Selamat Jalan Bung Matori!

132991.jpg
Matori yang awalnya bercita-cita menjadi tentara ini memutuskan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa dan partai politik. Ia terpaksa mengubur keinginannya menjadi tentara tetapi karena ia buta warna, maka ia mengurungkan niat itu.

JAKARTA—MIOL: Mantan Menteri Pertahanan pada era Kabinet Gotong Royong (2001-2004) H Matori Abdul Djalil tutup usia karena sakit pada Sabtu (12/3) sekitar pukul 21.00 WIB di kediamannya, Jalan Elang Emas Prima, Blok C-7 No 12, Tanjung Mas, Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

“Bapak saya pergi dengan senyuman,” ucap putri Almarhum H Matori Abdul Djalil, Yafisa, dengan terbata-bata, beberapa saat setelah sang ayah mengembuskan napas terakhirnya.

Di sela isak tangisnya, Yafisa mengungkapkan, beberapa saat sebelum meninggal ayahnya tak mengalami keadaan kritis.

“Memang Bapak sudah cukup lama sakit, tapi tidak ada masalah kritis. Seperti biasa, Bapak makan malam bersama kami, dan sempat mengeluh agak demam,” katanya.

Tak berapa lama setelah mengeluh demam, lanjutnya, mantan Ketua Umum PKB itu masuk ke kamar.

“Tiba-tiba pingsan, sudah coba diberikan napas buatan, tapi tidak tertolong lagi. Belum sempat dibawa ke rumah sakit,” ungkapnya.

Semasa hidupnya, karier suami dari Sri Indarini ini berawal dari Wakil Ketua DPRD II Salatiga pada periode 1968-1971. Berikutnya, Matori menjabat DPRD II Semarang pada 1971-1977 dan tercatat menjadi anggota DPRD I Jawa Tengah pada 1987-1997.

Kariernya terus meningkat dengan menjadi anggota DPR dan Wakil Ketua MPR pada periode 1999-2001. Puncaknya, mantan Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa ini dipercaya sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Gotong Royong era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 11 Juli 1942 ini menamatkan studi Strata Satu di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Sedangkan pendidikan Sekolah Rakyat, SMP, dan SMA juga ditamatkan di Salatiga.

Matori yang awalnya bercita-cita menjadi tentara ini memutuskan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa dan partai politik. Ia terpaksa mengubur keinginannya menjadi tentara tetapi karena ia buta warna, maka ia mengurungkan niat itu.

Karier organisasi dan politiknya dibangun dari organisasi massa Islam Nahdlatul Ulama. Ia awalnya tercatat sebagai anggota Pandu Anshor pada tahun 1955-1957.

Ketika di SMA ia menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU) Cabang Salatiga. Sedangkan saat di bangku kuliah, Matori ditunjuk menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Salatiga, 1964-1968.

Selanjutnya ia menjabat Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Komisariat Salatiga, 1966-1968. Tahun 1966-1973, menjadi Wakil Ketua DPC Partai NU Kabupaten Semarang/Kota Madya Salatiga.

Titian karier Matori di kancah politik semakin cemerlang ketika pada 1976-1981 menjabat Ketua II Anshor Wilayah Jawa Tengah tahun 1976-1981. Di saat yang hampir bersamaan, ia juga menjadi Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah dan kemudian naik menjadi Sekretaris PWNU Jawa Tengah, 1979-1982.

Tahun 1973 sampai 1981 ia menjabat Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Semarang. Lalu, 1982-1987, menjadi Wakil Ketua DPW PPP Jawa Tengah.

Di mata Yafisa, sang ayah tidak banyak mengeluh meski stroke yang dialamainya selama 3,5 tahun terakhir membuatnya harus banyak istirahat di rumah dan menjalani pengobatan terus-menerus.

“Bapak di rumah terus, kami sekeluarga memantau dan menemani dia. Setelah stroke Bapak ikut terapi, seminggu sekali memeriksakan diri ke dokter,” ujarnya.

Diungkapkannya, selama menjalani terapi dan pengobatan dokter, kondisi Matori tetap stabil hingga detik-detik terakhir sebelum ia tutup usia.

“Sebelum pergi, dia minta syukuran dan pengajian. Bapak bersyukur karena semua anak-anaknya semua sudah bekerja,” katanya.

Almarhum Matori meninggalkan delapan anak, dua menantu, dan tiga cucu. Ia meninggal karena stroke yang telah dideritanya sejak menjabat sebagai Menhan.

“Bapak pergi dengan tenang, mohon semua kesalahan beliau semasa hidup dimaafkan,” demikian Yafisa. (Ant/OL-01)

http://www.media-indonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s