Jika Tuan Guru Jadi Gubernur

Add to Technorati Favorites
sholat_wirid.jpg
Tuan Guru mirip-mirip seperti itu (maaf!), saya tidak mengatakan Tuan Guru seperti gajah secara fisik, samasekali tidak. Tapi kehidupan Gajah yang jauh dari insting kuasa dapat menjadi ibroh Hasanah (pelajaran terbaik) bagaimana seorang ulama atau Tuan Guru sejatinya memerankan diri. Sebagai pewaris para nabi, tugas Tuan Guru adalah menyeru moral, memberi teladan dan menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada ummat. Karena tugasnya yang sangat mulia itu, maka tak pantaslah kiranya Tuan Guru melacurkan diri di jalur politik yang serba lacur.

Oleh : ACHMAD JUMAELY*

DISEBUAH negeri imajiner, Kang Tohari terlibat perdebatan sengit dengan dua temannya. Perdebatan itu dimulai ketika Kang Tohari mengatakan seorang ulama yang berpolitik otomatis seketika itu tak pantas disebut Ulama lagi. Kang Martopacul yang mendengar omongan itu lantas menghardik. “Asal ngomong aja kamu, kamu lupa ya kalo ulama itu pewaris para Nabi? Kenapa kamu bilang begitu hah?” Kata Kang Martopacul marah.

Kang Tohari yang diserang secara tiba-tiba begitu menjadi gemetaran, tapi ia coba menjawab tegar. “Begini Kang, saya bilang begitu karena kecintaan saya kepada Ulama dan lembaga keulamaan” ujar Kang Tohari membela diri.
“Kamu ngawur! Cinta ulama kok omongmu begitu. Ini bagaimana?” Kejar Kang Martopacul.
“Maafkan saya Kang. Omongan saya itu berangkat dari segi hakikat ulama dan keulamaan. Menurut saya, dari segi ini ulama memang kurang pas berpolitik”
“Kok?!” kata Kang Martopacul dengan mata membulat.
“Iya, Akang barusan bilang bahwa ulama itu pewaris para nabi. Sampai disini saja sudah janggal, masak ulama mau turun derajat ngurusi politik yang dalam kenyataannya merupakan ajang pergumulan kepentingan golongan bahkan pribadi?. Ulama sepatutnya cukup penjaga moral saja lah!”. Tangkis Kang Tohari mantap.
“Termasuk moral para politisi” sela Kang Martopacul lagi.
“Ya, politisi dari semua golongan. Seorang ulama semestinya berdiri ditengah-tengah menjadi figur yang netral. Kalau ulama sudah berpolitik, berarti dia sudah pro salah satu golongan. Ini artinya, ulama harus siap “Bertengkar” dengan ulama lain yang memihak di golongan berbeda. Bukankah ini artinya ulama menurunkan derajatnya sendiri?”. Ujar Kang Tohari merasa menang.

Setelah membaca cerita dalam buku Muhammad Tohari “Mas Mantri Menjenguk Tuhan” itu, saya merasa tergelitik juga menanggapi kabar TGH. Zainul Majedi, MA. yang katanya bakal nyalon jadi Gubernur NTB pada Pemilu 2008.

Tuan Guru Bajang, siapa yang tak kenal ia?. Jika ada yang belum kenal, barangkali orang itu tidak berasal dari NTB atau kurang bergaul dengan masyarakat NTB. Sosok yang saya kagumi sejak kecil. Dulu, saya pernah mendengar, beliau diramal bakal menjadi pewaris satu-satunya karisma dan pengaruh Tuan Guru Maulana Syach, karena disamping Tuan guru Maulana Syaich tidak meninggalkan putra, juga karena kecerdasan beliau yang sangat luar biasa tak kalah dengan kakek beliau itu.

Dan ternyata betul, setelah kepulangan beliau dari Makkah ramalan itu menjadi kenyataan. Rasa Rindu masyarakat setelah cukup lama ditinggal Tuan Guru Maulana Syaich seperti terobati dengan kehadiran Tuan Guru Bajang itu. Masyarakat menantikan ceramah-ceramah beliau di hampir semua daerah di NTB. Yang mendengar tidak hanya dari kalangan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sendiri tapi juga dari masyarakat organisasi lain seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Kehadiran Tuan Guru Bajang membawa dinamika baru dalam konstelasi keagamaan di NTB khususnya bagi ummat Islam. Kepribadian beliau yang moderat menjadikannya dihormati oleh kalangan berbeda agama. Tak jarang beliau tampil memberikan tausiyah agar masyarakat NTB hidup rukun serta menjaga persatuan dan kesatuan dalam konteks pluralitas.

Karena pengaruh beliau yang begitu kuat di masyarakat, para politisi-pun tiba-tiba melihat peluang emas untuk menariknya ikut serta menjadi kontestan pemilu 2008. Lamaran politik berhamburan ke Gedeng (rumah) beliau. Bahkan beberapa bulan yang lalu, sebuah nama partai politik tiba-tiba mengakuinya secara resmi sebagai calon Gubernur dari partainya. Tak banyak yang saya tahu, apa jawaban beliau atas lamaran-lamaran itu? Apakah beliau menjawab dengan mengangguk atau menggeleng? Atau justru tidak kedua-duanya. Entahlah! yang jelas, lamaran politik kepada Tuan Guru Bajang ini bakal menambah daftar panjang fenomena Tuan Guru kita yang memilih hengkang ke dunia politik.

Khusus fenomena Tuan Guru Bajang, saya sepakat dengan Muhammad Tohari dalam cerita diatas. Saya turut keberatan jika Tuan Guru Bajang (kita itu) jadi Gubernur. Bukan karena saya meragukan integritas dan kapabilitas beliau tapi jauh di lubuk hati saya yang terdalam mempertanyakan nasib ummat Islam di daerah ini yang sudah banyak kehilangan Tuan Guru, dan Tuan Guru Bajang akan menambah daftar panjang itu? Tidakkah ummat akan kocar-kacir, tak terurus dan moralitas keagamaan mereka segera beringsut ke titik nadir mengkhawatirkan.

Saya kira, banyak pengalaman (politis) berharga yang bisa kita letakkan sebagai landas fikir kekhawatiran saya itu. Pertama, KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gusdur. Dulu dia seorang kiai yang amat di hormati seantero negeri. Gusdur bahkan sering disebut Guru Bangsa. Ide-ide keagamaannya yang selalu cemerlang dinantikan banyak orang. Tapi setelah ia merambah jalur politik dengan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada tahun 1999, Pamor Gusdur mulai redup. Karismanya kian kabur.

Walau kemudian Gusdur berhasil duduk menjadi Presiden. Tapi ia di demo terus. Tidak hanya di demo, tapi dihujat, dicerca, dihina, dilecehkan dan akhirnya lewat konspirasi politik elit ia di turunkan secara paksa dan tidak hormat.

Selain Gusdur ada Da’i Sejuta Ummat K.H. Zainuddin, MZ. Da’i kita ini kesohor hingga ke luar negeri. Dijuluki Da’i Sejuta Ummat karena setiap pengajiannya selalu membludak oleh jama’ah. Tapi setelah ia mendirikan Partai Bintang Reformasi (PBR), ummatnya yang jutaan itu tiba-tiba bubar dan meninggalkannya. Antusiasme masyarakat mendengar ceramah-ceramahnya berkurang. Bahkan radio-radio yang dulu –pada masa kecil saya- hampir wajib menyetel kaset ceramahnya pada pagi dan petang hari, mulai saat itu menghilang.

Inipun menjadi lelucon segar ketika pemilu 2004 berlangsung. Karena secara logika, partai PBR-lah yang paling berpotensi memenangkan pemilu karena mereka dipimpin Da’i yang banyak pengikut. Tapi kenyataannya lain, PBR hanya mendapat sekian persen suara tak lebih baik dari partai-partai kecil yang baru muncul saat itu.

Tuan Guru dan Lion Battlefield
Bayangan saya kian diperjelas setelah menonton sebuah film dokumenter Lion Battlefield bersama kawan-kawan aktivis pers mahasiswa di Mataram. Film yang berkisah tentang politik dunia fauna ini menyedot energi saya untuk faham benar politik para Tuan Guru itu.

Dalam sebuah adegan, film itu menggambarkan sekelompok gajah yang memilih sikap hegemonis atau malah apriori melihat hiruk pikuk politik dunia binatang. Walau sebetulnya ia mempunyai kekuatan yang bahkan jauh diatas kekuatan sang raja hutan singa, gajah samasekali tidak memiliki insting berkuasa. Dan predikat raja hutan tetap saja dimiliki si singa.

Sikap hegemonis atau malah apriori seperti itu memberi dampak positif bagi kehidupan si gajah. Gajah praksis tak punya musuh satupun. Ia menjalani hidup dengan ikhlas, tak ada beban apapun ditengah imperium singa amat megah. Yang luar biasa, singa ternyata takut pada gajah. Singa tak kan pernah berani semena-mena dihadapan Gajah. Gajah sangat berwibawa.

Tuan Guru mirip-mirip seperti itu (maaf!), saya tidak mengatakan Tuan Guru seperti gajah secara fisik, samasekali tidak. Tapi kehidupan Gajah yang jauh dari insting kuasa dapat menjadi ibroh Hasanah (pelajaran terbaik) bagaimana seorang ulama atau Tuan Guru sejatinya memerankan diri. Sebagai pewaris para nabi, tugas Tuan Guru adalah menyeru moral, memberi teladan dan menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada ummat. Karena tugasnya yang sangat mulia itu, maka tak pantaslah kiranya Tuan Guru melacurkan diri di jalur politik yang serba lacur.

Lagi-lagi saya ingin mengutip wanti-wanti TG. Maulana Syaich yang amat saya kagumi, “Sai-sai bepolitik iye licik, si-sai licik iye tegitik, sai-sai tegitik iye melitik”. (Siapa yang berpolitik maka dia licik, siapa yang licik maka akan dipukuli, yang dipukuli maka kesakitan). Saya fikir, wanti-wanti ini persis seperti yang diungkap para penganut filsafat eksistensialisme seperti Iqbal atau Saltre “Siapa-siapa yang masuk wilayah abu-abu (grey area/politik) maka ia akan menjadi anjing-anjing politik yang sanggup menjilat, menerkam dan saling bunuh”. Sungguh! Ini Maqom (posisi) yang sangat tidak pas untuk para Tuan Guru (kami) yang sangat kami cintai.[]

 Mahasiswa IAIN Mataram dan aktifis JARIK Mataram

About these ads

134 responses to “Jika Tuan Guru Jadi Gubernur

  1. Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Coba kita pajang seluruh para bakal calon itu, lalu kita telusuri trek rekodnya sampai kesehariannya. Nah siapa yang paling pantas memimpin NTB?

    Toh kita harus Pilkada karena sepakat demokrasi sebagai sistem berpolitik kita. Saya pikir ini urusan masa depan kita semua, tentu tidak baik kalau kita serahkan kepada sembarang orang. Setidaknya SI DIA yang secara logis, berilmu dan berprilaku baiklah yang bisa kita harapkan.

    So. ini urusan memberikan wewenang selama lima tahun lho. jangan main-main dong.

  2. SESUAI HADIST
    “SERAHKAN SEGALA SESUATU URUSAN KEPADA AHLINYA”
    AHLI AGAMA BEDA DENGAN AHLI PEMERINTAHAN

  3. Yang pantas dan memang ahli memimpin NTB adalah sosok figur yang faham betul akan kondisi daerah Tuan Guru Bajang lebih lama hidup di DKI daripada di NTB jadi beliau belum faham betul kondisi daerah kita ini, tuan guru bajang alangkah lebih arifnya bila terus membina umat dan jangan terjun kedunia politik

  4. Dalam membaca realitas, sangat penting bagi kita untuk bersikap akomodatif terhadap semua kenyataan yang sedang dan akan terjadi dalam masyarakat kita. Sejak dulu hingga sekarang, masyarakat kita sebenarnya masih menaruh hormat kepada figur2 seperti para tuan guru. Wallahua’lam apakah itu berarti masyarakat kita belum juga menginjak fase transisi dari kultur masyarakat tradisional menuju modernisme (wujud kegagalan intelektual di daerah kita) ataukah memang suatu kenyataan yang alamiah dan diciptakan Tuhan untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi kita dalam memutuskan berbagai hal terutama terkait suksesi politik menjaring calon pemimpin.
    Jika kita menggunakan kerangka berfikir kedua, yang perlu dibahas tentu saja tidak lagi seputar persoalan apakah dengan predikat ke-tuan guru-annya ia ahli atau tidak ahli dalam pemerintahan, namun sanggupkah ia menjadi panutan bagi masyarakat secara umum yang masih mengindahkan ke-tokoh-an.
    Everywhere is different, demikian diktum paling pokok dalam Kajian Geografi. Membanding-bandingkan NTB dengan daerah lain tentu bukan hal yang salah selama si pembanding mampu melakukan pembacaan situasi secara kontekstual yang relevan dengan lokalitas. NTB sepertinya memiliki keunikan tersendiri terkait dengan kultur politik maupun ke-tuan guru-annya yang tidak mudah ditemukan di daerah lain. Jika aktivis JARIK Mataram mengkhawatirkan tercempelungnya unsur Tuan Guru dalam Pilkada sebagai wujud ancaman Profanisasi simbol Agama, sebaiknya dipikirkan dahulu benarkah kekhawatiran tersebut tidak terlalu berlebihan mengingat para tuan guru di Lombok sangat sulit dikategorikan sebagai kalangan yang fundamentalis.
    Sekedar komentar.

