Male Chauvinist Pig

3-beautiful-woman-eyes.jpg
“ Budaya Pesaji yang dikenal di Lombok menegaskan istri dan anak perempuan tidak boleh makan sebelum suami atau laki-laki makan terlebih dahulu. Anak perempuan mendapat sisa sedangkan istri menunggu sisa dari anak” ( M. Yamin, Budayawan sasak)

Lady M. Dahlan *

Hal apa yang bisa disimpulkan dari kutipan diatas? Betapa dihormatinya laki-laki oleh perempuan sampai menunggu laki-laki menyelesaikan makanannya baru kemudian perempuan bisa menyantap juga. Perempuan sebagai istri malah mendapat giliran makan setelah anak perempuannya. Itu pun kalau ada yang tersisa. Dan, ketika tidak ada yang tersisa maka sang istri tidak makan. What a culture!

Kebudayaan selalu menarik untuk dibahas apalagi yang nampak jelas memarginalkan satu pihak. Pemarginalan perlu dibahas karena bagaimana pun ketidakadilan akan melahirkan perlawanan. Seperti halnya Orde baru yang mengukir sejarah selama 32 tahun hanya untuk mengalami proses kehancuran pada kediktatorannya yang terkenal militeris. 32 tahun senyatanya sudah bisa mengajarkan masyarakat bahwa pada akhirnya sebuah rezim yang menindas pastilah berakhir.

Begitu juga rezim yang menindas perempuan (marginalisasi) akan berakhir dalam proses waktu dan perjuangan yang panjang. Pemarginalan terhadap satu pihak yaitu perempuan perlu dikaji agar tercipta budaya yang memanusiakan perempuan. Pemanusiaan perempuan adalah Menghormati Hak-Haknya terhadap akses yang selama ini dikhususkan kepada laki-laki saja.

Dunia publik semisal politik dan ekonomi cenderung diidentikkan dengan laki-laki. Dengan demikian, tercipta paradigma yang terlanjur mengakar kuat di masyarakat bahwa kedua bidang ini adalah arena laki-laki yang tidak bisa ditangani oleh perempuan betapa pun cerdasnya perempuan. Pemikiran yang keliru ini tidak hanya mendiskreditkan perempuan pada posisi inferior tetapi juga memposisikan laki-laki pada tempat makhluk yang berpikiran dan berhati baja ( egois, subjektif dan cenderung menolak kiprah publik perempuan karena pikirannya sudah disetting untuk memandang rendah perempuan). Menjadi agenda penting bagi perempuan untuk membongkar wacana marginalisasi ini dengan mengambil haknya untuk memberdayakan diri dan masyarakatnya. Pemberdayaan ini tentu bukan proses singkat mengingat kedudukan dan isu-isu perempuan masih terkurung dalam sangkar wacana belum pada realitas terciptanya kesejajaran antara perempuan dan laki-laki dalam dunia publik. Agenda ini kemudian semakin ribet ketika perempuan menggulirkan wacana kesejajaran (Equality) dan mengangkat isu-isu perempuan (Dominant Issues) serta pengkajian pengarusutamaan gender (Gender mainstreaming). Hal ini diblok oleh wacana patriarkis dengan sinyalemen bahwa gerakan perempuan adalah produk sekularisme ciptaan budaya barat yang akan menggoyahkan pilar-pilar budaya lokal. Apa iya gerakan perempuan atau yang dikenal dengan feminisme adalah produk barat?

Feminisme pada awalnya lahir di Eropa dan mengalami perkembangan pesat di Amerika Serikat. Dari Amerika Serikat Feminisme menginspirasi perempuan di negara-negara belahan dunia lain untuk memperjuangkan nasib perempuan. Di Eropa sebelumnya pun para perempuan tidak jauh berbeda dengan kondisi perempuan di negara-negara dunia ketiga. Mereka bekerja tapi tidak mendapatkan upah yang sama dengan laki-laki hanya karena mereka perempuan ( dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang mengalami kodratnya; menstruasi, melahirkan dan menyusui). Perusahaan-perusahaan yang dikuasai oleh laki-laki dan dimanage dengan sistim patriarkis cenderung menolak memperkerjakan pegawai perempuan apalagi perempuan yang sudah menikah karena jika perempuan dalam masa kehamilan dan melahirkan akan lebih sedikit pekerjaan yang bisa dilakukan. Sampai pada point ini terbersit satu pertanyaan. Siapakah yang mengingkari kodrat perempuan; apakah (sebagian besar) laki-laki dengan budaya patriarkisnya ataukah perempuan?

Ketidakadilan dalam upah kerja mendorong perempuan untuk menuntut keadilan dan melahirkan Equal Pay Right pada tahun 1963 di Amerika. Menyusul kemudian di tahun 1970an Inggris mengeluarkan kebijakan yang sama disebabkan oleh gelombang massa perempuan yang menuntut persamaan jumlah upah mengingat mereka bekerja dengan waktu yang sama banyaknya dengan laki-laki. Indonesia yang memiliki budaya patriarkis kental sudah memiliki Undang-Undang RI No.23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga (UU PKDRT). UU PKDRT ini tentu tidak dibentuk dengan sendirinya karena kalau tidak ada sebab yang mengakibatkan UU ini ada berarti pemerintah Indonesia dalam membuat UU pastilah mengada-mengada. Tentu, ada hal yang melatarbelakangi lahirnya UU ini.

Kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh stereotype masyarakat yang melabelkan perempuan sebagai makhluk yang selalu harus mematuhi laki-laki. Stereotype ini sekali lagi terlanjur mengakar dalam kehidupan masyarakat sehingga perempuan pun hanya menerima budaya penomorduaan (Second Sex) ini sebagai kewajiban. Dan, perempuan perlu sedini mungkin untuk memberdayakan diri dengan menggunakan logikanya dalam memilah budaya mana yang perlu diikuti dan mana yang tidak. Dengan kata lain, tidak semua budaya patriakis yang eksis dalam kehidupan wajib diikuti karena tidak semua budaya mengajarkan kesejajaran dan keadilan. Dan, siapa pun tahu untuk mewujudkan kehidupan yang damai tidak bisa direalisasikan dengan terus melakukan penindasan dan mempertahankan ketidakadilan terhadap perempuan.

Penulis sampai pada kesimpulan bahwa feminisme secara geografis memang lahir di dunia barat dalam artiannya bukan lahir di Indonesia. Pertanyaannya, apakah penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan hanya eksis di dunia barat saja, sehingga perempuan Indonesia tidak perlu berjuang untuk kesejajaran? Secara ideologis Feminisme lahir dari penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan. Dan, karena penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di dunia barat tetapi juga diberbagai belahan bumi tidak mengherankan jika paham ini pun berkembang diberbagai tempat di bumi.

Budaya patriarkis sepatutnya tidak perlu mencari-cari alasan untuk membendung gerakan perempuan. Apalagi sampai mengatasnamakan Budaya Lokal dan Dalil Agama untuk mementahkan gerakan perempuan. Feminisme tidak lahir di Indoneia dan bukan berarti ia paham yang salah dan kafir. Tidaklah sampai hal ini menjadikan masyarakat Indonesia terlalu memuja nasionalismenya sehingga kemudian lahir lagi budaya sempit dari sekumpulan Male Chauvinist Pig yang akan menambah daftar panjang penderitaan perempuan.

Maka, dengan demikian harus ada upaya bersama untuk kembali membongkar (dekonstruksi) postur budaya lokal. Karena sebagian besar pada masyarakat Timur marginalisasi perempuan banyak dilegitimasi oleh konstruksi budaya setempat. Memang, sejarah lahirnya kebudayaan pada masyarakat tradisional diilhami oleh paham yang mempatkan laki-laki sebagai aggressor dan pembentuk kebudayaan menjadi milik laki-laki. Tampak banyak hikayat dan aneka atribut budaya yang menonjolkan haru-biru kedigdayaan laki-laki dalam proses pembentukan dan perjalanannya.

Gadis Arivia pernah memberi kesaksian dengan membongkar budaya Eropa. Gadis menemukan bahwa di Eropa terdapat banyak pemikir perempuan yang tak kalah hebatnya dengan laki-laki namun tidak pernah ditempatkan secara sama dengan pemikir laki-laki. Perempuan-perempuan hebat dalam sejarah msyarakat Eropa telah dipinggirkan oleh sejarah karena etalase kebudayaan Eropa yang patriarkis.

Hampir seluruh kebudayan dunia menempatkan perempuan secara tidak sama dengan laki-laki. Walau Filipina misalnya menyangkal bahwa kebudayaan Filipina lebih menghargai posisi perempuan ketimbang laki-laki. Terbukti misalnya pada perjalanan pemerintahan di Negara itu yang nyaris perempuan lebih banyak menempati posisi penting di struktur pemerintahan (60%). Klaim itu perlu diuji karena bila melihat beberapa cerita rakyat Filipina atau mencermati film-film sejarah tentang Filipina menunjukkan perlakukan yang sama tentang dominasi laki-laki terhadap perempuan.

* Ketua Komunitas Seroja Indonesia
Jln. Soromandi no. 46 Lawata, No.Telp 0370-6651923

One response to “Male Chauvinist Pig

  1. selama laki-laki tetap berfikir sebagai “laki-lai” dan perempuan tetap berfikir sebagai “perempuan” maka selama itu pula budaya ini akan terus berlangsung, di perlukan pemikiran dan definisi ulang akan status menjadi ‘laki-laki” dan status menjadi “perempuan” dan hal ini berarti, mesti adanya keberanian untuk membongkar semua tatanan nilai yang dianut dan dianggap mapan oleh masyarakat selama ini, yang mana salah satu sumber tatanan nilai itu adalah agama. pembacaan dan penafsiran ulang terhadap agama mesti dan harus dilakukan. tapi, ngomong-ngomong, setiap mendengar isu feminisme, saya selalu berfikir, seandainya saja cerita tentang manusia yang diciptakan pertama itu adalah Hawa bukan Adam, mungkin akan lain ceritanya..he..he..tapi kita tidak usah berkecil hati, di Lombok sendiri perempuan Lombok sejak dulu sudah punya cara sendiri untuk melawan hegemoni kaum laki-laki (baca;suami), salah satunya adalah “ngelorot”..ya..sebuah cara yang mungkin hanya itu yang bisa dilakukan..hmm..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s