Ulas Buku

542.jpg

Membongkar Pemikiran Cak Nur

Judul Buku: Menembus Batas Tradisi Menuju Masa Depan yang Membebaskan
Oleh: Kholilul Rohman Ahmad

INDONESIA telah diberi warna pemikiran modern yang khas oleh Cak Nur (Nurcholish Madjid). Corak pemikiran yang melampaui kewenangan sejarahnya–istilah buku ini ‘Menembus Batas Tradisi’ dipakai judul–ini berdampak luas bagi terbukanya wawasan berpikir generasi bangsa, khususnya kalangan muda Islam.

Pemikiran Cak Nur yang kaya sumber-sumber baku dalam khazanah Islam merupakan simbol atas pergulatan budaya yang keras dan menghasilkan warisan ilmu yang sangat berguna bagi pergulatan bangsa.

Buku ini memberikan peta sosiologis dan teologis pemikiran Cak Nur yang telah mewarnai Indonesia sejak 35 tahun lalu. Cak Nur mewariskan kepada kita sebuah ensiklopedia pemikiran yang diramu dari berbagai sumber unit peradaban umat manusia.

Dari karya-karya yang telah dihasilkannya tidak berlebihan kalau kita mengatakan Cak Nur yang lokal Jombang mempunyai wawasan global universal dengan Islam sebagai dermaga tempat bertolaknya. Dengan gambaran itu, menurut A Syafii Maarif, dunia pemikiran adalah habitat Cak Nur yang sesungguhnya, bukan politik yang sering menghabiskan energi.

Buku ini tidak bermaksud mengultuskan Cak Nur yang telah berpulang kepada-Nya pada 29 Agustus 2005. Umum manusia tempat salah dan khilaf yang tidak akan menemui titik sempurna seperti yang kita sendiri harapkan. Akan tetapi sebagai manusia berakal merupakan karunia bila mempersembahkan pemikiran Cak Nur sebagai warga negara yang telah memberikan andil besar bagi tergeraknya akal untuk kemudian menghasilkan pemikiran up to date dalam sejarah berbangsa, bermanusia, maupun bernegara.

Dalam analisis dan presentasi seluruh kontributor buku ini, terlihat gagasan dan cita-cita Cak Nur masih dalam proses menjadi menuju titik kesempurnaan hidup kolektif yang tidak akan pernah menemui batas. Meskipun melampaui batas tradisi, pemikiran Cak Nur dalam nalar modernitas keislaman yang bercorak universal, kesetaraan, demokrasi, keadilan, dan keindonesiaan masih harus menghadapi tantangan zaman yang semakin pelik seperti kemiskinan, terorisme, fundamentalisme, konflik, dan utang luar negeri yang membutuhkan energi ekstra dari para anak bangsa untuk memeranginya. Di sinilah konteks jihad (perjuangan) dalam pemikiran Cak Nur.

Memang, gagasan dan cita-cita Cak Nur menciptakan dunia yang adil dan ramah, tanpa diskriminasi dan eksploitasi sebagaimana dirindukan para nabi dan filsuf, dapat ditelusuri hampir pada semua karya Cak Nur. Ada sebuah benang merah yang membentang pada gagasan dan cita-cita itu. Akan tetapi di sisi lain, Cak Nur juga melihat jurang kesenjangan antara ajaran Islam sejati dan realitas yang melingkari umat. Tetapi ironisnya, tidak jarang realitas itulah yang dianggap agama oleh sebagian umat, karena minimnya pemahaman tentang Islam di kalangan rakyat Indonesia (hlm. ix).

Buku ini berupaya menelusuri kembali warisan cerdas Cak Nur dalam memintal pemikiran Islam agar tetap lestari di tengah kepungan jaman kapitalis yang serba materialistis. Para kontributor ingin agar pergulatan kebudayaan dalam ranah pemikiran yang pernah dilakukan Cak Nur tidak menguap seiring mangkatnya. Sayangnya, para kontributor seperti kur menyanyikan lagu yang sama tentang Cak Nur tanpa kritik dan penelusuran mendalam keluar dari wilayah normatif. Kholilul Rohman Ahmad, editor di Radio Fast FM Magelang, Jawa Tengah.