    Tangan Terkepal dan Maju ke Muka !
    Kader PMII UGM

  5. Mencari figur pemimpin ibarat mencari merancang sebuah design kesempurnaan. Sebisa mungkin kita dituntut untuk mengeluarkan imajinasi dan khayalan kita untuk menwujudkannya. Bukan saja karena yang bernama pemimpin itu adalah barang yang sulit dicari tapi juga karena kita sadar akan kekurangan- kekurangan kita. Kita terlalu rendah diri sehingga kita tak mampu lagi memilihnya tanpa harus dihadapkan pada dilema pengkotak- kotakan politisi dan agamawan. Tulisan Dr. Lalu M. Iqbal Ma’ruf yang telah dpublikasikan di blog ini bisa kita jadikan gambaran betapa kaum agamawan yang disimbolkan oleh para tuan guru mengalami politisasi sedari dulu. Ini kenyataan sejarah dan masih berlangsung dalam kehidupan sosial masyarakat kita.
    Masyarakat kita mungkin belum cukup pintar mencari pemimpin. Kebodohan massal yang berujung pada kesalahan memilih pemimpin sebagaimana yang terjadi di Lombok Tengah cukup menjadi pembelajaran bagi kita untuk membuka diri dan tidak lagi mempertentangkan keberadaan unsur agamwan dalam konstalasi politik. Mengkotak- kotakan tuan guru lalu mengurung para tuan guru dalam kerangkeng a-politis bukan saja mencederai demokrasi namun juga akan berakibat fatal pada proses pembelajaran berpolitik pada masyarakat di aras lokal. Tentu kita sepakat jika tuan guru masih memiliki kedekatan emosional dengan kalangan grassroot. Sesuatu hal yang sulit bahkan tidak dapat dijumpai pada karakter2 politisi lokal di NTB.
    Akhirnya, saya cuma bisa bilang … kekhawatiran Kawan Kita ini yang menyebutkan dirinya sebagai aktifis dari JARIK Mataram terlampau berlebihan atau mungkin dilebih-lebihkan. Kekhawatiran akan terjadinya profanisasi atas ikon yang sakral tidak akan terjadi selama ikon yang sakral tersebut tidak menjauh dari jamaahnya. NTB milik semua. Siapa pun berhak mencalonkan diri menjadi pemimpin. Demokrasi pun untuk semua orang. Tak terkecuali untuk para ikon sakralitas di NTB.

  6. Salah satu hikmah demokrasi adalah memberikan hak semua orang dalam berfartisifasi dalam segala bidang,tak terkecuali sebagai pemimpin daerah or negara. Bertitik tolak dari itu ,maka siapapun dia,dari manapun dia tidak salah kl dia menjadi pemimpin,asal dia mampu.
    Kl kita melihat sejarah,betapa banyak para ulama sekaligus negarawan,bahkan akan lebih hebat jika disamping dia ulama dia seorang negarawan.
    Politik itu bagai wadah/gelas,diisi dengan racun maka menjadi racun,diisi madu maka dia menjadi madu,tergantung siapa yang mengisinya’

  7. NTB yang saya kenal adalah NTB yang penuh dengan suasana religius sehingga banyak orang menjuluki pulau seribu masjid. mengenai calon gubenur NTB justru saya berpandangan lain seperti pendapat teman-teman di atas. saya memang lebih banyak mengenal TUAN GURU BAJANG di Jakarta tapi justru belaiu sangat paham betul dengan kondisi NTB dan beliau tidak hanya ahli dalam ilmu agama tapi ilmu kenegaraan pun belaiu kuasai. jadi pada hakekatnya seorang negarawan agamis dan paham betul dengan kondisi wilayah NTB bahkan di DPR beliu punya trek record di atas rata-rata teman-teman di DPR. jadi kenapa harus ragu warga NTB memilih beliau pada PILKADA 2008. Hanya orang-orang NTB yang berpikiran picik dan licik yang tidak memilih TUAN GURU BAJANG, hanya orang-orang NTB yang menginginkan KORUPSI berkembang yang tidak memilih TUAN GURU BAJANG dan hanya orang-orang NTB yang menginginkan AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR merajalela di Bumi seribu masjid yang tidak memilih TUAN GURU BAJANG. APAKAH ANDA-ANDA INI PARA KORUPTOR SEHINGGA ANDA TAKUT TERHADAP KEPIMPINAN TUAN GURU BAJANG

  8. ass. wr. wb.
    saya asli LOTIM (KERUAK) tinggal di Sukabumi Jabar. Saya adalah alumni, MTs. NW Sepit, MA. Mu’allimin NW Pancor, Ma’had Pancor dan juga Alumni STKIP Pancor. Sekarang bekerja sebagai PNS di SMAN Sukabumi, sekaligus staf pengajar SMA Islam As-Syafi’iyah (milik mertua TG. Bajang)
    Melihat berbagai komentar yang ditulis oleh berbagai komumnitas di berbagai blok, saya merasa perlu urun rembug. Semeton selapu. Kenapa kita harus saling menjelek-jelekkan? Siapapun yang anda dukung silahkan saja? Tapi jangan m,enghujat orang lain? Kalau anda oramng Islam pasti tau hukumnya.
    Berbiacara dalam konteks Tuan Guru sebagai Gubernur, menurut saya cukup baik. Artinya, Kiai, Ulama kan Tokoh masyarakat yang sudah diketahui kesholehannya. Sejarah membuktikan berapa banyak Politisi, orang pinter, jendral, Doktor yang memimpin NTB, tapi karena mereka tidak memeiliki kesholehan, tidak banyak mengetahui banyak tentang agama, jadilah pejabat yang korup. Liat aja contohnya. Banyak khan. Paling tidak, ulama itu lebih dekat sama Allah ketimabng kita yang bukan ustad apalagi kiai. Selain itu, jangan menilai orang terlalu dini. TG Bajang kalau nanti jadi Gubernur NTB, kan bukan sendirian. Lagian gubernur itu jabatan POLITIK. Nanti belaiau bisa dibantu staf ahli, wakil, dan orang – orang pinter lainnya.
    Saya berbicara begini bukan karena saya alumni NW, tapi saya kenal banyak karakter belaiau. Keilmuan beliau yang luas, kepeduliannya pada masyarakat, dan juga kesholehan beliau. Makanya saya berani mengatakan, beliaulah figur yang pas untuk memimpin NTB yang mayoritas MUSLIM kedepan.
    Tolog kawan2 jagan saling hujat. silahkan saja dukung siapun, tapi jangan menghujat apalagi menjelekkan orang lain.
    Salam untuks semua warga NW, semua umat muslim dimanasaja berada. mari kita jaga dan jadikan NTB menjadi provisni yang baik bahkan termaju di Indo.
    Kalau ada yang ingin berbagai pengalaman dan ceriota dengan saya silahkan email ke> just_ppsupi@plasa.com atau HP. 081572765478.
    Thank
    Wallohul Muwaffiqu Walhadi Ila Sabilirrosyad,
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    • memang banyak pendapat serta banyak pula ucapan masyarakat yang baik dan tidak baik, tergantung alasan masing masingorang dong kenapa begitu.? kalo saya LEBIH BAIK GUBERNUR MENCIU TANGAN TUAN GURU DARIPADA TUAN GURU JADI GUBERNUR TANGAN SIAPA YANG MAU DI CIUM. Kalo orang lain bilang TGB dah terjebak oleh slah satu pesan gurunya katanya? “tiga hal yang menghancurkan kamu ,HARTA, TAHTA,WANITA,sekarang harta dah banyak rumah pun kayak benteng takeshi, sekarang dateng lagi jabatan gubernur, besok kalo mau kawin lagi gimana.? paslah rukunnya. jadi orang itu makin bingung ustat.Yang jelas orang pancor bilang ” DEKAT DIMATA JAUH DIHATI”

    • tenang tenang…… jangan ribut….Allah swt telah mengabulkan do’a warga NW, mengabulkan keinginan warga NW, dan jangan ribut dan jangan saling ucap dibelakang tentang semua. yang jelas sekarang kalian doakan aja agar orang yang yang kalian pilih gak pilih pilih jugak, gak saling pecat dan gak ngomong doang, baru mati lampu aja sewot. kalo mati semua kan kiamat. tul gak…………….

  9. Pak Jasmansyah dan kawan-kawan, terima kasih telah mengomentari opini saya. Saya ingin menanggapi komentar kawan-kawan yang sangat luarbiasa itu.
    Pertama: Saya sungguh tidak pernah mengatakan seorang tuan guru tidak boleh menjadi Gubernur apalagi “berpolitik” . Sistem demokrasi, meniscayakan semua orang sah ikut berpartisipasi dalam politik termasuk tuan guru kita “bajang”.
    Point saya dalam opini itu adalah keresahan saya atas akan tercederainya “kehormatan” dan harga diri tuan guru kita itu ketika ia melibatkan diri di politik.
    Bukankah tuan guru itu pewaris para nabi? harus kita taati dan hormati? ini sangat jelas di ayat yang berbunyi “Athi’u Allah Wa’Athi’urrasul Wa’ulil Amri Minkum” jelas sekali, seorang tuan guru langsung menempati derajat kedua setelah Allah, karena ia pengganti rasul.
    Nah Ulil Amri (seorang Gubernur) itu ada di derajat ketiga, derajat paling buntut.
    Maka ketika Tuan Guru kita memutuskan untuk pindah ‘jenis kelamin’ dari tuan guru ke warasatul Ambiya’, bukankah ini artinya beliau menurunkan derajatnya sendiri. Ini yang saya resahkan.
    Kedua : jabatan politis sungguh beresiko bagi seorang yang sudah kita kenal baik. Betapapun saat ini masyarakat hormat, patuh dan mendengar tuan guru bajang, ketika ia menjabat politik, jelas tidak akan lagi di hormati, bahkan bisa jadi di hinakan. Ini beresiko sungguh buat tuan guru kita.
    Saya berandai-andai, tuan guru ketika jadi gubernur memang tidak korupsi, tapi karena dalam politik yang berlaku adalah hukum birokratis, dimana struktural tertinggi adalah beliau, maka yakin saya tuan guru akan kena ciprat paling banyak. Beliau yang akan di demo, beliau yang akan di hujat dan di hinakan. Sungguh ini sangat tidak cocok buat seorang yang alim solih.
    Oke, kapan-kapan kita lanjutin. Salam hangat buat kawan-kawan semua.

    Wallahulmuafiq ila aqwamittariq, walhadi ila sabili ar-rasyad

    Jhellie Maestro
    Blog :

  10. ADA BENARNYA, TAPI KITA KAN BELUM COBA. COBA KITA BERIKAN KESEMPATAN KEPADA PARA TOKOH AGAMA UNTUK MEMIMPIN NTB, KALAU SUDAH…. NTAR KITA LIAT GIMANA-GIMANANYA? OK… THANK YA…

    • ass.wr.wb…

      sudah 2 tahun kurang lebih Beliau memimpin NTB. . .
      tapi apa yang dihasilkan belum ada. . .
      masalah listrik semakin parah.
      kesehatan gratis tak kunjung dapat.
      sekolah gratis tak pernah nyata.
      justru sekolah2 negeri di NTB saat ini meningkat tajam biayanya. hingga 200ribu perbulan…
      bukan masalah gelar atau siapa Beliau ini…
      tapi apa yang bisa Beliau lakukan, itulah yang terpenting…
      sudah jelas ada dalil yang mengatakan…
      “Jika kamu memberikan sesuatu hal bukan kepada ahlinya, maka kehancuran yang akan kamu dapatkan”..
      jika ahli dakwah, maka berdakwahlah saja…
      toh nama Beliau akan semakin baik..
      tidak seperti saat ini, belum ada satupun janji politik yang beliau sampaikan pada masa kampanye dulu yang terwujud…
      kalau sudah begitu apa namanya???
      Tuang Guru yang hanya bisa bikin janji, tapi tidak pernah ditepati…
      apakah itu tidak termasuk pembohong dan pembual yang hanya bisa menebar janji???
      atau kita harus memberi kesempatan lagi dilain waktu supaya itu semua bisa terwujud???
      lalu sekarang apa yang sedang Beliau kerjakan??
      kasihan nama baik Beliau yang sudah di pelihara sejak dulu…
      kini dipertaruhkan diranah politik…
      bagaimana nasib daerah kita…
      sementara semakin banyak rakyat kelaparan, kebutuhan minyak tanah rumah tangga semakin tidak tercukupi, dan konversi bahan bakar belum siap hingga saat ini…

      Pak Gubernur, tolong pikirkan rakyatnya dulu.jangan main potong gaji saja.
      masih ada yang jauh lebih penting daripada membangun Islamic Centre.
      lingkungan yang sudah dibangun daridulu harus dihancurkan dan digusur…
      tujuannya apa???
      toh masjid2 di lombok sangatbanyak dan masih kosong jamaahnya…
      tiap sholat jamaah paling banyak hanya 2 shaf..
      kasian Rumah Allah dibuat megah2 tapi tidak ada yang mengisi..
      nanti Islamic Centernya mau dihuni siapa???
      apakah hanya untuk kepentingan organisasi saja???

      nanti dululah bangun itu Pak, tepati dulu donk janji2nya…
      jangan kecewakan kami yang memilih Anda…

      dan untuk pak Jasmansyah…
      ini masalah nasib rakyat pak.bukan untuk dicoba – coba…
      kalau bapak yang jadi korbannya, apa bapak mau coba-coba…
      tolong dipikirkan pak…
      “Buat rakyat koq coba-coba”…
      lebih 4 juta jiwa yang mau dicoba pak…

      wassalam…

  11. Apa iya bung jumaely ‘wa’ dalam ayat itu bisa ditafsirkan suatu hierarki? Saya pikir itu tafsirannya ‘wa’ yang artinya ‘dan’ yang tidak butuh hierarki, tapi seharusnya sinergi satu sama lain.
    Sepertinya kita sesekali harus menghayati kata- kata dalam iklan; “Gak kotor = Gak belajar”.:D
    Hehehee

  12. Terima kasih mas abi, pertanyaan anda menggugah nalar saya untuk mencari tau tafsir ‘wa’ dalam ayat itu.
    Tapi sejauh ini, saya fahami ayat ini memang hirarkis. Ini bisa anda lihat bagaimana Allah memposisikan dirinya paling atas disusul nabi, lalu para umara.
    Siapa yang berani bilang, nabi lebih mulia dari Allah SWT (Naudzubillahi), siapapun saya kira -termasuk mas abi- akan percaya Allah lebih mulia daripada nabi kan? apalagi umara.
    Saya kira bisa difikirkan juga oleh orang awam kayak saya….

    Thanks atas tanggapannya

    Achmad Jumaely

    http://jhelliesite.blogspot.com/

  13. Pendikotomian ulama dan umarak dalam kancah menjadi seorang kepala daerah sebenarnya kurang pas,yang pas adalah ,mampukah dia.Pembagian fungsi ulama hanya mengaji gak boleh menjadi pemimpin adalah pennggalan kolonialisme dan sengaja ditanamkan,karena ketakutan mereka atas etos perjuangan yang dipimpin ulama. ternyata peninggalan itu masih tertanam kuat dibenak sebagian orang bahkan ironisnya kaum intelektual.Kalau kita mengca kepada sejarah betapa seorang ulama sekaligus mampu sebagai seorang umara. Didalam perjuangan ,hinaan,cacian bahkan perlakuan fisik itu adalah hal biasa,bagaimana Baginda Nabi Muhammad dalam perjuangan beliau ,bukan saja hinaan dan cacian saja yang diterima tapi ancaman pembunuhan,tapi beliau tidak pernah surut. Mudahan sifat n sikap itu ada pada TGB jika terpilih jadi Gubernur.

