Mengislamkan IAIN !

leak-1.jpg
Dan yang paling parah, fikiran-fikiran mereka harus dibersihkan melalui penertiban buku-buku perpustakaan yang beraliran ‘sesat’ semacam Marx, Lenin, Poulo Preire, Saltre, Sahrur, Abed Aljabiri dan lain-lainnya. Untuk masa tidak ditentukan, buku-buku itu harus gudangkan dulu atau jika perlu dimusnahkan saja lalu diganti dengan buku-buku Islam kanan macam Hasan Albana, Faudzil Adhim atau bahkan Hartono Ahmad Jaiz. Mengapa ini dilakukan?, orang-orang itu akan menjawab, demi menghindari “Su’udzon” Tuan Guru yang katanya IAIN telah jadi ajang pemurtadan.

Oleh: ACHMAD JUMAELY*

PADA 7 hingga 9 Januari 2007, saya sangat senang karena berkesempatan mengikuti pelatihan Jaringan Islam kampus (Jarik) yang diadakan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) Jakarta di Mataram. Di acara itu, saya –dan 35 peserta lain dari berbagai kampus di NTB- difasilitasi oleh tiga intelektual Islam garda depan Prof. Dr. Dawam Raharjo, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noor dan Neng Dara Mahmudah.

Di salah satu sesi dengan tema “Teologi Islam Tentang Agama-Agama” saya dibuat kaget. Apa sebab? Prof. Dr. Kautsar Azhari Noor bertanya kepada saya tentang tiga hal substansi. Pertama apakah semua agama mengandung kebenaran dan keselamatan?. Kedua, Apakah ada perbedaan antara kitab suci ummat Islam dengan kitab-kitab suci ummat agama lain? Ketiga: ia bertanya mengapa saya menganut agama Islam?. Sebelum saya menjawab, pak Kautsar wanti-wanti agar jawaban saya hanya boleh antara “iya” atau “tidak”. Saya tidak diperkenankan memberi jawaban tambahan.

Tiba-tiba saya bingung, “Ini persoalan iman apa perlu saya jawab?”. “Sangat perlu” bilang pak Kautsar. Maka saya jawab, pertama apakah semua agama mengandung kebenaran dan keselamatan? Saya bilang “Iya”. Pertanyaan kedua, apakah ada perbedaan kitab suci ummat Islam dengan kitab suci ummat agama lain?. Saya jawab “Tidak”. Dan pertanyaan ketiga saya jawab spontan, “Karena saya masuk IAIN”.

Mendengar jawaban saya yang terakhir, teman-teman peserta terlihat sewot dan bahkan seorang yang duduk diseberang meja menghujat saya sinis “Sebelum masuk IAIN agamamu apa dong? Kristen ya? Hindu ya?”. Aduh…waktu itu saya ingin sekali memberi jawaban pada teman saya itu, tapi sayang, pak Kautsar me-warning saya, jawaban hanya “iya” atau “tidak”. Capek deh!

Dan sekarang, tiba-tiba saya tergelitik lagi untuk mengungkit alasan dibalik jawaban itu. Tergelitik, karena saya melihat IAIN -yang saya katakan telah membuat saya menganut Islam itu- telah mengalami perubahan besar terutama pada orientasi pembelajaran dan juga keagamaannya. Pun juga, saya berharap dengan mengungkitnya lagi, saya tidak dituduh tak konsisten ketika misalnya suatu saat nanti fikiran saya berubah dan ingin menarik jawaban saya saat pelatihan itu.

Sebelum masuk IAIN saya memang merasa Islam banget. Islam yang sama seperti islamnya teman-teman mahasiswa yang lain. Saya juga santri karena pernah mondok di sebuah pesantren tua di Situbondo, Jawa Timur. Saya pernah belajar kitab-kitab kuning seperti Aqidatul Awam, Irsyadul Ibad, Fathul Qorib, Adabul Insan bahkan Ta’lim Muta’Allim. Tidak itu saja, saya juga belajar gramatika Bahasa Arab seperti Matan Jurumiah dan Ibnu Aqil. Jadi cukup lah, saya tidak meragukan Islam saya.

Tapi setelah menjadi mahasiswa IAIN Mataram, fikiran saya tiba-tiba di telanjangi habis-habisan. Islam saya ternyata belum apa-apa?. Di IAIN saya mendengar istilah Islam Modernis. Islam tradisionalis, Islam Akomodatif, Islam Liberal, Islam emansipatoris dan Islam-Islam yang lain. Ditempat itu juga saya sadar bahwa banyak ummat Islam yang menganut Islam karena keturunan alias Islam ikut-ikutan. Lho, ternyata saya masuk disitu? Islam “Keturunan” fikir saya.

Semakin dalam saya membaca dan berdiskusi tentang agama di kampus ini, ternyata saya mendapat kesimpulan bahwa Islam itu sungguh luas dan universal. Tidak sekadar Fiqh atau solat-puasa an-sich, tapi memberantas korupsi juga Islam, mengentaskan kemiskinan juga Islam, bicara banjir juga Islam.

