Teknik Wawancara

Dalam kaidah ilmu jurnalistik, teknik wawancara sama pentingnya dengan skill menulis. Sebab, menarik-tidaknya berita tak hanya ditentukan oleh kepintaran kita mengolah kata. Yang jauh lebih mendasar adalah kepiawaian kita untuk melihat, mendengar, dan merangkai serpihan-serpihan peristiwa menjadi sebuah berita.

Oleh: Abdul Manan2

Sebelum berita muncul di media, ada tiga tahapan utama yang dilewati. Kita mengenalnya dengan istilah news gathering (pengumpulan berita), news writing (penulisan berita), dan news editing (editing berita). Wawancara ada di paket pertama.

Katakanlah kita melihat sendiri sebuah peristiwa. Misal, kecelakaan pesawat Boeing di Sungai Bengawan Solo. Itu tak berarti kita bisa langsung membuat berita. Banyak soal dari peristiwa itu yang tak mungkin kita tahu.

Kita mungkin melihat jatuhnya pesawat. Tapi, tahukah kita kapan pesawat itu berangkat? Membawa berapa penumpang? Siapa saja yang ikut di dalamnya? Orang biasa, pengurus partai, pejabat, atau siapa? Semua sisi itu tak mungkin bisa kita lihat sendiri. Kita perlu menggali dari orang lain. Dengan kata lain, kita harus bertanya. Dan, itu berarti kita harus melakukan wawancara. Dalam pengertiannya yang sederhana (dalam konteks media), wawancara adalah proses tanya jawab antara jurnalis dan sumber berita. Tujuan akhirnya adalah menggali informasi.

Untuk Apa?
Sebelum melakukan wawancara, terlebih dahulu kita harus tahu benar untuk apa wawancara dilakukan. Di Media, wawancara biasanya digunakan untuk 2 hal: Pertama; sebagai cara mengumpulkan bahan untuk membuat berita. Kedua; sebagai berita wawancara. Dua model ini punya karakteristik sendiri-sendiri.

Umumnya, kita wawancara untuk bahan berita. Misal, kita diminta untuk membuat berita tentang keuntungan short message service (SMS) bagi operator-operator telpon selular. Biasanya, kita akan datang ke operator telpon, seperti Telkomsel, Excelcomino, Satelindo, atau IM3. Kita akan bertemu dengan General Managernya. Kita akan bertanya banyak kepada dia tentang apa saja yang berkaitan dengan SMS. Setelah wawancara selesai, kita bisa langsung membuat beritanya. Keesokan hari, muncullah berita:

1 Disampaikan dalam pelatihan jurnalistik di Mataram, 13-14 Agustus 2002.
2 Wartawan TEMPO Interaktif.

Operator Ponsel Tingkatkan Pendapatan dari SMS
JAKARTA – Operator-operator telepon seluler mulai melirik pasar layanan short message service (SMS) untuk meningkatkan pendapatan. Dengan jumlah pesan yang dikirimkan mencapai lebihd ari 7 juta pesan per hari, pasar SMS memang menjadi lahan yang menggiurkan untuk menyedot pendapatan besar…

Demikian halnya jika kita menulis peristiwa kecelakaan, kerusuhan, upacara, dan sebagainya. Secara umum sama saja, cuma nara sumber yang diwawancarai berbeda.
Sedangkan berita wawancara digunakan untuk menampilkan pikiran-pikiran atau hal-hal penting yang berkaitan dengan tokoh yang sedang menjadi pembicaraan hangat. Karena wawancaranya akan menjadi berita sendiri (wawancara ditampilkan utuh), tentu persiapannya harus lebih matang. Untuk wawancara jenis ini, lazimnya wartawan menyiapkan referensi yang memadai tentang orang tersebut, dan membuat point-point pertanyaan yang bakal diajukan. Tak harus lengkap; cukup point-point penting saja. Yang pasti, pertanyaan –dan harapannya juga jawaban—bisa mengalir, sehingga alur wawancara terasa enak dan tetap logis.

“Saya Dapat Dokumen BIN Tak Resmi dari Putu”
Munculnya dua versi dokumen Badan Intelijen Negara (BIN) soal penyelesaian kewajiban pemegang saham (PKPS) bank telahmenimbulkan kontroversi. Namun, sampai saaat ini, belum ada klarifikasi resmi dari BIN soal dokumen yang isinya disampaikan Meneh Perencanaan dan Pembangunan Nasional /Kepala Bappenas Kwik Kian Gie kepada DPR pekan lalu. Untuk mengetahui lebih jauh soal ini, berikut petikan wawancara Koran Tempo dengan Kwik di kantornya kemarin.

Bagaimana Anda mendapatkan dokumen BIN versi Kepala BPPN?
Begini, sebelum Sidang Kabinet 7 Jnauari dimulai, saya sedang duduk dan serius membaca. Lalu Pak Putu (Kepala BPPN, I Putu Ary Suta) menghampiri saya dan memberikan dokumen itu….

Persiapkan segala sesuatunya
Teknis
􀂙 Alat perekam. Dalam wawancara yang dipakai untuk pengumpulan bahan, mungkin ini tak begitu diperlukan. Tapi untuk wawancara khusus, perekam jadi sangat penting. Selain ingatan kita terbatas, ini untuk menghindari adanya salah pengertian dan keliru menuliskan angka, singkatan dan sebagainya.
􀂙 Notes. Selain untuk membantu ingatan, catatan-catatan kecil bsia sangat membantu. Toh tak semua pekerjaan wawancara bisa dilakukan oleh alat perekam. Kalau bisa menulis steno, tentu akan sangat membantu. Malah tanpa perekam pun tak jadi soal. Jika steno tak bisa, jadikanlah notes sebagai panduan.

