Menggugat Kartini

zikir.jpg

Bukan sekedar menggugat, tetapi berani merubah merupakan suatu ketegasan pilihan hidup yang tentu saja syarat dengan konsekwensi dan kontraversi. Menentukan posisi ternyata jauh lebih sulit dari pada sekedar melakukan gugatan. Namun kesulitan itu tidak serta merta membunuh kreatifitas kita untuk menentukan dimana kita berpijak.

Oleh: MAIA RAHMAYATI SABRI*

Seorang anak perempuan lahir pada tanggal 21 April. Saat itu sang ayah tidak dapat menemani istrinya melahirkan putri ke tiga mereka dikarenakan ia harus memberi sambutan pada pembukaan lomba dalam rangka peringatan hari Kartini. Namun, tidak lupa sang ayah memberitahukan pada peserta yang hadir tentang kelahiran putrinya yang selanjutnya ia beri nama Kartini. Tentu saja dengan harapan sang anak akan mampu mengikuti jejak langkah pahlawan perempuan itu.

Sepuluh tahun berlalu, gadis kecil bernama Kartini yang baru duduk di kelas empat sekolah dasar merengek minta dibuatkan kebaya pada ibunya. Alasannya, pihak sekolah mewajibkan para siswi memakai kebaya esok harinya untuk mengikuti apel guna perayaan hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April.

Gambar wajah Raden Ajeng Kartini dengan senyum sumringahnya berbingkai ukiran kayu jati, menghiasi tembok ruang sekolah. Sewaktu kecil kita pun sering mendengar tentang sejarah hidupnya dari Ibu guru. Kemudian cerita itupun diakhiri dengan lagu “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Satu karya Kartini yang dinilai sebagai gerbang pembebasan bagi perempuan Indonesia pada zamannya sampai sekarang. Hal ini tidak lepas dari jasa seorang kartini. Hingga ia mampu menjadi ikon pembebasan bagi perempuan Indonesia.

Serpihan cerita di atas hanya sebagi pengantar satu refleksi tentang eksistensi seorang perempuan bernama Raden Ajeng Kartini. Kita selalu berharap ruh Kartini akan selalu hadir ditengah-tengah kita, bercerita tentang perjuangannya, tentang ketekunannya mendidik perempuan-perempuan pada zamannya. Juga tentang sisi kehidupan berkeluarganya yang berakhir dengan perceraian.

Melihat sisi lain kehidupan seorang Raden Ajeng Kartini bukan sekedar sebagai suatu perjalanan yang dikanan kirinya bertabur bunga melati yang membuat namanya begitu harum hingga kini. Ia pun pernah merasakan gurat-gurat kepedihan dalam sejarah hidupnya. Memilih bercerai dengan suaminya karena kasus poligami. Seorang Kartini yang pada masa hidupnya lebih banyak mengatakan “Tidak”. Yang diyakininya sebagai simbol perlawanan dan keberanian. Tidak untuk pembodohan, tidak untuk kesewenang-wenangan budaya patriarkat warisan feodalisme nenek moyangnya, dan tidak untuk segala yang ia rasakan bertentangan dengan sisi kemanusiaan.

Bukan sekedar menggugat, tetapi berani merubah merupakan suatu ketegasan pilihan hidup yang tentu saja syarat dengan konsekwensi dan kontraversi. Menentukan posisi ternyata jauh lebih sulit dari pada sekedar melakukan gugatan. Namun kesulitan itu tidak serta merta membunuh kreatifitas kita untuk menentukan dimana kita berpijak.

Terlalu jauh kiranya jika kita berbicara tentang gerakan “Women’s Lib” Amerika (dimana para perempuan merasa ogah jadi ibu rumah tangga yang repot memasak dan mengurusi anak). Jika hal ini dikatakan sebagai gerakan kesetaraan gender, maka perempuan selamanya tidak akan pernah tersadarkan. Yang disepakati dari membangun suatu kesadaran gender bukan serta merta membuat perampuan berpaling dari pekerjaan dalam rumah tangganya. Akan tetapi, bagaimana memposisikan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci mengurus anak, merupakan pekerjaan yang sama pentingnya dengan pekerjaan publik yang dilakukan diluar rumah. Dan tentunya bukan menjadi kewajiban perempuan semata namun hal ini juga menjadi tanggung jawab laki-laki.

Banyak perempuan-perempuan yang lahir dari suatu kesadaran untuk mulai merubah. Bukan saja merubah kehidupan pribadinya, tapi yang lebih penting adalah merubah cara pandang semua komunitas yang ada dibelahan bumi manapun. Lahirnya tokoh-tokoh politik perempuan seperti Banazher Buttho di Pakistan, Barbara Ward, dan seorang Hilliary Clinton yang berperan dalam senator Amerika Serikat. Menunjukkan perempuan mampu memberi pengaruh besar bagi perubahan peta politik dunia.

