Mengungkap Sejarah Nir Logika

s_00052235_high_thumb.jpg
Lebih ironis lagi ketika kita menyaksikan ada sebagian demonstran 1998 yang sekarang duduk manis di ruang-ruang parlemen yang dingin ber-Ac. Mereka dan jajaran pemerintahan sekarang, sedang menikmati jerih keringat para pejuang reformasi itu. Karena kekuasaan, mereka lupa pada sejarah. Ini perisis seperti yang dikatakan Milan Kundera dalam The Book Of Laughter and Forgetting, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.

Oleh: AHMAD JUMAELY*

“…..Sungguh menakjubkan: waktu, datang dalam kehidupan, berlalu dalam kedipan, tak ada sebelum dan tak ada sesudah, lalu kembali menjadi momok yang mengusik ketenangan. Halaman itu terus menerus dihilangkan dalam pusaran waktu, dibuang dan dihapus tapi tiba-tiba berdenyut lagi dalam ingatan. Dan manusia mengatakan aku mengingat…” Itulah sepanggal kata dari tokoh Nietzche dalam bukunya The Use And Abuse Of History.

Nietzche seperti juga Ir. Sukarno mengingatkan kita akan peran para pelaku sejarah dan juga sejarah itu sendiri. Sejarah yang berani dipastikan akan terus berulang dalam mengiring waktu-waktu. Sementara para pelaku sejarah di pihak antagonis akan terus berupaya melebur ingatan manusia-manusia yang menjadi korban sejarah. Mereka akan memandang sejarah sebagai sebuah momok yang menakutkan dan ancaman yang sewaktu-waktu bisa meledakkan suasana menjadi gerah dan panas.

Begitulah, sejarah prahara 12 Mei 1998-pun tak akan pernah lekang tertempel dibenak kita rakyat Indonesia. Kerusuhan dahsyat disertai perusakan, penjarahan, penembakan dan juga pelecehan seksual itu bagi kita adalah sejarah nir logika. Para pelaku yang bertindak dalam peristiwa itu sungguh tak menggunakan akal sehat dan nurani.

Menur (40 tahun) yang bekerja di Tim Relawan untuk Kemanusiaan bercerita sambil menangis kepada wartawan, bahwa pada saat kerusuhan Mei, jauh dibawah sengketa politik saat itu, terjadi teror dan intimidasi dengan pola khas orde baru: brutal, sistematis, penuh kekerasan dengan dikerahkan ribuan preman, aparat dan orang-orang bayaran (kompas, 12 Mei 2006).

Menur bercerita panjang tentang seorang perempuan bernama siska (46) yang mati dipelukannya setelah diperkosa preman dan aparat dipinggir Jalan. Mengingat semua itu, menur mengalami penderitaan psikologis Vicarious trauma (trauma yang disebabkan trauma orang lain). Karena derita itu Menur terpaksa menjalani terapi psikologis dengan yoga dan meditasi.

Diseputar aksi mahasiswa, nama Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hery Hartanto dan Hendriawan Sie selalu mengingatkan kita bahwa saat itu juga terjadi penembakan brutal yang dilakukan aparat. Selain empat mahasiswa itu, juga sesungguhnya masih ada deretan nama korban mahasiswa lain yang disembunyikan higga hari ini.

Parodi Kekuasaan

Untuk mengungkap peristiwa kerusuhan Mei 1998, dua bulan berikutnya sebenarnya pemerintah Indonesia -yang saat itu dipimpin BJ Habibie- telah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang beranggotakan ABRI, Pejabat Sipil, Komnas HAM dan LSM. Dan hasilnya cukup menggembirakan, TGPF menemukan adanya kesalahan sistematis yang dilakukan pemerintah dan militer. Tapi sayang, yang terjadi adalah “temuan tinggal temuan” karena semua data tak ada yang ditindaklanjuti dan menindaklanjuti.

Baru pada tahun 2000 ketika Abdurrahman Wahid naik menjadi Presiden terbentuk lagi sebuah lembaga baru dengan nama Komisi Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP-HAM) untuk kerusuhan Mei 1998. Kali ini KPP HAM lebih maju dengan menduga telah terjadi pelanggaran HAM berat serta merekomendasikan dugaan keterlibatan sejumlah perwira tinggi militer dan kepolisian dalam kasus tersebut. Namun lagi-lagi pengungkapan terganjal ketika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggelar drama politik berjudul “pembentukan Panitia Khusus (Pansus)” Trisakti, Semanggi I dan II yang kemudian mengeluarkan kesimpulan konyol bahwa peristiwa Mei 1998 –lebih khsususnya penembakan mahasiswa trisakti- bukan merupakan pelanggaran HAM Berat.

Asa Yang Tertinggal

Harus diingat! sudah empat kali kita berganti pemimpin sejak prahara Mei 1998 itu terjadi. Dari Bj. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono, keempat-empatnya ternyata tidak cukup nyali mengungkap peristiwa berdarah itu. Ini tentu saja menggugah sebuah pertanyaan keprihatinan dari kita semua. Lebih lagi bagi para keluarga, teman serta kolega para korban. Sampai kapan mereka akan menunggu keadilan. Padahal nyawa anak-anak mereka yang juga anak bangsa itu telah sangat bermakna bagi terciptanya perubahan di negeri ini.

Lebih ironis lagi ketika kita menyaksikan ada sebagian demonstran 1998 yang sekarang duduk manis di ruang-ruang parlemen yang dingin ber-Ac. Mereka dan jajaran pemerintahan sekarang, sedang menikmati jerih keringat para pejuang reformasi itu. Karena kekuasaan, mereka lupa pada sejarah. Ini perisis seperti yang dikatakan Milan Kundera dalam The Book Of Laughter and Forgetting, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa. Maka kewajiban kita menuntut tanggungjawab mereka. Terutama presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya fikir harus berani berdiri di barisan depan mengungkit kasus ini kembali. Sehingga dimata masyarakat, tidak hanya resuffle kabinet dan politik citra yang ia lakukan, tapi juga keberanian untuk mengusut lagi siapa dibalik kerusuhan Mei 1998 itu.

Saya kira, tidak banyak yang perlu dilakukan SBY jika ia betul-betul serius ingin mengungkap kasus ini. Cukup membuka lagi data-data yang pernah didapatkan TGPF dan KPP HAM, lalu mengusut siapa-siapa di birokrasi militer dan polisi yang terlibat. Kapasitas SBY yang mantan jenderal akan sangat memungkinkan hal ini dilakukan dengan lebih mudah dibandingkan dengan kapasitas seorang Gusdur atau Megawati yang keduanya sipil dan bahkan musuhan dengan militer. Sekarang tinggal kemauan saja dari SBY.

Bagi SBY sendiri, jika ini mau dan bisa dilakukan jelas akan mencuatkan grafik kepercayaan publik ditengah popularitasnya yang merosot sejak setahun belakangan. Dan inilah kesempatan SBY untuk benar-benar menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat seperti yang selalu ia pidatokan di setiap pertemuan. Jika tidak, maka rakyat akan semakin habis kesabarannya dan bisa-bisa SBY-pun akan terkena imbas di akhir kepemimpinannya.

* Mahasiswa IAIN Mataram, Aktifis JARIK Mataram, Sekarang Ketua Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dewan Kota Mataram email: Jhelliemaestro@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s