  14. Asslamualaikum, salam sejahtera untuk rekan rekan semua. Dalam forum ini saya ingin ikut memberi pendapat, saat ini saya tinggal di Lombok Timur dan tinggal di wilayah pancor, walaupun saya bukan alumni sekolah nw tapi selama ini saya terus mengikuti perkembangan organisasi ini, bagi saya semua kembali ke niat, kalo orang bilang dalam samudera bisa diukur tapi dalamnya hati siapa yang tahu? kalo memang niat Tuan guru bajang menjadi NTB 1 adalah untuk memajukan umat, why not? dari website Tuan Guru bajang yang isinya tanya jawab berbagai pertanyaan masalah ini saya hampir bisa menyimpulkan bahwa niat beliau memang benar-benar baik dan bagi saya pribadi saya percaya dengan niat beliau, ini tidak main main, menyangkut ribuan amanat orang NW dan mempertaruhkan nama besar beliau sendiri seandainya (maaf) jika ternyata setelah terpilih apa yang terjadi tidak sesuai dengan niat awal. TAPI terus terang saya agak risih dengan satu hal. saat ini Tuan Guru Bajang sedang membangun rumah, yang lokasinya di depan kantor LLAJR atau disebelah rumah umi nya di sekitar terminal/PTC, saya sendiri hampir setiap hari lewat di depan proyek rumah itu, dan “WOW” itu yang selalu saya ucapkan setiap lewat, karena rumah ini begitu bagusnya, megah, mewah, bahkan dengan AC di setiap kamarnya (kelihatan dari oudoor AC). saya hanya bertanya (dalam hati) apakah sudah benar yang dilakukan panutan saya ini? dimanakah letak ajaran beliau yang mengutamakan kesederhanaan hidup? sementara ribuan atau mungkin ratusan ribu jemaahnya berjuang bertahan hidup tanpa tahu kapan bisa keluar dari kubangan kemiskinan? saya jadi ingat isi pengajian beliau melalui radio RHN bahwa lebih baik kita menjadi orang miskin daripada orang kaya karena kalo kita miskin tidak banyak pertanyaan yang akan kita jawab di akhirat nanti karena orang kaya akan di tanya mengenai hartanya. Atau mungkin saya yang salah persepsi karena bagi orang dengan kekayaan 100 milyar tentu akan sederhana sekali jika dia membangun rumah “hanya” seharga 1 atau 2 Milyar. , nah jika sudah begini saya rasa rekan rekan tentu bisa mengukur kedalaman hati calon gubernur kita seandainya nanti beliau terpilih. Oh Tuan Guruku Sayang, Mudah2an engkau tidak menjadi Tuan Guruku yang Malang…

  15. tidak sepenuhnya benar.
    kalau memang gajah misalnya pinya niat baik ingin menjadi pengayom dari masyarakat hutan, maka dia harus senantiasa berada disisi sang raja hutan agar tidak pernah berani nyeleweng.
    tapi sampai mana gajah akan kuat terus seperti itu?
    kalau pun ia sanggup untuk demikian, maka wibawanya sudah jatuh karena telah menjadi ekor kedua dari si raja hutan.
    atau kalau pun ia akan cuma datang pada saat ada keributan, maka, gajah tidak lebih sebagai hansip.
    jalan satu-satunya agar wibawa gajah tetap lestari maka dia harus menjadi raja. maka dengan begitu, digadapan macan dia akan tetap tinggi dan di hadaoan masyarakat hutan pun dia akan disegani karena selain sebagai gajah, dia juga raja huta.

  16. Saya pilih Tuan Guru Bajang untuk menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat, Thanks.

  17. Bagaimanapun, Suratan telah Menggariskan… !!!

  18. Buat efah, plecing mania, Nizal, ZTL, Aziznawadi..dkk semuanya
    Salam sejahtera!
    Bagus sekali tanggapan kawan-kawan, saya undang anda menulis artikel untuk dimuat di blog ini terima kasih

  19. Islam melarang adanya pengkotak kotakan bidang kehidupan. Islam memuat aturan yg mengatur kehidupan secara utuh dan menyeluruh. termasuk politik. Anggapan sebagian masyarakat yg memisahkan antara politik dan moral Agama merupakan dampak dari paham sekuler yg mulai menjamah negeri ini. jadi tidak slah jika TGB mnjdi Gubernur. selain ilmu akhirat, ilmu dunia (termasuk politik)beliau juga luas. JADI, SAYA SANGAT MENDUKUNG TGB MENJADI GUBERNUR NTB.

  20. SAYA SANGAT TIDAK SETUJU APABILA SEORANG TUAN GURU IKUT TERJUN DI DUNIA POLITIK KARENA HAL INI MENGAKIBATKAN TURUNNYA KEWIBAWAANNYA SEBAGAI TUAN GURU. POLITIK TIDAK KENAL LAWAN DAN KAWAN. KALAU BOLEH SAYA IBARATKAN (maaf sebelumnya) TUAN GURU SEBAGA WASIT YANG NETRAL DAN SEKARANG KENAPA Mau JADI PEMAIN YANG PASTI ADA MUSUHNYA. coba kalau jadi wasit pasti netral dan akan diikuti oleh pemaian tentang hal-hal yang boleh dilakukan. Toh juga…………. tidak ada jaminan Al-Qur’an bahwa NTB ini akan maju dipimpin oleh Ulama’. dan tidak ada politik yang bisa menjamin untuk masuk surga.
    thak you.

  21. assalamualaikum. untuk plecing mania,kegundahan yang sama pernah saya rasakan ketika melihat rumah TG Bajang. saya kemudian mencari tahu,pada akhirnya bertanya kepada ibu beliau,H. Rauhun. jawaban Ibu beliau, tanah dan bangunan rumah itu adalah hasil menjual seluruh tanah bagian TG Bajang,pertanian dan perkebunan yang sebagian berlokasi di Pancor dan Desa Majidi. TG Bajang tidak berbakat jadi petani,kata ibu beliau,sehingga minta bagiannya dijual untuk membuat rumah. Setelah mendengar jawaban ibu Rauhun,saya dan teman2 yg menemani waktu itu dapat memahami.kalau saya sih, berpendapat itu pilihan pribadi yang sah2 saja,mau punya tanahbanyak warisan orang tua atau mau buat rumah yang besar,yah itu pilihan pribadi. kalau utk pilkada depan,saya mau pilih beliau dengan satu alasan sederhana;calon2 lain bermasalah:serinata dgn kasus APBD Propinsi,Zaini Arony dgn kasus korupsi PLS. yang lain belum ada kendaraanya…

  22. siapapun yang jadi Gubernur, silahkan. Asalkan bukan seorang penyeru moral, penyeru amar Ma’ruf nahi Munkar, pembawa risalah islamiah.
    telah kita bersama-sama ketahui, titel seorang penyeru moral berbeda dengan titel yang melekat pada seorang yang ikut unjuk kekuatan di panggung perpolitikan. apa tidak kasihan apabila semua penyeru moral kita memilih jalan yang kurang tepat sebagai pijakan selanjutnya. dimana pijakan itu akan mendatangkan mudharat baik bagi si pelakunya maupun orang-orang yang mempercayai dan menghargainya.
    kita tidak bisa memungkiri bahwa dalam perpolitikan sebuah taktik untuk memenangkan sebuah permainan yang tidak pantas bagi sang penyeru moral. taktik tersebut penuh dengan intrik-intrik yang bisa dikatakan amoral, bisa dikatakan itu sebuah kenyataan yang berlawanan.
    kalau kita katakan, kan biar politiknya bermoral maka kita ikut sertakan dalam permainan itu penyeru moral, itu sangat mustahil. malah yang kita takutkan dan sama-sama kita tidak harapkan malah sang penyeru moral ini akan mengikuti arus yang memang sudah terkonstruksi semenjak negara kita belum ada.
    apalagi kita sudah ketahui ongkos politik untuk menegakkan demokrasi ini sangat mahal, dan tidak mungkin terbayar dengan gaji satu periode jabatan seorang pemegang kekuasaan yang terpilih nantinya.
    mau tidak mau untuk menutupi cos yang sudah dikeluarkan tersebut ialah dengan menggunakan uang yang bukan hak pribadi dan golongan. apakah sang penyeru moral tersebut akan mampu menghindar dari kenyataan politik tersebut? menurut konsep ekonomi itu sangatlah mustahil. konsep ekonomi yang saya maksud yaitu mengefisienkan pengorbanan untuk mengoptimalkan profit atau dalam bahasa ekonominya “dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk menmperoleh hasil yang maksimal” apakah sanggup sang kiai untuk menghindar dari keniscayaan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dia lakukan selama ini? kita tunggu kejatuhan sang kiyai….
    wassalam….

  23. assalamu’alaikum wr.wb.
    sebelumnya saya mhn maaf, sebentulnya secara hati nurani saya setuju-setuju aja kalo Tuan Guru Bajang menjadi NTB 1, tapi kalo di telaah secara mendalam, ada beberapa hal yang membuat saya menarik dukungan saya kepada beliau :
    1. Saya akan kehilangan seorang figur yang nantinya akan memimpin NW, karena apabila berhasil akan membuat “nama baik” sebagai Tuan Guru sudah terkontaminasi dengan “hawa politik” yang justru mengurangi durasi beliau bersama masyarakat dalam wadah Pengajian.
    2. Seandainya gagal, apa kata dunia (kelompok Anjani.red), yang sampai saat inipun saya masih ndak habis fikir tentang di pampangnya Baliho yang ada di Pajang dan di Depan AMM Mataram. walau apapun tanggapan kita, itu sudah merupakan pukulan telak yang justru harus TG Bajang perjuangkan, yaitu KERUKUNAN KEMBALI KEDUA NW DAN KEDUA IBUNDA (Dua R). dan perlu di ingat bahwa kalau beliau gagal menjadi NTB 1, ini bukan berarti kegagalan beliau atau Tim Sukses semata, tapi itu sepenuhnya adalah kegagalan NW.
    3. Secara pribadi beliau (TG. Bajang) masih “hijau” dalam percaturan politik di tengah masyarakat NTB yang plural. Kekhawatiran saya dalam hal ini, saya merasa beliau hanya akan menuai kekecewaan dari pendukung beliau sendiri yang nota bene orang kawakan dalam berpolitik, walaupun memiliki ketegasan tapi jika itu dijalankan selama 5 tahun akan memudarkan semangat orang yang mendukung dan ujung-ujungnya malah akan berbalik menyerang karena kepentingan/tuntutannya tidak dipenuhi.
    4. Menurut saya Tuan Guru masih banyak waktu untuk memimpin, disamping usia beliau yang masih belum genap 40 tahun. Bagi saya yang awam, bahwa kemapanan seseorang yang memimpin apabila dia sudah mencapai usia 40 tahun atau lebih. Nabi Muhammad saw saja di angkat menjadi Nabi dan Rasul di saat beliau berusia 40 tahun. KURANG APAKAH NABI MUHAMMAD WAKTU ITU ???????

    Silahkan Tuan Guru belajar mengenai situasi di NTB secara global menunggu waktunya tiba dan itu ndak lama (3,5 tahun lagi). Sehingga untuk mendukung pendapat saya yang ke 2, beliau masih bisa merapatkan barisan kita di NW, dan untuk itu saya sangat berharap pendapat saya ini menjadi bahan renungan, bukan saja untuk saya pribadi.

    Fans Berat Tuan Guru Bajang

  24. khairani_jakarta

    Untuk Fans TGB:
    1.Saya fikir,mencuat atau memudarnya ‘nama baik’ sangat bergantung dari sikap,perilaku kita. Kalau TGB tetap istiqamah,konsisten maka justru akan memberi contoh bhw politik tdk mesti berwajah suram. Saya fikir kita perlu contoh2 baik,dalam politik ataupun aspek kehidupan lain.
    2. Masalah baliho,saya fikir justru menegaskan kpd khalayak siapa yg sdh dewasa dan siapa yg masih ‘kekanak-kanakan’. Dgn sikap TGB(dan jamaah beliau) yg tdk merespon menunjukkan bahwa beliau,pada hemat saya,memiliki kelapangan dada,tdk reaktif dan emosional. Karakter2 seperti itu kita butuhkan utk memimpin NTB dgn heterogenitasnya.
    3. TGB masih ‘hijau’? Mungkiin iya,tapi jangan2 itulah yg dibutuhkan NTB,orang yg masih hijau, lurus,tdk terkontaminasi. Kalau nggak lurus gimana mau meluruskan ya.. Kalau terlalu banyak ‘pengalaman’ juga nanti kepinteran,kata orang jawa,jadi ‘minterin’ rakyatnya. He2..
    4. Saya fikir,semakin tua nggak mesti jadi semakin matang ya,atau dibalik,yang muda belum tentu tidak bisa memimpin. Buktinya, Konstantinopel ditaklukkan Sultan Muhammad Fatih yg umurnya 23 tahun, Usamah diangkat jd panglima oleh Nabi umurnya msh 16 tahun padahal ada Umar,Ali dan sahabat lain yang lebih 40 tahun. Jd ukurannya bkn umur ya tapi integritas dan kompetensi. Kalau mau jd nabi ya mesti 40 tahun,kalau gubernur ya nggaklah,masa Gubernur mau disamain ama Nabi..
    I choose TGB…..