Kritik Gramci Untuk Dunia Ketiga

gramci1.jpg

Judul Buku : Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga
Penulis : Muhadi Sugiono
Penerbit : Pustaka Pelajar
Jumlah Halaman : xvi + 203, Cetakan II Mei 2006
Resensor : Robyan Endruw Bafadal*

Kata ‘pembangunan’ begitu akrab kita dengar pada masa masa Orde Baru. Popularitas kalimat ini seakan memiliki nilai yang sama dengan kata ‘revolusi’ pada Orde Lama. Pihak yang berusaha mengkritisi pemimpin kemudian dengan mudah dicap ‘anti-pembangunan’, sebuah sebutan yang sangat ditakuti oleh setiap saja.

Buku ini tidak hendak membahas tentang proses pembangunan di Indonesia, atau pun satu negara di dunia. Tetapi lebih difokuskan pada ide atau teori pembangunan. Lebih tepatnya tentang ‘kontestasi’ berbagai ide pembangunan. Untuk meraihnya, buku ini menggunakan perangkat analisis yang diberikan Antonio Gramsci, seorang intelelektual utama ‘marxian’ dari Italia. Penulis buku ini hendak menggambarkan bagaimana sebuah ide tentang pembangunan kemudian menjadi sebuah gejala global, dan dianut oleh hampir seluruh negara, melintas batas yang ada.

Pada bagian awal diberikan penjelasan singkat tentang beberapa kata penting dari konsep Gramsci yang digunakan sebagai alat analisa nantinya. Bagian ini tentu saja penting untuk memahami alur logika penulis dalam penjelasan pada bagian-bagian selanjutnya. Pada bagian ini diungkapkan sebuah hal yang menarik tentang pemikiran Gramsci yang dinilai banyak pihak sudah keluar dari kerangkan marxis (klasik) ataupun neo-marxis.

Gagasan Gramsci tentang pentungnya ideologi daripada penguasaan ekonomi, sebagai perwujudan lebih pentingnya suprastruktur dubandingkan dengan sub-struktur dipandang sudah jauh keluar dari tradisi marxis. Bahkan bagi sebagian kalangan Gramsci telah membangun sebuah kerangka teori baru. Pada bagian ini dijelaskan juga beberapa istilah penting dari pemikiran Gramsci (yang sudah sering kita dengar) seperti ‘hegemoni’, ‘blok historis’, dan ‘intelektual organik’.

Kemudian pada bagian kedua digambarkan bagaimana tradisi pemikiran Keynes menjadi bagian penting dalam teori ekonomi-pembangunan. Teori yang mencoba mengkoreksi pandangan klasik Adam Smith tentang ‘keajaiban pasar’ dengan memasukkan unsur negara sebagai intevensionis. Bagi Keynes, ekuilibrium seperrti yang digambarkan Smith tidak akan tercapai, dan oleh karena itu negara dibutuhkan untuk melakukan intervensi. Ide ini kemudian menyebar dan diterima oleh hampir seluruh negara di dunia, dan terjadilah ‘hegemoni’ . Proses yang dipimpin Amerika Serikat ini kemudian disebarkan melalui berbagai institusi, terutama Bretton Woods dan Marshall Plan

Pada bagian selanjutnya kemudian dipaparkan terjadinya pergeseran ide tentang pembangunan, untuk kembali percaya pada ‘keajaiban pasar’ (dalam bahasa penulis hyper-liberal). Tradisi Keynesian kemudian banyak dikritik karena telah melahirkan berbagai permasalahan di negara berkembang, terutama tingginya angka inflasi.

Kritik ini kemudian disebarkan beberapa sarjana utama untuk menggantikan tradisi Keynesian dalam teori pembangunan. Mereka ini kemudian disebut dalam tradisi Gramscian sebagai ‘intelektual organik’, sedangkan perubahan ide secara fundamental disebut pergantian ‘blok historis’. Tradisi mengagungkan ‘keajaiban pasar’ kemudian menyebar ke seluruh negara dan kembali terjadi ‘hegemoni’. Dua pemimpin negara besar, Ronald Reagan (AS) dan Margaret Thatcher (Inggris), menjadi tokoh utama dalam penyebaran ide ini. Dalam pertemuan negara Utara-Selatan mereka hadir untuk berkampanye mengkritik keras tradisi Keynesian, dan kemudian menganjurkan Negara Selatan untuk kembali pada mekanisme pasar, dan mereduksi peran negara.

