Mafia Global Versus Mafia Birokrasi

coruption.jpeg

Parahnya lagi masyarakat seperti dininabobokkan oleh impian hidup sejahtera seolah-olah dikultuskan untuk menerima ini menjadi kewajaran dalam proses pembangunan mental mereka, bahkan ada pula masya-rakat pedesaan yang tak tanggung-tanggung menjual tanah pertaniannya yang penting anaknya bisa lulus menjadi pegawai negeri. Maka tak heran, dari praktik-praktik semacam ini lahir pulalah pemimpin-pemimpin yang berwatak sama dari awal kelahirannya.

Oleh: MAIA RAHMAYATI SABRI*

Kita patut bersyukur, sejatinya ditanah kelahiran kita ini belum ada kelompok kriminal berkwalitas seperti mafia. Dalam serial film Godfather yang di bintangi aktor Al Pacino dan berhasil meraih Oscar sebagai film terbaik diera tahun 90-an ini, mengangkat tema tentang maraknya kasus kejahatan yang didalangi mafia.

Mafia yang lahir pertama kalinya di kepulauan Sisilia, yang terletak di lepas pantai Italia, sesunggunhnya memiliki potensi untuk tumbuh kembangnya praktik-praktik kejahatan bawah tanah, hal ini diteliti dari sejarah Sisilia sendiri yang tak lepas dari sejarah penjajahan. Dimana Sisilia merupakan kawasan yang memiliki hutan yang lebat dan ladang-ladang gandum yang subur dan semua itu di eksplorasi dan dihabiskan oleh Romawi dan para penjarah lainnya. Perancis sendiri menguasai pulau ini ketia Mafia pada saat itu mulai terbentuk. maka wajar bagi orang-orang yang tertindas untuk membentuk orga-nisasi rahasia pada saat itu.

Bukan hanya di Sisilia, berita tentang mafia sudah menjadi perbincangan dan menimbulkan keresahan diberbagai Negara seperti Triad di Hongkong, Medelin di Kolombia, Ndrangheta di Kalabria, La Cosa Nostra di Amerika dan Yakuza di Jepang. Meskipun dinegara kita umumnya dan di wilayah kita saat ini khususnya, yang ada hanya kelompok preman, yang bisa di katakan tidak terlalu terorganisir secara matang.

Kaitannya dengan agenda pemerintah saat ini, yang ingin diangkat oleh penulis adalah tentang di bukanya lowongan bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang pengangkatannya di tiap-tiap daerah. menjadi pertanyaan mendasar buat kita adalah terjaminkah sistem rekrutment ini dari praktik-praktik KKN ? Jawaban klasik yang sering terdengar sampai saat ini adalah rasa pesimisme masyarakat yang mendalam bahwa program-program semacam ini akan sulit terhindar dari praktik KKN. Masyarakat terkadang jenuh, setiap ada agenda pemerintah untuk rekrutment CPNS, masih ada saja para oknum birokrat yang sulit terhindar dari penyakit akut ini, kita sebut saja ini merupakan praktik klasik ala mafia yang sedang diterapkan pada konteks oknum birokrat kita.

Kita ketahui bersama, mafia untuk mendapatkan penghasilan rutinnya selain dengan usaha-usaha ilegalnya, seperti melakukan penyelundupan narkotika dan senjata api ilegal, kelompok ini juga memberikan semacam surat yang sopan dan membujuk yang isinya “meminta” uang perelindungan, dan menariknya uang perlindungan itu sendiri untuk melindungi pembayar dari kelompok yang mengirim surat tersebut.

Konteksnya memang berbeda dengan kebanyakan praktik suap-menyap dikalangan oknum birokrat, namun hal ini terkesan jauh lebih tidak manusiawi lagi di bandingkan dengan apa yang dilakukan kelompok mafia. Sogok-menyogok bukan hal yang baru, bahkan ini sudah menjadi budaya tidak tertulis, yang tak harus disepakati oleh setengah dari penduduk Indonesia karena jaringan ini jauh lebih rapi dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Jaminan demi jaminan jelas merupakan tawaran yang menarik untuk sebagian masyarakat yang menggandrungi lapangan pekerjaan yang konon katanya menjamin kesejahteraan hidup sampai menutup mata.

