Mengapa Harus OPINI Kampus?

blog-opini-kampus2.jpg
Sayapun bermimpi mempunyai Blog untuk menampung tulisan-tulisan tak layak muat itu. Saya ingin masyarakat tidak hanya mendengar opini para pejabat yang sarat kepentingan bahkan terus-terusan membohongi mereka lewat media. Saya ingin ngasi perspektif berbeda, saya ingin masyarakat melihat problem-problem sosial mereka dengan hati dan fikiran yang sehat. Tapi media-media itu juga sarat dengan kepentingan bisnis, takut kritis. Akhirnya lagi-lagi tulisan saya tak kunjung-kunjung dimuat.

Oleh ACHMAD JUMAELY*

Berawal dari rasa terpukul, frustasi dan sedih yang saya alami ketika banyak tulisan saya ditolak redaktur media massa lokal. Saya lalu terfikir untuk berhenti menulis saja. “Saya memang tidak bakat” fikir saya saat itu. Lebih jauh saya berfikir begini “kalo sudah di media lokal saja di tolak apalagi di media nasional”. Saya semakin frustasi dan frustasi.

Namun provokasi lewat tulisan “resi-resi” menulis seperti Mas Hernowo, Mas Faudzil Azim, Mbak Asma Nadia, Teh Pipit, Mas Jonru, Mas Golagong dan “resi-resi” menulis yang lain membuat saya merasa, saya ternyata masih punya peluang untuk “bisa”. Minimal untuk menulis apa saja. Walau hanya sebuah diary.

Buku terakhir yang membuat saya semakin bersemangat adalah bukunya mas hernowo “Main-Main Dengan Teks”. Baru beberapa halaman saja saya baca buku itu, otak saya langsung “nafsuan” untuk menulis dan mempraktekkannya segera. Saya sungguh seperti melihat Menu Ayam Taliwang dikala perut saya dalam keadaan sangat lapar. Akhirnya, hati saya kembali bersemangat untuk menulis. Beberapa opini saya bahkan tuntas. Tuntas menurut versi saya pribadi, dan saya tidak tahu apakah juga tuntas bagi orang lain yang membacanya.

Tapi siapa yang akan membaca tulisan saya itu? Saya pengen banget mengirimkannya ke koran lokal -yang saya ceritakan diatas- agar, minimal masyarakat NTB bisa membacanya, tapi sungguh saya belum siap di tolak lagi. Sayapun pusing seratus keliling.

Sayapun bermimpi mempunyai Blog untuk menampung tulisan-tulisan tak layak muat itu. Saya ingin masyarakat tidak hanya mendengar opini para pejabat yang sarat kepentingan bahkan terus-terusan membohongi mereka lewat media. Saya ingin ngasi perspektif berbeda, saya ingin masyarakat melihat problem-problem sosial mereka dengan hati dan fikiran yang sehat. Tapi media-media itu juga sarat dengan kepentingan bisnis, takut kritis. Akhirnya lagi-lagi tulisan saya tak kunjung-kunjung dimuat.

Daripada gondok dengan media yang tidak kooperatif begitu,malem-malem saya begadang di warnet untuk belajar blog. Saya juga semakin bersemangat mengetahui blog setelah siangnya menonton acara di Metro TV yang membahas dahsyatnya sebuah blog seorang (saya lupa namanya) hingga membuat merah telinga pejabat-pejabat Diraja Malaysia. “Wah hebat banget” fikir saya.

Sayapun nyoba-nyoba bikin blog probadi di http://www.jhellie.wordpress.com Uhuiiii! TERNYATA SAYA BISA!. Tapi kok ya, yang nulis hanya saya seorang, saya coba bikin satu lagi yang bisa menampung tulisan kawan-kawan mahasiswa yang lain, biar tambah ramai di http://www.penulismuda.wordpress.com, Alhamdulillah dari sini aku belajar banyak dan banyak teman yang coba menaggapi.

Karena saya belum puas dengan dua blog tadi. Blog http://www.opus.com ini tercipta akhirnya. Saya ingin blog ini menjadi wadah yang semoga bisa manampung “nafsu” menulis kawan-kawan secara berani, bebas, bertanggungjawab, kritis dan analitis -dengan tentu saja- khas anak muda. Dan satu lagi tak takut di TOLAK LAGI Media pragmatis-oportunis itu. Akhirnya saya berharap di Blog ini kita bisa berdebat atau bahkan saling bantai secara cerdas dan jernih.

Rental “Cahaya”, Pejeruk Nurul Yakin Ampenan, Mataram
24 April 2007, 03.21 WITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s