Quo Vadis Gerakan (Mahasiswa) Aktifis

leak-1.jpg
Asumsi kuat saya, persoalan-persoalan inilah yang menjadikan aktifis mahasiswa kian hari kian kehilangan eksistensi. Saya analogikan, mahasiswa hari ini seperti buih dilautan, kuantitas mereka luar biasa tapi diwaktu yang sama mereka tak bisa berbuat karena tidak berkualitas. Buih yang ringan, sebagai simbolisasi ketidakbermaknaan mereka dalam ombang-ambing gelombang peradaban.

Oleh: ACHMAD JUMAELY*

BARU lalu, saya dan kawan-kawan aktifis pers mahasiswa se-mataram mengadakan acara kecil-kecilan berupa nonton bareng dan bedah film berjudul Gie. Pada awalnya saya sungguh tak tertarik menonton dan mendiskusikan film tentang gerakan seorang aktifis yang memilih menjadi oposan ketika Sukarno berkuasa itu. Bukan apa-apa, disamping karena saya sudah menyaksikannya berkali-kali juga karena saya merasa tema idealisme, progresifime dan semangat perjuangan seorang tokoh seperti Soe Hok Gie saya anggap sudah tidak laku lagi menjadi jualan di dunia mahasiswa hari ini.

Tapi sungguh diluar dugaan, jumlah peserta yang lumayan dan antusiasme yang mereka bawa ke arena acara itu digelar, menjadikan film gie memancarkan energi dahsyat yang membuat saya dan teman-teman peserta merasa hidup kembali. Semangat Soe Hok Gie menyala lagi di nadi-nadi kami, hingga -terutama saya- tak percaya lagi bahwa film itu sebetulnya sudah saya tonton berkali-kali.

Saya curiga, jangan-jangan sebetulnya bukan film itu yang memancarkan energi luarbiasa, tapi semangat teman-teman mahasiswalah yang memang sudah mengalami perubahan. Sekadar dimaklumi, paska aksi reformasi 1998, gerakan teman-teman mahasiswa praksis kelihatan mandul bahkan mati. Teman-teman mahasiswa balik lagi ke kampus masing-masing, mengulangi aktifitas seperti halnya saat Suharto dan orde baru duduk mapan di tampuk kekuasaan.

Wacana gerakan seakan tak pernah dikenal sejarah, tak diingat-ingat lagi. Minimal ini kita saksikan dari kian membludaknya kuantitas mahasiswa yang bersikap masa bodo atau apatis pada perubahan. Tema-tema diskusi tentang demokrasi kerakyatan, tentang idealisme, tentang ideologi dan lainnya terpendam di ruang-ruang kuliah dan tergantikan oleh materi-materi kuliah yang cenderung membosankan atau sekadar memenuhi kewajiban akademis mendapatkan ijasah.

Otonomisasi yang kemudian merubah drastis sistem pemerintahan kita juga tidak sedikit berpengaruh pada kian redupnya gerakan mahasiswa. Karena otomisasi ini, aksi-aksi gerakan menjadi tak lagi terpusat tapi sebaliknya mengalami pengotakan-pengotakan berdasarkan teritori wilayah masing-masing. Suara-suara oposisi menjadi tak seragam yang mengakibatkan tidak massifnya pengorganisasian gerakan di arus bawah (massa).

Sialnya lagi, hal ini diperparah oleh kondisi internal organisasi mahasiswa sendiri yang hancur lebur bak cermin pecah. Pecahan-pecahan itu menjadi serpihan -serpihan atau pasnya organ-organ kecil yang justru memanggul ideologi sendiri-sendiri. lebih naas lagi, masing-masing ideologi tak sanggup menunjukkan kedewasaan beroganisasi dengan merasa (organisasinya) benar sendiri dan ideologi yang lain dianggapnya salah, tak konsisten, melenceng bahkan murtad dari gerakan. Sikap ini tak ayal telah mencerminkan sikap masing-masing ideologi tak siap hidup dalam perbedaan.

Asumsi kuat saya, persoalan-persoalan inilah yang menjadikan aktifis mahasiswa kian hari kian kehilangan eksistensi. Saya analogikan, mahasiswa hari ini seperti buih dilautan, kuantitas mereka luar biasa tapi diwaktu yang sama mereka tak bisa berbuat karena tidak berkualitas. Buih yang ringan, sebagai simbolisasi ketidakbermaknaan mereka dalam ombang-ambing gelombang peradaban.

Refleksi diatas samasekali tidak saya maksudkan untuk menunjukkan sikap pesimistis saya pada semangat dan kekuatan gerakan mayoritas aktifis mahasiswa hari ini, tapi lebih pada keinginan saya untuk melakukan otokritik kepada mereka sekaligus ingin menunjukkan optimisme bahwa semangat gerakan mahasiswa hari ini sebetulnya masih ada dan masih bisa di “selamatkan”. Optimisme ini datang dari sekelompok kecil mahasiswa yang masih terlihat antusias dan penuh gelora perubahan.

Tentang ini, saya terpaksa mengulang lagi cerita acara bedah film diawal tadi. Acara itu walau sederhana saya kira sangat representatif mencerminkan nuansa perubahan itu. Yang hadir bukan hanya kawan-kawan pers mahasiswa (persma) tapi juga kawan-kawan dari organisasi gerakan lain. Tema diskusi yang terfokus pada tokoh Gie memunculkan “rasa kepemilikan” oleh masing-masing ideologi dan organisasi mahasiswa yang ada. Sosok Gie yang idealis, progresif, egaliter dan bergerak atas nama humanisme dan keadilan, saya kira sangat mewakili beragam unsur gerakan-gerakan itu. Tak peduli apakah gerakan itu berideologi kiri, kanan atau ideologi-ideologi lain seperti pers mahasiswa. Semuanya menyatu dalam semangat yang satu “perubahan”.

Selain itu, referensi optimisme saya terdapat juga di kelompok-kelompok diskusi yang sudah mulai menampakan riak-riak menggembirakan. Minimal dua bulan terakhir misalnya saya dapat mengikuti beberapa forum diskusi yang berbicara berbagai tema. Tentang masyarakat sipil, pemberantasan korupsi, fenomena kekerasan lokal dan juga kemiskinan. Saya kira ini adalah informasi menggembirakan tentang dunia mahasiswa kita.

Selayaknya, optimisme seperti ini kita miliki bersama untuk sama-sama bergerak dan tetap menjadi lokomotif perubahan. Kondisi negeri kita yang carut marut dan “rusak-rusakan” ditandai dengan rakyat yang semakin melarat sementara angka korupsi pejabat semakin meningkat saya fikir tidak layak kita biarkan begitu saja. Sebagai kaum intelektual, kita tetap bertanggungjawab pada nasib masa depan negeri ini. Mari bergerak dan kita ciptakan perubahan negeri ini menuju lebih baik!.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s