Parahnya lagi masyarakat seperti dininabobokkan oleh impian hidup sejahtera seolah-olah dikultuskan untuk menerima ini menjadi kewajaran dalam proses pembangunan mental mereka, bahkan ada pula masya-rakat pedesaan yang tak tanggung-tanggung menjual tanah pertaniannya yang penting anaknya bisa lulus menjadi pegawai negeri. Maka tak heran, dari praktik-praktik semacam ini lahir pulalah pemimpin-pemimpin yang berwatak sama dari awal kelahirannya.

Menjadi perenungan bersama, jika hal ini bukan barang baru, lantas dimana muaranya ?. Nyatanya semua pihak terkesan It’s oke saja dengan kedaan ini. Tidak ada yang sampai berani memunculkannya kepermukaan karena adanya ketakutan-ketakutan subjektif yang timbul, entah itu terancamnya posisi dalam jabatan, dan sebagainya.

Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan ” dalam kesatuan ada kekuatan” jika saja diantara kita pernah ataupun sempat menjadi korban dari praktik ketidakadilan ini, namun karna masalah waktu, itu pun menjadi mengendap. Maka sewajarnya hari ini kita menggugatnya. Karena bagaimana pun juga suatu estabilisment (tradisi mapan) yang dinilai menyimpang ini harus berani kita dobrak tentunya dengan kekuatan bersama. Karena tidak mustahil, jika hari ini kita menjadi korban, maka tidak menutup kemungkinan untuk hari-hari selanjutnya anak cucu kita pun akan terbawa arus, bahkan menjadi pemain dari hal-hal serupa.

Akan sangat sulit, jika sampai hari ini kita masih menunggu etikat baik pemerintah untuk mengusut tuntas kasus ini secara internalitas, karena dalam tubuh pemerintah sendiri hal ini sudah seperti lingkaran setan yang membelenggu, bukan tidak mungkin jika kasus ini terungkap maka adegan saling tunjuk akan kembali menjadi tontonan klasik yang tak bosan-bosannya dipertunjukkan oleh para elite politik, dimana atasan menunjuk bawahan begitu pun sebaliknya. Maka cara mafia dalam hal ini oleh penulis dapat dikatakan jauh lebih bertanggung jawab karena komitmen anggota mafia dimana pilihan terbaiknya adalah mati dari pada mengekspose eksistensi internalnya.

Seperti kutipan sumpah calon anggota mafia dalam upacara Omerta “Aku pertaruhkan kehormatanku untuk setia kepada mafia, sebagaimana mafia setia kepadaku. Seperti halnya santo ini dan beberapa tetes darahku yang dibakar, maka akupun akan memberikan seluruh darahku pada mafia, ketika abu tubuhku dan darahku kembali pada kondisi semula” (“Mafia Global” Antonio Nicaco & Lee Lamothe). Harus di akui negara-negara maju seperti Amerika dan Hongkong di kawasan Asia sampai saat ini masih sulit untuk menumpas kelompok ini.

Perbedaan lain yang terlihat mencolok antara mafia global dan mafia yang ada dalam Bangku pemerintah kita saat ini adalah dari segi sejarah kemunculannya, sebagimana mafia global yang lahir dari kelompok yang termarginal dan tertindas oleh sistem politik pada masa itu, sehingga kelompok ini oleh masyarakat pada zamannya di sebut juga sebagai malaikat penolong karena praktik kerjanya yang mirip Robin Hood.

Nah, Jean Paul Sartre pernah mengataklan” Sang revolusioner adalah seorang yang tertindas yang sekaligus merupakan kunci utama dari pihak-pihak yang menindasnya. Sang revolusioner tidak mendapat privelese-privelese seperti yang dimiliki para penindasnya, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya adalah dengan menghancurkan kelas yang menindasnya”.

Jelas berbeda halnya dengan konteks kelahiran mafia birokrasi, bisa jadi hal ini bukan dilandasi oleh rasa ketertindasan dari segi ekonomi tapi lebih pada mengakarnya tradisi KKN yang sangat meresahkan masyarakat di bawah. Dan sudah sepatutnya masyarakat mengambil peranan dengan menuntut transparansi dalam hal ini dari pemerintah•

* Mahasiswa IAIN Mataram dan Aktifis Institut Studi Krisis Perdamaian (InSKRIP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s