombok, sehingga banyak orang lombok yang pergi merantau ke bali,tanpa bekal keahlian yang memadai,orang lombok banyak terlibat dalam underground economi,kemiskinan tentu saja menjadi penyebab semua ini, dan itu yang ingin saya sorot..tidak lebih!! lantas saya berbicara peran agama dalam membentuk moral pemeluknya..bukankah agama selalu mengajarkan hal-hal yang baik..lantas kalau ada orang lombok yang menjadi maling,bukankan ini hal yang paradoks dengan julukan lombok dengan pulau seribu masjidnya??..

  3. cumi….dimanapun kita berada pasti ada orang jahat dan baik, buktinya di jakarta yang metropolitan yang penuh kemajuan dalam segala bidang ekonomi justru banyak kasus kriminalnya, entah itu dilakukan masyarakatnya atau elite politik. jadi artikel yang ditulis penulis tersebut “salah” penafsiran, dan kurang pemahaman terhadap kebudayaan lombok. mungkin yang dimaksudkan adalah kawin lari dan bukan MALING… ngerti…!

  4. Orang jahat dan baik itu ada dimana saja, seperti di jakarta dengan kemajuan ekonominya sering terjadi kasus pencurian bahkan sampai membunuh, jadi kalau nulis harus mampu melihat berbagai sisi begitu.

  5. kalo dibandingkan antara kondisi kebaikan dan kejelekan memang tidak ada habisnya, jadi saya setuju dengan komentar:

    BECKY Berkata:
    Nopember 6, 2008 pada 3:41 am

    tapi demikianlah kita sebagai manusia harus bersikap bijaksana dalam menyikapinnya, kalo yang dibahas adalah hal hal semacam ini terus, lalu kapan majunya ??? Anda harus cerdas dalam memdeskripsikan naskah tulisan nya juga🙂

  6. apa yang terdapat didalam artikel tidak sepenenuhnya benar dan tidak salah maaf ini hanya berdasarkan sudut pandang saya dalam menyikapi tulisan bagi saya faktor pemicu utama dalah minimnya masyarakat dilombok yang mengecap pendidikan. tapi saya juga mau mengomentari komentar dari mas satria wijaya kalo lombok ingin seperti bali harus lebih banyak belajar dan membuka diri terhadap perbedaan karena industri pariwisata di bali tidak dibangun dalam setahun atau dua tahun tapi bertahun2 lamanya dan saya melihat salh satu faktor kesuksesan industri wisata di bali adalah sumber daya manusia yang mengelola dan mengembangkan sumber daya alam dibali ( sebagai potensi ). saya optimis lombok dapat menjadi seperti bali bahkan lebih. asal sumber daya manusia benar-benar di poles sehingga lombok dapat lebih maju dan pastinya tidak ada artikel ORANG LOMBOK MENJADI MALING KENAPA? oya harus bisa menerima perbedaan. saya bisa bicara seperti ini karena saya besar dilombok lebih dari 17 tahun

  7. Budaya ‘merariq’ atau juga dikenal sebagai ‘kawin lari’ rasanya memberikan pengaruh terhadap pandangan penulis. Mencuri, merampok, memperkosa, membunuh, dan berbagai tindakan kriminal lainnya sebenarnya kalau dipikirkan tidak memiliki korelasi dengan suku bangsa atau budaya orang sehingga tidak etis bila kita menulis sesuatu mengenai kelompok masyarakat hanya berdasarkan analisa yang begitu sempit. Bila lebih objektif, kejahatan di Bali lebih banyak dilakukan oleh suku bangsa lain selain Sasak dan menjadi pertanyaan besar mengapa TEMA MIRING ini dipakai untuk menampilkan suatu etnis tertentu. Hal ini dapat diartikan sebagai tindakan menyerang suatu kelompok tertentu dan dapat memancing permasalahan karena setiap etnis atau kelompok masyarakat akan merespon berbagai hal negatif yang ditudingkan kepadanya. Alangkah bijaknya Anda menulis tanpa menyertakan pemikiran Anda yang tidak berdasar. Seandainya saja Anda melihat dari sudut pandang tentang “Angka kejahatan orang Lombok di Bali selama tahun…..” mungkin rasanya akan menjadi sebuah catatan saja yang tidak melibatkan ‘Orang Lombok’ secara keseluruhan.
    Bayangkan saja bila Anda dan salah satu saudara dipenjara karena melakukan kejahatan yang berbeda kemudian semua orang menjustifikasi bahwa keluarga Anda adalah keluarga penjahat, apakah keluarga Anda akan senang mendengarnya???
    Saya harap Anda mau merespon tulisan saya…

