Si Bakir dan Korupsi

2904mn2.jpg
Keberadaan Bakir adalah kenyataan yang tak bisa di tipu-tipu. Hingga orang-orangpun bertanya putus asa, apakah memang korupsi telah menjadi kelakuan bangsa yang tak bisa dihilangkan? Ataukah memang gen Bakir –dalam novel Pram- telah mendarah daging dalam diri pejabat kita?

Oleh: ACHMAD JUMAELY*

ALKISAH tentang kehidupan seorang pegawai kecil bernama Bakir. Ia hidup sangat sederhana. Bersama istrinya Sutijah dan empat orang anaknya Bakri, Bakar, Basir dan Basirah ia hidup dengan tenteram. Rumahnya cukup besar lengkap dengan perabotan, ruang tamu dan ruang makan. Namun, setelah dua tahun menjadi pegawai negeri, Bakir mulai didera masalah. Himpitan ekonomi yang kian merajam, menjadikan apapun yang bisa dihargakan dijual habis. Termasuk kamar-kamar rumahnya yang terpaksa disewakan demi anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah. Sementara itu gaji bakir tak kunjung membaik.

Suatu malam menjelang tidur, tubuh Bakir bergetar hebat, dalam fikirannya terbersit niat untuk meninggalkan sejarah lama tentang idealisme, kejujuran, dan kesederhanaan yang selama ini ia imani sebagai pegawai negeri. Ia ingin merambah sejarah baru. Sejarah tentang kemegahan dan kemewahan, sejarah tentang hidup berkecukupan dan sejarah tentang kekuasaan yang digunakan untuk mencapai tujuan (korupsi).

Jalan pintas korupsi –seperti sudah dilakukan lebih dulu oleh rekan-rekan sekerjanya-itupun dilakukan Bakir dengan nyaman. Ia sukses menjadi koruptor yang menikmati kemewahan di kota besar. Dan perbuatannya tentu saja berakhir ditempat setiap koruptor seharusnya berada : penjara.

Tokoh Bakir bisa jadi tak ada dalam dunia sesungguhnya, ia hanya tokoh fantasi yang diciptakan Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah novelnya berjudul korupsi. Namun demikian, yang mirip seperti Bakir sangatlah banyak, bahkan variannya tambah beragam. Bakir sekarang ada dari jabatan terkecil sampai terbesar sekalipun. Dari kepala dusun hingga kepala negara. Sialnya, yang dikorupsi Bakir hari inipun ikut-ikutan beragam, mulai dari beras murah, rumah sakit, sekolah, aspal bahkan jembatan.

Makanya Bakir sekarang seperti Monster. Semua dilahap, semua dimasukkan perut, anehnya mereka tidak kenyang-kenyang, jangankan kenyang kentutpun tidak. Seorang teman pernah berkomentar, ia tak sanggup membayangkan jika-jika suatu saat nanti para Bakir itu masuk angin, sakit perut lalu muntah-muntah. Yang bakal keluar tentu saja apa yang dikorupsi itu, kayu, aspal, pasir, kantor kejaksaan, kantor polisi, rumah sakit, sekolah dan bahkan gedung gubernuran-nya sekalian.

Tentu bukan perut diatas lutut yang saya maksudkan. Perut-perut itu berupa rekening yang menggelembung, rumah yang mentereng juga mobil yang mewah alias ful service.

Pemilu dan Korupsi

Seperti biasa, korupsi atau pasnya pemberantasan korupsi kerap menjadi jualan paling “laku” saat pemilu. Para figur calon, siapapun ia, seakan semuanya punya “kegarangan” yang sama dalam agenda pemberantasan korupsi ini. Tapi yang biasanya terjadi, setelah si penjual (para kontestan pemilu) itu menang, semua agenda terlupakan. Jadinya, jualan tinggal jualan dan rakyat selalu di pihak yang di rugikan.

Di NTB pemilu gubernur bakal digelar sebentar lagi. Kasak-kusuk mencari siapa dukung siapa menyeruak. Rakyat yang sudah tiga tahun belakangan dilupa, sekarang mulai disapa. Mereka hari ini telah siap-siap dijadikan konsumen setia jualan politik oleh para politikus daerah ini, termasuk juga jualan pemberantasan korupsi itu.

Untuk sekarang, nampaknya memang belum ada calon Gubernur yang menyampaikan visi-misi seperti itu. Namun belajar dari pengalaman, agenda itu dipastikan terdapat di masing-masing calon yang akan disampaikan dalam proses kampanyenya nanti. Mereka akan berteriak lantang “memihak rakyat” dengan janji akan memberantas korupsi.

Ironisnya, jika disadari oleh rakyat sendiri, ditengah koar-koar kampanye pemberantasan korupsi itu, ternyata juga berjalan proses yang juga korup. Realitas ini bernama politik uang (Money politic). Rakyat secara tidak sadar ternyata mendukungnya dengan menerima uang kampanye itu senang hati. Tak peduli uang yang mereka terima hasil korupsi juga atau hasil nodong dipinggir jalan. Mereka tetap menerima asal perut kenyang.

Keberadaan Bakir adalah kenyataan yang tak bisa di tipu-tipu. Hingga orang-orangpun bertanya putus asa, apakah memang korupsi telah menjadi kelakuan bangsa yang tak bisa dihilangkan? Ataukah memang gen Bakir –dalam novel Pram- telah mendarah daging dalam diri pejabat kita?

Seandainya korupsi itu adalah seekor kunang-kunang yang ada dan tiadanya sama saja, tidak merugikan dan tidak pula menguntungkan. Kita tidak akan marah dan kecewa pada korupsi. Tapi ia seperti belatung, seperti parasit yang meranggaskan pohon kebangsaan, yang menyengsarakan rakyat, yang menghancurkan keadilan dan menunda kesejahteraan. Jangan salahkan aktivis anti korupsi berteriak “bunuh koruptor” karena korupsi berakibat teramat fatal.

Negeri kita telah merdeka cukup lama, tapi rakyat tak kunjung sejahtera. Mengapa? Karena korupsi masih melaju kencang di birokrasi kita. Apa yang diungkapkan Indra J. Pilliang beberapa waktu silam, bahwa pemerintah hari ini lebih kejam dari belanda tempo dulu barangkali perlu direnungkan. Ketika kekayaan alam Indonesia dikeruk Belanda habis-habisan, mereka masih bersimpati dengan memberikan politik etis dalam bentuk transmigrasi, irigasi dan edukasi. Tapi sekarang, jangankan politik etis. Para koruptor yang kebanyakan berada di sektor pemerintahan lebih senang memperkenyang perut sendiri. Padahal toh yang dikorupsi itu adalah APBN atau APBD yang notabene uang hasil keringat rakyat.

Sementara pemerintah, kebijakan-kebijakanya tak pernah menentramkan. Persoalan korupsi kerap dihadapi sekadar dengan kebijakan-kebijakan yang selalu saja parsial, ad hoc dan reaktif. Lihat saja, setiap ada agenda pemberantasan korupsi ditelurkan, muncul lembaga-lembaga baru, komisi-komisi baru yang sifatnya dadakan dan lebih berorientasi sekadar memadamkan hati rakyat yang demonstrasi atau sekadar menjawab tekanan internasional. Akhirnya pemberantasan korupsi hanya mimpi. “Kembang tidur“ rakyat dan “kembang bibir” politisi. []

Pejeruk, kostku yang lusuh, 09 April 2007
Ditemani kopi pahit dan empat batang Class Mild

* Mahasiswa IAIN Mataram dan Sekarang aktif di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Mataram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s