  25. JANGAN SERAKAH….NANTI MASUK NERAKA…!!!

  26. Saya g’ habis pikir sama teman-teman yang meragukan tuan guru bajang, ada yang bilang takut kalo titel tuan guru akan tercoreng lah, ada yang bilang kalo tuan guru g’ mampu lah, ada yang mengaku paham agama lah…. kenapa g’ dibuktikan dulu kawan… kita liat dulu kemampuan beliau nanti pada saat jadi gubernur… kalo anda baca sejarah nabi Muhammmad SAW anda g’ akan komentar yang macam-macam deh.. saya yankin anda akan mendukung beliau. nahhh bagi yang udah paham dan g’ mendukung jangan komentar yang macam-macam deh nanti malah nambah dosa loooo.
    GOOO TUANG GURU BAJANG… KAMI SIAP DIBELAKANGMU….ALLAHU AKBAR…PERJUANGKAN TANAH AIR KITA

  27. Rakyat Peduli NTB

    saya pencinta TGH bajang tp untuk satu ini saya tidak mendukung beliau untuk ikut dalam pemilihan gubernur biarkanlah TGH bajang tetap sebagai pihak oposisi dari sudut keagamaan ataupun kebudayaan NTB sehingga kita tetap memiliki orang yg menjadi panutan di pihak netral….kalo kita bicara soal kasus korupsi atau apapun, tiang yakin semua calon gubernur pun pernah melakukan suatu kesalahan walaupun itu adalah TGH. Bajang karena manusia tidak ada yang sempurna. TGH banjang berkdudukan di DPR pusat mungkin kalo kalian mengetahiu saat ini DPR kita merupakan komunitas terkorup ke-3 di dunia, mereka tidak saja mencekik para pejabat tetapi juga rakyat, dan dari Pemerintah, DPR, MPR …. DPR lah yang paling terkorup…..akhir kata untuk permasalahan DUNIAWI hendaknya TGH bajang menyerahkan kepada ahlinya dan ingatkan para pejabat yg melenceng dari jalanya…Sekian dan terima kasih !!!!! Ass,Wr,Wb

  28. ass TG tiang pengagum pelungguh selaku ulama,guru agama masy NTB.tiang heran ,pelunggu tdk kurang apa2,tapi sepertinya nafsu yang sudah bersemayam di dlm hati pelungguh menjadi sahabat yg sulit utk dihindarilagi bahkan sampai mengalahkan pikiran normal.maaf niki TG,tiang selalu mengikuti acara pengajian pelungguh,tapi isinya tidak murni lagi dan menjurus kampanye.masy skrg sudah mulai pinter yg pengajian dulu murni skrng campuran politik. tiang malu .krn cintanya,tiang tdk mendukung pelunggu menjadi gubernur.NW masih pecah,pengajian selalu bjubah sdgkan NTB ada hindu dll. menjadi DPR RI komisi 10 mbidangi pendidikan bukan berarti menguasai bidang tsb, stlah tiang baca koran lmbk pos 24 mrt yg katanya pddkan dan kesehatan gratis,masyaallah itu tdk masuk akal,knp TGjanji spt itu .apa TG yakin itu. TG harus mpelajari keuangan daerah,kalau tdk terbukti malu.saat ini jgn mengumbar janji.maaf niki TG.beberapa kali terahir tiang ikuti TG pengajian tapi tidak terlalu ramaitermasuk deklarasi di lotim tgl 23 . maaf wass

  29. ass. Rame juga polemik ttg TuanGuru ya..
    Menarik komentar Maisaroh,mulai TG yg pakai jubah,NW masih pecah,pendidikan gratis mustahil…
    Pertama,masalah jubah,saya fikir tidak substansial itu. Mau gubernur pakai jubah,jeans,sarung yg penting kebijakannya berpihak pada rakyat. Kedua,NW masih pecah.pengamatan saya TGB itu sdh berikhtiar maksimal untuk menyatukan NW,cuma gayung tak bersambut jadi susahlah ya. Kalau menyatu kan mesti dua2nya. TGB mau tapi pihak yg lain tdk mau,ya susahlah. Ketiga,pendidikan gratis mustahil. Menurut saya tidak mustahillah karena kalau pemerintah pusat,propinsi dan kabupaten bersepakt,bahu membahu sambil melakukan efisiensi anggaran pasti bisa. Mobil dinas disetop,perjalanan dinas dikurangi dll. Pasti bisa dan harus bisa,karena itu hak rakyat kita. Apalagi di koran TGB bukan berjanji tetapi berjuang. ITU HARUSS DIPERJUANGKAN..Maju terus TGB,,,kami sokong anda.

  30. Saya benar2 sedih dan kasihan melihat orang yang ngatakan dirinya paham dan pintar..padahal dia tau kalo Tuan Guru ato Kiyai itu pewaris para Nabi tapi tidak setuju kalau Tuan Guru akan terjun di dunia politik, Bukankah Para Nabi dan Sahabat2 terdahulu banyak yang berdakwah melalui jalur politik sehingga Ummat Islam sampai saat ini merasakan Kedamaian, tapi apapun ANJING MENGGONGGONG KAFILAH TETAP BERLALU Saya beserta seluruh keluarga akan tetap mendukung Tuan Guru Bajang untuk tetap maju semoga NTB ini bisa dipimpin oleh Orang yang jujur dan bersih…hehehe jangan2 orang yang tidak seneng dengan majunya Tuan Guru Bajang ini Orang2 yang seneng Korupsi atao Mabok2an..maaf bukan menuduh

  31. Saya kenal beliau, pernah beberapa kali bicara empat mata dengan beliau mengenai masalah agama, NTB, pendidikan dll.
    Tapi saya pribadi sebenarnya mengharapkan TGB tidak ikut mencalonkan diri untuk jadi gubernur, tapi karena ini keinginan beliau dan terutama juga dewan mutasyar PBNW pancor, maka dia maju melalui PBB dan PKS. Menjadi gubernur itu tidak mudah, persoalan banyak dan memiliki lawan politik yang banyak, soalnya banyak yang kepingin jadi gubernur. Lihat saja yang mendaftar diri ke KPU, banyak calon yang tidak punya kendaraan politik tapi masih mau mendaftar dengan mengklaim didukung banyak orang ;)
    Tapi bagi saya pribadi, beliau punya niat jujur untuk jadi calon gubernur, ingin memajukan daerahnya. Tentunya dengan ide dan pemikiran beliau sendiri. Setiap orang termasuk kita-kita memiliki ide untuk kemajuan NTB, tapi sangat sedikit yang punya kesempatan berada pada posisi untuk mewujudkan idenya. Pak Srinate punya ide sendiri, begitu punya yang lain. Jadi bukan hanya nafsu. Kekuasaan politik seperti gubernur jika dimamfaatkan bisa mendatangkan hal-hal yang luar biasa baik untuk masyarakat banyak. Jadi jangan sekedar dicemooh memiliki nafsu saja seperti kata maesyaroh.
    Terserah penduduk NTB yang lebih percaya pada pribadi dan kemampuan calon2 yang ada. Tapi bagi saya, walaupun menjadi calon gubernur ke-ulamaan dia tidak berkurang sedikitpun. Kalah atau menang, bagi saya normor dua, yang penting ikhtiar dan kemauan untuk mewujudkan ide dan gagasan, bukan hanya berpangku tangan dan mengkritik dari luar.

  32. Menarik mengikuti diskusi di blog ini seputar keterlibatan Tuan Guru di dunia politik. Tiang (baca; saya)sebenarnya pernah menulis sederhana di Jawa Pos (29/02/2008), terkait isu yang sama, keterlibatan ulama di panggung politik. Dalam kancah demokrasi kita pantas setuju atau tidak atas semua itu. Yang perlu dicermati dalam hal ini :
    1. Ketidakseimbangan antara tingkat rasionalitas politik umat dengan manuver politik TG, sehingga rentan terjadi sakralisasi politik. Padahal politik itu profan, tidak sakral. Pertanyaannya, mampukah umat (masyarakat Sasak/NTB) membaca manuver politik TG sebagai sesuatu yang profan (baca; penuh muslhat, bisa salah, tidak suci) ??. Jika mampu, silak (baca; silahkan) TG jadi pejabat politik. Jika tidak ?! TG besiak (baca; tengkar), umat pun pecah. Rasionalitas umat tenggelam dibawah bayang-bayang irrasionalitas (kharisma tradisional TG).
    2. Orientasi politik TG/Kiai/Ulama cenderung orientasi kekuasaan. Padahal pengawalan terhadap umat agar kritis terhadap kebijakan pemerintah yang anti-rakyat (korupsi,kolusi, dll), juga bagian dari politik. Itulah yang diperankan ulama sehingga Indonesia merdeka. Perlu memaknai ulang politik itu apa. Falyataqqah !

  33. Assalaamu’alaikum Wr Wb
    Wah….makin seru aja ni forum. Jd tergelitik utk ikutan nimbrung.
    Saya setuju jika Bpk H. Zainul Majdi nyalon jd gubernur, beliau memiliki hak yg sama dgn warga negara yg lainnya utk dipilih & memilih, meskipun beliau Tuan Guru. Wong para Nabi banyak yg berpolitik dan menjadi raja.
    Kekhawatiran rekan-rekan di forum ini juga bisa saya fahami.
    Mungkin ini imbas dari pendidikan juga lingkungan kita yang tidak dewasa serta kebanyakan unawared negatif thinking. Dan tanpa sadar atas nama cinta, kita membelenggu orang – orang yang sangat kita cintai untuk memperluas ruang geraknya, bisa jadi hal itu mencekik kekreativitasannya dalam melayani ummat.
    Bagi saya beliau terpilih atau tidak nantinya bukan poin utama, karena dengan beliau nyalon saja sudah terjadi pendidikan politik dan moral bagi masyarakat. Dan jika beliau terpilih maka tugas kita untuk mendukung beliau, jika beliau tersandung maka tugas kita mengingatkan beliau, dan jika beliau jatuh maka tugas kita membantu beliau untuk berdiri kembali. Begitu juga bila yang terpilih nanti bukan beliau.

    Ya mbok sesekali dunk gubernurnya muda, masa kakek – kakek terus ? Yang muda yang berkarya, yang tua Tut Wuri Handayani.

  34. betul apa yang dikatakan “bija sasak sejati”,dekman kembe2 wah selapuk pada takut TG jadi pemimpin,dengan berbagai alasan yang semua alasan itu terpatahkan kl kita berfikir jernih,rasional bukan dengan emosi,Siapapun dia kl mampu ,kenapa gak.
    Sudah waktunya generasi muda diberikan kepercayaan,dendek sek toak2 doang.tenaga udah kurang,fikiran udah gak kuat,fokus,gimana bisa bekerja dan berfikir dengan bagus.
    “berikan aku 10 orang saja pemuda,maka gunungpun akan runtuh

  35. BARISAN NW SEJATI

    lihatlah:

    1. sukarno jadi presiden, padahal dia insinyur bangunan
    2. suharto …………., padahal dia hanya jadi prajurit,
    3. habibi……………, padahal dia insinyur pesawat
    4. gusdur……………, padahal kiyai dan cacat,
    5. megawati…………., padahal dia ibu rumah tangga
    6. mahatir jadi PM……, padahal dia dokter gigi,
    7. tarmizi taher jadi menteri agama, padahal dia dokter

    kalo tuan guru bajang:
    1. seorang tuan guru
    2. anggota MPR,
    3. rektor IAIH,
    4. mahasiswa…
    5. dll

    MENJADI GUBERNUR AJA…..WHY NOT???????????????

    SALAM UNTUK PAK JASMAN DI JAKARTA, SAYA TEMAN DULU WAKTU MA’HAD

    WASSALAM

  36. Assalamualikum wr wb… “Hidup ini menjadi indah apabila kita bisa berbagi dan semakin bermakna di saat kita bisa memberi dengan hati yang tulus ikhlas” Banyak hal yang belum kita mengerti tentang kehidupan ini, Jika kita terus saling menyalahkan satu sama lain, kita tidak mungkin bisa bersatu dan hidup bersama ditengah-tengah masyarakat. Mungkin kita terlalu picik menilai orang lain hanya dengan sudut pandang diri sendiri. Coba kita renungkan bersama sebuah kalimat yang di ungkapkan oleh seorang ahli hikmah:”Jangan Sombong dengan pengetahuanMu yang tidak seberapa dan jangan pernah menilai orang lain dengan penampilannya.” Rasa kepercayaan dan persaudaraan diantara kita akan mampu menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera sebagaimana tertuangkan dalam UUD 1945. “Berfikirlah.”. Jika sosok seorang ulama menjadi pemimpin bagi ummat dan itu adalah pilihan yang terbaik bagi kita semua, kenapa tidak?!

  37. “Sikapilah Hidup ini secara dewasa, Jangan pernah menilai segala sesuatu dengan sudut pandang kehidupan yang sempit.” Dalam Masyarakat yang kompleks, perbedaan tidak bisa kita elakkaan, perbedaan bukanlah alasan untuk saling merendahkan, menghinakan dan saling melecehkan satu sama lain. Akan tetapi dengan perbedaan kita mampu saling menerima satu sama lain, empati, simpati dan toleransi serta syarat akan rasa persaudaraan.

  38. “Jangan artikan politik dalam arti sempit, Tanpa berpolitik, bangsa dan negara tidak akan ada.”. Jangan sampai ada perpecahan di antara kita hanya karena hal-hal sepele. Kita di ciptakan Allah sebagai mahluk yang sempurna karena kita di bekali akal dan pikiran serta perasaan. Dengan mensinergikan semua kemampuan kita sebagai khalifah di muka bumi, maka segala sesuatu akan di berikan jalan yang terbaik oleh Allah SWT.

  39. tiang niki alumni nw pancor ,membaca isi komentator merasa malu krena isinya di buat2 menyanjung TGB .pasti ini dari PKS atau pendukung TGB.Harusnya merendahkan diri .tiang kuwatir kalau tidak terbukti .kasihan … krn terus terang JADILAH ULAMA YANG BAIK GK USAH IKUT2AN SAK MENO2. umat mau dibawah kemana niki.jadi dpr d jakarta saja NW berantakan sampai skrg gk selesai2. maaf niki tiang tidak memilih TGB krn sayang dari pada nanti tuan guru d hujat.u.kalau tiag ingat2 zaini arony dengan NW dan peduli pendidikan.silak niki pikir2 julu tentang pilkada pemimpin k depan.terus berjuang pak zaini jangan ragu tiang dibelakang bapak .tapi ingat pendidikan ntb harus utama dan pertama . ntb perlu perhatian khusus . TGB pernah tidur gk lek kantor dpr malik uwah ndek absen .ndek narak manusie sak sempurna niki tiang. SELAMAT BERJUANG PAK ZAINI.

  40. TGB hanya dijadikan corong PKS.TGB bukan andalan PKS, PKS hanya mendonpleng.Istilahnya Pahlawan kesiangan
    Sama Persis seperti di SUMUT, yang menang Syamsul Arifin-Jagonya PPP dan PBB, bukan PKS doang.Kronologisnya..PKS Memaksakan kadernya di akomodit Bang Syamsul Arifin.Partai yang semua Yakin mendukung Syamsul Arifin ada Kabur PAN dan PBR.Padalah Misalnya PPP PBB PAN dan PBR tanpa PKS pun Syamsul sudah Menang,Tapi PAN dan PBR Keburu Kabur akhirnya PKS di akomodir demi kepentingan Ummat yang lebih Besar.
    PAHLAWAN KESINGAN BIASANYA SUKA MENDOMPLENG…dan Kalo sudah Tersdesak…Jurusnya adalah MEMFITNAH-Black Campaign.Ini Terjadi Di PIlkada DKI-Foke/Fauzi Bowo di SERANG PKS sebagai Tentara JESUIT.Trus juga terjadi Di Kaltim.

