Dari Praya ke Praia

cape-verde-flag.gif
Ijinkan saya bertanya: Mengapa NTB yang sudah pasti lebih luas, lebih subur, lebih dahulu merdeka, lebih strategis dan lebih kaya sumber daya alamnya tak bisa mencapai taraf kemakmuran yang katakanlah mendekati Cape Verde? Kita di NTB teramat minim kreativitas. Jika di Cape Verde, mereka begitu menghargai setiap jengkal tanahya dengan cara mengeksplorasi potensi-potensi terpendamnya, kita di NTB malah mengeksploitasi habis-habisan, seolah-olah tak ada anak cucu yang hidup belakangan.

Oleh Lalu M. Iqbal Ma’ruf

Jika di NTB ada Kota Praya, ibukota Kabupaten Lombok Tengah, jauh dipelosok Afrika Barat ada Kota Praia, ibu kota negara Cape Verde. Pengucapan kedua kota tersebut sama persis, tapi kondisi geografisnya sungguh berbeda. Kekayaan alam Praya jauh lebih berlimpah daripada Praia, tapi (anehnya) kondisi ekonomi dan sosial Praia jauh lebih baik dari Praya.

Mungkin hanya satu dari seratus ribu orang di Indonesia yang pernah mendengar nama negara Cape Verde. Sebuah negara yang letaknya terpencil di Samudera Atlantik antara Benua Afrika dan Amerika. Letak geografis tersebut menyebabkan negara itu sangat rawan sebagai tempat transit berbagai bentuk kejahatan lintas negara. Khususnya perdagangan manusia, senjata gelap dan obat bius dari Amerika Latin ke Afrika serta Eropa dan sebaliknya.

Dengan luas 4.000 kilometer persegi, (sepersepuluh luas NTB), negara yang merdeka pada tahun 1975 ini, lebih tepat dikatakan “batu yang menyerupai pulau” daripada pulau berbatu. Bagimana tidak, sejauh mata memandang, praktis hanya bebatuan cadas dan karang yang terhampar. Penduduknya hanya 420 ribu orang, nyaris separuh jumlah penduduk Kabupaten Lombok Tengah. Curah hujan sangat rendah, tidak lebih dari sepuluh kali hujan dalam satu tahun. Karenanya, nyaris mustahil untuk bercocok tanam. Menurut sejarah, sebagian besar penduduk Cape Verde adalah keturunan budak belian.

Lepas dari semua gambaran buram tersebut, apa yang saya saksikan ketika datang kesana pertengahan 2006 silam sebagai pendamping utusan khusus presiden RI, sungguh diluar dugaan. Setelah terbang hampir dua jam dari Dakkar, Senegal, pesawat Cabo Air yang saya tumpangi akhirnya mendarat mulus di Francisco Mendes International Airport, Praia. Untuk sebuah bandara berskala internasional, ukurannya relatif sedang, namun dari segi kecanggihan, kebersihan, ketertiban dan keindahan sungguh layak disejajarkan dengan airport-airport utama di benua Eropa. Bnadar Soekarno Hatta pun saya kira kalah. Petugas imigrasi, polisi, porter dan protokol penuh keramahan dan berhasa Inggris dengan sangat fasih.

Begitu keluar dari bandara, terhampar jalan-jalan mulus dua jalur yang masing-masing lajurnya selebar 10 sampai 15 meter. Gedung-gedung tua peninggalan Portugis terawat dengan baik. Tidak ada perkampungan kumuh karena semua warganya tinggal di flat-flat. Memang ada sebagian kecil flat yang tampak usang, tetapi jauh dari kesan kumuh.

Data statistik tentang Cape Verde akan membuat kita semakin tercengang. Rata-rata usia harapan hidup di sana 71 tahun, jauh dibandingkan NTB yang hanya 60,5 tahun. Pendapatan perkapita penduduknya mencapai 6.000 dollar. Hampir sepuluh kali lipat dari pendapatan perkapita rakyat NTB yang hanya sekitar 700 dollar. Bahkan di bandingkan pendapatan perkapita Indonesia yang 3.500 dollar, pendapatan perkapita rakyat Cape Verde masih duu kali lipat lebih besar.

Dari segi politik, Cape Verde adalah salah satu negara yang paling demokratis dan paling stabil di Benua Afrika. Hebatnya lagi, Presiden Uni Eropa bahkan sudah secara resmi mendorong agar negosiasi bagi keanggotaan Cape Verde ke dalam Uni Eropa segera dimulai. Hal tersebut merupakan pengakuan nyata terhadap pencapaian sosial, ekonomi dan politik Cape Verde. Bila benar negosiasi tersebut dimulai, Cape Verde akan menjadi negara pertama diluar Benua Eropa yang menjadi anggota kelompok regional paling bergengsi di dunia tersebut. Bahkan di Eropa sekalipun, tidak semua negara bisa beruntung mendapatkan kesempatan emas seperti itu.

