Pesta Blogger 2007

perspektiflogo.gif
Seputar Indonesia
08 November 2007

Melihat sukses Pesta Blogger 2007 baru-baru ini, yakni blog dinyatakan sebagai forum ekspresi mutakhir, timbul pikiran, apakah blog akan juga berperan sebagai ajang kampanye presiden?

Sudah diketahui luas bahwa blog memainkan peran penting dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2004. Bahkan, banyak yang mengatakan, kalau John Kerry lebih pandai memanfaatkan blog, dia bisa menang waktu itu. Blog seharusnya bisa memberikan respons cepat terhadap kampanye negatif yang diluncurkan kubu Bush mengenai kejadian di perahu perang di Vietnam.

Sering suatu kejadian ditentukan oleh timing dan teknologi.Ambil contoh, kampanye kepresidenan Al Gore tahun 2000. Dia kalah tipis di negara bagian Florida. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa sebetulnya Gore menang,tapi dipermainkan oleh tipu muslihat penghitungan suara.

Kenyataannya, pemenangnya adalah George W Bush, yang popularitasnya merosot tajam pada 2007 gara-gara petualangannya di Irak dan sikap mutlak-mutlakan terhadap politik kelompok Islam. Al Gore justru sebaliknya, mencapai posisi paling terhormat dalam karier politiknya. Ia mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian berkat usahanya membatasi Global Warming.

Film buatan Al Gore “An Inconvenient Truth” justru memenangkan hadiah Oscar untuk film dokumenter terbaik. Calon presiden yang kalah pada 2000 itu mendapat dua kehormatan puncak di tahun 2007, yaitu Oscar (Academy Award) dan Nobel Peace Prize. Sementara Bush, yang mengalahkannya, hanya mendapat celaan dan tertawaan ketika ingin mengembalikan wibawanya.

Tahun 2000 adalah tahun buruk bagi Al Gore, sedangkan 2007 adalah tahun buruk bagi George W Bush. Internet dan multimedia ramah terhadap Al Gore yang menguasainya, kejam pada Bush yang gagap teknologi (gaptek). Menurut pengakuannya sendiri, pemakaian internet bagi dia adalah sebatas melihat tanah ranch di Texas melalui Google Earth. Bagaimana pada 2008?

Barrack Obama dan Hilary Clinton di pihak Demokrat sangat memanfaatkan blog untuk mengumpulkan dukungan suara dan dukungan dana. Di pihak Republik, belum terjadi penyadaran yang meluas terhadap media baru karena calon seperti John Mc Cain dan Rudy Giuliani adalah tokoh politik yang dibesarkan di dunia nyata.Paling jauh, pemanfaatan teknologi bagi mereka adalah televisi.

Musibah World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 membuat Rudy Giuliani bersinar sebagai Wali Kota New York. Sidang terbuka senat menunjukkan kecemerlangan John Mc Cain sebagai tokoh yang konservatif dalam nilainilai kebangsaan, tetapi liberal dalam konsep sosial ekonomi. Melayangkan pandangan kita ke Indonesia, belum kita lihat peran signifikan blog atau dalam profil calon presiden.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang mempunyai blog, tapi kelihatan kurang yakin, Jusuf Kalla malah meremehkan internet.”Saya tidak pernah buka email. Buat apa punya sekretaris, kalau saya harus buka email sendiri?”ungkap Jusuf Kalla.

Faisal Basri dan Sarwono Kusumaatmadja, dua calon Gubernur DKI Jakarta yang diminati pemilih cerdas, tersisih jauh oleh Sutiyoso –maaf, Fauzi Bowo– dan Adang Daradjatun yang memasang foto mukanya di jalan-jalan Jakarta tanpa memusingkan blogging atau social networking melalui Web 2.0.

Malah,wartawan pun sering tidak dianggap peserta serius dalam proses demokrasi karena uang telah menjadikan pelicin jalan ke arah pengumpulan suara. Pada zaman Orde Baru, kunci kemenangan adalah Soeharto. Siapa dapat restu, dia bakal menang. Makin sedikit muncul di media,makin bagus. Sekarang, ada pilihan dua pola pemenangan suara. Pertama, dengan politik uang.

Kedua, dengan politik media. Kerangka politik uang sudah jelas.Kumpulkan uang sebanyak mungkin dari korupsi jabatan sebelumnya, atau dari uang Soeharto yang sekitar USD 25 miliar, atau cari investor yang dijanjikan keuntungan dari permainan proyek pejabat terpilih. Pola yang kedua, membangun dukungan publik melalui media jauh lebih rumit karena lebih jujur.

Cara ini sudah dimulai oleh SBY dalam Pemilu 2004. Walaupun Megawati menguasai massa dan Golkar menguasai birokrasi, SBY menang dalam opini publik dan dalam penampilan di televisi. Pada Pemilihan Presiden 2009, diharapkan pola kedua (membangun dukungan publik) bisa menggeser politik uang. Sebab bagaimanapun, memenangkan suara melalui pencitraan di media massa dan internet akan membuat proses pemilihan jauh lebih jujur daripada mengandalkan uang untuk memfasilitasi hubungan pemilih dan calon.

Semua media massa konvensional telah membuka divisi internet dengan wartawan yang membuat liputan website menuju blog. Semua kampanye politik mempunyai blog, walaupun sebagian besar masih malu-malu. Keuntungan blog politik, yaitu kalaupun calon yang diperjuangkan kalah dalam pemilihan, data dan sikap calon tetap tersimpan dalam internet yang akan menjadi bagian dari referensi untuk kemudian hari.

Dalam bahasa Web 2.0, blog politik menciptakan collective intelligence dan juga political networking bagi orang di luar jangkauan lingkaran fisik penongkrong sekretariat dan posko partai. Seperti corporate blog, website yang berkaitan dengan tokoh politik atau tokoh media sebagian besar masih terasa dipaksakan. Membuat blog memang sederhana dilihat secara teknis, tapi tidak mudah menjadi blogger yang efektif.

Misalnya, kalaupun setiap pemandu talk show mempunyai website, banyak yang tidak menarik. Daya tarik sebuah blog tergantung hubungan penulis dengan pembaca. Boleh dipandang sebagai ”reaksi kimia” atau ”magic touch” yang bisa menggalang energi dalam blogosphere. Blog akan punya peran yang semakin besar dalam Pemilihan Presiden 2009.

Tapi, yang akan berperan adalah blog yang sudah hidup dengan pengunjung yang tetap. Tidak bisa seorang calon presiden menulis beberapa kata dalam suatu website dan berharap hasilnya bisa disebut sebagai suatu blog. Tinggal kita bayangkan,siapa yang bisa membuat blog paling efektif; Megawati, Sutiyoso, SBY, Wiranto, atau Jusuf Kalla. Atau seorang blogger yang mempunyai visi dan kepemimpinan politik.(*)

Wimar Witoelar
www.perspektif.net

One response to “Pesta Blogger 2007

  1. Saya sepakat bahwa di masa depan wahana semacam ini akan semakin populer, atau bahkan sudah sangat populer?

    Salam kenal
    http://www.saidiman.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s