Khutbah Jum’at, Sebuah Otokritik

zakat_box_big11.jpg

Saya tidak sedang menggeneralisir bahwa semua isi ceramah dan khatbah tidak mencerminkan kedewasaan dalam beragama. Tapi, saya hanya mencontohkan bahwa kerusuhan 171 adalah bukti bahwa masih ada -untuk tidak mengatakan banyak ceramah-ceramah keagamaan masih kering dari ajaran agama.

Oleh YUSUF THANTOWI*

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu
meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,kemudian hantarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum
yang tidak tahu.”
(Al-Taubah: 6)

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Apakah saya belum menceritakan kepadamu tentang amal yang lebih utama daripada shalat, puasa, dan zakat?’ Para sahabatnya menjawab: ‘Belum.’ Kemudian nabi bersabda: ‘Yaitu mendamaikan perselisihan
di antara orang-orang.”

HARI itu, Ahad 17 Januari 2000, di Mataram terjadi kerusuhan yang berbau SARA. Saya masih ingat betul, pukul sebelas, dari samping utara lapangan umum Mataram, membumbung asap hitam ke udara. Berita langsung menyebar dengan cepat. Ada pembakaran gereja di Karang Kelok.

Saya langsung berlari ke lokasi. Di sana saya melihat ribuan massa terus bergerak, seolah ada yang mengomandoi. Gelombang massa itu bergerak dari pusat kota menuju Kecamatan Cakra, lalu ke Kecamatan Ampenan. Seperti direncanakan, massa yang membawa batu, kayu dan bensin itu mencari gereja dan rumah-rumah umat Kristen, lalu menghancurkannya. Beberapa tuan guru berpengaruh di kota Mataram langsung turun ke jalan mencoba menenangkan massa. Hingga malam hari, kota Mataram mencekam. Esok hari, Senin 18 Januari, kerusuhan baru reda.

Dalam kerusuhan 171 -karena terjadi tanggal 17 bulan 1-tidak ada korban jiwa. Tapi, 6 gereja hangus terbakar, belasan toko dan rumah umat Kristiani dijarah isinya, lalu bangungannya dirobohkan. Penghuninya mengungsi ke Bali dan Surabaya. Beberapa hari setelah kerusuhan itu kota Mataram seperti kota mati. Senyap.

Pasca kerusuhan 171 itu, berbagai spekulasi muncul. Ada yang berpendapat kerusuhan terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi. Sedangkan yang lain beralasan, akibat pemberitaan media yang gencar memberitakan pembunuhan umat muslim Ambon dan Poso.

Di mata saya, kerusuhan itu memang “aneh”. Kenapa kerusuhan itu terjadi di kota, di dekat markas Polisi Militer (POM), kantor Wali Kota Mataram, kantor Gubernur NTB dan kantor Komando Distrik Militer (Kodim). Lebih aneh lagi, massa yang menyerang itu datang setelah menghadiri tablig akbar, di mana ayat-ayat suci Al-Qur’an dikumandangkan dan ceramah agama digemakan. Yang terakhir inilah, yang sampai hari ini selalu mememunculkan pertanyaan, kenapa ceramah-ceramah keagamaan dan khatbah-khatbah suci tidak membuahkan kasih sayang dan perdamaian antarsesama. Tulisan ini akan saya fokuskan pada hal yang terakhir ini.

Saya tidak sedang menggeneralisir bahwa semua isi ceramah dan khatbah tidak mencerminkan kedewasaan dalam beragama. Tapi, saya hanya mencontohkan bahwa kerusuhan 171 adalah bukti bahwa masih ada -untuk tidak mengatakan banyak ceramah-ceramah keagamaan masih kering dari ajaran agama. Sampai sekarang, saya masih mendengar materi-materi ceramah dan khutbah-khutbah Jumat yang bernada provokatif dan agitatif. Kasus terakhir, konon, massa yang menghancurkan Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA) di Probolinggo, Jawa Timur, terjadi setelah mendengarkan pengajian umum di masjid, di Desa Krampilan, Kecamatan Besuk, Kraksaan, Problinggo Jum’at 27 Mei 2005. YKNCA dituduh sesat oleh MUI setempat setelah menerbitkan buku berjudul “Menembus Gelap Menuju Terang 2”.