  41. SETIAP ORANG BERHAK MENCALONKAN ATAU DI CALONKAN SEBAGAI GUBERNUR…TENTUNYA BUKAN SEMBARANG ORANG..PALING TIDAK CALON GUBERNUR TERSEBUT PAHAM AKAN KEINGINAN RAKYAT YANG MENCALONKAN..TUAN GURU BAJANG..SALAH SATU TOKOH YANG SANGAT PANTAS..BELIAU MEMILIKI ILMU AGAMA, PEMERINTAHAN DAN KEPEMIMPINAN YANG TERBUKTI DAN TERUJI…KALAU ADA YANG KURANG SETUJU APALAGI MEMAKI BELIU..SAYA KIRA MEREKA TIDAK PAHAM SEJARAH..COBA KITA KEMBALI KE BELAKANG..LIHAT KHARUN ARRASID,PARA KHALIFAH..DLL MEREKA SEMUANYA PUNYA ILMU AGAMA DAN KEPEMIMPINAN…SAYA SALUT DAN MENDUKUNG TUAN GURU BAJANG…

  42. aduh maaf teman2,saya ndak bisa terlalu banyak komentar apalagi sampai hujat2an,saya hanya bisa mengatakan siapa2 yang jadi gubernur yang penting bisa mengayomi masyarakat.pemimpin itu kan tauladan bagi rakyatnya.

  43. Gazi Saloom, Jakarta

    Semeton kelapu’an, kekhawatiran A. Jumaely patut dilihat secara positif. Apa yang dia tulis merupakan ungkapan cinta seorang warga NW yang cinta akan tuan gurunya, tetapi patut juga untuk diingat bahwa siapapun berhak mencalonkan diri menjadi gubernur selama dia memenuhi syarat dan ini yang paling penting: dikehendaki oleh masyarakat. Tentu saja ini akan tercermin dalam pilkada yang akan datang. Jangan jadikan kasus Gus Dur atau Zaenuddin MZ, karena TGB tentu saja berbeda dengan mereka. Siapa tahu masyarakat NTB memang menghendaki figur gubernur yang tuan guru. Why not? Pokoknya, biarkan waktu yang akan menjawab apakah TGB pantas atau tidak. Kita berikan kesempatan. Kalau kita tidak memberikan kesempatan, itu artinya kita tidak demokratis. Untuk saudara Jumaely, apa yang anda pikirkan tentang ulama dan politik, saya kira menggambarkan keresahan intelektual seorang anak muda. Apa yang anda pikirkan perlu pembuktian secara empirik di lapangan. Jadi, kita tunggu saja hasil pilkada, dan andaikata TGB terpilih, kita lihat saja apakah asumsi dan tesis anda terbukti atau tidak. Ok..?

  44. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Smeton jari senamian abituren maupun pecinta NW
    tabek juluk tiang milu rembuq lek forum niki mudah-mudahan arak manfaatne…

    Marilah kita baca kembli wasiat renungan masa Maulanasyekh TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid

    Banyak orang memfitnah buta
    Mengkafirkan orang dengan sengaja
    Lantaran tak masuk dalam partainya
    Na’udzu billah min dzalika

    Kalau anakda ingin mulia
    Pilih pemimpin yang bijaksana
    Kalau memilih si angkuh durjana
    Memberi barang ke tangan kera

    Memang Tuhan yang Maha Kuasa
    Mengatur alamNya sepanjang masa
    Tak ada mustahil untuk selama
    Bila Tuhan menghendakinya

    Inilah pesan yang ditinggalkan Maulanasyekh kepada kita. marilah kita telaah bersama maksudnya.

    Allahuakbar

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  45. apa yang dikutip hamdi dari wasiat maulana syekh Zainuddin abdul majid di atas punya beberapa makna yang multi interpretasi. Setiap orang punya pemahaman yang berbeda. Bisa saudara hamdi menjelaskan pemahamannya atas syair di atas?

  46. Cuek saja toh siapapun jadi gubernur tidak akan mampu merubah sistem yg sudah terlanjur semrawut begini. Bolehkan kita cuek?…

  47. Assalaamu’alaikum Wr Wb
    Seru membaca komentar teman2 diforum ini. Saya alumni NW tapi TKnya saja. Saya setuju dengan bije sasak. Masalah TGB yang nyalon gak usah dipermasalahkan. Yg patut dipermasalahkan adalah siapkah kita mendukung siapapun yang menang dalam Pilkada nanti. Meskipun kita dipihak yang kalah.
    Buat Eny, nobodys perfect even Zaini Arony, Lanang Samudra, Serinata,TGB & ourselfes. Dan secara tdk langsung sdri jg menyanjung Zaini Arony “BE CAREFULL”.
    Buat Nurul Hakim siapapun jadi gubernur tidak akan mampu merubah sistem yg sudah terlanjur semrawut begini jika rakyatnya juga tidak mau BERUBAH “Jangan berputus asa dari nikmat Allah SWT”.
    Jadi saudara saudari mari sukseskan dan kawal Pilkada kita dan mari bersikap dewasa.

    Wassalaamu’alaikum Wr Wb

  48. saya pikir ulama dan politik adalah dua trimonologi yang sangat berbeda dimana seorang politikkus belum tentu dia menjadi ulama sedangkan ulama adalah dia bisa menjadi ulama bahkan ketika ulama berpolitik dia sudah tahu rambu rambu yang boleh dan yang tidak boleh dan yang pasti disadari oleh ulama politik hanya sebuah alat dan dia bukan yang dominan siar islamlah yang akan menjadi dominan disitu.
    Dari rumusan diatas saya pikir ini yang ahrus dipahami oleh kaum muda dan yang mempunyai pemikiran kedepan. dan orang yang takut dalam perubahan adalah orang yang pengecut . dan saya kira dengan maju nya tuan guru merupakan pendobrakan terhadap ketkutan orang yang tidak berfikiran luas dan saatnya anak muda memimpin Bangsa dan menuju Perubahan yang madani.

  49. semua orang berhak berpendapat .magistar jangan sewot dong

  50. jago dunia selalu berfikir positif.mendekati sesuatu dg positif.A good man feels ashamed when giving more words than action.suatujawaban lembut akan mudah meredakan kemarahan.begitu lho .masyarakat sudah pinter2

  51. ikutan ah,kembe”ne ribut2 masalah calon gubernur,yang penting bagi saya ntb sejahtera.kemauan dan kesabaran adalah dasar utama yg dimiliki oleh orang yang mendapatkan kesuksesan..hanya dengan pendidikan akan terbuka pikiran dan hati manusia untuk memperoleh kebahagiaan ,kesejahteraan dan keselamatan hidup.banyak sekali calon2 gubernur dari lotim.pertanyaan yg ada dipikiran saya di lotim terlalu banyak orang pinter atau saling tdk percaya.belum2 berebut ULAMA UMARO tidak ada bedanya semua sama .kalau ada maunya ramai2 mendekati rakyat ,semua atas nama rakyat dan mengatas namakan rakyat.kalau mau merubah kenapa gk dari dulu padahal disana ada srinata,nanang sm,tgh bajang ,ismail husni,mansur maksum,mesir dll segudang orang pinter tak terhitung jumlahnya .berlomba kebaikan dan kemajuan daerah tdk harus berebut menjatuhkan teman dan tidak hanya harus jadi gubernur.MALU… semuanya sama saja.

  52. kemarin tepatnya pada hari senin tgl 5mei 2008 di kolo kecamatan asakota pks menlelek2kan calon lain,kalauingin mendapat simpati dari masy jangan begitu caranya,biar jidat sampai hitam percuma saja.kalau hanya ingin jagonya menang jadi gubernur… tapi dg cara memfitnah jangan harap.masy bima tidak semuanya bodoh.kebetulan saya ada disana saat itu ,langsung saja saya jawab tidak benar.sikap yang betul2 tidak terpuji.yang jadi korban TG.karena partai pendukungnya yg berbicara d depan jamaah.setelah disuruh menjelaskan tidak bisa menjelaskan,MALU….MALU,dan itu terjadi di mana2termasuk d kec.sape,wawo.mudah2an diampuni Allah swt dan yang d fitna berhasil cita2nya dan selalu mendapat ridlo dari Allah swt Aminx3

  53. sama saja atau pade doang.katanya tgb pernah ke Anak Agung tapi d tolak ya a a ………ah gk mau ikut2 ah.karena tu tu temanku waktu itu ada d sana.

  54. aku nyanyi aja ah….ok o kamu ketahuan melobi sana melobi sini …..tidak d trima ….ok…..omaaf yaa sedang ok…o

  55. Kawans, bagaimana jika sebaiknya kata-kata “Bajang” jangan kita embel-embeli “Tuan Guru” lagi dalam perdebatan ini. Biar clear, mana yang kita nilai, apakah Tuan Gurunya, bajangnya atau Politikusnya?
    BAHAYANYA BEGINI :
    Jika kita belum belakukan dikotonomi antara keduanya, saya khawatir ketika bajang melakukan sst yang salah, lalu kita anggap ia mendapat petujuk tuhan yang bebas kritik -krn ia seorang TG-.atau Andai nanti ia jadi gubernur lalu ia korupsi, sebagai ummat (jika ia masih jadi tuan guru)-wajarkah kita membelanya dengan demo dls.?
    Atau semisal ia memang tidak korupsi tapi hanya kesalahan birokratis yang ia lakukan seperti tanda tangan dls. yang menyebabkan korupsi, apakah kita akan membelanya juga?

    Logika tuan Guru dengan logika politik jaraknya antara langit dan sumur. Wajarlah kiranya didikotonomikan secara tegas oleh kita yang berdebat disini dan juga oleh Bajang sendiri….
    Usul saya, sebaiknya bajang segera deklarasikan dirinya mundur jadi tuan guru dan menjelaskan jenis kelaminnya murni politisi …titik!

    Gerakan Peduli NW

  56. maaf saya tidak bersimpati kpda TGH BAJANG,

  57. “doa kan ya semoga kami terpilih” itu sepenggal kata yang keluar dari mulutnya….(THG BAJANG)
    dari katanya2 aku melihat suatu ambisi yang tanpa batas….suatu pengharapan besar…
    mudahan semoga saja, masyarakat NTB terlepas dari kemunafikan. semoga itu benar apa adanya bukan karena suatu hal. amin

  58. apa salahnya meminta doa supaya terpilih dari seorang calon gubernur, calon bupati, dll?
    Kok saya tidak melihat keganjalan disana. Dikatakan ambisius? tentu saja setiap calon berambisi dapat terpilih. Bohong kalau tidak ada ambisi dari kesemua calon. Semua yang kelihatan biasa-biasa, alim atau diem menjaga bicara pasti berambisi.
    Bukan hanya para calon yang berambisi tapi para tim suksesnya pun sangat berambisi. Yang perlu kita nilai itu apakah setelah terpilih atau tidak terpilih para calon itu melakukan apa yang mereka katakan sebelumnya, janjinya untuk mewujudkan pilkada damai , menerima kemenangan atau kekalahan.
    Itu saja.

  59. Ridho mengharapkan TGB berkata:
    “doa kan ya semoga kami TIDAK terpilih, padahal kami sudah selama setahun berkonsolidasi mempersiapkan diri, menyiapkan program kerja, menyiapkan mesin politik berupa kader dari PBB dan PKS, menyiapkan dana kampanye dll…”

    ya aneh sekali kalau seorang calon gubernur meminta doa begitu, berarti dia tidak sungguh-sungguh jadi calon gubernur, hanya mempermainkan para pendukungnya dan melecehkan proses politik bernama PILKADA. Wajar saja seorang calon gubernur berkata “doa kan kami terpilih”, karena memang dia berniat sungguh-sungguh dan mempersiapkan diri untuk jadi gubernur. Kecuali kalau dimaknai sebagai suatu komoditas yang menggambarkan dia ambisius. Yang fair sajalah, setiap calon gubernur pasti punya ambisi politis supaya terpilih. Tidak ada suatu yang luar biasa.

  60. MAJU TERUUUUUUUUS TUAN GURU BAJANG..Kami tetap dibelakang dan mendukung anda..

  61. Dari Jaman Rasulallah sampai sahabat yang memimpin tu adalah yang ilmu agamanya bagus. Rasulallah itu pemimpin umat, bgtu juga dengan Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan lain2 stlah generasinya. Mereka adalah seorang yang dekat dengan Allah SWT sekaligus jadi pemimpin. Jadi Kalo pimpinan kita amanahkan kepada orang yang dekat dengan Allah SWT, Insya Allah negeri kita menjadi aman. Begitu juga dengan NTB kalo tuan Guru Bajang jadi pemimpin, Insya Allah akan baik dunia akhirat.

  62. memang kenapa??
    Tuan Guru kan tidak harus hanya berjuang dan berdakwah disatu lini kehidupan. Tapi justru dituntut untuk melakukan dakwah disemua lini…
    Kata2 Tuan Guru Bajang..
    itu semua mencerminkan sosoknya..
    dia Tuan Guru, Politikus, Pemimpin dan pengambil kebijakan.
    dia juga masih muda
    diusung partai yang dikenal bersih PKS
    dengan kelebihannya insyaallah NTB 5 tahun kedepan akan berubah.
    Insya Allah..!!!

  63. ass..pak TG saya sangat mendkung bapak menjadi gubernur mudah2an bapak bisa tepilih nnt pd tgl 7 juli A…MIIIIN
    tp saya mau yg jd wakilnya TGH HUDATULLOH

  64. ASSALAMU’ALAIKUM…..(BalazZzZ Donkz) :-)
    sebagai seorang pemimpin kita ketahui banyak pertanggung jawabnx.
    saya adalah siswi MA.MUALLIMAT NW PANCOR sangat mendkg bpk tuan guru bajag N pak abdul munir mjd pmipn NTB dan saya yakin insya ALLAH kalok tuan guru bjg akn sukses dalam pilkada besok A..MI.N (mudah2an).
    kita ketahui jga di lombok sagtlah minim dalam pnddkn oleh krn tu sy pribadi berharp smga NTB maju kedepan bukan kebelakang lho….hehehe…
    smoga saja pa yang kita ingnkn bisa tercapai A..MI.N
    Seandainya tuan guru bajang mjd pimpinan NTB gmn yeach…?
    pasti seru….dech, terima kasih ya sblmx…
    Wasslamu’alaikum ;-)

  65. ape-ape unin me pade aneh endk jak ke dengah dengan sak luek lalok raos..pokok jak kepilik tetep Tuan Guru Bajang Doang ie sak bersih leman akal-akal sak licik apelagi tukang korupsi endk ke gemes pilek… maju teruuuuuuuuuuus tuan Guru tiang sak gagah kance bersih BBM Harus naik demi kemajuan Ummat ..BBM = Bajang Badrul Munir

  66. WARGA NW, TIANG MENGHIMBAU SEMUA ABITUREN NW UNTUK BERSAMA MENDOAKAN DAN MEMBERI DUKUNGAN KEPADA TG. BAJANG & BADRUL MUNIR. KAPAN LAGI NTB BISA PUNYA PIMPINAN YANG KEREN, AHAMIS, CERDAS, BERWIBAWA, DE-EL-EL-EL. KARAKTER PEMIMPIN YANG TELAH DIISYARATKAN NABI ADA PADA TG. BAJANG H. M. ZAINUL MAJDI, MA. KARENANYA, JANGAN RAGU UNTUK MEMILIH. KALAU JABR SUKSES DENGAN GUBER DARI KALANGAN MUDA, KENAPA NTB TIDAK….
    BUAT TEMAN-TEMAN ALUMNI MA. MUALLIMIN, TIANG MENGUNDANG UNTUK BERSILATURRAJHMI LEWAT BLOG.\\\WASS.

