Menghormati Islam Orang Bayan

indonesia_lombok_sage1.jpg
Apapun bentuknya ibadah bagi orang Bayan bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Mereka yakin bahwa apa yang telah dilakukan berasal dari implementasi dari keyakinan mereka terhadap Tuhan. Sebagaimana Ibrahim menganggap bulan adalah Tuhannya sebelum ia menemukan matahari. Begitu pula dengan masyarakat Bayan.

Oleh: AKHDIYANSYAH

DESA Bayan, Lombok Barat bagian utara, sekitar 70 km kearah utara kota Mataram, ibu kota propinsi Nusa Tenggara Barat. Terdapatlah komunitas Islam yang hidup dalam aturan dan norma mereka sendiri. Mereka hidup begitu rukun dan tentram seakan akan tidak mau terusik dengan perkembangan zaman yang kian hari semakin canggih dan modern.

Disana terdapat sebuah komunitas Islam yakni masyarakat Islam wetu telu “waktu tiga” – meski orang Bayan sendiri tidak sepakat dengan Istilah tersebut. Uniknya,seolah tidak lekang oleh waktu komunitas ini sangat taat menjalankan Islam ala Bayan. Dalam melakukan ritus-ritus keagamaan mereka berdasar ajaran Islam namun pengaruh budaya yang dominan. Mereka Syahadat layaknya orang Islam, mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT.

Melakukan ibadah syari’at yang lain seperti sholat, puasa, berzakat tapi tidak berhaji sebagaimana Islam kebenyakan. Akan tetapi mereka mempunyai cara pandang serta cara ibadahnya sendiri, yang menurut mereka itu adalah benar yang sudah dilakukan secara kontiunitas oleh generasi pendahulu mereka dan orang orang yang dianggap paham serta mengerti dalam komunitasnya.

Ibadah menurut mereka adalah perangkat kehidupan yang senantiasa harus dipraktekkan didalamnya terdapat nilai nilai yang harus diterjemahkan dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Ini dapat dilihat dari pola budaya yang dibangun. Sholat adalah merupakan bagian ibadah yang dipahami dan dijalankan. Ini mempunyai makna filosofis tersendiri yang susah dicerna oleh orang diluar komunitas mereka. Artinya bahwa perangkat ibadah yang dilakukan bukan semata rutinitas an sich akan tetapi disertai dengan kesadaran nilai yang tinggi bagi komunitas mereka.

Nampaknya keberadaan orang Bayan tersebut mengajak kita merefleksi kembali terhadap tata kehidupan yang ada. Apakah kita melakukan ibadah hanya sebatas simbol dan pertanda saja ?- yang kebanyakan dari kita tidak mengerti apa makna dari sebuah penyembahan terhadap Tuhan.

Apapun bentuknya ibadah bagi orang Bayan bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Mereka yakin bahwa apa yang telah dilakukan berasal dari implementasi dari keyakinan mereka terhadap Tuhan. Sebagaimana Ibrahim menganggap bulan adalah Tuhannya sebelum ia menemukan matahari. Begitu pula dengan masyarakat Bayan.

Keragaman dalam pandangan mereka adalah hakikat yang telah berjalan dalam perjalanan sejarah nenek moyangnya. Gambaran ini dapat dilihat ketika dalam ritus ibadah orang Bayan. Pada moment terntentu menjadikan media tersebut sebagai alat komunikasi antar sesama. Seperti melibatkan masyarakat Hindu dan Budha yang hidup dalam satu ikatan dengan mereka -kerap dilibatkan dalam aktivitas agama dan budaya. Hal ini menandakan bahwa orang Bayan begitu sensitif dengan keadaannya. Sebagai manusia yang memang diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang berbeda dan beragam. Perbedaan tersebut bukanlah tuntutan untuk memisahkan diri dengan sejarah dan kenyataan mereka sebagai mahluk Tuhan untuk senantiasa berinteraksi dengan sesama.

Kebenaran yang diyakini oleh orang Bayan tersebut adalah kebenaran yang dilatari oleh nilai – nilai Islam yang mereka terima. Bukan sesuatu yang diramu untuk mendistorsi Islam yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam yang hidup di Lombok. Hanya kebanyakan dari kita menganggap bahwa orang Bayan sudah melakukan praktek Islam yang “salah” yang perlu diluruskan dan didakwahi.

Setiap manusia mempunyai cara pandang dan keyakinan sendiri. Dan jika keyakinan untuk beriman adalah sebuah hidayah dari Allah SWT, maka cukuplah itu menjadi keyakinan kita secara pribadi serta tidak ada hak kita untuk memaksakan keyaki-nan tersebut kepada orang lain. Karena setiap orang berhak untuk mendapatkan keyakinannya tersebut sebagaimana kita meyakini keyakinan kita.

Bukankah Allah SWT telah menyatakan dalam Al-Qur’an : “Kalau Tuhan kamu menghenendaki; maka akan berimanlah semua manusia yang ada dimuka bumi. Apakah kalian hendak memaksa manusia agar mereka beriman” (Surat Yunus,10.99)

Ayat al Qur’an tersebut mengungkapkan kekuasaan Tuhan terhadap kenyataan semu (Takdir Tuhan) yang diciptakan Allah SWT. Apapun yang melatari alasan kita untuk mengucilkan pandangan seseorang terhadap sebuah kebenaran yang diyakini sesungguhnya sama dengan orang lainnya yang mempunyai keterbatasan akal dan pikiran untuk menangkap kebenaran yang Maha Mutlak. Selanjutnya bagaimana kita bertanggung jawabkan secara pribadi “dipengadilan” Tuhan kelak hari akhir.

Oleh karenannya kita umat Islam yang telah meyakini Al-Qur’an cukup mem-praktekkan Al-Qur’an dalam prilaku keseharian kita. Berusaha menjadikannya nilai kehidupan yang harmonis, sehingga terbangun manusia yang menghormati kebersamaan dalam keragaman seperti peringatan surat Yunus diatas.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang selalu berpegang pada dinamika dan harmonisasi mampu berdialog dengan keadaan sekitarnya. Orang Bayan bagian dari fenomena tersebut tidak perlu dikucilkan. Yang terpenting bagaimana menghormati keberadaan dan kebenaran yang mereka pahami. Sesunggunya akan nampak begitu indah dan damainya Islam, tidak seperti yang diasumsikan oleh orang lain. Islam adalah agama yang keras dan anti perubahan. Karena sebenarnya agama ini sangat membenci kekerasan dan kemunafikan.

Karenanya, apapun bentuk Ibadah yang dilakukan oleh orang Bayan harus kita hormati dan kita pahami sebagai bagian kebenaran yang ada pada manusia. Pembumian nilai ke-Tuhanan dalam berprilaku sesama mahluk dimuka bumi adalah hal terpenting bagi orang Bayan. Celaan atau cercaan bagi orang lain yang justru akan mendatangkan kemudharatan. “Keragaman yang menyatukan mereka bukan kesatuan yang memisahkan•

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s