Tidak itu saja, perempuan yang mengakui kekuatan tinta sebagai ruh perubahan telah berhasil menuangkan idenya dalam tulisan-tulisan. Melalui media ini lahirlah Nawal el Sadawi di Mesir. Tulisannya dalam bentuk novel dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah Mesir. Di Perancis telah lahir Simone Weil seorang penulis. Ia bunuh diri pada usia 34 tahun, bukan karena rasa prustasinya terhadap program diet. Tetapi ia menggugat kebijakan mengenai pemberian jatah makan dibawah standar terhadap bangsanya saat pendudukan tentara Jerman dibawah kekuasaan Nazi. Simone de Beauvoir seorang pengarang wanita Prancis yang tidak kalah termahsyur pun menggores sejarahnya dengan pemikiran-pemikiran cemerlang.

Belajar dari Beauvoir, hidup pada tahun 1930-an. Sosok perempuan yang tidak menginginkan dirinya dijadikan teladan, tetapi semata-mata menjadi dedikasi yang penuh disiplin. Memposisikan dirinya bersama mereka yang mengalami penderitaan. Dalam esaynya ia pernah menuliskan “Tidak ada yang perlu kita takutkan dari posisi ini, perempuan lahir sebagai perempuan dan laki-laki lahir sebagai laki-laki. Sungguh ini adalah suatu yang luar biasa karena semuanya dapat saling mengisi. Tidak pernah ada posisi yang lebih tinggi atau rendah karena kita hidup sebagai manusia dengan potensi yang sama. Tinggal bagaimana menggali potensi”. Satu benang merah yang dapat ditarik, dalam pemikiran seorang Beauvoir. Ketidak setaraan yang sering menjadi momok untuk perempuan ternyata telah tuntas di galinya. Bahwasannya selama perempuan mencari-cari letak perbedaan dengan laki-laki, tanpa sadar perempuan telah menggali jurang perbedaan itu sendiri. Secara tidak langsung, kita menyepakati kedudukan kita yang lebih randah dengan laki-laki. Justru, hal yang substansial yaitu menggali potensi kita sendiri telah terabaikan. Maka, hancurlah perempuan dengan ambisi menguasainya.

Kartini tidak lahir dari ambisi perempuan yang ingin menguasai, ia hadir untuk menggugat budaya patriarkat warisan feodal. Ia hadir sebagai cahaya yang menerangi jalan gelap yang dilalui jiwa-jiwa keperempuanannya. Bukan menjanjikan kedudukan yang lebih tinggi dari laki-laki. Tapi bagaimana membangkitkan perempuan untuk hadir dan maju sebagai manusia yang memiliki hak untuk hidup layak sebagai manusia.

Di zaman modern ini, ditengah perayaan hari-hari besar kenegaraan mengingat jasa para pahlawan bangsa. Jika saja Kartini hidup kembali, entah mimik wajah seperti apa yang akan ditampakkannya. Seandainya ia hadir diantara kita yang merayakan hari kelahirannya dengan kebaya yang dirancang khusus di butik-butik ternama tentunya dengan harga diatas standar, bunga melati segar yang menghiasi sanggul, berbaris rapi dalam satu upacara perayaan kelahirannya.

Masihkah Kartini berwajah sumringah seperti dalam lukisan di tembok kelas ketika ia menyaksikan semua ini? Sambil dengan bangga memberikan sambutannya atas jasa-jasanya mencerdaskan perempuan Indonesia?

Ataukah ia hadir dengan tangis, seraya menggugat sejarah yang mempo-sisikannya hanya sebagai simbol, seremonial, peringatan hari kelahirannya yang sama sekali tidak memberi makna apa-apa bagi perbaikan nasib sekian ribu jiwa para TKW Indonesia di luar negeri, bagi pembantu rumah tangga yang bekerja siang malam di tempat majikannya, bagi mereka yang mengalami pelecehan seksual dan kekerasan atau bagi para Pekerja Seks Komersil yang bekerja memuaskan berahi laki-laki hidung belang. Tanpa gambaran yang jelas seperti apa masa depan mereka dan anak-anak mereka.

Mengapa Kartini hanya mewariskan wajah sumringahnya ?. Hingga kita berfikir ia tidak pernah menderita. Atau, mengapa ia terlalu cepat menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang”?. Jika ini hanya seperti nyanyian kekalahan. Menjadikan kita merasa, cahayanya telah cukup menyilaukan hingga gelap menjadi jalan keniscayaan. Seandainya dapat mengulang sejarah, aku ingin sekali mengusulkan kepada Raden Ajeng Kartini “Jika Gelap, Carilah jalan Terang !”•

2 responses to “Menggugat Kartini

  1. ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ selalu terngiang-ngiang…
    Bagus sekali artikelnya Mbak…
    Salam kenal dengan blog Islamfeminis.wordpress.com

  2. dimana kau tanam cinta
    bila harkat dan derajat
    hanya sebatas selangkangan mahluk bernama wanita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s