    JASMANSYAH-FAIZ.BLOGSPOT.COM

  67. Saatnya NTB Maju, Smart…

    Era BaRu Harapan BaRu,

    Saatnya kita butuh pemimpin BaRu.

    Yang ini (BAjang adRUl) BaRu Pemimpin,…..InshaAllah.

    Mohon doa dan dukungan dari kita semua.

  68. tuan guru bajang. kita satu alamamater.. majulah islam.majulah NTB. Piss!

  69. kami rakyat kecil udah bosan dengan janji-janji kosong politikus yg hanya mengejar jabatan dan duit. Jabatan membuat mereka lupa akan agamanya. agama cuma dijadikan seremonial sampingan saja. tidak ada salahnya memilih pemimpin yang memiliki dasar agama yg kuat dan memahami perasaan kami, rakyat kecil. semoga NTB dg kepemimpinan ulama kelak (insya Allah) bisa maju dari 2 sisi. dunia dan akhirat. amin
    VIVA TUAN GURU BAJANG !!
    WE ALWAYS BESIDE U !!
    N GO TO HELL OPORTUNIS MICE !!

  70. Jika bajang berani ikutan demo menuntut di bubarkan FPI, demi Allah saya akan pilih dia..

    Salam

  71. Ketika seseorang menjadi oposisi, dia hanya bisa mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh sang pembuat kebijakan. Dari sudut padang politik, si oposisi kalah satu langkah dari sang pembuat kebijakan. Inilah wajah demokrasi kita: kebijakan dikeluarkan terlebih dulu, baru dibahas (baca: didemo) beramai-ramai.

    Persepsi saya: Bahwa TGB rupanya prihatin dengan kondisi yang demikian, sehingga dia berani menawarkan diri untuk menjadi pembuat kebijakan dengan segala resiko yang akan diterimanya.
    Dengan mengajukan diri menjadi calon DR 1, Tentunya TGB telah mengambil resiko untuk didemo, dihujat, dicerca dan ini saya rasa tentu tidak mudah dan butuh keberanian untuk seorang Tuan Guru yang selama ini telah dihormati, disanjung bahkan dipuja. Salut buatmu TGB.

    Saya yakin anda2 semua telah faham bahwa setiap manusia akan mendapat ujian sesuai dengan kapasitas ketaqwaanya oleh SANG KHALIQ, dan mungkin tingkat ujian TGB seperti yang terjadi saat ini …… Hanya Allah yang Maha Tahu.

    Bagaimana TGB?? Mampukah Anda melewati UJIAN-UJIAN yang membentang dihadapanmu? Semoga TGB senantiasa dalam bimbinganNya? Amin..3x

  72. Sebaiknya forum ini tidak saling mencela atau merendahkan satu pihak. Karena kalau demikian forum ini hanya akan menjadi forum debat kusir. Pilihlah kata-kata yang baik kendati memihak atau menolak satu pihak.Saya yakin orang-orang yang ada dalam forum ini orang-orang yang terdidik. Tapi dari kata-kata yang ditulis menggambarkan pribadi masing-masing dari segi emosionalnya. Baiklah saya ingin ikut berkomentar. Sesungguhnya saya termasuk orang yang tidak mendikotomi antara kotak politik dan kotak agama. Islam tidak memisahkan keduanya. Kita tidak perlu khawatir jika ulama menjadi umaro. Baik secara dalil agama maupun hukum demokrasi tak ada larangan. Mengapa seorang artis bisa berhasil menjadi pemimpin kita tak mempermasalahkannya? Orang-orang yang ramai menolak ulama jadi pemimpin apakah juga menolak Rasulullah SWT menjadi pemimpin? yang telah terlibat perdebatan politis dengan Quraisy lalu menghasilkan klausal Hudaibiyah? Siapa Rasulullah itu? Ulama (orang yang berilmu) ataukah politikus? Haruskah kita pisahkan kedua predikat itu dalam pribadi Beliau SAW? Kenapa Beliau tidak menunjuk Abu Sofyan setelah berislam menjadi pemimpin? padahal secara de facto ia seorang yang biasa memimpin kaumnya alias politikus (dalam pengertian penguasa yang berpengalaman). Beliau SAW tetap memimpin. Demikian juga generasi berikutnya gilang-gemilang dengan kejayaan Islam dengan pemimpin yang soleh.

  73. NTB sudah pernah dipimpin oleh militer, birokrat atau sekularis. Lalu sudah berhasilkah mereka? Silakan anda nilai sendiri. Rasa cinta kepada ulama tidak harus ditunjukan dengan mencegahnya menjadi pemimpin. Tapi tunjukkan dengan nasihat jika kelak memang menyimpang. Seperti seorang wanita tua Khaulah binti Tsa’labah menasihati Umar bin Khattab dengan kata: “Bertaqwalah Engkau Umar”. Umar tunduk takzim kepadanya. Abu Bakar dalam pidato perdananya sebagai khalifah memohon agar diingatkan umat jika ia keliru. Sebuah harmonisasi yang mengagumkan. Rakyat yang kritis dan pemimpin yang adil dan sabar. Islam menempatkan pemimpin yang adil sebagai orang yang pertama mendapat naungan pada hari mahsyar (Lihat HR.Bukhori) artinya Islam sangat berkepentingan dengan kekuasaan yang adil dan beradab. Siapa lagi kalau bukan oleh orang yang paham agama.

  74. Tentang ayat; ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (Q.S 4:59) menurut para mufasir memang bisa disimpulkan sebuah hierarki. Hanya saja posisi Rasul pada ayat tersebut bersifat personal (Muhammad) sebagaimana Allah. Lihat kata Athi’u dalam ayat itu. Kata Athi’u disematkan kepada Allah dan Rasul, tapi tidak pada ulil amri. Atinya ketaatan kepada Allah dan Rasul adalah mutlak. Haram hukumnya menolaknya. Adapun Ulil amri tidak disematkan kata Athi’u. Artinya kewajiban kepada pemimpin ini bersyarat, jika keluar dari Al-Qur’an dan Sunnah tidak wajib ditaati. Demikian Ibnu katsir dan Sayid Quthb dalam tafsirnya. Sehingga tidak dapat dimaknai Ulama dalam kapasitas Waratsatul anbiya (pewaris para nabi) sebagai sosok nabi itu sendiri yang dalam ayat ini wajib dituruti tanpa syarat. Tapi sebagai penerus dakwahnya. Jika ulama menyimpang, tidak wajib ditaati. Adapun ulama sesungguhnya bisa duduk di mana saja. Bisa sebagai pedagang seperti imam Abu Hanifah, dokter seperti Ibnu Sina, Sosiolog seperti Ibnu Khaldun, atau sebagai Gubernur seperti Ibnu Mas’ud. Atau bahkan sebagai Khalifah. Keliru jika dikatakan ulama menjadi Gubernur menurunkan derajatnya satu anak tangga. Karena Ulama bukan sosok nabi itu sendiri sebagaimana dimaksud dalam ayat di atas, tapi ulama ketika menjadi gubernur hanya memainkan sebuah peran untuk eksekusi kemaslahatan Islam tanpa harus melepaskan jubah ke”ulamaan”nya.

  75. Janganlah berasumsi politik itu kotor. Ini tidak tepat dan tidak adil. Sehingga seolah dunia politik hanya milik orang jahat. Kalau kita lihat kamus besar istilah politik berarti cara bertindak atau taktik, dalam konteks kenegaraan disebut sebagai sebuah siasat dalam pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Tidak ada satu kata pun yang mengindikasikan makna “kotor”. Jika politik itu kotor maka rakyat yang mencoblos berarti kotor, Presiden, gubernur, bupati, camat, dst adalah kotor. seorang ibu yang mensiasati variasi menu makanan untuk suaminya juga kotor karena melakukan politik.Seorang kepala daerah yang menyiasati investor untuk menciptakan lapangan kerja di daerahnya juga kotor.Padahal di daerahnya banyak pengangguran. Marilah kita simak ilustrasi berikut: Seorang penjual mengurangi berat timbangan barang dagangannya. Apakah bisa kita katakan “Perdagangan” itu kotor jika pedagang yang demikian mayoritas jumlahnya? Seorang guru tidak memberikan nilai A kalau siswanya tidak memberi sebungkus rokok. Apakah bisa kita katakan “Pendidikan” itu kotor? Seorang seniman mencuri ide seni seniman lain. Apakah bisa dikatakan “Kesenian itu kotor? Mayoritas politikus atau pejabat di Indonesia sarat KKN. Apakah bisa dikatakan “Politik” itu kotor? Akhirnya kita harus membedakan antara segmen kehidupan dan pelakunya. Pedagang dan perdagangan, Pendidik dan pendidikan, dokter dan kesehatan, seniman dan kesenian, atau politikus dan politik, dsb. Pelaku kotor adalah oknum, jika beramai-ramai adalah jama’ah oknum.

  76. Satu lagi, analogi sebuah cerita kehidupan dengan tokoh binatang bisa-bisa saja. Itu salah satu bentuk kreativitas. Tapi karakter raja hutan yang melekat pada singa, apakah sesuatu yang ilmiah dan bisa dijadikan patokan? Siapa yang menobatkannya menjadi raja? Apakah masyarakat satwa pernah melakukan pemilu? Sekali lagi itu adalah opini yang dibuat oleh para pendongeng. Saya suka mendongeng pada anak saya sebelum tidur. Saya akan bercerita tentang si Unta raja Gurun, atau si Paus raja laut. Atau mungkin si Elang raja awan? Saya akan menciptakan karakter mereka yang luar biasa sebagai pemimpin adil sekaligus ulama yang soleh. Boleh kan? Lalu saya buat analogi untuk pembuka tulisan saya dalam dialog forum yang bertema Jika Tuan Guru Bajang jadi Gubernur. Boleh kan? Ini karena rasa gembira saya yang menurut persangkaan saya dengan naiknya ulama sebagai pemimpin adalah tanda kebangkitan Islam seperti janji Allah dalam Al-Qur’an. Jadi wujud kecintaan saya kepada ulama tidak mencegahnya menjadi pemimpin tapi mendukungnya dan mengawalnya jika nanti ada penyimpangan. Boleh kan? Semoga bermanfaat
    Allahu a’lamu bi man dholla ’an sabilihi wa Huwa a’lamu bil muhtadin.

  77. NB:
    Al-Maghfurullah Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid (semoga Allah merahmati beliau) pernah menjadi anggota konstituante pada zaman orde lama dan anggota MPR pada zaman orde baru. Apakah rusak nama beliau? Bro and Sis….You know the answer…..

  78. Apakah TGB berhasil dalam memimpin organisasinya? Bagimana kiprah beliau selama menjadi wakil rakyat (DPR)? Mohon Saudara Achmad Jumaely mengulasnya, agar kita mendapat informasi yang lengkap apakah TGB layak menjadi gubernur atau tidak. Terima kasih.

  79. Kalau ingin perubahan maka kita harus memilih gubernur yang baru.
    Siapakah yang baru yang dimaksud adalah yang berasal dari luar birokrat murni. yaitu Tuan Guru Bajang…….
    Apapun alasannya para calon dari birokrat pasati punya madsal;ah dengan masa lalunya dan pola pikirnya pasti masih sepeti jaman Orde Baru yanmg akan melakukan hal-hal yang rutinitas dan itu-itu saja , tanpa ada gebrakan yang pasti…dan signifikan….

    was,
    Ank

  80. saya awalnya mengagumi tuan guru bajang sebagai calon gubernur. tapi pas beliau mengambil pasangan yang salah n banyak masalah. jadi maap-maap aje nich ya, jadi berpaling kelain hati dech………

  81. masyarakat bima awalnya banyak yang menyerukan suara golput. tapi kalau melihat banyak baliho disana sini, kan artinya respek juga. buat tuan guru bajang, ngak masalah ulama mau jadi pemimpin, apalagi masih muda. TAPI ASALKAN NGGAK PEMIMPIN YANG KARBITAN (BELUM MATANG TAPI DIPAKSAIN MATANG) SEHINGGA HASILNYA BAKALAN MENGECEWAKAN.

  82. Buat Ank: apa bedanya calon dari birokrat dengan calon dari DPR? Bukankah menurut TII (Transparency International Indonesia), DPR adalah lembaga yang paling korup?

  83. TO ONK DAN ANK : AKU SETUJU TUCH MA ONK.
    NAMBAHIN DIKIT NICH….,COBA DECH ANDA TANYAKAN MA ANGGOTA DPR RI. KENAL NGGAK MEREKA MA TUAN GURU BAJANG????!!!!. BAGAIMANA SEPAK TERJANG DIA SELAMA DI DPR RI?? APA YANG SUDAH DIA PERBUAT BUAT NTB?? PALING SAMA DENGAN ANNGOTA DPR RI LAINNYA, HANYA DATANG, DUDUK, DIAM, DUIT.

  84. anda berbicara: (hanya sekedar mengutip)

    Karena tugasnya yang sangat mulia itu, maka tak pantaslah kiranya Tuan Guru melacurkan diri di jalur politik yang serba lacur.

    jika politik anda sebut lacur…..

    berarti yang pantas jadi gubernur adalah pelacur?

    begitukah jalan pikiran anda?

  85. rakyat jelata berkata

    buat anak mataram berkata: eh kamu tuch ngomong ma siapa sich, itu pernyataan ditujukan ma siapa. ngak jelas banget gitu loh……..

  86. buat NAJAR CHAYO………..!!!!