Bagian akhir buku ini berisikan kesimpulan dari pembahasan sebelumnya. Penulis memfokuskan tentang konsep ‘negara pasar’. Konsep ini bagi penulis sangat membingungkan karena dalam kenyataan konsepsi yang diberikan berbeda-beda. Misalnya saja dalam tradisi Asia, konsep ini kemudian lebih didefinisikan sebagai kebijakan yang berorientasi ekspor.

Aplikasi dari konsep ini juga kemudian telah gagal menyebabkan kemakmuran rakyat sebagaimana ditunjukan pengalaman di Afrika. Kemudian, konsep ini kemudian oleh banyak pihak banyak dikoreksi. Salah satu yang utama ialah tentang pengakuan pentingnya struktur sosial dalam pelaksanaan mekanisme pasar itu.

Walaupun merupakan terbitan lama, buku ini tetap menarik dibaca, terutama bagi mereka yang tertarik pada kajian ekonomi-politik internasional. Walaupun ditulis intelektual asal Indonesia namun pada awalnya buku ini ditulis dalam bahasa Inggris, lalu kemudian diterjemahkan. Disinilah muncul kekurangan karena dalam beberapa bagian, terjemahan yang diberikan terasa membingungkan. Hal ini disebabkan karena buku ini tidak diterjemahkan langsung oleh penulisnya sendiri.

Jadi ada jarak antara penerjemah dan penulis. Inilah yang dikeluhkan penulis buku ini. Termasuk tentang judul buku yang tidak tepat. Menurut penulis, ia tidak pernah menggunakan pemikiran Gramsci, yang ada hanya menggunakan tradisi pemikiran Gramsci, atau Gramscian. Karena menurutnya Gramsci tidak pernah berbicara tentang pembangunan !

* Mahasiswa Pasacasarjana Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, email : robyan_e@yahoo.co.id

4 responses to “Ulas Buku

  1. Situs pertemanan makin banyak bertebaran di internet. Dari sekian banyak nama, friendster, adalah satu nama yang paling populer. Sebab, dari situs ini, kita bisa banyak mendapat teman, dan bahkan mencari teman yang sudah lama tidak berhubungan dengan kita. Situs pertemanan, bagi sebagian orang memang telah menjadi semacam media yang sangat menyenangkan. Selain bertemu teman, berkenalan, hingga saling mengirimkan undangan pertemuan, menjadikan media ini bukan sebatas media maya belaka.

    Nah, bagi yang mempunyai hobi sama, situs pertemanan bisa jadi juga memberi kemudahan untuk saling bertukar informasi, Salah satu situs petemanan khusus satu hobi ini bisa ditemui di Penulis-Indonesia.com. Seperti namanya, situs pertemanan ini memang hendak mengumpulkan jaringan para penulis di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

    Menulis, belakangan memang menjadi sebuah fenomena yang makin berkembang di Indonesia. Makin banyak bermunculan penulis berbakat di tanah air yang tak hanya berbicara di tingkat lokal. Sebab, ada pula yang telah berhasil di ranah internasional. Hebatnya lagi, penulis di Indonesia itu sangat variatif usia pegiatnya, dari anak kecil hingga usia dewasa.

    Dengan situs pertemanan Penulis-Indonesia.com, para penulis ini hendak dikumpulkan dalam satu wadah pertemanan untuk saling dukung, saling dorong, saling bina, saling bantu, hingga suatu saat nanti, akan makin banyak penulis berkelas internasional di Indonesia. Tentunya, harapan ini bukan harapan kosong belaka. Sebab, hanya dengan kekuatan pertemanan dan relasi, kita bisa saling bantu menumbuhkembangkan dunia kepenulisan ini. Jadi, siap bergabung di PenulisIndonesia.com?

  2. Saya baru baca dua buku yang begitu menggugah. Yang pertama ditulis oleh Faraq Faouda “al-Haqiqah al-Ghaibah” yang kemudian diterjemahkan oleh Novriantoni dengan judul “Kebenaran yang Hilang.” Kedua adalah buku “Spirituality Without God,” saya lupa penulisnya, terbit dalam edisi Indonesia dengan judul “Spiritualitas Tanpa Tuhan.” Saya rekomendasikan teman-teman membacanya. Sangat penting bagi amunisi perjuangan melawan tiran dan fasis religious.

    Terima kasih.

  3. wah,,, buku yang bagus,,, dimana saya bisa membeli buku ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s