Demonstran Perempuan;Mari mengutuk Rupinah

demo-kpud-10.jpg
Hari itu, Jumat sore di areal rerumputan entah tanggal berapa (yang pasti sebelum 22 agustus 2007) beberapa elemen berkumpul dan mendiskusikan agenda yang akan dilaksanakan untuk mengenang seorang rekan mahasiswa yang terbunuh pada 22 agustus 2006 lalu. Masih ingatkah pembaca akan tanggal itu?

Lady M. Dahlan*

Pada 22 agustus 2006 M. Ridwan, mahasiswa IKIP Mataram ditusuk oleh preman yang mengaku diberi kuasa untuk “mengamankan aksi” yang sedang berlangsung pada waktu itu. Penusukan yang sempat menghiasi media cetak dan elektronik itu sontak membuat kaget. Pada waktu itu, penulis sedang berada di Yogyakarta dan kawan-kawan yang geram melihat kekerasan dari televisi itu hanya melongo. Mereka tak kuasa berkata walau hanya menghembus napas.

Respon pun diberikan dalam bentuk diskusi yang berefleksi bahwa memang perjuangan tidak selalu mulus dan resiko pun akan ada disetiap langkah. Betapa peristiwa itu telah menciderai wibawa dunia pendidikan dan betapa kekuasaan tak tersentuh oleh hukum yuridis negara ini.

Oleh karena itu mungkin, hukum nurani selalu berlaku. Hal itu dibuktikan dengan diselenggarakannya aksi solidaritas M. Ridwan yang diusung oleh kawan-kawan mahasiswa dan elemen yang peduli pada 22 agustus 2007 dengan long march dari kampus IKIP Mataram menuju POLDA NTB. Hukum yang selalu berlaku hanyalah hukum nurani dan dengan alasan itulah maka Rupinah tidak masuk penjara atau diseret ke pengadilan demi keadilan. “Beliau” tetap memegang tampuk peranan puncak di IKIP walau mahasiswa/I tidak pernah setuju akan keberadaannya.

Tidak heran yel-yel aksi pun dilirikan dari nurani dan bersenandung melalui mulut. Penulis kutipkan satu diantara yel-yel aksi yang digubah oleh kawan-kawan perempuan dari komunitas Seroja Indonesia.

Hukum Indonesia
Aku lelah mengharapmu
Sejak Ridwan wafat
Selalu berjuang untukmu

Hukum ini dasarnya apa
Hukum adil tegaknya kapan
Karakter penegaknya
Tidak bisa bersih. Tidak adil adil
Tidak… adil…adil…

Yel ini dinadakan dengan musik Garuda Pancasila.

Pagi menjelang siang itu ketika peserta aksi sudah berada di depan pintu gerbang POLDA NTB yang terdiri dari beberapa organisasi besar mahasiswa dan komunitas seperti LMND, FMN, HMI-MPO, IMBI, IMKOBI dan Seroja Indonesia menggelar orasi secara bergilir. Dengan lantang mereka menyuarakan bahwa mandeknya kasus Ridwan tidak terlepas dari lembeknya aparat dalam menyidik dan menuntaskan kasus Ridwan. Dedi IMBI pun tanpa takut meneriakkan kata “Banci” dihadapan pihak kepolisian yang mengunci gerbang POLDA pada aski 22 agustus 2007 itu.

Setahun sudah drama pembunuhan itu terkatung-katung di samudra antah berantah tanpa ada titik terang. Titik terangnya hanyalah bahwa terdapat kenyataan yang tidak berdaya yang menyatakan M. Ridwan sebagai korban premanisme terhadap mahasiswa dan Rupinah sebagai tersangka, tapi tidak pernah diadili. Kenyataan yang tidak berdaya itu kemudian semakin semu ketika mahasiswa yang bersatu dihadapkan pada pihak elit lain yang berjanji membantu menuntaskan kasus Ridwan tapi kemudian menertawakan mereka di belakang punggung mereka.

Tak heran mahasiswa pun kehilangan kepercayaan dan semakin militan dalam memburu otak intelektual dibalik penusukan M. Ridwan yang membuatnya meregang nyawa dalam usia belia itu. Kawan-kawan yang beraliansi dalam FAKEP NTB (Forum Anti kekerasan dan Premanisme NTB) itu pun kemudian menafikkan tawaran seorang pejabat pusat dalam menyampaikan aspirasi mereka ke lembaga-lembaga tinggi negara. “Ah! Apa gunanya kau membantu? Gunakan saja waktumu untuk menghimpun massa demi PEMILU nanti!”

Ridwan. Mahasiswa miskin yang peduli pada kesejahteraan dan keadilan. Mahasiswa yang dikenang bukan hanya karena ia terbunuh tapi karena keberanian dalam menyuarakan dan melaksanakan cita-cita idealisnya.

Kesejahteraan dan keadilan? Dua kata yang mungkin dianggap terlalu sakral oleh mereka yang mempermainkannya sehingga kata-kata itu tidak mempunyai arti dan kehilangan makna. Kalaulah kata-kata itu berarti dan bermakna tentu proses hukum akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa memandang penguasa atau non-penguasa. Kalaulah saja hukum yuridis impoten dan hukum nurani selalu berjalan, maka tidak heran kawan-kawan perempuan dalam FAKEP NTB meneriakkan “Mari mengutuk Rupinah!”

* Ketua Komunitas Seroja Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s