DENGAN segala kerendahan hati, izinkanlah saya ikut urun pendapat dan otokritik perihal ceramah keagamaan, utamanya khatbah Jumat. Inilah beberapa poin hasil dari pengalaman saya menyimak khatbah Jumat.

Pertama, materi-materi tidak disusun sesuai dengan persoalan-persoalan yang kongkrit dihadapai oleh masyarakat luas. Kebhinekaan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan dan pendidikan. Ini persoalan riil yang melekat di sekitar “urat nadi” rakyat Indonesia. Umpamnya, dalam khatbah saya jarang mendengar hadits Nabi yang berbunyi “Tak beriman orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan.”.

Ada hadits perdamaian seperti ini, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Apakah saya belum menceritakan kepadamu tentang amal yang lebi utama daripada shalat, puasa, dan zakat?’ Para sahabatnya menjawab: ‘Belum.’ Kemudian nabi bersabda: ‘Yaitu mendamaikan perselisihan di antara orang-orang.’ Atau ayat-ayat Al-Qur’an yang saya kutip di atas. Hadits atau ayat semacam ini layak diulang-ulang dalam masyarakat yang makin individualistik, tidak peduli, dan ada kecenderungan emoh bersahabat dengan kelompok lain, bukan saja kelompok antariman, tapi juga kelompok di dalam satu agama. Kasus di Parung Bogor dua minggu yang lalu adalah contoh, contoh buruk dalam sejarah Islam di Indonesia.

Poin pertama tadi menggoda saya untuk berkesimpulan, Kedua, bahwa kepekaan khatib (penyampai khatbah ) terhadap persoalan sosial masih sangat lemah. Mereka sering memandang masalah-masalah sosial menjadi urusannya pemerintah, tidak ada sangkut-pautnya dengan agama. Agama Islam dipahami hanya sebatas hablum minallah, dalam rangka ritual ubudiyah. Hanya sebatas ibadah mahdhah. Padahal, khatbah Jumat adalah tempat yang strategis untuk kampanye atau dakwah solidaritas sosial. Sebab, di sana tempat semua anggota masyarakat berkumpul.

Lebih dari itu, khatbah Jumat bisa atau bahkan harus menjadi media pembelajaran kritis bagi masyarakat dengan basis nilai-nilai agama. Jika ini bisa dijalankan, kemudian dipraksiskan dalam bentuk pemberdayaan dan pembelaan bagi masyarakat lemah. Dengan demikian agama bisa menjadi pijakan menumbuhkan energi menuju perubahan sosial secara sistematik.

Ketiga, tema-tema yang diangkat “miskin” data dan lemah analisa. Kalau pun ada dalil (data) Al-Qur’an dan hadits, di sampaikan apa adanya, tanpa melalui penalaahan mendalam. Akibatnya, jamaah pun menilai dalil yang dipakai para khatib adalah data klasik yang tidak pernah ada pengembangan dari waktu ke waktu. Lebih parah lagi, beberapa kali saya juga mendengarkan khatib menggunakan “kabar burung” sebagai dalil. Ya, khatbah akhirnya menjadi “kabar burung” juga.

Keempat, masih banyak khatib malas membuat konsep. Mereka lebih senang membanca materi khatbah yang telah tersedia di masjid atau koleksinya sendiri. Akibatnya para khatib terus mengulang-ngulang materi lama. Hal ini membuat jamaah malas menyimak, karena topiknya a sosial.