Di IAIN inilah saya menemukan Islam yang pernah saya dengar di pondok dulu “Ya’lu Wala Yu’la Alih”. Islam yang “Soolihun Likulli Zamaanin Wa Makanin”. Islam yang humanis, egaliter,liberal bahkan juga Sekuler. Saya berkesimpulan IAIN betul-betul telah mengislamkan diri saya.

Tapi bagaimana dengan hari ini?. Nampaknya kita mesti bicara lain. Yang saya lihat dan rasakan -juga oleh ratusan mahasiswa ditempat itu-, IAIN telah berubah sekian ratus derajat. Ruh progresfisme pemikiran seperti diatas bisa jadi sudah terkubur dalam-dalam. Ada sekelompok orang yang ingin membuat IAIN regresif, mundur dan stagnan. Orang-orang itu adalah rezim lama yang bangkit dari kekalahannya selama ini. Mereka menjadi rezim-rezim baru yang tidak sekadar duduk secara struktural, tapi juga membentuk rezim pemikiran. Mereka mengkrangkeng fikiran-fikiran ‘nakal’ yang selama ini menjadi ikon mahasiswa IAIN. Mencegah mahasiswa bicara progresif apalagi liberal, dialog Ahmadiyah-pun tiba-tiba dihukumi “haram”.

Kata teman saya, mahasiswa IAIN hari ini –oleh orang-orang yang saya identifikasi diatas- diandaikan sebagai mahasiswa-mahasiswa yang belum tahu agama secuil pun. Mereka harus di ajari cara sholat, diajak tadarrusan, bahkan bisa jadi di tuntun lagi baca fatihah seperti masa kecil mereka dulu.

Dan yang paling parah, fikiran-fikiran mereka harus dibersihkan melalui penertiban buku-buku perpustakaan yang beraliran ‘sesat’ semacam Marx, Lenin, Poulo Preire, Saltre, Sahrur, Abed Aljabiri dan lain-lainnya. Untuk masa tidak ditentukan, buku-buku itu harus gudangkan dulu atau jika perlu dimusnahkan saja lalu diganti dengan buku-buku Islam kanan macam Hasan Albana, Faudzil Adhim atau bahkan Hartono Ahmad Jaiz. Mengapa ini dilakukan?, orang-orang itu akan menjawab, demi menghindari “Su’udzon” Tuan Guru yang katanya IAIN telah jadi ajang pemurtadan.

Ini sungguh pemandangan ironis bagi nasib pemikiran Islam kedepan. IAIN yang diharapkan sebagai satu-satunya ‘poros’ gerakan pemikiran yang berada di garda depan terancam bubar dan semakin kebelakang. Cita-cita para pendiri IAIN, seperti Dr. Harun Nasution atau Dr. Munawir Sadzali yang agar kampus ini menjadi laboratorium intelektual, pusat studi Islam yang komprehensif dan tempat dicetaknya intelektual-intelektual muda yang bermental ulama barangkali sekadar mimpi yang tinggal mimpi.

Inilah realitas kita, tentang nasib lembaga pendidikan Islam bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Disaat kampus-kampus lain berlomba-lomba mengeruk ilmu pengetahuan -bahkan hingga ke luar negeri, eh..kita justru membikin IAIN mandeg, stagnan, ambruk dan seakan-akan (seolah-olah!) tak menghargai cita-cita para pendiri-nya. Na’udzubillah tsumma Na’udzubillah!. Nampaknya, saatnya IAIN kita kembalikan ke wujud Aslinya (Khittah), Khittah IAIN yang liberal, progresif, tranformatif dan inklusif. IAIN yang cinta ilmu pengetahuan, menghargai pemikiran bukan penampilan. Saya kira demikian semoga bermanfaat ! []

*Mahasiswa IAIN Mataram dan Aktifis Jarik Mataram

5 responses to “Mengislamkan IAIN !

  1. apa katamu mang bener juga. imana acrana ya memajukan uin?
    terlalu mencengkram

  2. Sepengetahuan saya, masalah di IAIN manapun itu berada entah di Mataram atau di Jawa cuma ada dua :

    1. Mahasiswa yang keblinger (bukan kecerdasan loh ..), dan
    2. Dosen/ Dekanat/ Rektorat yang tak mampu memahami kecedasan (bukan keblingeran..) mahasiswanya .

    Kok tuan guru malah dibawa- bawa dalam persoalan kampus kalian sich? Cari kambing hitam mbok sing luwih mencerdaskan lah. Buktinya di sini mahasiswa UIN meskipun blinger tetap nyantri e. Kyai nya juga meskipun ngerti keblingeran (maha)santrinya yo tetap baik. Asal yang muda tidak menginjak- injak yang tua tentu tidak sampai ada ketegangan antara kyai dengan (maha)santri.

  3. bos tulisannya yang menarik dong yyar qt enak ngebacanya

  4. Betul….akh!! Memang sangat mengenaskan…!! Masakan IAIN jadi tempatnya orang yg gak jelas~~~~~Syukron!!!

  5. Boeat tanpa nama…………..
    Kalo mau tulisan yang menarik, lu tulis aja sendiri trus ntar lu baca deh………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s