    Lalu Ari Irawan

  8. anda menulis :
    “Jika agama tidak mampu menjadi sumber perubahan, maka agama hanya menjadi sesuatu yang formal tanpa memiliki makna yang signifikan dalam kehidupan manusia, bahkan lebih tragis, secara lambat laun agama akan ditingalkan oleh penganutnya.”

    agama akan begitu jika hanya diterapkan secara individu saja : cuma ngomongin shalat, zakat dll. pasti ga bakalan bersifat solutif terhadap problematika ummat.

    beda halnya jika agma secra proporsional diberikan ruang untuk menangani masalah tersebut..

    anda jangan cuma bisa mencela agama kalo masalah datang, tanpa membiarkan agama ngambil tempat di ranah publik agar dia membuktikan apakah dia mampu ato tidak

    kalo agama anda hujat terus tanpa dusuruh membuktikan, kapan agama akan menjawab tantangan anda???

    yang logis dong mas!!!!!

  9. wakakak..nalar kiri telah mati dari dulu memang. jgan dipikirin bung salman.inilah kuasa teks, penulisnya hanya mampu menalar dengan teks tidak diluar teks tsb.hmmm..salam pembebsan dari lombok timur

  10. parahnya lagi..wordpress ini gak ada adminnya komentarnya. gak mencerdaskan kalo kita hanya menulis komentar aja..kritisi dong komntar2 yang ada bung admin

  11. terlepas dari benar atau tidaknya isu ini, perlu di akui, pemahaman para stake holders lombok khususnya para kyai2, pemuka agama belum menunjukkan pemahaman akan islam yang membebaskan. masih terjebak pada pemikiran tradisional islam yang tekstual. sehingga lebih mengutamakan aspek ritual dari agama ketimbang aspek yang paling penting, kesejahteraan. saya kira, memang perlu dilakukannya re-interpretasi terhadap pahaman keagaman di lombok. mungkin wacana2 macam teologi pembebasan hasan hanafi, ali enginer, dkk perlu disuktikkan secra massif di lombok sebagai bahan bakar untuk membangun NTB lebih baik…ok. salam dari makassar.

  12. bwt bung rusdy: nalar teks! nge-posmo, atau……… asyik tuh!

  13. Saya pernah mendengar,
    1.Bahwa Lombok dahulu kala adalah tempat pembuangan eks narapidana dari Bali,
    2.Masyarakat yg mejadi Target Operasi/TO (yg kecurian) mempunyai semacam kepercayaan/mitos seperti ‘ah biar saja,kalo si maling diperkara akan merepotkan si Target sendiri’entah teman si maling akan kembali dan mencuri lebih banyak,atau melukai.Jadi maling lama2 dianggap hal biasa dalam sebagian masyarakat Lombok.

    Maaf sebelumnya,Mohon dikoreksi apabila ada kata2 yg salah
    peace

  14. permasalahan maling di Lombok, tidak bisa di generalisasikan untuk semua orang yang ada di lombok dan itu juga bukan merupakan perilaku atau akar budaya yang ada di lombok, namun karena ketidak berdayaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, dan kondisi ini berjalan dalam waktu yang cukup lama sehingga masyarakat terjerumus kepada kelaparan yang sitematis, dan kalo dikajipun permasalahanan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor luar dan dalam. mengenai rendahnya kemampuan pemerintah khususnya pemerintah daerah dalam menanggulangi permasalahan ini melalui program-program pengentasan kemiskinan yang masih belum optimal dalam menjangkau daerah kantung-kantung kemiskinan.dengan adanya pembangunan yang pesat di Lombok daerah selatan yang selama ini menjadi daerah kantung kemiskinan diharapkan dapat membawa imbas bagi perekonomian masyarakat sekitar. masyarakat sekitar jangan hanya dijadikan penonton dan yang menikmati hanya pemilik modal dan koruptor saja.