Misal:
menit 5 pernyataan menarik soal
menit 15 kutipan untuk judul
menit 30 data-data statistik.

Non-teknis
􀂙 Referensi. Jangan pernah melakukan wawancara dengan kepala kosong. Paling tidak, kuasailah pokok persoalan. Semakin banyak semakin baik. Bukan untuk mengajak nara sumber debat, paling tidak kita tidak mudah dikelabui nara sumber.

􀂙 Background nara sumber. Selain kapasitasnya, juga pribadinya. Kelak ini akan membantu saat kita sudah melakukan wawancara. Kita bisa memulai wawancara terasa santai dan mengalir jika tahu karakter nara sumber.
Beberapa hal penting

􀂙 Dengar dan perhatikan. Simaklah apa saja yang disampaikan nara sumber. Tanyakan kalau kurang jelas atau ada informasi yang kurang lengkap. Bisa disela, tapi lebih baik sesudah sumber selesai bicara.

􀂙 Buatlah nara sumber terasa nyaman. Ini trik klasik agar kita bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya. Bisa dengan mewawancarai dia di kantornya atau dari sikap bertanya kita yang tak boleh seperti polisi saat menginterogasi pelaku kejahatan.

􀂙 Mengawali wawancara. Awalnya, tanyakan hal-hal yang lebih ringan atau yang menjadi interestnya sebelum akhirnya kita berbelok pelan ke inti persoalan. Tapi, hindari basa-basi. Kalau nara sumber tak bisa menerima sendirian alias mesti ramai-ramai, tembak langsung dengan inti persoalan. Kalau punya pertanyaan yang bisa menyinggung perasaan, tanyakan di akhir kesempatan setelah semua soal lain terjawab.

􀂙 Memilih pertanyaan. Pertanyaan yang baik adalah separuh dari jawaban. Itu yang sering kita dengar dalam seni berwawancara. Prinsipnya, kita jangan hanya menerima apa saja yang dikatakan nara sumber. Kalau perlu, bersikaplah curiga, tapi jangan kelihatan. Jika kita punya data atau referensi yang memadai, Anda bisa menyelanya atau mengkonfrontir data jika ada yang dianggap tidak akurat. Pertanyaan “Apakah benar Anda melakukan pertemuan dengan si A,” akan mendapatkan jawaban beda dengan “Apa yang Anda bicarakan dalam pertemuan dengan si A di Hotel Borobudur?”

􀂙 Evaluasi catatan. Di sela-sela wawancara, liriklah notes; adakah data yang kurang atau sesuatu yang tak jelas? Kalau ya, tanyakan. Atau, tanyakan kepada nara sumber, masih adakah yang perlu disampaikan tapi lupa ditanyakan?

􀂙 Mengakhir wawancara. Tanyakan nomor kontak nara sumber, baik rumah, kantor atau handphone. Katakan bahwa kemungkinan Anda akan menghubungi dia lagi lain waktu. Jangan lupa ucapkan terima kasih.

* Disampaikan dalam pelatihan jurnalisme investigasi Media UNRAM

About these ads

15 responses to “Teknik Wawancara

  1. Nah…tulisan-tulisan model begini patut di apresiatifkan sekaligus di publikasikan via duni maya. Apalagi bagi penulis pemula, kehadiran tutor ini sangat dinanti-nantikan dan bermanfaat sekali.

    Salam kenal dari aku. Teruslah menulis dan berkarya. Jangan takut tidak dipetbitkan he..he..

  2. Salam kenal dari kami JarIk Bandung. Semoga bermanfaat.

    Tips Wawancara ini sangat diperlukan. bahkan jurlanis yang handalpun harus tetap membuka telinga, hari dari pelbagai media lain.

  3. salam kenal.
    aku lagi belajar wawancara,bisakah memberikan pejelasan yang lebih spesifik ?.
    terima kasih

  4. askum.
    terima kasih ya atas tulisannya
    itu sangat berharga sekali buat saya

  5. hampeh abg inoaku mungoroti tentang situs abg ko do.
    joleh-joleh kan lah mengenaisitus abg iko ino botu aku mungoroti do men.

  6. Makasih atas tulisan ini, saya terbantu dalam profesi segabai mahasiswa yang masih harus belajar banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan jurnalistik.

    Makasih, GBU.

  7. memanG Te-O-pE BG_t deh

  8. asw…maksih artikelbya yaaw…. pas bgt aku lgy butujin bwat tgas b. indonesia di sekolah… maaf klu artikel ini saya masukan ke dlm mkalah saya sbg referensi….

    • gftderdvsweavwzsfgvsesfffffgefgegegejnhhhhhnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,ikj666666666666666666666666666nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvyyyyyyyyyyyyyyyyyyyykunllllvra;ayemgklfffffffffs;;;;;;fgkm,tboptimnuiopvewotuihglkfrhygknfshlytuidmjhtukrhkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

  9. duh..kacian bngtz seh ngga da contoh wawancaranya!cape dech…miskin loe..!

  10. terima kasih info nya….salam kenal dari saya.

  11. trimakasih atas tipsnya. ada tips untuk menulis kritis gak ya?

  12. Mickey Minnei nhita

    I like It…. But Lebih Manis lagi Klo ada ContohNya….
    Thanks,,,,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s