kELILING loMbOk sIAPA maU?

ampenan_1.jpg

Kata banyak orang, Lombok merupakan Pulau Bali kedua. Pantainya bersih, ombaknya besar, tenang, dan eksotis. Melihat berbagai kelebihan yang dimiliki Lombok, khususnya Lombok Barat, maka tidak heran jika daerah ini pun menjadi pilihan tujuan wisatawan lokal dan para pelancong mancanegara.

Kelebihan Lombok bukan hanya dari potensi kekayaan alamanya saja, tapi juga sarana transportasi untuk menuju ke sana relatif mudah, murah, dan banyak alternatif. Bila selama ini kita lebih senang menggunakan pesawat terbang untuk bepergian melancong, kini tak ada salahnya untuk mencoba menaiki kapal laut (feri). Belum lama ini, dengan menggunakan kapal feri, kami dari Bali mengarugi laut untuk tujuan Lombok.

Menggunakan kapal feri tampaknya memang lebih mengasyikkan. Kita dapat memandangi indahnya hamparan laut biru sambil menikmati matahari terbenam di sore hari. Keindahan laut Lombok semakin terlihat bila kita beranjak dari Pelabuhan Padangbai Bali. Dari sini, dengan menggunakan feri, lama perjalanan ke Lombok sekitar empat hingga lima jam. Namun kalau menaiki kapal cepat, hanya membutuhkan waktu dua jam. Dan bila dengan pesawat terbang, jarak tempuh menjadi sangat pendek, sekitar 20 menit dari Bandara Ngurah Rai.

Mengarungi Selat Lombok dengan feri mempunyai daya tarik sendiri. Memang selama hampir lima jam kita diombang-ambing oleh ombak besar. Tetapi hal itu lah yang menjadi tantangan dan daya tarik perjalan, selain menikmati pemandangan di pulau-pulau kecil di seputar Bali-Lombok.

Namun, besarnya hantaman ombak tampaknya tidak begitu terasa setelah kita menyaksikan ratusan ikan lumba-lumba yang menari-nari di tengah laut. Rasanya kita ingin terjun ke laut dan menangkap lumba-lumba tersebut. Sekitar enam kilometer sebelum memasuki Pelabuhan Lembar, Lombok, kita melihat hamparan ladang budidaya mutiara yang sebagian besar adalah milik orang-orang Jakarta.

Dari sekian banyak obyek wisata di Lombok Barat, Senggigi, tampaknya menjadi pilihan kebanyakan wisatawan sebagai tempat beristirahat. Letaknya strategis dan untuk sampai ke tempat ini dari kota Mataram hanya butuh waktu sekitar 15 menit.

Dalam perjalanan dari Mataram menuju Senggigi, kita melewati Pura Batu Bolong, yang terletak di atas batu yang menjorok ke laut. Konon Batu Bolong merupakan legenda putri-putri cantik yang melemparkan dirinya ke laut, karena patah hati.

Di dekat pura ini, terdapat sebuah bukit yang menjorok ke laut, yang disebut Tanjung Senggigi. Dari tempat itu, selepas mata memandang kita bisa melihat Gunung Agung yang ada di Bali, bagai menjulang dari permukaan laut. Matahari terbenam (sunset) menjadi pemandangan khas Senggigi. Setiap Sabtu malam atau hari-hari libur, lokasi ini juga dijadikan sebagai tempat rendezvous (tempat ngumpul) anak-anak muda dari seluruh pelosok Lombok.

Pantai Senggigi mempunyai karang laut yang indah. Tidak jauh dari sini kita juga bisa menikmati Pantai Mangsit, Senggigi bagian utara, yang tidak kalah indahnya.

Semakin ke utara, pemandangan pantainya semakin berubah jadi berwarna putih dihiasi jejeran pohon kelapa. Dari Pantai Senggigi kita dapat melihat Pulau Bali. Selain itu pantai ini kaya akan kerang laut dan merupakan tempat tinggal beraneka ragam biota laut.

Bosan kalau hanya memandangi pantai dan laut, kita bisa mengunjungi Ampenan, kota tua multietnis di daerah ini. Lalu ke Mataram (Taman Mayura atau Pura Meru), Cakranegara, dan Sweta. Di empat kota ini cidomo, sebutan alat angkutan seperti dokar, memenuhi hampir semua ruas jalan. ”Dengan cidomo kita bisa menikmati kota tua Ampenan,” papar Nyoman Nuarta, pemandu wisata kami.

Setelah puas di Senggigi dan berputar-putar menikmati Ampenan, kita melanjutkan perjalanan ke Desa Banyu Mulek, pusat pembuatan gerabah khas Lombok yang tersohor. Karena keunikannya, gerabah asal desa ini sangat menarik perhatian, khususnya pelancong asing. Para wanita di desa ini telah membuat peralatan gerabah sejak abad ke-16, secara turun temurun. Cinta dan sakit

Dalam proses pembuatan gerabah di Banyu Mulek, para perajin menggunakan peralatan dan material yang sederhana dan tradisional. Dari desa ini, perjalanan dilanjutkan ke Sukarara. Di sinilah wanita-wanita suku Sasak, penduduk asli Lombok, mengais kehidupan dengan kamampuan seni, yakni menenun kain.

”Sejak abad 16, para wanita di desa ini diharuskan belajar menenun dan keahlian ini diajarkan turun temurun. Mereka menggunakan peralatan dan material yang sederhana dan sangat tradisional,” ujar Nuarta. Nama Sukarara memiliki arti cinta dan sakit. Artinya, jika seorang wanita tidak bisa menenun maka mereka tidak akan dicintai oleh pria. Makna inilah tampaknya yang mendorong para wanita di desa itu mau tidak mau harus pandai menenun.

Sade dan Rambitan juga merupakan lokasi wisata yang tidak bisa begitu saja dilewatkan jika datang ke Lombok. Lokasi yang berada di jalur pantai Kuta Lombon ini, merupakan desa adat Sasak yang sudah ada sejak abad ke-14 dan merupakan cikal bakal suku Sasak, penduduk asli daerah ini.

Dari desa adat kita bisa kembali menikmati indahnya pantai di Lombok Barat ini, yaitu Pantai Kuta, untuk santap siang di restoran sepanjang pantai. Hampir seluruh restoran di pantai ini menyuguhkan sea food yang khas. Kuta di Bali dan Kuta di Lombok sungguh jauh berbeda. Kuta di Lombok masih teramat perawan, belum dipenuhi hingar bingar kehidupan malam sebagaimana di Bali.

Setelah santap siang, perjalanan dilanjutkan ke Tanjung A’an, yang oleh banyak orang disebut sebagai Hawai kedua. Di sini kita bisa beristrirahat sambil mandi dan menikmati indahnya perbukitan.

Selepas dari kunjungan keberbagai obyek wisata tadi, kita kembali melepas lelah di Senggigi. Sebelum meninggalkan Lombok Barat, jangan lupa bersantap malam di restoran yang banyak terdapat sepanjang jalan pantai. Aneka makanan yang umumnya sea food di jajakan di sini. Terserah Anda, mau bakar sendiri atau menunggu dilayani para pelayan restoran.

Sambil menikmati minuman dan makanan khas, di kejauhan terlihat pantulan sinar lampu ratusan nelayan di laut. Di sini begitu tenang, nyaman bersama angin laut dan gemuruh ombak tanpa diganggu hingar bingar kehidupan malam sebagaimana di Kuta Bali.

Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=253678&kat_id=166

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s