  15. 1 juni 2011, kami 3 orang traveler dari jawa liburan ke lombok, rutenya gili trawangan, pulau kondo dan rinjani. alamnya memang menawan, namun orangnya mengecewakan. mungkin kami memang lagi bernasib sial. ketika naik gunung rinjani, pendaki di wajibkan bawa porter, 3 hari kami mendaki. hari ke 3, tepatnya jam 5 sore kami turun dan smpai di pemukiman warga, rencananya sih mau langsung pulang, jam menunjukan pkl 9 malam, saat kami mau pulang, roda motor kami kempes, akhirnya kami menginap di rumah porter yg mendampingi kami ketika traking. kami pun ber 3 tidur di rumahnya, sblm tidur aku sms tmn dan handphone aku ku masukkan di tas, paginya porter itu minta kunci motor dan mau menembel roda kami yg kempes, tak lama kemudian porter kembali dan bilang kalau roda dalam pecah sekitar 20 cm, ..porter minta uang 50ribu utk harga roda dlm, akhirnya kami pun memberikanya. sblm pulang kami mengajak porter itu sarapan, dan membelikannya nasi beberapa bungkus untuk orang2 yang ada di rumahnya. setelah selesai makan, aku membuka tas ku dan mencari handphone aku, ternyata ga ada, aku tanya ke porter itu, dia ga jawab, cuma diam aja, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang, 3 jam kami naik motor, roda belakangku kempes lagi, karena rasa penasaran, aku menyuruh bengkel utk membongkar roda belakangku, ternyata roda dalamku masih yg lama, bnr2 ketipu kami. dari awal rencananya kami mau mempromosikan pariwisata lombok, karena kami suka jalan2 dan punya banyak tmn2 di luar negeri yg ingin menikmati alam indonesia, akhirnya kami menetapkan utk tidak mengambil rinjani sebagai rute traveler. semoga hanya kami yg menjadi korban. salam.🙂

  16. thank’s infonya gan jangan lupa kunjungi blog ku juga yach

  17. Yang jelas orang lombok tuh gemar merebut istri/pacar orang lain ada yang menggunakan rayuan gombal ada juga yang menggunakan guna-guna.
    Makanya hati2 saja kalo sama orang lombok atau misalnya punya istri/pacar jangan sampai deh kenal sama orang lombok.

  18. Terus terang orang lombok ini selalu menjelekkan suku lain, tetapi di pulau seribu masjid ini kok banyak maling ya ? Ini juga Ongkos kita dari selong Mataram – Mataram Selong, Labuhan Lombok Mataram – Mataram Labuhan Lombok waktu pergi pasti lain ongkosnya waktu pulang pasti lebih mahal lagi ongkosnya. saya sudah estapet di Pulau jawa walau dikatakan rawan tetapi tidak seperti di Lombok ini. Pengalaman di Pulau Sumbawa saya dari Tano ke Taliwang dan Taliwang Tano saya bayar ongkos waktu itu Rp. 4.500,- uang saya Rp. 5.000,- disusuk Rp. 500,- Coba di Lombok Wajib di Embat. dan Pengalaman di Pulau Jawa di Terminal Bis (Pulau Gadung, PuroBoyo) masih ada orang sampai pagi menginap di terminal. Tapi coba dilihat di Terminal Mandalika diatas jam 10 malam kalo orang bisa dibuat jimat karena takut masuk di terminal itu. ini kenyataan jangan dipungkiri dasar anak maling maka pasti menjadi maling. Jangan terlalu membela diri cek diri caranya kok nggak malu ya.

  19. Kalau NTB tidak bisa mengubah perilaku penduduk, percuma pemerintahnya menggembar gemborkan pariwisata Lombok, karena biar bagaimanapun, keamanan adalah hal paling utama dalam pariwisata..