  87. Mene semeton senamian, saya simpatisan organisasi NW, saya berharap Warisan Maulana Syechk TGH Zaenuddin Abdul Majid dengan NW nya dapat membumi dan besar di NTB khususnya & Indonesia pada umumnya, seperti Muhamadiah contohnya,yang menjadi besar karena tidak terlibat dalam Politik Praktis. Hal ini berkaitan erat dengan polemik dalam PILKADA NTB, satu NW menyerukan Pilih TGH Bajang eh satunya lagi ngotot untuk menyerukan Pilih Srinata ( SERIUS ),apa kita semua tidak sadar bahwa gejala ini akan semakin memperuncing Permasalahan yang sejatinya udah ada dan sampai sekarang belum dapat terselesaikan, saya tidak mau berpolemik tentang NW Pancor dan NW Anjani, karena bagi saya NW ya NW nya Maulana Syechk TGH Zainuddin Abdul Majid, betapa miris saya melihat perkembangan NW udah seperti ini, betapa kita mengenyampingkan Perjuangan Maulana Syechk sebagai pendiri NW hanya karena Godaan serta Kepentingan Politik semata……Karena jelas Beliau TGH Zainuddin Abdul Majid tidak pernah mewariskan 2 NW…..Seperti saat ini dalam rangka PILKADA NTB, sadar dan atau tidak sadar kadang kita sesama warga NW atau Abiturain saling memfitnah satu sama lainnya, bukankah hal ini yang tidak akan pernah diterima oleh Maulana Syechk karena beliau memang tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk saling mefitnah. Oleh sebab itu kita harus mempertimbangkan secara matang & bijaksana apakah gejala yg seperti ini ( Gejala PILKADA )apabila organisasi NW ikut terlibat Politik Praktis justru tidak akan mengkerdilkan Organisasi NW itu sendiri…….So sebagai simpatisan NW, saya tidak akan memilih TGH Bajang dan atau SERIUS karena mereka telah menggiring Organisasi NW terlibat aktif dalam ranah Politik Praktis…….karena saya juga tidak mau melihat NW tercerai berai karena udah terkena virus yang namanya Virus POLITIK…….Toh bagi simpatisan NW seperti saya ini masih punya pilihan alternatif yang lain, masih ada NAJA dan ZANUR, masalah siapa yang saya pilih, itu rahasia saya……Sukses PILKADA NTB yang Damai dan Bersih, Sukses untukNW terus menjadi organisasi yang Besar, sesauai dengan perjuangan & cita-cita luhur dari Maulana Syechk TGH Zainuddin Abdul Majid…….
    Wassallam…….

  88. makannnya pilih NAJAR aja, supaya NW ngak terpecah belah. GO NAJAR GO NW, bersatu kita teguh berceraio kita binasa.

  89. Mari kita junjung tinggi azas-azas demokrasi di BUMI NTB dengan bijak dan santun.

    Pepatah mengatakan:
    “KALAU USUL JANGAN ASAL, KALAU HANYA ASAL SEBAIKNYA JANGAN USUL”

    Siapapun yang nantinya terpilih menjadi DR-1, semoga merupakan pilihan WARGA NTB yang menginginkan demokrasi bebas, santun, bijak dan bukan saling menghujat. Setiap warga berhak memilih sesuai dengan hati nuraninya tanpa harus diintimidasi atau di paksa-paksa.

    Perbedaan itu indah, selama disikapi dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang.

    Sebagai pemilih, marilah kita gunakan kesempatan ini untuk berani menyuarakan pendapat kita dengan memilih “yang baik katakan baik, yang tidak baik katakan tidak baik” tanpa perasaan-perasaan yang tidak jelas, karena demokrasi ini bebas menyuarakan pendapat.

    Bersikap bijak, menghormati pendapat orang lain, tidak menghujat calon pemimpin yang bukan pilihannya merupakan sikap santun yang menunjukkan kualitas manusia yang bersangkutan itu sendiri, apa yang dikatakan merupakan cerminan martabat dari dirinya sendiri.

    Akhirnya, hidup dan berkembanglah terus DEMOKRASI di BUMI NTB khususnya dan BUMI PERTIWI yang kita cintai secara keseluruhan.

  90. Buat pasangan BARU, salam hangat dari sobatmu di rantau.

  91. Visi dan Misi yang Anda berdua paparkan di TV One kemarin saya nilai POSITIF dan RELEVAN.

    Kembali kepada Anda, apabila diberi kesempatan mampukan Anda berdua bekerja mewujudkannya…???

    Semoga Allah SWT meridhoiNya dan memberikan kemudahan-kemudahan. Amin, Amin, Yaa Robbil Allamin…

  92. rasulallah Muhammad, berkata : jangan memilih pemimpin yang meminta dirinya untuk dipilih.

  93. Berarti kata ridho, kita golput saja selamanya karena semua pemimpin atau calon pemimpin akan mengkampanyekan diri untuk dipilih.
    Jaman sekarang tidak ada pemimpin suatu daerah, negara atau bahkan organisasi hasil konsensus semua pihak, yang ada pemimpin hasil pemilihan.
    Karenanya berarti si calon harus mempromosikan diri dalam arti berkampanye entah dalam skala kecil atau besar.
    Kalau dalam skala kecil komunitas muslim jaman nabi/khalifah tidak ada yang namanya pemilihan umum atau pemilihan daerah. Orang ditunjuk atau didorong untuk maju karena berbagai pertimbangan. Pada jaman otoriter orangpun bisa ditunjuk sebagai pemimpin.
    Tapi selamat datang di dunia modern saudara Ridho, anda tidak akan menemukan lagi seorang pemimpin negara atau daerah yang ditunjuk suatu otoritas tertentu yang mengklaim diri sebagai wakil suara rakyat. Seorang pemimpin harus dipilih melalui mekasnisme pemilihan umum dan untuk itu dia harus mengkampanyekan program dan dirinya.

  94. saya bingung,, meski belum sempat membaca smuanya,, memangnya politik itu apa sih?? memang politik sekotor apa?? sampai tuan guru yg katanya suci gak boleh masuk kancah perpolitikan, yg katanya kotor. lha, klo yg boleh masuk ke politik itu pantasnya yg kotor juga,gimana pemerintahan bisa baik, gimana rakyat bisa sejahtera, gimana bangsa ini bisa maju… saya benar2 heran bin bingung…

    potilik itu indah, klo yg melakukan politik orang2 yg bersih,, orang-orang yg berpegang pada aturan Allah, senantiasa melakukan kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar) dimanapun berada, termasuk kursi kepemimpinan.

    janganlah berpikir golput, klo sy ada di mataram, akan sy gunakan hak pilih saya. karena notabene, sy adalah rakyat yg harus turut berkontribusi pd pemerintahan ini. meskipun mungkin tata caranya belum sesuai dg syariat yg dipahami sebagian dari kita, tapi klo gak ikut melakukan perubahan dari dalam, bagaiman cara kita memperbaiki pemerintahan ini?? bagaimana cara mensejahterakan rakyat??

    nah, gimana cara memperbaiki dari dalam?? masuklah.. atau masukkan orang2 baik… dan perlahan kita perbaiki perpolitikan yg katanya kotor, yg katanya lacur, yg katanya apapun itu jadi lebih baik dan agar Allah meridhoinya.

    klo pemerintahan kita gak benar, klo orang2 didalamnya gak beres, bukankah salah kita juga yg tidak mempergunakan hak pilih utk memasukkan orang2 yg bersih-baik utk menggantikan mereka2 yg katanya kurang baik itu.

    bukankah kita ingin sebanyak orang masuk surga, bukankah kita ingin masuk surga?? kita bisa mulai juga di pemerintahan ini, melalui politik yg indah.

    wallahua’lam

  95. oya, satu lagi, mungkin memang suara kita bakal terpecah belah, tapi jgn sampai ini menyebabkan saudara2 golput.karena kita ini bersaudara, maka siapapun yg terpilih nantinya harus kita dukung, kita ingatkan. yg tidak terpilih, berkontribusi dlm hal lainnya, tetap dlm kerangka pembangunan daerah kita menuju perbaikan.jadi, gak ada yg salah dg mempergunakan hak pilih. selama kita tetap damai-damai saja.

  96. buat kalman : kalau bukan Rasulallah Muhammad SAW yang menjadi tauladan bagi kita semua khususnya para calon pemimpin dan pemimpin. lantas apa Jin, Setan dan Iblis yang dijadikan tauladan??????!!!! cara-cara seperti itu merupakan cara Jin , Iblis dan Setan. tinggal Anda sekalian mau ikut yang mana. kenapa saya keras, karena untuk mencapai sesuatu yang besar dimulai dari hal yang kecil. wasalam

  97. Ridho,

    Kenapa terlalu ekstrem seolah saya menolak rasulullah sebagai pemimpin kita dan malah menganggap saya “mengatakan” setan sebagai tauladan? Apa anda tidak membaca dan mengerti apa yang saya katakan atau anda pura-pura tidak mengerti?
    Saya katakan bahwa Zaman Rasulullah tidak ada yang namanya pemilihan umum dimana Pemimpin dipilih oleh semua orang dalam yang terdaftar dalam satu wilayah. Simple saja begitu, jangan ditambah-tambah dengan asosiasi yang lain. Bukan hanya karena konsep itu belum ada, tapi juga karena masyarakat saat itu jumlahnya kecil dan hampir homogen. Coba berikan contoh argumen yang menyangkal apa yang saya katakan? Saya bisa terima masukan anda.
    Konsep Pemilu dan Pilkada mengharuskan seorang pemimpin itu berkampanye menawarkan idenya dan juga integritas publiknya. Dia harus setidaknya mampu meyakinkan publik kenapa mesti memilih dia dan bukan orang lain. Kalau bukan begitu maka tidak mungkin dia jadi pemimpin. Siapa yang mau membeli kucing dalam karung? Publik tidak tahu apa2 tentang si pemimpin tiba2 disodorkan oleh suatu badan otoritas tertentu menjadi pemimpinnya.
    Konsep itu adalah konsep diktator.

  98. Siapa yang berpolitik maka dia licik, siapa yang licik maka akan dipukuli, yang dipukuli maka kesakitan)

    Pemikiran sesat !!!!!!!!!
    Muhammad SAW juga berpolitik. Apakah dia licik?

  99. Assalaamu’alaikum Wr Wb
    OK sobat, pilkada dah berlangsung dan hasilnya mulai muncul. Tolong deh penguasa blog ini ambil tema yang lain atau buat tulisan atau apa kek jenisnya yang memancing kita untuk memberikan saran – saran atau problem solving yang kreatif sesuai dengan pikiran kita buat gubernur yang baru terpilih, abis itu penguasa ini blog bisa nyampein ke gubernur yang baru. Sapa tau aja dari sekian banyak ide dan usulan terdapat pikiran – pikiran brilian yang bisa dilaksanakan di lapangan untuk membangun NTB. Dari pada kita debat kesana kemari gak ada hasil yang signifikan untuk masyarakat, ya to….? (To…..)
    That’s all
    VIVA NTB
    Wassalaamu’alaikum Wr Wb

  100. tidak masalah siapapun yang menjadi gubernur NTB, tidak masalah pula siapa yang akan menjadi imam dimasjid kita, tidak masalah pula siapa yang akan memberikan wejangan ketika ada pengajian akbar, semuanya tidak usah kita permasalahkan…yang penting kemakmuran dan kebersamaan serta rasa saling menghormati sesama warga, serta ummat beragama.

    memberikan pemikiran-pemikiran yang dapat mengangkat taraf kehidupan masyarakat NTB , saya rasa itu udah lebih dari sebuah kemajuan, dan mudah – mudahan dengan naiknya taraf kehidupan masyarakat, maka kemiskinan tidak ada lagi, dengan tidak adanya kemiskinan maka akan terjadi kekurangan pengangguran, dengan kurangnya pengangguran maka akan lebih sedikit tindak kejahatan…

    dan dengan rasa aman dan tenteram akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang beriman, berilmu, beramal yang baik… selamat buat Tuan Guru Bajang atas terpilihnya beliau, selamat pula atas pulau Lombok,dukung TGB…, beliau merupakan salah satu putra terbaik yang dimiliki NTB saat ini, ini kesempatan bagi kita untuk memiliki pemimpin yang beriman, beramal shalih, dan insyaAllah mudah-mudahan terhindar dari tindakan korupsi…dan kejahatan negara lainnya…Amin3x…

    Gubernur-pun(Pemimpin) akan lebih berwibawa dan akan makin dicinta masyarakatnya ketika ia(pemimpin) mau memegang tangan masyarakatnya tanpa memilih tangan simiskin dan tangan sikaya.

  101. Saudar Magicstar,
    Terimaksih atas usulan anda…
    Di blog ini semua pengunjung bisa memfasilitasi kita untuk berdebat, berdiskusi dan berwacana. Caranya anda kirim tulisan yang provokatif dan bisa memancing diskusi kita tentang berbagai soal di NTB. Kami akan mempostingnya di halaman muka, sehingga kawan-kawan Blogger yang lain dapat memberikan kritik sekaligus saran pada tulisan anda dan juga kepada pasangan yang menang dalam Pilkada 2008 ini.
    Soo…apresiasi buat kritik konstruktif anda..terima kasih banyak.
    Kami tunggu tulisan anda di email: jhelliemaestro@gmail.com

    Salam
    Blogmaster

  102. analia saya
    1.yg tidak setuju TGB jadi pemimpin apa pun alasanya dia mendukung calon lain.
    2.yg tidak setuju dg TGB berkiblat pd penguasa yg tidak suka damai di anjani.
    3.yg tidak setuju dg TGB masih mendukung korupsi dan dekat dg kekuasaan.
    4.yg tidak setuju dg TGB ingin melihat NW terus terpecah belah.
    5.yg tidak setuju dg TGB menjunjung systim sekuler dan kolonialis.
    saya mau mengomentari sedikit masalah gajah
    gajah= binatang
    ulama= manusia
    gajah= nga punya akal dan moral
    ulama= berakal,bermoral dan berilmu
    gajah= hidup dihutan dan berkelompok-kelompok
    ulama= hidup ditengah umat dan juga masyarakat
    kesimpulan: karna gajah seekor binatang nga perlu tau urusan binatang lain manusia akan selalu tergantung dan saling membutuhkan dg manusia yg lainya karna binatang nga punya akal makanya nga perlu dia naya ama raja hutan atau dia ngomong ama singa eeee singa lo kok enak banget seh nyantap temen kita rusa,sapi dll lo nga takut ya ama gua tapi singa cuek aja emng gua pikirin. sayang ini cerita gajah kalu manusia lain lagi, terutama ulama lihat kemungkaran apa lagi pemimpin nga bener ditegor nga mau juga harus bertindak lebih tegas lagi sebab dengan lisan nga bisa harus dengan tangan nah caranya gimna. ya harus jadi pemimpin sekarng, inilah yg dilakukan oleh TGB dengan tanganya memperbaiki umat terutama pejabat2 yg nga bener….