Pertanyaan yang menggelitik saya, bagaimana keturunan budak belian yang tinggal di pulau karang terpencil dan tandus begitu bisa semaju dan semakmur itu? Apa kunci keberhasilan mereka? Pertama, saya kira pemimpin Cape Verde behasil merubah kelemahan menjadi kekuatan. Pelabuhan mereka yang dahulunya dipakai sebagai transit barang haram dan selundupan, diubah menjadi salah satu pusat perbaikan, perawatan dan pengisian bahan bakar kapal terbaik di Samudra Atlantik Selatan. Pantai yang kering kerontang diubah menjadi pusat industri garam kualitas terbaik yang masuk di pasar-pasar Eropa. Batu karang dan gua batu disulap menjadi hotel-hotel eksotik. Gudang bekas tempat pelelangan budak dan rongsokan kapal dijadikan obyek wisata.

kedua, membangun pemerintahan yang kecil dan efisien. Jumlah pegawai pemerintahan di Cape Verde hanya sekitar 1.500 orang. Bandingkan dengan jumlah PNS di NTB yang 6.000 orang. Saya tidak tahu berapa besar korupsi di sana, tetapi dengan jumlah PNS yang kecil dan efesien, kinerja birokrasi bisa dipicu dengan optimal. Ketiga, sektor jasa mereka kelola dengan baik. Ternasuk potensi buruh migran yang menyumbang 20 persen lebih dari total devisa yang diperoleh.

Jujur dan Bersahaja
Yang paling menyentuh perasaan saya adalah kesederhanaan pemimpin di sana. Sebagai pendamping utusan khusus presiden RI, saya diterima Presiden Pedro Verona Pires di istana negara yang indah tapi sangat bersahaja. Mobil dinas sang presiden negara makmur ini, hanyalah BMW tua seri 7 dengan pengawalan sebuah jeep Nissan Terano yang tidak kalah tuanya. Saya yakin banyak mobil para bupati dan gubernur di Indonesia yang jauh lebih baik dari mobil presiden Cape Verde itu.

Di ruang kenegaraan, Presiden Pedro Verona Pires, menyambut rombongan Indonesia dengan kehangatan dan keramahan yang sama sekali tak dibuat-buat. Setelah menyampaikan ucapan selamat datang, Presiden memperkenalkan negaranya dengan menjelaskan sebuah lukisan besar bergambar para budak belian di abad ke-18. Saya ingat betul ucapan pertama presiden, “Nenek moyang kami adalah budak belian. Kami bangga menjadi keturunannya, karena mereka mengajarkan kepada kami bagaimana menghargai dan bertahan hidup di setiap jengkal tanah pemberian Tuhan”.

Terus terang, jarang saya mendengar ada pemimpin yang secara terbuka berani jujur mengungkapkan sejarahnya seperti itu. Presiden Cape Verde tanpa malu mengaku bangsanya adalah keturunan budak. Sikap ini membuat bangsa Cape Verde tahu kelebihan dan kelemahan dirinya dan tidak pernah merasa rendah diri dihadapan bangsa lainnya. Kejujuran pemimpin seperti ini yang saya kira langka di negeri kita. Kita di Indonesia, terlebih lagi di NTB selalu sibuk mempersolek sejarah diri sendiri. Kita sibuk dengan urusan asal-usul, gelar dan kebangsawan. Tetapi lupa kalau semua itu bukan nilai dari seorang pemimpin.

Akhirnya, ijinkan saya bertanya: Mengapa NTB yang sudah pasti lebih luas, lebih subur, lebih dahulu merdeka, lebih strategis dan lebih kaya sumber daya alamnya tak bisa mencapai taraf kemakmuran yang katakanlah mendekati Cape Verde? Kita di NTB teramat minim kreativitas. Jika di Cape Verde, mereka begitu menghargai setiap jengkal tanahya dengan cara mengeksplorasi potensi-potensi terpendamnya, kita di NTB malah mengeksploitasi habis-habisan, seolah-olah tak ada anak cucu yang hidup belakangan. Jika pejabat di sana bersikap dan bertindak layaknya seorang pemimpin, kita di NTB lebih sering menemukan para pemimpin yang berlagak sok pejabat.

Dari Cape Verde nun jauh di Afrika, saya berdoa semoga Tuhan memberikan petunjuk kepada para pemimpin dan calon pemimpin di NTB, agar mereka punya kerendahan hati mengakui ada yang tidak beres dalam mengelola daerah selama ini. Pengakuan jujur seperti ini, mudah-mudahan berbuah ikhtiar keras dan cerdas untuk membenahi salah urus itu. Mengelola daerah dengan penuh tanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Penulis, putra Lombok, Doktor ilmu politik internasional, diplomat karier di Departemen Luar Negeri Jakarta.

4 responses to “Dari Praya ke Praia

  1. :):) mas iqbal🙂🙂 udik ada disini

  2. Tertarik dengan ulasannya…
    Anda bisa jadi penggerak kemajuan pyara…
    Mengabdikan seluruh kemampuan untuk daerah sendiri bukankan perbuatan yang yang sangat mulia disisi Allah SWT. Bukankah itu tujuan hidup kita…
    Semoga Allah membukakan jalan yang seluas-luasnya untuk itu…
    Amin….

  3. mm….tpy tongkat pendapatan dari pariwisata apa tidak besar juga???

  4. mm….tpy tingkat pendapatan dari pariwisata apa tidak besar juga???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s