  20. Oya satu lagi, di Lombok katanya ada tempat namanya Kuta dan Kamasan yang sebenarnya ada di Bali, lucu juga kalau sampai nama tempat daerah lain juga dirampok.. ^^

  21. Kami di pulau seberangnya ternak habis dicuri oleh orang lombok datang mencuri pakai perahu

  22. Orang lombok itu menjadi maling sebagai kedigjayaan dan juga sebagai akibat terlalu lama dijajah oleh orang bali sehingga tertekan sehingga bentuk perlawanannya adalah memaling coba dilihat atau perhatikan bekaya orang lombok itu menyayat hati dan sedih sekali. ?..

  23. MALING TERIAK MALIIIIIINNNGGGGGGGGGGG

  24. tulisan ga bermutu, tendensius, provokatif dan menebar kebencian terhadap suku tertentu!! ironisnya ditulis oleh “intelek” dr kalangan civitas akademik.

  25. saya tiap pindah kontrakkan dibtn wajib dikerjai…..alias kecurian…..dan seolah-olah masyarakat di sini menganggap itu wajar…..apalagi pindah kontrakkan ke kampung2…..lebih parah lagi…..ckckckck……

  26. Tak baek menjelek2kan daerah lain,,,,sesama bangsa indonesia mari kita bangun,,,,jangan hambat perkembangan suatu daerah,,,

  27. Budaya dan agama itu adalah dua hal yang bertentangan. coba cermati..

  28. memag gomog enak lidah gak bertulang..mas bro embak bro di mana2 ada org jhat n org baek..gak usah burukin suku mana2..coba d byagin klk dlm 1 klwarga mas bro mbak bro hya 1 yg jd jhat..trus org blgin klwarga mas bro mbak bro klwarga jhat sdag kan mas bro mbak bro gak pernah glakuin kjhatan apa mas bro mbak bro gak skit hti vs mrah..pikirin!!!!!!!!!!!! masbro mbak bro blang lombok miskin mukin ya tp Q banga jdi anak lombok……

  29. memag gomog enak lidah gak bertulang..mas bro embak bro di mana2 ada org jhat n org baek..gak usah burukin suku mana2..coba d byagin klk dlm 1 klwarga mas bro mbak bro hya 1 yg jd jhat..trus org blgin klwarga mas bro mbak bro klwarga jhat sdag kan mas bro mbak bro gak pernah glakuin kjhatan apa mas bro mbak bro gak skit hti vs mrah..pikirin!!!!!!!!!!!! masbro mbak bro blang lombok7 miskin mukin ya tp Q banga jdi anak lombok……

  30. Yg punya Blog Bajingan..
    siapapun km yg ngepos artikel ini..
    Saya katain Km BAJINGAN..

    Kalu ngepos yg sopan Bajingan.

  31. Dgn ada nya wacana ini malah bagus,biar pemerintah bisa memperhatikan masyarat yg bawah garis kemiskinan…
    Untuk penulis wacana saya mohon penulisan nya secara specipk wilayah nya lombok nya di mana…
    By ZUHRI dari Lombok

  32. Seribu mesjid dengan profie maling di Lombok (Metro TV)
    5x sehari sholat di mesjid, habis sholat saya keluar jadi maling, karena islam memang sangat miskin, buat saya harus jadi maling karena sunnah nabiku juga Maling. Kalau pohonya jahad, pasti buahnya jahad.

    Karena nabiku yang kumuliahkan dengan ajaran maling di Medina dan Khaybar, kota Lombok dapat julukan ‘DESA MALING DENGAN SERIBU MESJID….karena memang islam itu sangat mesjid mau tak mau saya harus jadi maling agar perut muslim tidak lapar.