  103. jika alm kakek dari tuan guru bajang melarang cucu2nya untuk berpolitik kenapa tuan guru bajang masih juga terjun ke dunia politik.. bukankah itu sebuah pelanggaran, sebaiknya selesaikan dulu konflik2 dirumah tanggamu jika ingin memimpin orang yang lebih banyak lagi.

  104. Ichwan,

    Sebenarnya tidak benar kalau alm kakek TGB melarang cucunya berpolitik. Ingat Almarhum juga bekas anggota konstituante dari Masyumi tahun 1955, juga pernah mendukung di PPP dan terakhir di Golkar.
    Perkataan larangan itu hanya didengungkan oleh NW Anjani karena mereka tidak punya calon untuk menandingi KH Zainul Majdi.
    Coba ada Tuan Guru mereka yang menyalonkan diri pasti dalih itu tidak dipakai. Orang NW Anjani khususnya keluarga Ummi Raehanun juga sangat berpolitik, mulai dari anggota DPR dari Golkar dan PBR (Ini termasuk Umi Raehanun, Anaknya dll), dukung calon politik dari partai lain dll. Tapi ya itu lagi, saat tidak bisa mendapatkan membendung langkah KH Zainul Majdi mereka pakai alasan-alasan itu.

    Yang penting sekarang semoga Zainul Majdi bisa menyatukan sebagian besar komponen rakyat NTB termasuk organisasi NW untuk dapat membangun daerah tercinta.

  105. selamat kepada tuan guru bajang-badrulmunir

  106. sekali lagi baca analisa saya, buat saudara ichwan anda pasti masuk dalm katagori saya diatas. sekalipun saudara bisa membuat 1001 alasan toh tidak akan merubah takdir TGB ZAENUL MAJDI menjadi gubernur NTB…………

  107. fahrurrozi,SE., MM

    as wr wb
    saya adalah orang lombok timur asli dan saya setuju sekali kalo bapak tuan guru bajang adalah bisa memimpin NTB dan sampai kapan pu saya akan mendukung tuan guru bajang.

    bapak tuan guru bajang mari kita sama-sama berjuang demi NTB dan lombok tercinta karena itu adalah cita-cita almukarram bapak maulanase.

    walaikum salam.

  108. Semoga Allah memberi hidayah pada setiap kata yang kita ucapkan,setiap pikiran yang terbersit, setiap hal yang terlihat, setiap suara yang terdengar. semoga semua pernyataan kita mendapat lindungan Allah dari campur tangan setan laknatullah. semoga…

  109. JANGAN PISAHKAN AGAMA/TUAN GURU DENGAN DUNIA/POLITIK

    POLITIK JADI RUSAK SEKARANG INI KARENA DIPEGANG OLEH ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK FAHAM AGAMA. KORUPSI DIANGGAP HAL BIASA.

    POLITIK DIPEGANG OLEH ORANG2 YANG RAKUS AKAN JABATAN DAN DUNIA.

    KALO TUAN GURU BAJANG, INSYA ALLAH TIDAK SEPERTI ITU.
    BELIAU NAIK JADI GUBERNUR SEMATA-MATA INGIN MEMBANGUN NTB AGAR LEBIH MAJU, BERSIH KKN, DAN SEJAHTERA SESUAI DENGAN RIDHO ALLOH SWT. INSYA ALLAH

    DALAM ISLAM POLITIK ADALAH MULIA DISEBUT SIYASAH SYAR’IYYAH
    (MENURUT KITAB IBNU TAIMIYAH).

  110. ANALOGI TUANG GURU DENGAN GAJAH SANGAT TIDAK TEPAT SEKALI !
    APAKAH INI HASIL TADRIS DI IAIN SEKARANG

    “ILMU LOGIKA” YANG DIAGUNGKAN OLEH ARISTOTELES MENJADI SANDARAN DALAM BERFIKIR, AL QUR’AN HADITS JADI NOMOR KEDUA, DST…
    IAIN TELAH BERHASIL MENJADI LOKOMOTIF KEBEBASAN FIKIRAN
    DAN MERASUKNYA IDE-IDE LIBERAL DAN DAN FAHAM KEBEBASAN
    BAIK DALAM HAL DUNIAWI DAN BANYAK MEMASUKI RANAH AQIDAH.

    PARA MAHASISWA IAIN SEKARANG (MAAF TDK SEMUANYA)
    SEPERTINYA KEHAUSAN MENDAPATKAN SIRAMAN IDE-IDE DAN PEMIKIRAN BARU
    SEKALIPUN ITU SANGAT BERBAHAYA DAN SALAH 100% DARI SISI METODE
    PENGKAJIAN SUATU MASALAH.
    AKHIRNYA ANDA /PENULIS

    SANGAT TIDAK TEPAT KALO ANDA MENGGUNAKAN LOGIKA
    “JIKA TGB JADI GUBERNUR MAKA UMMAT AKAN KOCAR-KACIR”

    BUKANKAH NABI MUHAMMAD SAW MENJADI PEMIMPIN SEBUAH KOMUNITAS BESAR /MIRIP NEGARA SEKARANG.
    DENGAN ITU NABI MEMILIKI KEKUASAAN DAN ISLAM SEMAKIN BERKEMBANG PESAT.

    JANGAN DUDUKKAN TUAN GURU SEPERTI PEDANDA DI HINDU ATAU PENDETA/BIARA DI KRISTEN ATAU PARA BIKSU DI BUDHA ATAU RABI DI YAHUDI. MEREKA ITU MEMANG JELAS2 MEMISAHKAN AGAMA DENGAN POLITIK

    JADILAH POLITIK ITU KOTOR SEPERTI SEKARANG.
    AHLI AGAMA KERJAANNYA DI MASJID/GEREJA SAJA
    SEMENTARA PENGUASA SEENAKNYA MENGATUR MASYARAKAT
    DENGAN IDE-IDE BUATAN MEREKA.

    PEMIKIRAN ANDA MOHON DIPERBAIKI
    TIDAK SEMUA PEMIKIRAN BARU DAN KELIHATAN BAGUS ITU BENAR

    JUSTRU ISLAM LAHIR UNTUK MENGOREKSI MANUSIA
    YG CENDERUNG MEMAKAI HAWA NAFSU UNTUK MEMBENARKAN SESUATU

  111. Thanks semua netter
    Tulisan saya diatas hendaknya ditempatkan sewajarnya saja, sekadar pendapat(opini) pribadi bukan penggalan teks suci dari sebuah agama yang anti kritik. Lazimnya sebuah pendapat, ketika diberikan komentar (pendapat yang lain), pasti ada setuju dan tidak setuju, hal ini wajar!. Yang tidak wajar adalah, manakala pendapat (komentar) itu menghakimi pendapat yang lain dengan kosakata “Halal”-“Haram”, “Benar”-“Salah”.
    Buat saya, benar-salah tak bisa dinilai dengan standar kebenaran kita sendiri. Kebenaran (dengan K besar) sejatinya hanya Tuhan yang punya, selebihnya hanya serpihan-serpihan kebenaran yang tak pernah mutlak (K kecil). Maka simpulnya, kita hendaknya tidak membiasakan diri menilai sesuatu (apalagi pemikiran) dengan salah atau benar, apalagi halal dan haram sehingga kitapun terperangkap dalam labirin justifikasi yang sesungguhnya tidak samasekali kita miliki.

    Thanks
    Achmad Jumaely

  112. yang penting anda semua harus hati-hati kalau berpendapat terhadap sesuatu masalah.jangan baru hapal hadits,ayat alquran satu potong,kita semaunya membuat tafsir sendiri

  113. SELAMAT DAN SUKSES ATAS PELATIKAN TG. BAJANG SEBAGAI GUBERNUR NTB 2008-2013

  114. mudahan NTB jari majulah…

  115. KEPADA SAUDARA PNULIS
    SIPA PUN TAHU KEBENARAN SEJATI DATANGNYA DARI ALLOH, SEKARANG PERTANYAANYA BAGAIMANA KITA TAU KALU KEBENARAN ITU DATANGNYA DARI ALLOH DAN SEBAGAI SEORANG MUSLIM KITA TIDAK AKN MENGETAHUI KEBENARAN ITU KECUALI MELALUI PERANTARA WAHYU YG DITURUNKAN KEPADA JUNJUNGAN KITA NABI MUHAMAD SAW YAITU AL QURAN DAN AL HADIST KENAPA ANDA TIDAK MENJELASKAN HAL INI, KENAPA ANDA HANYA MENGATAKAN DARI TUHAN, TUHAN YG MANA ANDA MAKSUD?. MAKA SEBAGAI SEORANG YG BERAGAMA ISLAM SAYA BERPENDAPAT SUDAH TEPAT PILIHAN RAKYAT NTB KEPADA TGB KARNA BELIAU SUDAH MASUK KATAGORI PEMIMPIN DALAM ISLAM. KARNA UNTUK MENENTUKAN KEBENARAN ITU SUDAH JELAS TOLAK UKURNYA DARIMANA.

  116. Pewaris saiapa ?
    Selamat Datang di Belantara Politik.
    Dalam belantara yang bernama politik saat ini, siapapun dia mau Tuan Guru, Tuan Tanah, Tuan Abud, Tuan Syekh…kalo sudah masuk…mmm syetan pasti bergembira ria, Terbukti…!!!
    Apalagi saat ini Tuan Guru Bajang didukung Partai kecil , pasti akan melakukan kompromi politik dengan anggota DPR yang mayoritas bukan pndukung beliau, Nah..disini duit mulai bicara..gak percaya Jang, Buktikan nanti.!!!!
    Dalam mutasi kemarin, terbukti bukan hasil Istikhoroh, tapi hasil kompromi politik dengan Badrul-PKS-Harun-?, bener gak ni…ayooo.
    SELAMAT DATANG DI BELANTARA POLITIK KAWAN….NIKMATILAH KERASNYA NARKOBA POLITIK YANG SANGAT MEMABUKKAN…..

    • setuju bang…
      sekarang sama wakilnya aja udah gak akur..
      gimana mau mimpin daerah…
      mimpin wakilnya saja belum bisa…

  117. Ping-balik: Semoga Bukan Politik Tebar Pesona! « Blog Opini Kampus

  118. nw anjani wek-wek-wek…:-)

  119. maju terus NTB

  120. para penulis sekalian..alangkah baiknya kita nikmati bagaimana perjuangan tuan guru bajang sebagai gubernur ntb..saaat ini ntb sdah maju dan angka kemiskinan sdah menurun…jd gk da salah nya kalau tuan guru bajang jadi gubernur….dan tidak apa2 beliau terjun di dunia politik…karna rasulullah saja beliau berpolitik….jadi antum semua tidak berhak ngomong seperti itu….klau kalian tidak setuju dengan kepemimpinan tuan guru bajang knp tidak kalian ja yg mencalonkan diri….jd antum semua tidak berhak berbicara seperti itu lg…jgn memilih org yang bisa dalam berpolitik ja tp lihat juga dari sisi agamanya…makanya kalau ngomong jangan sembarangan…hidup tuan guru bajang allahu akbar….mudah2an dengan kepemimpinan beliau ntb semaki maju dan memiliki moral yang baik…amiiiiiiiiiiimnnnn

  121. sebagai tuan guru, gak da masalah mo kawin lagi
    sebagai gubernur, gak cocok lah …. ntar terkena pp. 1000 kaleeee
    klo atasan 2 istri …
    masak bawahan gak boleh yaaa

  122. Isu pemerataan pedapatan dan tindakan separatisme berakar dari kesejahteraan yang tidak merata, dan keadilan hukum yang tidak ditegakkan. Terorisme Kanan didorong ketidakpercayaan masyarakat atas birokrasi yang rapuh karena tindak korupsi.

  123. ALHAMDULILLAH TGB mw nyalon lagi semoga bisa naik lagi dan semoga NTB lbih maju lagi amin

  124. ALHAMDULILLAH TGB mw nyalon lagi semoga bisa menang lagi di periode yg akan datang dan semoga NTB lbih maju lagi amin

  125. Sekarang bagaimana hasilnya sejak thn 2008 lalu????

  126. Asslmualauk,,,,
    Smton tyg yang mudah2n slalu dalaam hdayahnya…….
    Hati2,,inlah kalimat yg pantas,,,sebab klo ulama mengambil bagian dalam kancah politik,tdak mustahl umat terbengkalai.
    sesungguhnya pengalaman saya bs jadi contoh,
    saya puttra mataram yg sedkit tdak mendengar kluhan orang2 ttg pran ulama dari dnia politik hampir smuanya nihil,.
    Sebenarnya saya sanggup tuk buka contoh juga bukti trhadap ketidak pantasnya ulama jadi fron terdepan dalam urusan politk,
    tapi bukan berrti saya tidak mendukung,,
    ada sebab yg hening dalam hati,
    gejolak keindahan ulama jadi politk tu sangat dibuktikan oleh sejarah,,

    saya sangat bersyukur Ulama bisa jadi pimpnan dalam sebuah daerah maupun negara,cuman yg saya khawatr epeknya jadi sangat buruk.
    sbenarnya mash banyak yg mau saya utarakan cuman keduluan ngantuk.
    ,,,,,,,,,,,,WASSALAM………………..

  127. Lagi-lagi saya ingin mengutip wanti-wanti TG. Maulana Syaich yang amat saya kagumi, “Sai-sai bepolitik iye licik, si-sai licik iye tegitik, sai-sai tegitik iye melitik”. (Siapa yang berpolitik maka dia licik, siapa yang licik maka akan dipukuli, yang dipukuli maka kesakitan). Saya fikir, wanti-wanti ini persis seperti yang diungkap para penganut filsafat eksistensialisme seperti Iqbal atau Saltre “Siapa-siapa yang masuk wilayah abu-abu (grey area/politik) maka ia akan menjadi anjing-anjing politik yang sanggup menjilat, menerkam dan saling bunuh”. Sungguh! Ini Maqom (posisi) yang sangat tidak pas untuk para Tuan Guru (kami) yang sangat kami cintai.[]

  128. Ngawur. Setau saya kebayakan nabi dulu jadi orang besarperdana mentri mantri keuangan danraja.kamu belajar di mana

  129. anda tidak ingat dengan wasiat maulan syehk yang berpesan ( kelak NW lah yang akan jadi pemimpin….dan sekarang telah terbukti TGB menjadi gubernur NTB dan insyaallah akan menjadi president of Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s