Demikianlah urun pendapat dan otokritik saya tentang ceramah agama, lebih khusus khatbah Jumat. Bila ada sesuatu yang salah dari tulisan saya, maafkanlah. Tulisan saya sampaikan tidak lain hanya untuk kebaikan bersama, sesama muslim dan sesama rakyat Indonesia. Semoga khatbat kita bermanfaat, fii al-dunya wa al-akhirah •

* Koordinator Lingkar Studi Progresif (LSP) Mataram

5 responses to “Khutbah Jum’at, Sebuah Otokritik

  1. emangnya gereja-gereja kristen dan segala syaitonirojim-nya ngajarin kasih sayang? kok pendeta2 di ambon dan poso membiarkan umat kristen bangsat pada ngebunuhin muslim di sana? gimana tanggapan luh tentang genocide di bosnia, ambon dan poso yang dilakukan oleh kafir kristen? kasih sayang yang bagaimana yg mereka sudah lakukan?ngebunuh dan ngejagal wanita dan anak2 yg ga berdosa gitu???? pakai otak kalo ngomong…umat muslim selama ini cuma di tuduh sebagai tertuduh terus…sedangkan umat kristen habis ngebunuhin muslim pada pesta makan babi…babi luh semua kristen dan yahudi beserta dedengkotnya plus orang murtad…

  2. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Bagaimana Menjadi Khatib Efektif?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/bagaimana-menjadi-khatib-efektif-1-of-2.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  3. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  4. Pertanyaan yang sama seharusnya juga anda tujukan pada kasus-kasus di daerah-daerah lain -seperti kerusuhan di Ambon, dimana orang-orang muslim menjadi korban kezaliman. Atau, pada kezaliman yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, Irak, dan negara-negara mayoritas muslim lainnya.
    Jangan hanya bertanya, “Mengapa masyarakat muslim terprovokasi oleh ceramah/khutbah yang mereka dengar?”
    Karena pertanyaan ini hanya akan membawa anda pada hipotesis parsial yang tidak proporsional dan berpotensi semakin menyakiti perasaan saudara-saudara muslim. Coba anda baca, bagaimana kesalnya Zpion terhadap tulisan anda.

    Bertanyalah,”Mengapa orang-orang muslim begitu dibenci sehingga mereka harus mendapatkan perlakuan brutal dan sadis, seperti yang dialami saudara-saudara muslim di Bosnia, Palestina, Irak, dan lainnya? Sedangkan masyarakat dunia yang menyaksikan berpura-pura tidak tahu atas apa yang telah terjadi.” Pertanyaan ini seharusnya mengarahkan anda pada jawaban bahwa tindakan anarkis yang dituduhkan atau benar-benar dilakukan oleh saudara-saudara muslim lainnya adalah REAKSI atas ‘diam’ (bahkan mungkin ‘setuju’-nya)masyarakat dunia atas ketidakadilan dan kezaliman yang dilakukan terhadap masyarakat muslim.
    Atau, tidakkah anda melihat bahwa peristiwa 171 dan peristiwa-peristiwa lainnya bukanlah sekedar masalah reaksi atas ceramah keagamaan ansich, melainkan bagian dari fenomena global yang begitu GAMBLANG, namun orang-orang tertentu ‘pura-pura’ tidak tahu?

    Sebaiknya anda hati-hati jika ingin menulis anggapan semacam ini karena orang-orang yang membaca akan balik beranggapan bahwa anda yang tidak dewasa dalam menanggapi isu-isu dengan cara melihat suatu permasalahan secara parsial.

    saya sangat menghargai jika tulisan anda dilandasi niat yang tulus untuk kebaikan masyarakat Islam selama anda mau lebih proporsional dalam menanggapi satu hal.

  5. askum. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang tahu apa niat-niat para muballigh dan para khotib sehingga mereka radikal dalam berkhutbah, dan kita tidak punya kepantasan untuk menilai dan menghakiminya. saya pribadi orang radikal tapi termasuk yang setuju bahwa berkhutbah harus dengan cara yang santun. barangkali satu-satunya jawaban adalah itu karena para muballigh sudah muak dengan negara, kekuasaan atau bahkan kepada dirinya sendiri. atau bahkan si penulis diataspun sesungguhnya dia sedang muak dengan dirinya sendiri yang bahkan tidak memikirkan kepentingan kaum muslimin tapi kepentingan dirinya dan organisasinya. sesungguhnya kaum musliminpun sudah terkutuk karena mereka berorganisasi dan berpartai. visit:www.republikcacing.com. wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s