  33. Tempat wisata di lombok emg menawan,,saya kagum sama lombok,,
    Tapi org disana sangat sangat mengecewakan!!!stlah menyebrang dari bali ke lombok selama 5 jam,,saya dan teman” saya mampir di indomaret untuk membeli minuman,,tanpa sengaja kami langsung minum disana tanpa menyadari kalau ini adalah bulan puasa ,trus tiba” ada seorang bapak” di seberang jalan marah” kami dilarang untuk minum disana!!!saya tidak melihat satupun org baik disana semua terlihat jahat dan kejam bahkan keesokan harinya kami menuju air terjun sendang gile yg berada di bawah gunung rinjani,kebetulan waktu itu kami tidak mengajak guide…setelah sampai di weterfall pertama kami melihat seorang guide mencuri barang bawaan milik wisatawan asing,,waduuhhhhhh…
    Tempat wisatanya memang menawan hanya saja masyarakat disana sepertinya kurang peduli,,,sampah berserakan dimana mana,,terlalu fanatik,,keluar pakek celana pendek aja semua pada liatin,,kayak liat setan aja!!!!

  34. rasanya tèrlalu sulit lombok untuk maju.karna sikap para pemimpinnya.coba anda pikir!.kalau ketua rw sudah bisa korupsi apalagi yg atasan.

  35. Jangan menghina darah kami bjaingan mbak bro mas bro gak smua orng jadi maling dimana mana ada maling bajingan

  36. Bener sih Lombok itu sarang Maling, saya 3 thn lebih tinggal di BTN dari perkarangan sampe rumah bisa kemalingan, dan selalu kejadian di siang hari. Motor2 di masjid juga rawan di maling, org2 di kampung Lombok itu tidak pernah merasa berdosa sudah ngambil barang orang, apalagi kalu sudah sampai beda kampung, seperti memang sudah haknya.. Saya sangat menyukai alam dan kehidupan di Lombok, sayangnya memang mayoritas warga berbudaya Maling. Ini dari pengalaman pribadi, bukan asal cuap.. Semoga org Lombok bisa berubah, saya yakin pasti akan lebih maju dari Bali..

    • Lo pernah denger gg kata bang napi “Kejahatan terjadi bukan karna hanya ada niat pelakunya tapi jg karna ada kesempatan”…mkanya jadi org kudu hati2 jangan sembarang naroh apa2..salah lo sendiri yg telEdor….sukur2 dsini gg banyak begal yg bengis kyak di Jawa…sampe bunuh korban…jgn karna hanya ada sebagian kecil yg berperilaku buruk trus Lo nyalahin semua org lombok…

  37. kalau ente pade masih cari makan di Lombok lalu bilang orang Lombok Maling berarti ente pade termasuk orang munafik

    • Orang lombok terkenal sbgai pemalink bukn krna paktor ekonominya melainkan gengsi untuk kerja pdahal dia jadi PNS ooo mlah dia sukanya malink drpda jdi PNS sperti bapakku sndri

  38. waduhhh klok gni pda mlah jdi panas ,.,.saling kata,in malingk,,yang mrasa bukan mling jdi panas neh,.,.stop maling stop brabe,.,.

    • Semoga maling dilombok semuanya mati, amin, saya org lombok asli sasak, saya akui dilombok banyak maling,semoga maling2 dilombok ketangkap , kayak di lenek lotim dibakar hidup2 sama masyarakat, jgn kelombok kalau takut sama lombok, toh juga lombok tidak miskin gara2 kalian ndak dtg berwisata, sasak bersatu jaga keamanan lombok, amphibi lombok dan polisi semoga bisa jaga keamanan dilombok, tindak tegas saja orang lombok yg jahat nakal yg jadi maling tu bunuh saja, salam dari pancor lombok timur

  39. jdi begini artikel diatas ada unsur persaingan wisatawan bali dgn lombok .
    jdi yg merasa kalah persaingan seprti bali ia berusaha utk menjelekkan keamann dan setuasi di lombok . sy sebagai org lombok jjr sja sy mersa sakit hati dan di hina namun sy menanggpinya dgn santai krna saya tau yg membut artikal ini itu org bodoh dan tdk tau cara utk mendapatkan simpati tempat tinggalnya sekian dan terimakasih .

  40. Anjing Lo yg buat blog ini…lo intinya menghina kami org lombok…keindahan pulau kami jauh lebih bagus ketimbang Bali….Yang namanya kejahatan pasti ada dmana mana….Lombok hanya sebagian kecil…otak lo terlalu dangkal dalam pembahasan seperti ini…dan condong ke SARA…anjing lo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s